Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Implementasi Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara sebagai Perwujudan School Well-Being di SMPN 12 Surabaya Setiawan, Dinda Ayuni; Anas Ahmadi
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i2.5255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara sebagai perwujudan school well-being di SMPN 12 Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan observasi dan studi dokumentasi.Teknik analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dengan tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat implementasi ketiga prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara, yakni kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas sehingga perwujudan school well-being di SMPN 12 Surabaya juga terpenuhi dengan mewujudkan empat dimensi, yakni having, loving, being, danhealth.Kata Kunci: Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara, School Well-Being, SMPN 12 Surabaya
KESANTUNAN BERBAHASA BAGI ORANG MADURA Mubarok, Hayyul; Anas Ahmadi; Mulyono; Mintowati
Milenial Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesantunan bahasa dalam masyarakat Madura memiliki peran penting dalam membentuk hubungan sosial yang harmonis, terutama dalam konteks keagamaan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang lain, terutama tokoh agama seperti kiai dan ulama. Dalam interaksi keagamaan, masyarakat Madura cenderung menggunakan bahasa yang lebih sopan dan formal, menghindari kata-kata kasar atau tidak pantas. Penggunaan bahasa yang halus mencerminkan penghargaan terhadap ilmu agama dan posisi tinggi yang dimiliki oleh tokoh agama tersebut. Selain penggunaan kata-kata yang tepat, kesantunan bahasa juga melibatkan bahasa tubuh, seperti menghindari kontak mata langsung dengan orang yang lebih tua atau dihormati, serta memperhatikan postur tubuh yang sopan. Sikap tubuh yang rendah hati, misalnya dengan sedikit membungkuk atau duduk lebih rendah saat berbicara dengan orang yang lebih dihormati, menjadi bagian penting dalam menunjukkan penghormatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara untuk menggali bagaimana bahasa Madura diterapkan dalam konteks keagamaan, dan menemukan bahwa kesantunan berbahasa tidak hanya mencakup pemilihan kata, tetapi juga sikap dan ekspresi tubuh yang menjadi bagian integral dari tradisi budaya yang dihormati di masyarakat Madura, guna menjaga keharmonisan sosial dan mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas keagamaan.
IMPLIKATUR PERCAKAPAN HUMOR DALAM MAIN HAKIM SENDIRI: STUDI KASUS PROGRAM TV Puspita Rahmawati; Anas Ahmadi
MATAPENA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 02 (2024): Desember 2024
Publisher : Indonesian language and literature education program Majapahit Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/matapena.v7i02.3577

Abstract

This research examines the number of implicatures and types of conventional implicatures and non-conventional implicatures found in the TV program Main Hakim Alone. This research aims to find out how humorous conversations are formed and describe the forms of conventional implicatures and non-conventional implicatures in the TV program Main Hakim Alone. Meanwhile, the benefit of this research is that it contributes to the development of the science of pragmatics and after carrying out this research, the public will better understand the meaning contained in humorous conversations in the TV program Main Hakim Alone. Researchers looked for implicatures originating from the TV program Main Judge Alone. The research method that the researcher used used a qualitative method using an inductive thinking process which aims to gain a thorough understanding of the implicatures. The data collection technique used by researchers uses the close attention technique. The note-taking technique involves two steps, namely listening and recording data. Researchers observe or listen to audio-visual material many times to understand everything about the communication. In detail, the researcher recorded every conversation that was considered important to explain. The data analysis technique in this research uses several steps, namely watching videos and collecting data carefully, then recording and grouping the required data, then the data is analyzed and concluded as research material. Keywords: Implied, Conventional, Unconventional
Nilai Filosofis Tradisi Temu Manten Pada Prosesi Pernikahan Adat Jawa Milanguni, Ambaristi Hersita; Yohanes, Budinuryanta; Udjang Pairin; Anas Ahmadi
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.6190

