Claim Missing Document
Check
Articles

Digital Public Relations Raspati Management di Tengah Pandemi Covid-19 indah novianti; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.128 KB) | DOI: 10.29313/bcspr.v2i2.2978

Abstract

Abstract. Raspati Management is an entertainment management that presents many productions in the entertainment field, founded on the basis of a love for the art of music and accompanied by a high sense of social awareness. In Raspati Management there is an event organizer or commonly called EO such as making music events, Expo, Exhibitionx, productions houses, talents/artists. This research is entitled "Digital Public Relations Raspati Management in the Middle of the Covid-19 Pandemic (Case Study on Creating Events in Events promoted through the Raspati Management Official Youtube Account to increase brand engagement)". The purpose of this research is to find out how Raspati Management's Digital PR works in the midst of a pandemic and also what makes this research unique is the implementation of making events in events that are promoted through the youtube account of Raspati Management. This research uses a qualitative method with a case study approach that aims to find out how Raspati Management's digital PR works in promoting the creation of events in events through Youtube social media accounts. Supporting data in this study is the presence of two key informants and two supporting informants. Among them are Owner and Pr Raspati Management as key informants, and supporting informants are subscribers from Raspati Management's youtube account. The results of this study show that digital PR in an effort to promote events in events takes place effectively with the help of social media. Through social media, Raspati Management can develop its promotion process which usually uses conventional methods and then changes to the use of social media as the main means of promoting the events created. Abstrak. Raspati Management adalah sebuah management entertainment yang menyajikan banyak produksian di bidang entertain didirikan atas dasar kecintaan terhadap seni musik dan disertai rasa kepedulian sosial yang tinggi. Di dalam raspati management terdapat event organizer atau biasa di sebut EO seperti membuat event music, Expo, Exhibitionx, productions house, talent/artist. Penelitian ini berjudul “Digital Public Relations Raspati Management di Tengah Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Pada Pembuatan Event dalam Event yang dipromosikan melalui Akun Youtube Raspati Management Official untuk meningkatkan brand engagement)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara kerja Digital PR Raspati Management ditengah pandemic dan juga yang menjadikan penelitian ini unik adalah dengan bentuk pengimplementasian pembuatan event dalam event yang dipromosikan melalui akun youtube dari Raspati Management. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mencari tahu bagaimana cara kerja digital PR Raspati Managemennt dalam mempromosikan pembuatan event dalam event melalui akun sosial media Youtube. Data pendukung dalam penelitian ini adalah dengan adanya dua key informan dan dua informan pendukung. Diantaranya adalah Owner dan Pr Raspati Management sebagai key informan, dan informan pendukung adalah subscribers dari akun youtube Raspati Management. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa dengan digital PR dalam upaya mempromosikan event dalam event berlangsung dengan efektif dengan dibantu melalui media sosial. Melalui media sosial tersebut, Raspati Management bisa mengembangkan proses promosi nya yang biasanya menggunakan cara konvensional lalu diubah dengan penggunaan media sosial sebagai sarana utama dalam mempromosikan event yang dibuat.
Perencanaan Komunikasi Digital Akun Instagram @ASPAN_Lampung: Studi kasus pada akun Instagram PT. ASPAN Lampung Agistia Nurfadilah Putri Al Mega; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.975 KB) | DOI: 10.29313/bcspr.v2i2.3592

