Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PEMAHAMAN KELUARGA PENUNGGU PASIEN HEPATITIS B DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B DI RUMAH SAKIT ISLAM SURAKARTA -, Esri Rusminingsih
MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan (Journal of Health Science) Vol 4, No 8 (2009)
Publisher : STIKES Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Hepatitis B merupakan penyakit yang sering dijumpai dan lebih mudah menular dibandingkan AIDS. Di Indonesia angka kejadian Hepatitis B berkisar antara 5-20%. Kira-kira 10% kasus Hepatitis B berlangsung terus menjadi Hepatitis kronis dan bila tidak diobati akan berisiko menjadi serosis hepatitis. Kontak horizontal di dalam keluarga penunggu pasien. Hepatitis B akan berisiko untuk tertular penyakit ini. Sehingga pengetahuan tentang penularan Hepatitis B merupakan hal yang penting dalam upaya pencegahan penularan Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan keluarga penunggu pasien Hepatitis B dalam upaya pencegahan penularan Hepatitis B. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data indepth-interview. Responden yang menjadi subyek penelitian adalah keluarga yang menunggu pasien Hepatitis B di Rumah Sakit Islam Surakarta pada bangsal rawat inap dengan kriteria : merupakan keluarga yang tinggal serumah dan berinteraksi dekat dengan penderita Hepatitis B, pendidikan minimal SMA, usia di atas 17 tahun dan penderita merupakan kasus lama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman selama di rumah sakit menimbulkan pengetahuan keluarga tentang Hepatitis B. Dengan pengetahuan yang didapat, keluarga melakukan upaya pencegahan penularan Hepatitis B melalui isolasi, hygiene, penyucihamaan dan vaksinasi. Adapun kendala dalam upaya pencegahan yaitu isolasi menyebabkan penderita merasa diasingkan. Komunikasi merupakan solusi yang dipilih keluarga dalam menyelesaikan masalah. Kata kunci : Hepatitis B, pencegahan, penularan
SIKAP ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB C/C1 SHANTI YOGA KLATEN Hastuti, Retno Yuli; -, Esri Rusminingsih; Wulansari, Ria Dewi
MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan (Journal of Health Science) Vol 5, No 9 (2010)
Publisher : STIKES Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retardasi mental adalah keadaan dengan fungsi intelektual umum yang kurang (bertaraf subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak) individu yang berhubungan dengan terbatasnya kemampuan belajar maupun daya penyesuaian serta proses pendewasaan individu. Di Indonesia 1-3% penduduknya menderita retardasi mental, yang berarti dari 1000 penduduk diperkirakan 30 penduduk menderita retardasi mental. Perkembangan kemampuan sosialisasi anak retardasi mental sangat dipengaruhi oleh agen sosialnya, dapat juga dipengaruhi oleh sikap orang tua dalam mengasuh anak retardasi mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak retardasi mental di SLB C/C1 Shanti Yoga Klaten. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, yaitu suatu bentuk penelitian dengan pengukuran variabel dependent dan independent dalam satu waktu secara bersamaan dan hasilnya bisa didapat saat itu juga. Tehnik pengambilan sampel menggunakan total populasi dengan jumlah responden sebanyak 56 pasangan orang tua dengan anak retardasi mental. Variabel sikap orang tua diukur menggunakan kuesioner yang berjumlah 26 item pernyataan, sedangkan variabel kemampuan sosialisasi diukur menggunakan kuesioner yang berjumlah 31 item pernyataan. Sikap orang tua baik dengan kemampuan sosialisasi tinggi yaitu 46 responden (82,1%), sikap orang tua cukup baik dengan kemampuan sosialisasi sedang sebanyak 2 responden (3,6%). Analisa data statistik menggunakan korelasi Product Moment, hasilnya menunjukkan hubungan antara sikap orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak retardasi mental di SLB C/C1 Shanti Yoga Klaten dengan p = 0,000 (p < 0,01). Didapat nilai r hitung = 0,552 sedangkan nilai r tabel pada taraf signifikansi = 0,01 adalah 0,330, hal ini berarti bahwa r hitung > r tabel maka Ha diterima artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara sikap orang tua dengan kemampuan sosialisasi. Kata Kunci : Sikap Orang Tua, Kemampuan Sosialisasi, Retardasi Mental.
Hubungan Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat Puput Risti Kusumaningrum; Esri Rusminingsih; Roby Noor Jayadi
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v5i1.1462