Abstract

Upacara pernikahan tidak hanya sekadar sebuah pesta yang menampilkan hiburan dan sajian makanan yang nikmat. Akan tetapi, sebuah upacara pernikahan memiliki makna dan doa untuk kedua pengantin serta keluarga dari kedua mempelai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pernikahan adat Jawa khususnya pada tradisi temu manten. Selain itu, penelitian ini juga mendeskripsikan makna filosofis di bali tradisi temu manten dan uborampe yang digunakan pada prosesi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data berupa tata cara dan perlengkapan tradisi temu manten yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Sumber data pada penelitian ini didapatkan dari observasi upacara penikahan masyarakat suku Jawa. Terdapat tujuh prosesi yang dilakukan pada tradisi temu manten ini, yaitu Iring-Iringan Pengantin, Balangan Gantal, Wiji Dadi, Sindur, Dulangan, Kacar- Kucur, dan Sungkeman. Semua prosesi tersebut memiliki makna dan doa agar pengantin mendapatkan perlindungan serta dapat hidup berdampingan dengan sejahtera. Selain itu, uborampe yang digunakan dalam temu manten ini menandakan bahwa masyarakat Jawa menginginkan seorang anak yang berumah tangga menjalankan rumah tangganya dengan penuh ketaatan, tanggung jawab, terbebas dari marabahaya, dan tetap hormat kepada orang tua meski sudah berumah tangga
Makanan Sebagai Representasi Tradisi Sosial dan Budaya : Kajian Gastrosemiotik Dalam Cerita Rakyat Kuliner Rochmatul Wachidah, Liana; Setya Yuwana Sudikan; Darni; Anas Ahmadi
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Special Edition: Renaisans 1st International Conference of Social Studies
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v1i.19156

Abstract

This study aims to reveal how traditional food not only functions as a story element, but also as a social and cultural marker that contains deep meaning. Food, culture, and identity depicted in literary works reflect the social and cultural dynamics in society. A qualitative descriptive method was used with a focus on literature studies, with data sources from three culinary stories in the Digital Book (BUDI) published by the Ministry of Education and Culture by teachers in Indonesia, namely Nyadran: Learning Tolerance from Tradition, Nasi Berkat, and Tradisi Kupatan. Data collection was carried out through the technique of listening and recording, and data analysis was carried out by data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. The results of the study show that the three stories have a meaning that is more than just traditional food, but rather a complex representation of the social and cultural traditions of the community. From a gastronomic perspective, this food becomes a "cultural text" that describes the values ​​of solidarity, spirituality, and local wisdom. With Peirce's semiotic approach, this food functions as a sign that strengthens cultural identity, builds social relationships, and awareness of growing social and spiritual. Through ritual ceremonies such as Nyadran, thanksgiving, and kupatan Lebaran, food strengthens relationships between individuals and communities and is a symbol of gratitude and appreciation for others.
Janda dan Resistensi Sosial dalam Lirik Lagu: Upaya Melawan Stigma Patriarki Masyithah Maghfirah Rizam; Setya Yuwana; Darni; Suyatno; Anas Ahmadi
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Special Edition: Renaisans 1st International Conference of Social Studies
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v1i.19157

Abstract

The stigma attached to women with widow status remains a strong social phenomenon in patriarchal societies, including in Madura. The identity of widows is often associated with negative connotations that hinder their freedom and rights in everyday social life. This study examines how the lyrics of modern Madurese songs represent social resistance against the stigma of widows through expressions of popular culture. Using a critical discourse analysis approach within the framework of social sciences, this research explores in depth how language in song lyrics constructs, maintains, or challenges existing social structures. The analysis focuses on two songs, Anyar Dedih Janda and Lanceng Abini Randha, which represent the voices of widowed women in confronting social stigma. The findings show that these songs not only reflect the lived experiences of widows but also function as advocacy tools in constructing alternative, more positive, and empowering narratives. Song lyrics become an important medium for promoting gender equality, redefining women’s identities, and shifting discriminatory social perceptions. This study highlights the crucial role of popular culture as a medium of resistance and social transformation against patriarchal norms in Madura.
REPRESENTASI PERAN FILOSOFIS PEREMPUAN MINANGKABAU DALAM NOVEL HARTA PUSAKA CINTA M.A. Haris Firismanda; Budinuryanta Yohanes; Udjang Pairin; Anas Ahmadi
Asas: Jurnal Sastra Vol. 14 No. 1 (2025): ASAS : Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ajs.v14i1.67235

Abstract

Pada penelitian ini membahas mengenai peranan filosofis perempuan Minangkabau di dalam sebuah novel berjudul Harta Pusaka Cinta karya Desni Intan Suri. Permasalahan pada penelitian ini berkaitan dengan adanya tantangan serta peran filosofis perempuan Minangkabau dalam menghadapi perubahan serta pergeseran budaya yang terjadi. Novel Harta Pusaka Cinta merepresentasikan bagaimana nilai serta peran filosofis perempuan Minangkabau dalam menghadapi tantangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana peranan filosofis perempuan Minang dalam menjaga aspek religi sebagai identias perempuan adat dan juga bagaimana peran perempuan Minang dalam menjaga serta mengelolaharta pusaka adat. Untuk metod penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan representasi Struart Hall melalui konsepnya terkait pihak yang di representasi dan pihak yang merepresentasi terutama dalam aspek ontologi ,aksiologi dan epistemologi. Pentingnya penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman terkait pentingnya peranan perempuan Minangkabau dalam budaya matrilineal, di tengah arus perkembangan budaya yang semakin pesat.
KEBUTUHAN CINTA DAN KASIH SAYANG: PRESPEKTIF HIERERKI MASLOW DALAM PERILAKU ARIS DI FILM IPAR ADALAH MAUT Moh. Rif'an Hidayatullah; Anas Ahmadi
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 7 No. 1 (2025): Language and Literature Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v7i1.8389