Abstract

Abstract. The development of information and communication technology has brought innovations in communication bringing society into the digital era. Through digital media, public relations can compile, publish, and disseminate general information about the company to the public for positive public opinions to gain a sense of trust. This research entitled "Planning Digital Communication of Instagram Account @ASPAN_lampung (Case Study on Instagram Account PT. ASPAN Lampung)" aims to find out how to plan digital communication of Instagram account @ASPAN_lampung, to determine the success rate of digital communication planning, and to find out the reasons the company chooses Instagram media in digital communication activities. Using qualitative research methods, a case study approach, and the constructivism paradigm. The theory used in this research is the theory of digital communication planning by Hallahan. The subject of this study is the Social Media Team of PT. ASPAN Lampung. The data collection technique used in this study was in the form of interviews, observation, and documentation. Then the data would be analyzed in three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. So the results of the study explain that PT. ASPAN Lampung compiles 4 things in digital communication planning namely compiling company achievements, communication goals, actions, and the overall concept. And with the success rate of digital communication planning, it is known that it is through output and outcomes indicators. And the reason the company uses Instagram media in digital communication activities is to take advantage of the 2019 ASPAN Director's policy. Abstrak. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa inovasi dalam komunikasi membawa masyarakat ke era digital. Melalui media digital, Public Relations dapat menyusun, mempublikasikan, dan menyebarluaskan informasi umum tentang perusahaan kepada publik untuk opini publik yang positif guna memperoleh rasa kepercayaan. Penelitian yang berjudul “Perencanaan Komunikasi Digital Akun Instagram @ASPAN_lampung (Studi Kasus pada Akun Instagram PT. ASPAN Lampung)” ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan komunikasi digital akun Instagram @ASPAN_lampung, untuk mengetahui tingkat keberhasilan perencanaan komunikasi digital PT. ASPAN Lampung, dan untuk mengetahui alasan perusahaan memilih media Instagram dalam kegiatan komunikasi digital. Menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi kasus, dan paradigma kontruktivisme. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perencanaan komunikasi digital oleh Hallahan. Dengan subjek penelitian Tim Media Sosial PT. ASPAN Lampung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian data tersebut akan dianalisis dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sehingga hasil penelitian menjelaskan bahwa PT. ASPAN Lampung menyusun 4 hal dalam perencanaan komunikasi digital, yaitu menyusun pencapaian perusahaan, tujuan komunikasi, tindakan, dan konsep keseluruhan. Dan dengan tingkat keberhasilan perencanaan komunikasi digital diketahui melalui indikator output dan outcome. Dan alasan perusahaan menggunakan media Instagram dalam kegiatan komunikasi digital adalah memanfaatkan kebijakan Direktur ASPAN 2019.
Kegiatan Media Relations Dalam Mempertahankan Citra Positif Corrylia Almira Rahma Raissa; Dadi Ahmadi
Jurnal Riset Public Relations Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Public Relations (JRPR)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpr.vi.1087

Abstract

Abstract. X Regional III West Java is the largest telecommunications company that oversees 6 (six) telecommunications office business areas in West Java. The author finds that there is a uniqueness that must be explored in this research, especially in the media relations process, namely although X Regional III West Java already has good relations with the media, but there is still negative news that appears in the community, therefore the author chooses the research method using case studies. This research uses postpositivism paradigm. In collecting his research, the author made observations and conducted in-depth interviews as well as literature studies. The results showed that the management of relations with the mass media carried out by X Regional III West Java was by by conducting activities with the EVP and the mass media formally, the human relations approach is semi-formal and communication with the mass media is informal. The reason X Regional III West Java conducts media relations activities is to educate the public about X's products and policies, minimize negative news and build public trust through media relations. Abstrak. X Regional III Jawa Barat merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar yang menaungi 6 (enam) wilayah usaha kantor telekomunikasi di Jawa Barat. Penulis menemukan adanya keunikan yang harus digali dalam penelitian ini khususnya pada proses media relationsnya yaitu walaupun X Regional III Jawa Barat telah memiliki hubungan baik dengan media namun masih ada berita negative yang muncul di masyarakat, maka dari itu penulis memilih metode penelitian menggunakan studi kasus. Penelitian ini menggunakan paradigma postpositivisme. Dalam mengumpulkan penelitiannya, penulis melakukan observasi dan melakukan wawancara mendalam dan juga studi pustaka. Hasil Penelitian menghasilkan bahwa pengelolaan relasi dengan media massa yang dilakukan X Regional III Jawa Barat adalah dengan melakukan kegiatan bersama EVP dan media massa secara formal, pendekatan human relations bersifat semi formal dan komunikasi dengan media massa bersifat informal. Alasan X Regional III Jawa Barat melakukan kegiatan media relations adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai produk dan kebijakan X, meminimalisir berita negative dan membangun kepercayaan masyarakat melalui media relations.
Kampanye Budaya Beberes di Media Sosial Instagram Refi Maulana Yusuf; Dadi Ahmadi
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 2, No. 2, Desember 2022 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v2i2.1530