Abstract

Peningkatan jumlah kunjungan pasien menyebabkan peningkatan beban kerja perawat, banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan maka akan menjadi sumber stres. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap mutu pelayanan yang dilakukan oleh perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan tingkat stres kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 22 orang perawat dengan tehnik purposive sampling. Pengumpulan data beban kerja perawat dilakukan dengan melakukan observasi Time And Motion Study sedangkan data tingkat stres kerja diambil dengan kuisioner Personal Stres Inventory. Hasil penelitian beban kerja perawat didapatkan data perawat dengan beban kerja sedang sebanyak 8 responden (36,4%), dan beban kerja tinggi sebanyak 8 orang (36,4%), sedangkan tingkat stres kerja perawat didapatkan data perawat dengan stres kerja sedang sebanyak 16 responden (72,7 %). Setelah dilakukan analisa data menggunakan korelasi Spearman Rank didapatkan nilai p value sebesar 0.01 lebih kecil dari 0.05 dengan Correlation Coefficient sebesar 0.536. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Di Ruang IGD RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Saran peneliti perlu adanya poliklinik 24 jam sehingga dapat menurunkan beban kerja perawat IGD sehingga tidak mengakibatkan peningkatan tingkat stres kerja pada perawat
PENGARUH KOMBINASI TERAPI : GUIDED IMAGERY DAN TERAPI MUSIK TERHADAP STATUS HEMODINAMIK PASIEN DENGAN PENYAKIT KARDIOVASKULER DI ICU RUMAH SAKIT ISLAM SURAKARTA Esri Rusminingsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 7 No. 2, Juli 2016
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.57 KB)

Abstract

ABSTRAKRespon stress pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler dapat meningkatkan beban kerja yangmengancam kehidupan. Faktor- faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stress pada pasien diICU/ICCU diantaranya pengalaman dirawat sebelumnya, nyeri, kecemasan, lingkungan asing danketakutan. Perubahan haemodinamik sistem kardiovaskuler akibat kecemasan akan mengaktivasi sarafsympatis sehingga meningkatkan produksi norepinephrine yang menyebabkan peningkatan tahananperifer sehingga menghambat suplai darah ke otot-otot jantung. Relaksasi merupakan bentuk intervensikeperawatan supportif yang berfungsi untuk menurunkan stress dan kecemasan sehingga dapatmenurunkan tekanan darah dan denyut jantung. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kombinasiterapi guided imagery dan terapi musik terhadap status hemodinamik pada pasien dengan penyakitkardiovaskuler di ruang ICCU/ICU Rumah Sakit Islam Surakarta. Metode penelitian menggunakandesain Quasi Eksperimen dengan One Group pretest-posttest tanpa kelompok kontrol. Pengambilansampel menggunakan total sampling dengan jumlah 15 responden. Analisa data menggunakan Paired ttest. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan status hemodinamik sebelum dan sesudahpemberian kombinasi terapi : Guided Imagery dan terapi musik pada pasien penyakit kardiovaskuleryang dirawat di ICU dengan nilai p value >0.05. Kesimpulan penelitian tidak terdapat perbedaanyang bermakna antara status hemodinamik sebelum dan sesudah pemberian kombinasi terapi : GuidedImagery dan Terapi Musik pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler yang di rawat di ICCU/ICU.Kata kunci: Guided imagery, terapi musik, status hemodinamikABSTRACTStress respond on patient with cardiovascular disease can increase workload that threaten the patient’slife. There are some factors that contribute to stress occurrence among patients in ICU/ICCU wardnamely prior treatment experience, pain, anxiety, new environment, and fright. Changes in hemodynamicof cardiovascular system caused by anxiety will activate sympathetic nerve. Hence, it will increase theproduction of norepinephrine that increase the peripheral resistance. It then blocks blood supply to heartmuscles. Relaxation is a form of intervention in supportive care that can reduce stress and anxiety. It willdecrease blood pressure and heart beat. This research aims to figure out the effect of combined guidedimagery and musical therapies to hemodynamic status among patients with cardiovascular disease in ICU/ICCU ward of Islamic Hospital of Surakarta. Research method used Quasi Experiment design withOne Group pretest-posttest without using control group. The researcher used total sampling and workedwith 15 respondents. In analyzing the data, the researcher used Paired T-test. The result shows thatthere is no difference in hemodynamic status before and after the combined therapies are given. Guidedimagery and musical therapy among patients with cardiovascular disease treated in ICU/ICCU wardshows p value of > 0.05. Conclusion there is no significant difference in hemodynamic status beforeand after given combined guided imagery and musical therapies among patients with cardiovasculardisease treated in ICU/ICCU ward.Keywords: Guided imagery, musical therapy, hemodynamic status
Relationship of Patient Characteristics with Medication Adherence in Type 2 DM Esri Rusminingsih; Romadhani Tri Purnomo
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 4 No 3 (2022): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.292 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v4i3.1316

