Claim Missing Document
Check
Articles

Wanita Dewasa Awal yang Berkarir dan Lajang : Tinjauan atas Psychological Well-Being, Gratitude dan Social Support Asep Zaelani; Puspa Rahayu Utami Rahman; Yulyanti Minarsih
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 5 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i5.6544

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gratitude dan social support terhadap psychological well-being pada wanita dewasa awal yang berkarir dan lajang Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kausalitas. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 215 responden dengan menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Ryyf’s Psychological Well-being scale (RPWBS), Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Analisis data menggunakan uji regresi berganda (uji T dan uji F). Hasil penelitian ini menunjukan nilai sig 0,000 (p< 0,05), yaitu Ha diterima dan H0 ditolak, artinya bahwa gratitude dan social support memiliki pengaruh  terhadap psychological well-being dengan sumbangan pengaruhnya sebesar 98,7%. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat gratitude dan social support yang tinggi dapat memperkuat psychological well-being wanita dewasa awal berkarir dan lajang.
Cognitive flexibility as Mediator the Effect of Loneliness on Celebrity worship in Early adult Korean Wave Fans in Indonesia Muhamad Gilang Krismana; Puspa Rahayu Utami Rahman; Cempaka Putrie Dimala
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12342

Abstract

Celebrity worship is an obsessive-addictive disorder where a person becomes involved in every detail of their idol's activities (Maltby et. al, 2005). This study aims to determine cognitive flexibility as a mediator of the effect of loneliness on celebrity worship in early adult korean wave fans in Indonesia. The research method uses quantitative and causality approaches. The measuring instruments used are the Cognitive Flexibility Inventory (CFI) scale by Dennis & Vander Wal (2010, the UCLA Loneliness Scale (ULS-20) scale by Russel (1996), and the Celebrity Attitude Scale (CAS) scale by Maltby et al (2004). The population of this study was early adult korean wave fans in Indonesia, with a sample of 496 participants including 113 men and 383 women. Mediation analysis was used using the SEM mediation analysis feature of the JASP software version 16. The results showed the value of the direct effect of the loneliness variable on celebrity worship, with a p value of 0.001 <0.05, which indicates that the loneliness variable has a significant effect on celebrity worship. On the other hand, the value of the indirect effect between the variable loneliness on celebrity worship and cognitive flexibility as a mediator was obtained, with a p value of 0.001 <0.05, which shows that cognitive flexibility functions as a mediator of the effect of loneliness on celebrity worship. which means that the cognitive flexibility variable can reduce celebrity worship caused by the loneliness variable.Celebrity worship merupakan gangguan obsesif-adiktif dimana seseorang menjadi terlibat pada setiap detail aktivitas idolanya (Maltby et. al, 2005). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cognitive flexibility sebagai mediator pengaruh loneliness terhadap celebrity worship pada dewasa awal penggemar korean wave di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kausalitas. Alat ukur yang digunakan adalah skala Cognitive Flexibility Inventory (CFI) oleh Dennis & Vander Wal (2010, skala UCLA Loneliness Scale (ULS-20) oleh Russel (1996), dan skala Celebrity Attitude Scale (CAS) oleh Maltby et al (2004). Populasi penelitian ini merupakan dewasa awal penggemar korean wave di Indonesia, dengan sampel sebanyak 496 partisipan diantaranya 113 laki-laki dan 383 perempuan. Analisis mediasi digunakan menggunakan fitur SEM mediation analysis dari perangkat lunak JASP versi 16. Analisis mediasi digunakan menggunakan fitur SEM mediation analysis dari perangkat lunak JASP versi 16. Hasil penelitian menunjukkan nilai pengaruh langsung variabel loneliness terhadap celebrity worship. Di sisi lain, nilai pengaruh tidak langsung antara variabel loneliness terhadap celebrity worship dan cognitive flexibility sebagai mediator diperoleh, dengan nilai p 0,001 < 0,05, yang menunjukkan bahwa cognitive flexibility berfungsi sebagai mediator pengaruh loneliness terhadap celebrity worship. yang berarti variabel cognitive flexibility dapat penurunan celebrity worship yang disebabkan oleh variabel loneliness.
PENGARUH KONTROL DIRI DAN KELEKATAN ORANG TUA TERHADAP KENAKALAN REMAJA DI KARAWANG Nafisah Ghaliyati Firsanah; Puspa Rahayu Utami Rahman; Yulyanti Minarsih
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 11 No. 1 (2026): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/8cvz7e17

Abstract

Juvenile delinquency is a social problem influenced by internal and external factors. This study aimed to examine the effect of self-control, mother attachment, and father attachment on juvenile delinquency among adolescents in Karawang. This research used a quantitative approach with a multiple linear regression design. The participants were 385 adolescents aged 15–18 years residing in Karawang, selected using convenience sampling. Data were collected using the Brief Self-Control Scale (BSCS), Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), and Subtypes of Antisocial Behavior Questionnaire (SABQ). Data analysis was conducted using assumption tests, multiple linear regression analysis, partial tests, simultaneous tests, and coefficient of determination. The results showed that self-control had a significant negative effect on juvenile delinquency, indicating that higher self-control was associated with lower delinquency tendencies. Mother attachment also had a significant negative effect on juvenile delinquency, while father attachment did not show a significant partial effect. Simultaneously, self-control, mother attachment, and father attachment significantly affected juvenile delinquency with a contribution of 75.6%. These findings indicate the importance of strengthening adolescents’ self-control and improving positive emotional relationships between parents and adolescents as preventive efforts against juvenile delinquency. Kenakalan remaja merupakan permasalahan sosial yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontrol diri, kelekatan ibu, dan kelekatan ayah terhadap kenakalan remaja di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear berganda. Subjek penelitian berjumlah 385 remaja berusia 15–18 tahun yang berdomisili di Karawang dan dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Brief Self-Control Scale (BSCS), Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), dan Subtypes of Antisocial Behavior Questionnaire (SABQ). Analisis data dilakukan melalui uji asumsi, regresi linear berganda, uji parsial, uji simultan, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kenakalan remaja, sehingga semakin tinggi kontrol diri maka semakin rendah kecenderungan kenakalan remaja. Kelekatan ibu juga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kenakalan remaja, sedangkan kelekatan ayah tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Secara simultan, kontrol diri, kelekatan ibu, dan kelekatan ayah berpengaruh signifikan terhadap kenakalan remaja dengan kontribusi sebesar 75,6%. Temuan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kontrol diri serta penguatan hubungan emosional yang positif antara orang tua dan remaja sebagai upaya pencegahan kenakalan remaja.
PENGARUH KONTROL DIRI DAN POLA KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP SMARTPHONE ADDICTION  PADA REMAJA MADYA DI KARAWANG Rayina Julita; Puspa Rahayu Utami Rahman; Yulyanti Minarsih
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 11 No. 1 (2026): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/3y6n3b57