Abstract

Abstract. This study discusses the culture of beberes campaign in Kentucky Fried Chicken in introducing self service facilities. The lack of concern for cleanliness is still a big problem in Indonesia, because of the lack of awareness of the importance of cleanliness which is not owned by everyone. Therefore, KFC as a fairly large fast food restaurant began to introduce self service through a campaign called Beberes Culture. The campaign which contains responsibility for the used food containers to be disposed of in its place, wants to restore an independent Indonesian culture and care for the cleanliness of the surrounding environment. There needs to be a campaign media that is capable of carrying out this activity, one of the media chosen by KFC is through Instagram @kfcindonesia. Don't forget to put a hash mark on each upload that says "culture is fine," both in the writing column and also in some image uploads. This study uses a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques in this study were in the form of observation, interviews with 2 informants and literature study. By using analysis techniques and source triangulation. The results of this study found that the cultural campaign was wrong which was carried out by KFC through several stages such as planning, implementation, obstacles and evaluation. Planning is done by compiling the goals to be achieved, how to convey and the content of the message to be conveyed. The campaign is carried out through social media, KFC outlets and environmental care activities. The obstacles that occur are the pros and cons of the community regarding the cultural campaign. Evaluation is done by asking directly to consumers about the assessment of the culture campaign beberes. Abstrak. Penelitian ini membahas mengenai kampanye budaya beberes di Kentucky Fried Chicken dalam memperkenalkan fasilitas self service. Masih kurangnya kepedulian terhadap kebersihan masih menjadi sebuah permasalahan yang cukup besar di Indonesia, karena minimnya kesadaran akan pentingnya kebersihan yang belum di miliki oleh semua orang. Oleh karena itu KFC sebagai restoran cepat saji yang cukup besar mulai memperkenalkan self service (pelayanan sendiri) melalui kampanye yang bernama Budaya Beberes. Kampanye yang berisi tentang tanggungjawab terhadap bekas makan yang telah digunakan untuk dibuang pada tempatnya, ingin mengembalikan budaya Indonesia yang mandiri dan peduli terhadap kebersihan di lingkungan sekitarnya. Perlu adanya media kampanye yang mempuni untuk melakukan kegiatan ini, salah satu media yang dipilih oleh pihak KFC adalah melalui instagram @kfcindonesia. Disetiap unggahannya tidak lupa diberikan tanda pagar yang bertuliskan budayabeberes, baik di kolom tulisan dan juga di beberapa unggahan gambar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualtatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa observasi, wawancara terhadap 2 informan dan studi pustaka. Dengan menggunakan teknik analisis dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa kampanye budaya beberes yang dilakukan oleh KFC melalui beberapa tahapan seperti perencanaan, pelaksanaan, hambatan dan evaluasi. Perencanaan dilakukan dengan menyusun tujuan yang ingin dicapai, cara menyampaikan dan isi pesan yang ingind disampaikan. Pelaksanaan kampanye dilakukan melalui media sosial, gerai KFC dan kegiatan peduli lingkungan. Hambatan yang terjadi adanya pro-kontra masyarakat mengenai kampanye budaya beberes. Evaluasi dilakukan dengan menanyakan langsung kepada konsumen mengenai penilaian terhadap kampanye budaya beberes.
Implementasi Strategi Promosi Wisata Melalui Website Sipinter Berisi Dadi Ahmadi; Natasya Giyar Dwisyafitri
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 2, No. 2, Desember 2022 Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v2i2.1529