Abstract

Indonesia is predicted to have the seventh-highest number of people with type 2 DM worldwide in 2030. Consistent adherence to taking medication as prescribed is the key to diabetes self-care. Poor treatment adherence is associated with poor glycemic control, microvascular and macrovascular complications, and increased care costs. Treatment success is influenced by patient adherence to treatment which is a major factor in therapy outcomes. Objective to identify the relationship between patient characteristics and adherence to medication for patients with type 2 diabetes.This type of research is an analytic observational study with a cross-sectional approach. The samples used were 126 patients who were taken using a purposive sampling technique according to the inclusion criteria: being diagnosed with type 2 diabetes mellitus and receiving a prescription for antidiabetic drugs. The medication adherence instrument used the Morisky Medication Adherence questionnaire (MMAS-8). Data were analyzed using descriptive statistics and the Kendal-tau test. Adherence to taking medication in patients with Type 2 DM was mostly moderate (54%). There was a significant relationship between age (p=0.043), education level (p=0.000), gender (p=0.008), duration of suffering from Type 2 DM (p=0.000), frequency of taking medication (p=0.001), comorbidities (p=0.000), with adherence to taking DM medication. Still, there was no significant relationship between work type and adherence to DM medication (p=0,333). Type 2 DM patients mostly have a moderate level of medication adherence. Medication Compliance in Patients with Type 2 DM is influenced by several factors, including age, gender, education level, duration of suffering from DM, number of drugs taken, frequency of medication, and comorbidities.
The Effect of Balance Exercise (Forward Stepping) on The Risk of Falling in the Elderly Esri Rusminingsih; Marwanti Marwanti; Endang Sawitri; Apriliana Dwi Cahyani
Urecol Journal. Part C: Health Sciences Vol. 1 No. 1 (2021): January - June
Publisher : Konsorsium LPPM Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.37 KB) | DOI: 10.53017/ujhs.43

