Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Pedagogi Kepemimpinan dalam Teks Nitisastra Karya Maha Rsi Kautilya Widyaningsih, Dipa Hayu; Setyaningsih; Siswadi, Gede Agus
Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): April
Publisher : Samsara Institute Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam konsep pedagogi kepemimpinan yang terkandung dalam teks Nītiśāstra karya Maha Rsi Kautilya. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana kepemimpinan dipandang bukan sekadar sebagai posisi kekuasaan, melainkan sebagai proses pendidikan karakter yang berkesinambungan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan hermeneutika untuk menafsirkan makna filosofis dan pedagogis dari sloka-sloka dalam teks Nītiśāstra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagogi kepemimpinan dalam perspektif Nītiśāstra mencakup integrasi antara kecerdasan intelektual, kematangan moral, dan pengendalian diri (Indriya Jaya). Teks ini membedakan secara jelas antara pedagogi, andragogi, dan heutagogi dalam konteks perkembangan kepemimpinan. Hakikat pedagogi kepemimpinan dalam Nītiśāstra menempatkan pemimpin sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan moral bagi masyarakatnya. Proses pendidikan karakter ini dimulai dari disiplin diri sebagai fondasi utama sebelum memimpin orang lain. Tujuan akhirnya adalah pencapaian kesejahteraan bersama (Jagadhita) yang berlandaskan pada nilai-nilai Dharma. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan hermeneutika dalam merekonstruksi teks Nītiśāstra sebagai sumber pedagogi kepemimpinan, yang sebelumnya lebih banyak dikaji dalam perspektif etika dan politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep kepemimpinan dalam Nītiśāstra memiliki nilai pedagogis yang universal dan relevan untuk membentuk karakter pemimpin yang berintegritas di era modern.
A Critical Evaluation of Smara Sādhanā Concepts in The Lontar Kama Tattwa for Strengthening Premarital Education Siswadi, Gede Agus; Lasiyo, Lasiyo; Murtiningsih, Rr Siti
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 2 (2026): April
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i2.2978

Abstract

Purpose of the study: This study aims to critically evaluate the concept of Smara Sādhanā as presented in the Lontar Kama Tattwa and to examine its relevance in strengthening premarital education in Denpasar. The research addresses the growing phenomenon of premarital sexual practices and the shifting moral values reflected in the discourse of “sing beling sing nganten,” which indicate a process of desacralization of marriage and sexuality. Methodology: This research employs a qualitative approach with a critical–interpretative design. Primary data are derived from classical Balinese Hindu texts categorized under Kama Tattwa. Secondary data are collected from scholarly literature and relevant studies. Main Findings: The findings reveal that Smara Sādhanā conceptualizes sexuality as a sacred and conscious practice that integrates physical, psychological, and spiritual dimensions, grounded in dharma and realized within the institution of marriage. The study also finds that contemporary social phenomena, such as the normalization of premarital sex and gender bias, reflect a disconnection between traditional ethical teachings and modern practices. Novelty/Originality of this study: This study offers a novel contribution by bridging classical Hindu philosophical texts with contemporary educational and social issues. It reconstructs premarital education through the lens of Smara Sādhanā, positioning sexuality as a form of spiritual discipline rather than merely a biological or social act. Furthermore, this research introduces a culturally rooted and philosophically grounded framework that addresses both moral challenges and gender issues in modern Balinese society, thereby enriching the discourse on sexuality education within religious and cultural contexts.