Abstract

Abstract. The Government of Purwakarta Regency through the Department of Youth, Sports, Tourism and Culture of Purwakarta Regency creates an innovation regarding tourism that utilizes technology. The innovation is called Sipinter Berisi or Integrated Tourism Information System. Disporaparbud Purwakarta uses technology in the form of website applications as innovative solutions, and believes that technology & internet can be used to meet everyone’s needs, especially in this case, namely to promote tourist destination in Purwakarta Regency. In maintaning the number of tourist visitors in Purwakarta Regency, of course Disporaparbud Purwakarta carries out strategy in promoting tourism, especially through the Sipinter Berisi. The purpose of this study was to determine strategic planning, strategic implementation, obstacles experienced, and the form of evaluation carried out by the Disporaparbud Purwakarta. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach and constructivism paradigm. Data collection techniques used are interviews, observation, documentation, and literature study. The results of this study indicate that in carrying out the promotion, it is necessary to carry out the stages of planning, implementing and evaluating the obstacles that occur. The planning is carried out with the stages of searching for data and selecting website-based media. In its implementation, TV media connections, stakeholder mapping with different interests, and the mobilizations of tourism managers are carried out. In this tourism promotion, there are obstacles that occur, namely the lack of budget and inappropriate human resource background so that work motivation decreases. In overcoming these obstacles, evaluations are carried out including by reviewing the obstacles that occur and by controlling human resources. Abstrak. Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purwakarta menciptakan suatu inovasi mengenai kepariwisataan yang memanfaatkan teknologi. Inovasi tersebut dinamai Sipinter Berisi atau Sistem Informasi Pariwisata Terintegrasi. Disporaparbud Kabupaten Purwakarta menggunakan teknologi berupa aplikasi website sebagai solusi yang inovatif, serta meyakini bahwa teknologi & internet dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, khususnya dalam hal ini yaitu untuk mempromosikan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Purwakarta. Dalam mempertahankan jumlah pengunjung wisatawan di Kabupaten Purwakarta, tentunya Disporaparbud Kabupaten Purwakarta melakukan strategi dalam mempromosikan pariwisata khususnya melalui media Sipinter Berisi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perencanaan strategi, implementasi strategi, hambatan yang dialami, dan bentuk evaluasi yang dilakukan oleh Disporaparbud Kabupaten Purwakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan paradigma konstruktivisme. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dalam melaksanakan promosi diperlukan tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dari hambatan yang terjadi. Perencanaan yang dilakukan yaitu dengan tahapan pencarian data dan pemilihan media berbasis website. Dalam pelaksanaannya dilakukan koneksi media TV, pemetaan stakeholder dalam kepentingan yang berbeda, dan mobilisasi pengelola wisata. Dalam promosi wisata ini terdapat hambatan yang terjadi yaitu adanya keterbatasan anggaran dan background SDM yang tidak sesuai sehingga menurunnya motivasi kerja. Dalam menanggulangi hambatan tersebut dilakukan evaluasi diantaranya dengan mengkaji hambatan yang terjadi dan dengan pengendalian SDM.
Strategi Creative Branding Hijack Sandals untuk Meningkatkan Brand Image Ilham Akbar Zam Zamy; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i1.6019

