Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

THE PORIFERASTA COMPOUND-5,22E,25-TRIEN-3-Oβ FROM Clerodendrum paniculatum LEAF AS INDUCER AGENT OF SYSTEMIC RESISTANCE ON RED CHILLI PLANT Capsicum annuum L FROM CUCUMBER MOSAIC VIRUS (CMV) Weny Musa; Hersanti Hersanti; Achmad Zainuddin; Roekmi-ati Tjokronegoro
Indonesian Journal of Chemistry Vol 9, No 3 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.74 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21521

Abstract

The poriferasta-5.22E.25-trien-3β-ol compound of leaves of this plant Clerodendrum paniculatum has activity as an inducer agent of plant systemic resistance of red plant toward Cucumber Mosaic Viruses (CMV), the inhibition activity compound shows 82% inhibition activity at 300 ppm. The structure of these compound were determined on the basis of spectroscopic data including UV, IR, 1H-NMR, 13C-NMR and 2D-NMR
Uji Kemampuan Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam Campuran Carbon Fiber dan Silica Nano untuk Mengendalikan Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Tanaman Tomat Hersanti Hersanti; Siska Rasiska; Refiona Sekar Sari
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.1.29-38

Abstract

Penyakit puru akar adalah penyakit yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. yang dapat menurunkan hasil panen tanaman tomat hingga 29%. Alternatif pengendalian penyakit puru akar adalah dengan menggunakan bakteri antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri antagonis Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. yang dicampurkan dengan serat karbon dan silika nano untuk menekan Meloidogyne spp. secara in vitro dan mengendalikan penyakit puru akar pada tanaman tomat secara in vivo. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi dan Rumah Kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran dari bulan Juni sampai Desember 2019. Percobaan terdiri atas uji in vitro terdiri dari 11 perlakuan dan 3 ulangan yang dan uji in vivo dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan yang dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menujukkan bahwa B. subtilis dan Lysinibacillus dapat menekan populasi Meloidogyne spp. Campuran B. subtilis dengan serat karbon dan silika nano menurunkan populasi Meloidogyne spp. hingga 90% secara in vitro. Formulasi Bacillus subtilis + Lysinibacillus adalah campuran yang paling baik dalam menekan penyakit puru akar pada tanaman tomat.
Deteksi dan Identifikasi Nematoda Radopholus similis Cobb pada Tanaman Hias Anthurium andreanum Nursusilawati, Nursusilawati; Sunarto, Toto; Hersanti, Hersanti
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.51980

Abstract

Radopholus similis merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina di beberapa negara. Nematoda tersebut menjadi salah satu kendala ekspor tanaman hias dari Indonesia. Laporan mengenai serangan nematoda pada tanaman hias masih sangat terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi keberadaan nematoda R. similis pada tanaman Anthurium andreanum dengan mengidentifikasinya secara morfologi, morfometri, dan molekuler. Monitoring keberadaan nematoda tersebut dilakukan dengan pengambilan sampel secara acak sebanyak 50 pot di lahan pembibitan A. andreanum Desa Ciherang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Ekstraksi nematoda dilakukan pada sampel akar dengan metode pengkabutan selama 48 jam. Sepuluh ekor nematoda jantan dan betina diidentifikasi secara morfologi dan morfometri dengan pengamatan di bawah mikroskop. DNA satu ekor nematoda betina dewasa diekstraksi dengan DNeasy Blood and Tissue Kit (Qiagen). Identifikasi secara molekuler dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer spesifik RsF1/RsR1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies nematoda adalah R. similis berdasarkan karakter morfologi, morfometri, dan molekuler. Amplifikasi DNA menggunakan primer spesifik RsF1/RsR1 berhasil mendapatkan pita DNA berukuran 271 bp. Analisis runutan nukleotida menunjukkan bahwa R. similis asal Indonesia berkerabat dekat dengan spesies yang sama yang berasal China, Malaysia, Belgia, Australia, Taiwan, India, Mexico, Tanzania dan Spanyol dengan tingkat homologi 100%. Terdeteksinya R. similis pada A. andreanum di lapangan dapat menjadi perhatian bagi seluruh stakeholder untuk segera melakukan pengendalian agar dapat meningkatkan ekspor tanaman hias Indonesia.
Aplikasi Jamur Entomopatogen Lecanicillium lecanii pada Berbagai Kerapatan Konidia dan Frekuensi Aplikasi terhadap Hama Kutukebul (Bemisia tabaci) pada Tanaman Tomat Sudarjat, Sudarjat; Hersanti, Hersanti; Nurazizah, Rahmalia
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.47658