Abstract

Humans, as social beings, have a fundamental need for love and affection that is important for their psychological well-being. This study explores how the fulfillment of this need is portrayed through the character Aris in the film “Ipar adalah Maut” (Brother-in-Law Can Be a Curse). The purpose of this study is to describe the fulfillment of love and affection within the hierarchy of needs in Abraham Maslow's humanistic psychology theory. A qualitative descriptive method was used, with the film “Brother-in-Law Can be a Curse” as the primary data source. Data were collected through literature review and observation-note techniques. The findings of the study show that the need for love and affection in the character Aris is fulfilled through his social interaction with Rani, his sister-in-law. The fulfillment of these needs is evident from the closeness that is established because they live in the same house, the intensity of meetings on campus, and the attention and emotional support given by Rani, especially when Aris's need for affection is not fully fulfilled by his wife, Nisa. This illustrates the shift in the object of Aris's affection, which has an impact on the dynamics of the relationship in the story.
INKLUSI INTEGRATION OF SOCIAL-EMOTIONAL LEARNING IN A HAPPY SCHOOL: A CASE STUDY OF AN INCLUSION CLASS umin; Indana Zulfa Majidah; Muhammad Mukhlis Roziqi; Anas Ahmadi; Agus Harminto
Jurnal Profesi Keguruan Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpk.v10i1.7367

Abstract

Abstrak This study examines the integration of Social Emotional Learning (SEL) in the inclusive education program at SMP Negeri 40 Surabaya. The research aims to integrate social-emotional learning within the school well-being framework and to understand how the inclusive classrooms at SMP Negeri 40 Surabaya incorporate social-emotional learning into inclusive education. This research uses a qualitative case study method to apply SEL to support inclusive student interaction and emotional well-being. The study results indicate that SMP Negeri 40 Surabaya has made significant strides toward creating an inclusive and supportive learning environment by implementing an accommodating curriculum, support from special assistant teachers, and an adaptive assessment system. Although challenges such as resource needs and teacher training remain, integrating SEL has positively impacted the inclusive learning environment. This study emphasizes the importance of sustained commitment to resource development and training to optimize SEL in inclusive education.
DENDAM PEREMPUAN: PERBANDINGAN THE CURSE OF LA LLORONA DAN MARNI: THE STORY OF WEWE GOMBEL DALAM REPRESENTASI FILM HOROR Okta Diana Anggrayni; Anas Ahmadi
Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Vol. 15 No. 2 (2025): Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/literasi.v15i2.24046

Abstract

Film horor seringkali merepresentasikan perempuan sebagai korban atau entitas yang menakutkan, yang melawan ketidakadilan. The Curse of La Llorona dan Marni: The Story of Wewe Gombel menggambarkan perempuan yang mengalami ketidakadilan sosial dan bertransformasi menjadi makhluk supranatural sebagai bentuk perlawanan. Penelitian ini mengkaji representasi perempuan dalam kedua film tersebut melalui pendekatan feminisme radikal MacKinnon untuk memahami posisi perempuan yang tidak memiliki akses keadilan dalam sistem patriarki, serta alternatif yang ditempuh di luar norma hukum. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif-naratif terhadap dialog yang menggambarkan motif dendam perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa La Llorona dan Marni menjadi simbol perlawanan terhadap sistem patriarki, meskipun motif dan cara keduanya berbeda. La Llorona mengalami kehilangan anak akibat pengkhianatan dan stigma sosial, yang memotivasi untuk membalas dengan menculik anak-anak lain. Di sisi lain, Marni mengalami kekerasan seksual dan penghakiman sosial, yang mengarahkannya untuk membunuh pelaku sebelum bertransformasi menjadi Wewe Gombel yang melindungi anak-anak terlantar. Perbedaan tersebut mencerminkan pengaruh mitos dan budaya dalam membentuk ekspresi perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan gender.