Abstract

Abstract.Hijack Sandals is a fashion brand that was born in Bandung in 2010 which until now is still very consistent in selling products that focus on footwear, namely sandals. They were born and appeared in that year because of the concern of the people around them, who made the shoes very comfortable. In fact, the climate in Indonesia is suitable for wearing sandals. Hijack Sandals has dozens of products filled with various kinds of sandals with different motifs and colors. This research is entitled "Creative Branding Hijack Sandals Strategy to Improve Brand Image (Case Study Regarding Hijack Sandals Creative Branding Strategy in Sustain the Culture Collection via Instagram)". The purpose of this research is to find out how Hijack Sandals' Creative Branding Strategy is in the Sustain the Culture collection and also what makes this research unique is that Hijack Sandals continues to consistently echo this campaign so that the sandal culture in this country never stops and is packaged as attractively as possible by creating content-content posted on Hijack Sandals Instagram. This research uses a case study approach that aims to find out how the strategy of Hijack Sandals' creative team in promoting the Sustain the Culture collection to improve Brand Image. Supporting data in this study is the presence of two key informants and two supporting informants. Founder and Creative Director as key informants, and supporting informants are followers of Hijack Sandals' Instagram account. Abstrak.Hijack Sandals adalah salah satu brand fashion yang lahir di Bandung pada tahun 2010 yang sampai saat ini masih sangat konsisten menjual produk berfokus pada alas kaki yaitu sandal. Mereka lahir dan muncul di tahun itu atas keresahan orang-orang sekitar yang sangat banyak membuat sepatu padahal sejatinya iklim di Indonesia itu cocok dengan memakai sandal. Hijack Sandals memiliki puluhan produk yang diisi oleh berbagai macam sandal dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Penelitian ini berjudul “Strategi Creative Branding Hijack Sandals Untuk Meningkatkan Brand Image (Studi Kasus Mengenai Strategi Creative Branding Hijack Sandals Pada Koleksi Sustain the Culture melalui Instagram)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Strategi Creative Branding Hijack Sandals pada koleksi Sustain the Culture melalui Instagram, yang menjadikan penelitian ini unik adalah Hijack Sandals terus konsisten menggaungkan campaign ini agar budaya bersandal di negara ini tidak pernah berhenti dan mereka kemas dengan semenarik mungkin dengan pembuatan konten-konten yang dimuat di Instagram Hijack Sandals. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mencari tahu bagaimana strategi tim kreatif Hijack Sandals melakukan promosi pada koleksi Sustain the Culture untuk meningkatkan Brand Image. Data pendukung dalam penelitian ini adalah dengan adanya dua key informan dan satu informan pendukung. Founder dan Creative Director sebagai key informan, dan informan pendukung adalah followers akun Instagram Hijack Sandals.
Aktivitas Palugada Streetwear melalui Instagram RM Fauzi A; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i1.6528

Abstract

Abstract. Palugada Streetwear is one of the companies engaged in streetwear fashion, in carrying out its activities Palugada uses Instagram as a medium for branding. The purpose of this research is to find out how to determine Afterskool Palugada content references for Instagram, find out how Palugada steps in determining talent for branding Afterskool, knowing how Afterskool content evaluation is done by Palugada, knows why special Afterskool Palugada articles are sold in limited quantities. The method used in qualitative research is a case study approach. The results of this study found that the determination of references by Palugada for Afterskool content on Instagram was based on Palugada's desire to rebuild the culture of wearing varsity jackets with the youth consumer segmentation. in terms of age, how to dress and how attractive the talent is, then Palugada routinely conducts weekly evaluations which are usually called weekly meetings and the reason Palugada made Afterskool a limited edition product is because they wanted Afterskool to have an element of exclusivity, a memorable product which includes policy constraints of the company. Keywords: Afterskool, Branding, Instagram and remastered culture. Abstrak. Palugada Streetwear merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang fashion streetwear, dalam melakukan aktivitasnya Palugada menggunakan Instagram sebagai media untuk branding, Tujuan dilakukan nya artikel ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penentuan referensi konten Afterskool Palugada untuk di Instagram, mengetahui bagaimana langkah Palugada dalam menentukan talent untuk branding Afterskool, mengetahui bagaimana evaluasi konten Afterskool yang dilakukan Palugada, mengetahui mengapa spesial produk Afterskool Palugada dijual secara terbatas. Metode yang digunakan dalam artikel kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari artikel ini didapatkan bahwa penentuan referensi yang dilakukan Palugada untuk konten Afterskool di Instagram didasari dengan keinginan Palugada untuk membangun kembali kultur berpakaian varsity jaket dengan segmentasi konsumen remaja, dalam menentukan talent Palugada menggunakan influencer sebagai talent konten branding dengan standar yang mereka miliki yaitu dilihat dari sisi umur, cara berpakaian serta seberapa menarik perhatiannya talent tersebut, lalu Palugada rutin melakukan evaluasi per minggu yang biasa disebut weekly meeting dan alasan Palugada membuat Afterskool menjadi produk yang limited edition karena mereka ingin membuat Afterskool memiliki unsur ekslusifitas, memorable product yang dimana hal itu termasuk kedala kebijakan dari perusahaan. Kata Kunci: Afterskool, Branding, Instagram dan remastered culture.
Strategi Content Creator sebagai Public Relations guna Membangun Brand Image: Studi Kasus Pada Media Sosial TikTok dan Instagram @asbhoel Rio Hadi Prawira; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i1.6915