Abstract

This study aims to determine the effect of self-control and family communication patterns on smartphone addiction among middle adolescents in Karawang Regency. Respondents in this study consisted of 385 middle adolescents aged 15–18 years in Karawang Regency. This research used a quantitative method. Data were collected using the Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV) developed by Kwon et al. (2013), the Brief Self-Control Scale (BSCS) developed by De Ridder et al. (2011), and the Revised Family Communication Patterns (RFCP) developed by Koerner and Anne (2002). The research data were processed using SPSS version 25 with multiple linear regression analysis. The results showed that self-control, conversation orientation, and conformity orientation affected smartphone addiction among middle adolescents in Karawang Regency. Simultaneously, self-control, conversation orientation, and conformity orientation had a significant effect on smartphone addiction. The contribution of these variables was 35.9%, while the remaining 64.1% was influenced by other variables not examined in this study. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontrol diri dan pola komunikasi keluarga terhadap smartphone addiction pada remaja madya di Kabupaten Karawang. Responden dalam penelitian ini berjumlah 385 remaja madya berusia 15–18 tahun di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengambilan data menggunakan Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV) dari Kwon et al. (2013), Brief Self-Control Scale (BSCS) dari De Ridder et al. (2011), serta Revised Family Communication Patterns (RFCP) dari Koerner dan Anne (2002). Data penelitian diolah menggunakan SPSS versi 26.0 dengan uji analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri, orientasi percakapan, dan orientasi konformitas berpengaruh terhadap smartphone addiction pada remaja madya di Kabupaten Karawang. Secara simultan, kontrol diri, orientasi percakapan, dan orientasi konformitas berpengaruh signifikan terhadap smartphone addiction. Besar pengaruh ketiga variabel tersebut adalah 35,9%, sedangkan 64,1% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
THE ROLE OF SELF-ESTEEM IN SOCIAL MEDIA SELF-PRESENTATION AMONG EMERGING ADULTS: EDUCATIONAL IMPLICATIONS FROM INSTAGRAM USER BEHAVIOR Leydiana Syahputri; Puspa Rahayu Utami Rahman; Dinda Aisha
EDUCATIONE Volume 3, Issue 2, July 2025
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v3i2.86

Abstract

This study aims to determine the effect of self-esteem on social media self-presentation in emerging adulthood Instagram users. The subjects of this study were men and women aged 18-25 years in Karawang Regency. The determination of the subjects was carried out using a non-probability sampling technique, especially convenience sampling, totaling 204 respondents. This study uses a quantitative method, the data collection technique in this study is using the Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) to measure self-esteem and the Self Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ) to measure self-presentation on social media. The data analysis technique used is simple regression. The results of this study show a p value = 0.447> 0.05, namely Ho is accepted and Ha is rejected, meaning that self-esteem does not have a significant effect on self-presentation. This finding indicates that self-presentation on Instagram in emerging adulthood is not influenced by self-esteem, but is likely influenced by other factors such as social pressure, peer influence, or motivation to form an ideal self-image. Therefore, further studies considering mediation or moderation variables are suggested to understand more comprehensively the relationship between self-esteem and self-presentation of social media users in this generation.
KETIKA BUDAYA MENANTANG TEORI:PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA DINI Muhammad Purwa Tuhagana; Puspa Rahayu Utami Rahman; Yulyanti Minarsih
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.9078

Abstract

Perkembangan sosial-emosional merupakan salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak usia dini yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya pola asuh ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoritatif, otoriter, dan permisif ibu terhadap perkembangan sosial-emosional anak usia dini di Syaira Global School Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Sampel penelitian berjumlah 41 ibu yang memiliki anak usia 54–72 bulan dengan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan adalah Parenting Styles and Dimensions Questionnaire-Short Form (PSDQ-SF) untuk mengukur pola asuh dan Ages and Stages Questionnaire: Social Emotional Second Edition (ASQ:SE-2) untuk mengukur perkembangan sosial-emosional anak. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial-emosional anak (p = 0,003) dengan arah hubungan negatif. Sementara itu, pola asuh otoriter (p = 0,688) dan pola asuh permisif (p = 0,117) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan bahwa pola asuh otoritatif memiliki pengaruh dengan arah negatif ini mengindikasikan bahwa efektivitas pola asuh terhadap perkembangan sosial-emosional anak perlu dipahami berdasarkan kesesuaiannya dengan konteks budaya dan karakteristik perkembangan anak, sehingga pola asuh yang secara teoretis dianggap ideal belum tentu memberikan hasil yang sama pada setiap budaya.