Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS DAYA SAING PADA USAHATANI PADI TADAH HUJAN DAN USAHATANI PADI IRIGASI DI KLATEN Bimoseno Sepfrian; Andriyono Kilat Adhi; Muhammad Firdaus
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 10 No. 2 (2022): Desember 2022 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2022.10.2.222-234

Abstract

Salah satu program pembangunan pertanian yang strategis adalah swasembadaya pangan. Swasembada ini disebut swasembada beras karena beras bahan pangan utama dalam swasembada pangan. Padi merupakan tanaman pangan strategis untu terciptanya swasembada beras di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis daya saing beradasarkan keunggulan kompetitif, komperatif, dan sensitivitas pada sawah tadah hujan dan irigasi di kabupaten Klaten. Metode yang digunakan dalam penentuan sample dilakukan dengan purposive sampling. Analisis data menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM) dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menujukan bahwa sawah tadah hujan dan irigasi di Kabupaten Klaten memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Analisis sensitivitas melihat saat terjadi penurunan output 20 persen pada sawah tadah hujan tidak berdaya saing lagi secara kompetitif karena nilai PCR menjadi 1,01 dari sebelumnya yaitu 0,80 sedangkan sawah irigasi tetap berdaya saing secara kompetitif dengan nilai PCR menjadi 0,71 dari sebelumnya 0,56. Untuk usahatani padi tadah hujan perlu adanya teknologi tambahan untuk meningkatkan produksi saat terjadinya kemarau yang lebih panjang atau intensitas hujan yang lebih rendah sehingga tidak terjadinya penurunan produksi karena kekurangan air di sawah tadah hujan yang menyebabkan tidak berdaya saing secara kompetitif dan komperatif.
ANALISIS PEMASARAN BERAS ORGANIK DI PROVINSI SUMATERA BARAT Julia Mardalisa; Andriyono Kilat Adhi; Heny Kuswanti Suwarsinah
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023): Desember 2023 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2023.11.2.262-276

Abstract

Berdasarkan data SPOI tahun 2020, komoditas beras organik merupakan salah satu produk organik yang paling banyak digunakan. Beras merupakan salah satu komoditas teratas untuk produk organik. Pada tahun 2017 dan 2018, luas lahan yang dikonversi menjadi organik tumbuh signifikan sebesar 53.000 hektar. Luas area komoditas beras organik yang dihasilkan sejauh tahun 2016 terdapat 5 kabupaten/kota yang paling luas. Berdasarkan data dari SPOI, Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu tempat di Indonesia dengan lahan padi organik terbanyak (2017). Sejak tahun 2006, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah memiliki kebijakan untuk membantu pertumbuhan pertanian organik. Terdapat beberapa permasalahan dalam pemasaran beras organik di Sumatera Barat yaitu kurangnya akses pasar oleh petani sehingga hanya sebagian kecil hasil panen petani padi organik diserap sebagai produk akhir beras organik dan produk dijual dengan harga beras konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis efisiensi pemasaran dan operasional pemasaran (margin, farmer’s share dan rasio keuntungan) beras organik di Provinsi Sumatera Barat. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive. Purposive sampling digunakan untuk menentukan responden petani, dan snowball sampling digunakan untuk menentukan responden pedagang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Rasio keuntungan terhadap biaya, farmer's share, dan analisis margin pemasaran adalah alat analisis kuantitatif. Temuan ini menunjukkan terdapat empat jalur pemasaran beras organik di Sumatera Barat, yang semuanya didukung oleh lima lembaga pemasaran yang berbeda yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar, petani bandar, pedagang pengecer skala kecil dan pedagang pengecer skala besar (supermarket). Petani – pedagang pengumpul – pedagang besar - pengecer skala kecil (saluran 2) merupakan pola saluran yang paling banyak dipilih oleh petani yaitu sebesar 50%. Saluran 4 merupakan pola saluran yang paling efisien karena merupakan saluran terpendek, memiliki margin terendah sebesar Rp 5.500, dan memiliki nilai farmer's share tertinggi sebesar 50%.
Tata Kelola Rantai Nilai Gula Aren di Kabupaten Tasikmalaya Nuri Nabila Nurohmah; Nunung Kusnadi; Andriyono Kilat Adhi
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024): Juni 2024 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2024.12.1.106-119

Abstract

Tingginya harga gula aren dibandingkan gula merah non-aren di tingkat konsumen menimbulkan pertanyaan aktivitas penciptaan nilai mana yang menyebabkan harga gula aren relatif lebih mahal. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi aktor dan peran masing-masing aktor yang terlibat dalam rantai nilai gula aren; dan (2) menganalisis tata kelola yang terbentuk dalam rantai nilai. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan kuisioner dan observasi lapangan. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling dengan jumlah responden sebanyak 53 petani aren dan 10 pengepul gula aren. Data dianalisis menggunakan kualitatif deskriptif yang merujuk pada analisis rantai nilai global (VCGs) yang dikemukakan oleh Gereffi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) aktor yag teridentifikasi dalam rantai nilai gula aren terdiri atas petani aren, pengolah gula aren, pengepul gula aren, pedagang, layanan pendukung, social entreprise, dan konsumen. Pengolah gula aren dan pengepul merupakan aktor yang paling berperan dalam rantai nilai gula aren di Kabupaten Tasikmalaya; (2) secra keseluruhan, tipe tata kelola yang terbentuk dalam rantai nilai gula aren di Kabupaten Tasikmalaya adalah tata kelola modular.
ATRIBUT DIMENSI KEBERLANJUTAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI PROVINSI RIAU Muhammad Ikhsan; Andriyono Kilat Adhi; Harianto Harianto
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 12 No. 2 (2024): Desember 2024 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2024.12.2.259-273