Abstract

Abstract. Asbhoel is a company engaged in streetwear fashion. In carrying out its activities, content creators Asbhoel use social media as their media strategy to create a brand image. The aim of this research is to find out how Asbhoel's publication activities are carried out on TikTok and Instagram social media, to find out the steps in the stages of content, to find out how to build an exclusive brand image through TikTok and Instagram social media. The method used in this research is qualitative with a case study approach with a constructivism paradigm. The data collection techniques used were participant observation, in-depth interviews with informants, as well as documentation studies. Supported by triangulation of sources, techniques, time to test the validity of the data obtained by researchers. The results of this study show that the publication activities carried out by Asbhoel were formed from brainstorms obtained from the results of regular meetings with reference to streetwear fashion brands and are supported by the skill and ability of the contest creator team and produce appropriate content messages. Where the content stage includes weekly meeting activities, then supported by team work when cultivating content, and content completion to process the raw results into content ready to be uploaded to Asbhoel's social media. By segmenting content on social media platforms, the exclusive brand image they create is in accordance with the target audience. Abstrak. Asbhoel merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang fashion streetwear, dalam melakukan aktivitasnya content creator Asbhoel menggunakan media sosial sebagai media strategi mereka untuk menciptakan brand image. Tujuannya dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana aktivitas publikasi yang dilakukan Asbhoel pada media sosial TikTok dan Instagram, mengetahui bagaimana langkah dalam tahapan konten, mengetahui bagaimana cara membangun brand image eklusif melalui media sosial TikTok dan Instagram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan paradigma kontruktivisme. Teknik pengumpulan data yang diguakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam dengan narasumber, juga studi dokumentasi. Didukung dengan tringulasi sumber, Teknik, waktu untuk menguji keabsahan data yang didapatkan oleh peneliti. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa aktivitas publikasi yang dilakukan Asbhoel dibentuk dari brainstorm yang didapatkan dari hasil rapat rutin dengan mengacu pada referensi brand fashion streetwear dan didukung oleh skill and abillity tenaga kerja team contet creator dan menghasilkan content messages yang sesuai. Dimana dalam tahapan konten meliputi kegiatan weekly meeting, lalu didukung dengan team work saat penggarapan konten, dan dilakukannya content completion untuk mengolah hasil mentah tadi menjadi konten yang siap di unggah ke media sosial Asbhoel. Dengan melakukan segmenting konten pada platform media sosial, brand image eksklusif yang mereka ciptakan sesuai dengan target audience.
Praktik Mobile Journalism dalam Peliputan Jurnalis Voice of America di Indonesia Aryana Catur Rangga; Firmansyah; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.5605