Abstract

Kutukebul (Bemisia tabaci) merupakan hama penting pada tanaman tomat. Pengendalian B. tabaci umumnya dilakukan secara kimia menggunakan insektisida sintetik. Sementara itu, pemanfaatan agensia hayati seperti jamur entomopatogen direkomendasikan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Jamur entomopatogen Lecanicillium lecanii dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan B. tabaci. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi L. lecanii yang paling tepat dalam menekan populasi kutukebul pada tanaman tomat. Percobaan ini dilakukan di rumah kaca Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Agustus hingga Oktober 2022. Percobaan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas sepuluh perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan terdiri atas jamur entomopatogen L. lecanii dengan kerapatan 107 konida/ml, 108 konidia/ml, dan 109 konidia/ml dengan frekuensi aplikasi 1 minggu, 2 minggu, dan 3 minggu sekali, serta perlakuan kontrol yang diaplikasikan pada stadia nimfa B. tabaci. Hasil penelitian didapatkan jamur entomopatogen L. lecanii dengan kerapatan 107 konidia/ml dengan frekuensi waktu aplikasi 3 minggu sekali efektif dan dianggap efisien mengendalikan populasi nimfa B. tabaci serta memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat serta hasil panen buah tomat.
Uji Kitosan Nano dan Silika Nano untuk Menekan Pertumbuhan Rhizoctonia solani dan Penyakit Rebah Semai Padi Hersanti, Hersanti; Arisaputri, Annisa; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.50758

Abstract

Penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penggunaan pestisida kimia sintetik yang biasa dilakukan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah memanfaatkan bahan alami, yaitu kitosan dan silika berukuran nano. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan kitosan nano dan  silika nano dalam menghambat pertumbuhan R. solani secara in vitro dan menekan perkembangan penyakit rebah semai padi. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dari bulan Januari hingga Mei 2022. Percobaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji in-vitro dan in-vivo. Uji in-vitro (poisoned food) menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Uji in-vivo (seed treatment) menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu aplikasi kitosan nano  50 ppm, kitosan nano 100 ppm, kitosan nano 200 ppm, silika nano 50 ppm, silika nano 100 ppm, silika nano 200 ppm, kitosan nano 50 ppm + silika nano 50 ppm, kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm, dan fungsisida mankozeb 80% 2 mL/L. Hasil pengujian in-vitro diperoleh bahwa perlakuan tunggal kitosan nano 200 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menghambat pertumbuhan koloni R. solani pada PDA, dengan  penghambatan berturut-turut  sebesar 92,2% dan 96,6%. Hasil uji in-vivo menunjukkan perlakuan silika nano tunggal pada konsentrasi 100 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menekan kejadian penyakit rebah semai padi dengan penghambatan berturut-turut sebesar 97,16% dan 98,64%.
The Ability of Nano Chitosan and Bacillus subtilis (Ehrenberg) Cohn to Suppress the Growth of Alternaria porri (Ellis) Ciferri Al Farisy, Muhammad Restu; Meliansyah, Rika; Susanto, Agus; Hersanti, Hersanti
CROPSAVER Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v7i2.58185