Abstract

Falling is a common occurrence in the elderly and the risk of falling increases with age. The elderly will experience a physical deterioration in the musculoskeletal system, which causes a decrease in balance, making them prone to falling. Impaired balance is the main cause of the risk of falls in the elderly because of visual, vestibular and somatosensory disorders. The risk of falling in the elderly can lead to complications of fractures and even death. Elderly balance exercise can be used as an effort to improve the quality of life of the elderly in the community. This study aims to determine the effect of balance training (forward stepping) on ??the level of risk of falling in the elderly. The research design used a pre-experiment with the One-Group Pretest-Posttest Design. The sampling technique used random sampling with a total of 16 respondents with criteria over 65 years of age, independent mobility and not experiencing hearing and vision problems. The intervention was given in the form of forward stepping balance exercises 3 times a week for 4 weeks with a duration of 15 minutes. Measuring the risk of falling using the Time Up and Go Test (TUGT). The results showed that the mean age of the elderly was 72.38 ± 3.46 years, with 12 more elderly women (75%) than men. The risk of falling before being given training in the elderly was included in the light category with an average TUGT value of 17.06 seconds and after training there was a decrease to an average of 13.24 seconds. The Wilcoxon Test shows the effect of balance training (forward stepping) on ??the risk of falling in the elderly with p-value = 0.000 <0.05. Conclusion: The results of this study indicate that balance training (forward stepping) can reduce the risk of falls in the elderly.
ASI dan Status Gizi Chori Elsera; Esri Rusminingsih; Ratna Agustiningrum; Nur Wulan Agustina; Dwi Miyono
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 12th University Research Colloquium 2020: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.005 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pertumbuhan dan perkembangan bayi dipengaruhioleh jumlah asupan nutrisi. Sumber nutrisi utama pada bayi usia 0-6bulan adalah ASI. Pada usia tersebut, bayi belum direkomendasikanuntuk mendapat makanan tambahan selain ASI, yang disebabkanoleh belum siap sistem pencernaan tubuh bayi. ASI adalah makananterbaik untuk bayi. Cakupan pemberian ASI di walayah kerjaPuskesmas Klaten Utara adalah 65% pada tahun 2016, dengan total323 bayi usia 0-6 bulan. Tujuan: Diketahui adakah hubunganpemberian ASI dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik denganpendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian inisejumlah 48 bayi usia 0-6 bulan. Teknik pengambilan sampel dengannonprobability yaitu cluster sampling. Analisa data menggunakanSpearman Rho. Hasil: Karakteristik responden yaitu rata-rata usia3,33 bulan, jenis kelamin bayi Sebagian besar adalah laki-lakidengan BB rata rata 4,52 kg. Pemberian ASI sebanyak 93,8% atausejumlah 45 responden dan status gizi bayi Sebagian besar baiksebanyak 89,6% (sejumlah 43 bayi). Menunjukkan bahwa adahubungan antara pemberian ASI dengan status gizi pada bayi usia 0-6 bulan.
Pencegahan Anemia Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Remaja di SMAN 4 Klaten Esri Rusminingsih; Marwanti Marwanti; Retno Wulan Febriyati; Siti Salasa
Madaniya Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.384

Abstract

Anemia merupakan kondisi pada eritrosit dan hemoglobin yang beredar tidak memenuhi kebutuhan oksigen bagi jaringan tubuh. Anemia defisiensi besi (IDA) merupakan penyebab dominan (>60%) anemia secara global. Anemia dikalangan remaja sangat lazim terjadi dinegara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Remaja terutama wanita rentan mengalami anemia defisiensi besi ketika memasuki masa pubertas. Anemia dapat membahayakan percepatan pertumbuhan pubertas, serta mengurangi kapasitas fisik dan fungsi kognitif. Penurunan hemoglobin mengurangi ketersediaan oksigen ke jaringan mengakibatkan penurunan kerja fisik. Defisiensi zat besi akan menyebabkan perubahan fungsi neirotransmitter yang dapat mempengaruhi kognisi. Anemia menyebabkan prestasi sekolah rendah dan gangguan perilaku anak sekolah. Tingginya prevalensi anemia pada remaja disebabkan kurangnya pengetahuan, sikap dan praktik gizi sehat. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan Anemia pada di SMKN 4 Klaten. Metode pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan tentang pencegahan Anemia pada Remaja di SMKN 4 Klaten. Pertama peserta diberikan soal pre test tentang pencegahan Anemia, kemudian diberikan penyuluhan meliputi pengertian anemia, tanda dan gejala, penyebab anemia, jenis makanan sumber zat besi, zat yang menghambat penyerapan zat besi, serta vitamin yang meningkatkan penyerapan zat besi. Setelah penyuluhan selesai, peserta diberikan soal post test. Jumlah skor pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan dihitung dengan nilai rata-rata. Kegiatan penyuluhan tentang pencegahan anemia pada remaja diikuti oleh 29 peserta. Rerata hasil pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan adalah 67, setelah penyuluha terjadi peningkatan pengetahuan dengan rata-rata nilai 86,6. Rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 19,3. Peserta mampu menjelaskan kembali tentang tanda-tanada anemia, penyebab anemia, akibat anemia. Peserta aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Pemberian penyuluhan pada remaja efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan anemia.
Relationship of Patient Characteristics with Medication Adherence in Type 2 DM Esri Rusminingsih; Romadhani Tri Purnomo
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 4 No 3 (2022): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.292 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v4i3.1316