Abstract

Tren penurunan produksi karet yang terus terjadi di Provinsi Riau merupakan tantangan serius yang memengaruhi keberlanjutan perkebunan karet kedepan. Tujuan riset ini adalah mengembangkan indeks dan Tujuan studi ini yakni meningkatkan indeks serta mengenali faktor - faktor yang mempengaruhi keberlanjutan perkebunan karet rakyat di Provinsi Riau dari perspektif ekonomi, ekologi, dan sosial menggunakan pendekatan RAP-Rubber dengan teknik Multi Dimensional Scaling (MDS). Informasi yang dianalisis diperoleh dari dua sumber utama , yaitu informasi primer serta sekunder. Informasi primer dikumpulkan lewat interaksi langsung dengan petani karet serta pihak terikat di zona perkebunan karet. Sedangkan itu, informasi sekunder didapatkan dari institusi serupa Badan Pusat Statistik, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, dan literatur yang berkaitan dengan topik riset ini. Nilai indeks keberlanjutan perkebunan karet rakyat di Provinsi Riau secara multi dimensi adalah 38,40 masuk dalam kategori kurang berkelanjutan. Rentang nilai indeks keberlanjutan pada setiap dimensi bervariasi antara 26,67–51,29. Nilai keberlanjutan terendah terdapat pada dimensi ekonomi, diikuti oleh dimensi sosial, sementara dimensi ekologi memiliki nilai keberlanjutan tertinggi. Faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi keberlanjutan perkebunan karet rakyat di Provinsi Riau adalah fluktuasi harga, harga ojol dan penggunaan pestisida (dimensi ekonomi); teknik pembukaan lahan, pengetahuan tanaman Legum Cover Crop, dan jumlah hari sadap (dimensi lingkungan); hubungan sosial petani tengkulak, tingkat pendidikan dan ketersediaan penyuluhan (dimensi sosial). Implikasi manajerial dari riset ini adalah sebagai dasar untuk evaluasi dan pemantauan berkelanjutan terhadap perkebunan karet, dengan mengidentifikasi indikator kunci dan mengukur keberlanjutan secara teratur.
Development of Indonesian Organic Agrifood: Certification Process and Issues Khais Walaela; Suprehatin Suprehatin; Andriyono Kilat Adhi
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v8i2.2078

Abstract

The global growth of organic agrifood has also reached Indonesia, creating opportunities and challenges for smallholder farmers. This study aims to explore the certification process and identify key barriers to obtaining organic certification for Indonesian agricultural products. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with three certified organic farming groups in Central Java—each producing rice, vegetables, or coffee. Data analysis was conducted using descriptive methods and graphical tools such as spider charts. The findings reveal that both pre-certification and certification stages typically require three months, not including land conversion, which may be shortened if prior organic practices are recognized. Major challenges during these stages include business planning, seed availability, group coordination, investment capital, pest management, and contamination prevention. These issues are rooted in limited knowledge and technical skills regarding organic standards and practices. Technological interventions—such as the use of ozone plasma, Internet of Things (IoT), and mobile cold storage—were found to support compliance and productivity, particularly in vegetable farming. However, constraints such as land fatigue, lack of rotation, limited access to organic inputs, and high certification costs persist. The study suggests that improved training, mentoring, institutional support, and access to organic inputs are essential to overcoming certification barriers and strengthening farmers’ participation in organic value chains. These insights offer practical implications for policymakers and stakeholders to promote sustainable organic farming in Indonesia.
ATRIBUT-ATRIBUT YANG MEMENGARUHI SIKAP DAN PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMBELI BUAH APEL DI KOTA SURABAYA DAN KOTA MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR Nerisa Agnesia Widiyanto; Andriyono Kilat Adhi; Heny K Daryanto
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen
Publisher : Faculty of Social Science and Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.901 KB) | DOI: 10.24156/jikk.2016.9.2.136

Abstract

Apple’s consumer will have to make some consideration in purchasing apples because of the appearance of Imported apples in the domestic market. The escalation of apple’s demand and the new policy regarding importing provision and horticultural products development, make it important to study the consumer behavior towards apples. This study was conducted in Surabaya and Malang, and it was chosen purposively. The study involved 200 respondent from two selected city. The data collected were analyzed with descriptive analysis, Fishbein models, and conjoint analysis. The result showed that consumer had positive attitude towards the flesh texture of the local apples. On the other hand, the result showed that consumer had positive attitude towards the prices, taste, size, color, skin condition, and promotion of the import apples. Consumer had preferences for apples with sour taste, medium size, yellowish green color, crispy texture, clean skin, and with price range from Rp26.001,0-Rp34.000,0/kg. The price was the attribute that most preferred by a consumer when making a purchase decision for fruit.