Abstract

Purple blotch disease, caused by the fungus Alternaria porri (Ellis) Ciferri, poses a significant threat to shallot crops. Environmentally friendly control methods, such as applying nano-sized chitosan and Bacillus subtilis (Ehrenberg) Cohn, offer promising alternatives. This study aims to determine the effective concentrations of nano chitosan and B. subtilis, individually and in combination, to suppress the growth of A. porri in-vitro. The research was conducted from March to June 2024 at the Phytopathology Laboratory and Plant Protection Biotechnology Laboratory, Department of Pests and Plant Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. A completely randomized design was employed, consisting of nine treatments with three replications each: a control treatment, B. subtilis 107 CFU/ml, 50 ppm nano chitosan, 100 ppm nano chitosan, 200 ppm nano chitosan, B. subtilis 107 CFU/ml + 50 ppm nano chitosan, B. subtilis 107 CFU/ml + 100 ppm nano chitosan, B. subtilis 107 CFU/ml + 200 ppm nano chitosan, and 80% mancozeb. The results indicated that nano chitosan at a concentration of 100 ppm was the most effective single treatment which could suppress the growth of A. porri colonies by 94% and inhibit conidia germination by 95%. Meanwhile, B. subtilis 107 CFU/ml + 100 ppm nano chitosan is the most effective mixed treatment which could suppress the growth of A. porri colonies by 84% and inhibit conidia germination by 90%.
Deteksi dan Identifikasi Jamur Stemphylium vesicarium pada Tanaman Bawang Putih di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Jawa Barat Afrilia, Hilda Ayu; Hersanti, Hersanti; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.59460

