Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Implementasi Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara sebagai Perwujudan School Well-Being di SMPN 12 Surabaya Setiawan, Dinda Ayuni; Anas Ahmadi
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i2.5255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara sebagai perwujudan school well-being di SMPN 12 Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan observasi dan studi dokumentasi.Teknik analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dengan tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat implementasi ketiga prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara, yakni kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas sehingga perwujudan school well-being di SMPN 12 Surabaya juga terpenuhi dengan mewujudkan empat dimensi, yakni having, loving, being, danhealth.Kata Kunci: Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara, School Well-Being, SMPN 12 Surabaya
Nilai Filosofis Tradisi Temu Manten Pada Prosesi Pernikahan Adat Jawa Milanguni, Ambaristi Hersita; Yohanes, Budinuryanta; Udjang Pairin; Anas Ahmadi
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.6190

Abstract

Upacara pernikahan tidak hanya sekadar sebuah pesta yang menampilkan hiburan dan sajian makanan yang nikmat. Akan tetapi, sebuah upacara pernikahan memiliki makna dan doa untuk kedua pengantin serta keluarga dari kedua mempelai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pernikahan adat Jawa khususnya pada tradisi temu manten. Selain itu, penelitian ini juga mendeskripsikan makna filosofis di bali tradisi temu manten dan uborampe yang digunakan pada prosesi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data berupa tata cara dan perlengkapan tradisi temu manten yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Sumber data pada penelitian ini didapatkan dari observasi upacara penikahan masyarakat suku Jawa. Terdapat tujuh prosesi yang dilakukan pada tradisi temu manten ini, yaitu Iring-Iringan Pengantin, Balangan Gantal, Wiji Dadi, Sindur, Dulangan, Kacar- Kucur, dan Sungkeman. Semua prosesi tersebut memiliki makna dan doa agar pengantin mendapatkan perlindungan serta dapat hidup berdampingan dengan sejahtera. Selain itu, uborampe yang digunakan dalam temu manten ini menandakan bahwa masyarakat Jawa menginginkan seorang anak yang berumah tangga menjalankan rumah tangganya dengan penuh ketaatan, tanggung jawab, terbebas dari marabahaya, dan tetap hormat kepada orang tua meski sudah berumah tangga
Keterhubungan Trisenta Pendidikan Ki Hajar Dewantara Dengan Pembelajaran Literasi Permatasari, Dita; Anas Ahmadi
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.13506

Abstract

Pendidikan literasi di era global menuntut pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga filosofis dan kontekstual. Trisenta Pendidikan Ki Hajar Dewantara — Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani — menjadi kerangka etis-pedagogis yang dapat memperkuat pembelajaran literasi di sekolah. Studi ini menggunakan metode studi pustaka dengan analisis terhadap dokumen kebijakan literasi, teori literasi, serta kontribusi pemikiran Prof. Anas Ahmadi dalam bidang sastra dan budaya lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa keteladanan guru dalam literasi, partisipasi siswa, serta dukungan emosional dari lingkungan sekitar sangat memengaruhi efektivitas pembelajaran literasi. Selain itu, pengintegrasian teks sastra dan folklor lokal memberi ruang bagi pendekatan literasi yang lebih humanis, kontekstual, dan membumi. Diperlukan sinergi antara nilai-nilai Trisenta dan strategi literasi nasional untuk membentuk generasi yang literat secara kognitif, emosional, dan budaya.