Abstract

Abstract: The rapid development of the times, affecting all forms of change and progress for society. Technological transformation in the field of communication and information dissemination is one of those affected by these changes. Cellphones or cell phones are a means of communication technology in the production of content. Mobile Journalism (MOJO) can be unique in terms of convergence and multimedia in journalistic practice professionally. MOJO practice is implemented by media companies with different practices, one of which is the Voice of America media, the Indonesian bureau. Using a qualitative research methodology and a constructivist paradigm, researchers explore how technology determines VOA journalists in the Reductionistic, Monistic, Neutralizing, and Technological Imperative spheres. MOJO is dissected through the case study method according to Robert E. Stake. Qualitative data analysis was carried out by interviews, document analysis, and observation. The results of the study show that MOJO helps journalists simplify their tasks, especially in the technical aspects. But it's not without drawbacks, for example coverage using a smartphone result not as good as if using a professional camera. In addition, the use of smartphones during coverage often gives an unprofessional impression, thereby affecting the trustworthiness of the informants during coverage. Abstrak: Perkembangan zaman secara pesat, memengaruhi segala bentuk perubahan dan kemajuan bagi masyarakat. Transformasi teknologi di bidang komunikasi dan penyebaran informasi menjadi salah satu yang terkena dampak perubahan tersebut. Handphone atau telepon genggam menjadi salah satu alat teknologi komunikasi dalam produksi sebuah konten. Mobile Journalism (MOJO) dapat menjadi keunikan tersendiri dari segi konvergensi dan multimedia pada praktik jurnalis secara profesional praktik MOJO diimplementasikan oleh perusahaan media dengan praktik yang berbeda-beda, salah satunya media Voice of Amerika biro Indonesia. Penelitian berparadigma konstruktivis dengan metodologi penelitian kualitatif, yakni mengeksplorasi bagaimana praktik mobile journalism pada jurnalis VOA. MOJO dibedah melalui metode studi kasus menurut Robert E. Stake. Analisis data kualitatif dilakukan dengan wawancara, analisis dokumen, dan observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa MOJO membantu para jurnalis menyederhanakan tugas mereka khususnya dalam aspek teknis, melalui smartphone, seorang jurnalis bisa merekam dan/atau menyiarkan langsung peristiwa dari smartphone mereka. Namun bukan tanpa kekurangan, misalnya liputan menggunakan smartphone hasil video dan audionya tak sebagus jika menggunakan kamera profesional. Selain itu penggunaan smartphone saat liputan seringkali memberikan kesan tidak profesional sehingga mempengaruhi kepercayaan narasumber saat liputan.
Pembentukan Public Sphere dalam Game Online Fadhly Hafizh; Firmansyah; Dadi Ahmadi
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.6750

Abstract

Abstract. Public space is a medium for humans to be able to gather, have recreation, and also open a discussion room. Public space can occur in real life (real space) and in cyberspace (virtual space), this is because public space can be created anywhere, even in the world of online games, public space can be created by the players. One of the online games that has the potential to form a public space is the GTA V Online game, this can happen because in the GTA V Online game the players are connected to an internet network from all over the world and are also assisted by an additional feature, namely the voice chat feature. The purpose of this study is to determine the formation of the public sphere in the game GTA V Online, this study uses a qualitative research method with a case study approach, this research is then assisted by the public sphere theory of Jurgen Habermas. Habermas raises what he calls "institutional criteria", a character that conveys what Habermas meant by the theory of public space, the criteria are divided into three namely, disregard of status, domain of common concern, and inclusivity. The results of this study are the formation of public space in the online game GTA V which is carried out by the players. The results of this study include what Habermas calls institutional criteria, namely, disregard of status, domain of common concern, and inclusivity. Abstrak. Ruang publik (public space) menjadi media bagi manusia untuk bisa berkumpul, berekreasi, dan juga membuka ruang diskusi. Ruang publik dapat terjadi di kehidupan nyata (real space) dan di dunia maya (virtual space), hal ini karena ruang publik dapat diciptakan dimana saja, hingga dalam dunia game online pun ruang publik dapat diciptakan oleh para pemainnya. Salah satu game online yang memiliki potensi dalam pembentukan ruang publik yaitu game GTA V Online, hal ini bisa terjadi karena dalam game GTA V Online para pemain terhubung dalam satu jaringan internet dari seluruh dunia dan juga dibantu oleh fitur tambahan yakni fitur voice chat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pembentukan public sphere dalam game GTA V Online, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekeatan studi kasus, penelitian ini lalu dibantu dengan teori public sphere Jurgen Habermas. Habermas memunculkan apa yang disebutnya sebagai “institutional criteria”, sebuah karakter yang mengantarkan apa yang dimaksud Habermas dengan teori ruang publik tersebut, kriteria tersebut dibagi menjadi tiga yakni, disregard of status, domain of common concern, dan inclusivity. Hasil penelitian ini yakni adanya pembentukan ruang publik dalam game online GTA V yang dilakukan oleh para pemainnya, hasil penelitian pada penelitian ini meliputi apa yang disebut oleh Habermas sebagai institutional criteria yakni, disregard of status, domain of common concern, dan inclusivity.