Abstract

Indonesia is predicted to have the seventh-highest number of people with type 2 DM worldwide in 2030. Consistent adherence to taking medication as prescribed is the key to diabetes self-care. Poor treatment adherence is associated with poor glycemic control, microvascular and macrovascular complications, and increased care costs. Treatment success is influenced by patient adherence to treatment which is a major factor in therapy outcomes. Objective to identify the relationship between patient characteristics and adherence to medication for patients with type 2 diabetes.This type of research is an analytic observational study with a cross-sectional approach. The samples used were 126 patients who were taken using a purposive sampling technique according to the inclusion criteria: being diagnosed with type 2 diabetes mellitus and receiving a prescription for antidiabetic drugs. The medication adherence instrument used the Morisky Medication Adherence questionnaire (MMAS-8). Data were analyzed using descriptive statistics and the Kendal-tau test. Adherence to taking medication in patients with Type 2 DM was mostly moderate (54%). There was a significant relationship between age (p=0.043), education level (p=0.000), gender (p=0.008), duration of suffering from Type 2 DM (p=0.000), frequency of taking medication (p=0.001), comorbidities (p=0.000), with adherence to taking DM medication. Still, there was no significant relationship between work type and adherence to DM medication (p=0,333). Type 2 DM patients mostly have a moderate level of medication adherence. Medication Compliance in Patients with Type 2 DM is influenced by several factors, including age, gender, education level, duration of suffering from DM, number of drugs taken, frequency of medication, and comorbidities.
Penyuluhan Dan Pendampingan Pembuatan Ramuan Herbal Alami Untuk Peningkatan Imunitas Tubuh Dalam Menghadapi Wabah Covid-19 Di KSP Estu Mandiri Klaten Esri Rusminingsih; Agus Murtana; Ambar Winarti
Jurnal Pengabdian Perawat Vol. 1 No. 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jpp.v1i1.1518

Abstract

Penularan COVID-19 secara luas di seluruh dunia diakui oleh WHO sebagai pandemi. Risiko penularan COVID-19 yang sangat tinggi menyebabkan krisis kesehatan dan ekonomi di Indonesia. Maraknya beragam informasi hoax yang beredar dimasyarakat terkait produk herbal dan suplemen kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan COVID-19 perlu mendapatkan perhatian serius, dibutuhkan upaya untuk memberikan informasi dan edukasi yang benar tentang jenis, manfaat dan efek samping ramuan herbal pada masyarakat agar masyarakat bijak dalam memilih bahan herbal yang aman meningkatkan imunitas dalam mencegah COVID-19. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk melakukan penyuluhan dan pendampingan pembuatan ramuan herbal alami sebagai terapi komplementer untuk peningkatan imunitas tubuh dalam menghadapi wabah Covid-19 di KSP Estu Mandiri Klaten. Metode pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan dan pendampingan cara membuat herbal alami untuk meningkatkan imunitas menggunakan ramuan kunyit asam. Pertama peserta diberikan materi penyuluhan tentang jenis, manfaat, efek samping herbal dan cara membuat ramuan herbal, dilanjutkan pendampingan pembuatan ramuan herbal kunit asam. Kunyit dipilih sebagai bahan utama ramuan karena mengandung zat aktif yang memiliki manfaat imunomodulator, antiinflamasi dan antioksidan. Hasil kegiatan penyuluhan dan pendampingan pembuatan Ramuan Herbal Alami Untuk Peningkatan Imunitas Tubuh Dalam Menghadapi Wabah COVID-19 diikuti oleh 25 peserta. Rerata hasil pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan adalah 53,2, setelah penyuluh terjadi peningkatan pengetahuan dengan rata-rata nilai 88,8. Rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 35,6. Peserta mampu menjelaskan kembali jenis, manfaat, efek samping herbal dan antusias dalam membuat ramuan herbal. Setiap peserta mendapatkan 1 botol hasil pembuatan herbal kunyit asam. Peserta menyatakan rasa ramuan herbal segar dan enak dikomsumsi.