Abstract

Stemphylium vesicarium merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) A2 di Indonesia dan dilaporkan dapat menginfeksi spesies Allium, cabai, asparagus, dan pir di beberapa negara. Gejala hawar daun menyerupai infeksi S. vesicarium pada bawang putih ditemukan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung namun belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen penyebab penyakit hawar daun pada bawang putih menggunakan pendekatan morfologi dan molekuler. Identifikasi morfologi dilakukan berdasarkan pengamatan karakteristik makroskopis dan mikroskopis, sedangkan identifikasi molekuler dilakukan melalui amplifikasi DNA menggunakan primer ITS (Internal Transcribed Spacer) dengan primer forward ITS1 dan reverse ITS4 serta sekuensing genetik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga September 2024. Pengambilan sampel daun yang terinfeksi S. vesicarium dilakukan di tiga lokasi pertanaman di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Isolasi patogen dan identifikasi morfologi dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Uji patogenesitas pada tanaman bawang putih dilakukan di lahan percobaan di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase kejadian penyakit hawar daun di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung adalah sebesar 33,78%, sementara rata-rata persentase keparahan penyakitnya mencapai 10,67%. Isolat yang diperoleh memiliki ciri morfologi khas S. vesicarium, seperti bentuk konidia lonjong dengan sekat transversal dan sekat longitudinal dan tidak terbentuk dalam rantai. Analisis molekuler mengonfirmasi kesesuaian hasil identifikasi dengan urutan gen ITS S. vesicarium yang dilaporkan di basis data genetik. Studi ini berhasil mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen utama penyebab hawar daun pada tanaman bawang putih.
PENGUJIAN INOKULAN KONSORSIUM DEKOMPOSER BERAGEN HAYATI DALAM LAJU DEKOMPOSISI JERAMI SELAMA MASA INKUBASI YANG DILAKUKAN DI RUMAH KACA Turmuktini, Tien; Simarmata, Tualar; Natalie, Betty; Hersanti, Hersanti; Yuwariah, Yuyun
CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH Vol. 2 No. 2 (2011): CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of fresh straw directly on agricultural land turns out have a negarif impact, among others, is the danger of grems contamination on the straw from theprevious crop and environmental pollution due to the formation of methane resulted from anaerobic decomposition of flooded rice field. The recommended solution is composting straw earlier. The main obstacle of this straw composting include necessary labor (preparation of materials, transportation, maintenance) and the cost is relatively high. An alternative solution is to do straw inoculation with bio agent consortium decomposers before tillage (direct composting). Inoculation consortium decomposer is added to the straw need to be tested its effect on decomposition rate, especially incubation time and incorporation also the type of consortium. The aim of this research is to determine the bio agent inoculant consortium decomposer incubation time to accelerate straw decomposition and nutrient availability. The experiments was conducted in the greenhouse of the Faculty of Agriculture University of Padjadjaran in April to May 2010, using a randomized block design in factorial pattern repeated three times, as factor I: Incubation time (1, 2, 3 and 4 MST) and factor II: inoculant: no inoculants; formula A = inoculant decomposers (Bacillus sp, Cytophaga sp, Streptomyces sp) and formula B = inoculant decomposers (Bacillus sp, Cytophaga sp, T. harzianum). The results of this experiment showed that administration of a consortium of formula A and B can accelerate the decomposition of straw (temperature increases and pH decreases), and with increasing incubation time can increase the value of C-organic, N-total, decrease C/N compared to controls.
PENGUJIAN INOKULAN KONSORSIUM DEKOMPOSER BERAGEN HAYATI DALAM LAJU DEKOMPOSISI JERAMI SELAMA MASA INKUBASI YANG DILAKUKAN DI RUMAH KACA Turmuktini, Tien; Simarmata, Tualar; Natalie, Betty; Hersanti, Hersanti; Yuwariah, Yuyun
CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH Vol. 2 No. 2 (2011): CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of fresh straw directly on agricultural land turns out have a negarif impact, among others, is the danger of grems contamination on the straw from theprevious crop and environmental pollution due to the formation of methane resulted from anaerobic decomposition of flooded rice field. The recommended solution is composting straw earlier. The main obstacle of this straw composting include necessary labor (preparation of materials, transportation, maintenance) and the cost is relatively high. An alternative solution is to do straw inoculation with bio agent consortium decomposers before tillage (direct composting). Inoculation consortium decomposer is added to the straw need to be tested its effect on decomposition rate, especially incubation time and incorporation also the type of consortium. The aim of this research is to determine the bio agent inoculant consortium decomposer incubation time to accelerate straw decomposition and nutrient availability. The experiments was conducted in the greenhouse of the Faculty of Agriculture University of Padjadjaran in April to May 2010, using a randomized block design in factorial pattern repeated three times, as factor I: Incubation time (1, 2, 3 and 4 MST) and factor II: inoculant: no inoculants; formula A = inoculant decomposers (Bacillus sp, Cytophaga sp, Streptomyces sp) and formula B = inoculant decomposers (Bacillus sp, Cytophaga sp, T. harzianum). The results of this experiment showed that administration of a consortium of formula A and B can accelerate the decomposition of straw (temperature increases and pH decreases), and with increasing incubation time can increase the value of C-organic, N-total, decrease C/N compared to controls.
Keefektivan Campuran Kitosan Nano dan Silika Nano dalam Menekan Alternaria porri dan Penyakit Bercak Ungu pada Tanaman Bawang Merah Hersanti, Hersanti; Aldriana, Suyus Muhammad Landy Haekal; Maharani, Yani; Hartati, Sri
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.59886

Abstract

Alternaria porri merupakan jamur penyebab penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah. Penyakit ini mengakibatkan kerugian lebih dari 57%.  Kitosan dan silika merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai fungisida bahan alam. Pemanfaatan teknologi nano dalam mengembangkan fungisida bahan alam bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel bahan tersebut, agar lebih mudah diserap oleh tanaman sehingga lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kosentrasi campuran kitosan nano dan silika nano yang efektif dalam menekan jamur A. porri (in vitro) dan menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah (in vivo).  Uji in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang diuji dalam percobaan meliputi aplikasi campuran bahan nano dalam perbandingan 1:1 serta kontrol dan pembanding meliputi kitosan nano 100 ppm, silika nano 100 ppm, campuran kitosan nano dan silika nano pada empat tingkat konsentrasi (50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm), asam asetat 1%, fungisida mankozeb 80%, serta kontrol akuades. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran kitosan nano 300 ppm dan silika nano 300 ppm mampu menyebabkan penekanan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni A. porri sebesar 94,44% dan perkecambahan konidia sebesar 85%, serta paling efektif menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah sebesar 73%.