Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analysis of Digital Da'wah Ideology on Social Media: A Case Study of Preaching Actors on Youtube Khotimah, Nurul; Supena, Ilyas; Amin, Nasihun; Putra, Pandika Adi; Setyawan, Ari
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 18 No 2 (2024): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v18i2.33698

Abstract

This study analyzes the ideology of digital preaching on YouTube delivered by Ustaz Firanda Andirja, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, and Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Using a Social Network Analysis (SNA) approach, the research explores the social dynamics emerging from interactions in the comment sections of their preaching videos. The findings identify four dominant ideologies: literalist Islamism, which creates schisms in contextual and ethical preaching elements (Ustaz Firanda Andirja); nationalist Islamism, which causes schisms in contextual and comparative elements (Ustaz Abdul Somad); modernist Islamism, which generates schisms in historical elements (Ustaz Adi Hidayat); and conservative Islamism, which triggers schisms in contextual and ethical elements (Emha Ainun Nadjib). This study demonstrates that digital preaching content not only reflects the ideologies of the preachers but also significantly influences public opinion on social media. The findings highlight the importance of understanding ideological dimensions in digital preaching to address social dynamics more effectively.
Corak dan Prinsip-Prinsip Hermeneutika Hadis Muhammad Al-Ghazali dalam Kitab Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Baina Ahli Al-Fiqh wa Ahli Al-Hadist Akbar, Reza; Musahadi, Musahadi; Amin, Nasihun; Izzuddin, Ahmad; Masuwd, Mowafg Abrahem
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol. 9 No. 2 (2025): Diroyah: Jurnal Studi Ilmu Hadis
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/diroyah.v9i2.21793

Abstract

Penelitian ini bertitik tolak pada pandangan Muhammad Al-Ghazali yang termaktub dalam kitabnya Al-Sunnah Al-Nabawiyyah yang menyatakan bahwa tidak semua hadis yang dipandang sahih dapat dijadikan landasan hukum yaitu apabila ditemukan cacat atau illah qadihah. Pendapat Al-Ghazali ini menyebabkan dirinya dilabeli sebagai seorang inkaru sunnah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali corak dan prinsip-prinsip hermeneutika hadis Muhammad Al-Ghazali. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif kepustakaan dengan sumber data sekunder. Sumber datanya berasal dari pemikiran Al-Ghazali di dalam Kitab Al-Sunnah Al-Nabawiyyah. Analisis datanya menggunakan metode deskriptif dan induktif yang dikumpulkan secara coding. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh hasil bahwa Al-Ghazali memiliki tiga tahap hermeneutika yaitu  tahap pertama dengan menerapkan canon interpretasi gramatikal yang ketat atas sebuah teks hadis, apakah teks itu layak atau tidak diinterpretasi, meskipun sanadnya sahih. Tahap kedua, Al-Ghazali menerapkan corak interpretasi psikologis yang khas dengan pendekatan yang beragam seperti pendekatan historis, pendekatan asbabul wurud, pendekatan empiris kontemporer, dan pendekatan rasional, serta pendekatan irfani yang proporsional. Tahap ketiga adalah validasi dengan ayat Alquran. Berdasarkan penelitian ini pula, Al-Ghazali dalam hermeneutika hadisnya telah memenuhi seluruh prinsip-prinsip hermeneutika hadis yaitu prinsip konfirmatif, tematis-komprehensif, gramatikal, historis, realistik, distingsi etis dan legis, dan prinsip distingsi instrumental dan intensional.
Counter-Extremes Against of Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) in Tafsir Al-Iklīl fī ma’āni al-Tanzīl Ika Hilmiatus Salamah; Yaqin, Ahmad Ainul; Sulaiman; Amin, Nasihun
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/quhas.v14i2.46570

Abstract

This study focuses on the shifting meaning of Musabaqah Tilawatil Qur'an among contemporary mufassirs. This study aims to analyze the verses in Tafsir Al-Iklīl fī Ma'āni al-Tanzīl that talk about Musabaqah Tilawatil Qur'an and some mufassir's views on the phenomenon of Musabaqah Tilawatil Qur'an. The method used is library research with a descriptive-analytical approach and the use of thematic verses. The results of this study show two understandings. First, the view of the rejection of the practice of Musabaqah Tilawatil Qur'an in tafsir Al-Iklīl fī the grounds that these activities can be used as a medium for Islamic propagation and preaching Ma'āni al-Tanzīl by Misbah Musthofa because it is considered to contain elements of riya', materialism and deviation from spiritual values. Second, Buya Hamka's view that supports Musabaqah Tilawatil Qur'an on, as long as it maintains adab and does not ignore the main purpose of reciting the verses of Qur'an.
Reactivation of the Role of Pesantren for the Maslahah of the Ummah Firdaus, Danang; Amin, Nasihun
FiTUA: Jurnal Studi Islam Vol 6 No 2 (2025): December
Publisher : STIT Sunan Giri Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47625/fitua.v6i2.1074

Abstract

This study emerges from the observation that many pesantren remain predominantly focused on student care, limiting their broader social impact; this research reactivates the social role of pesantren by situating it within the normative framework of KH Sahal Mahfudh’s social fiqh. A qualitative literature-based approach was employed, drawing primarily on KH Sahal’s works and peer-reviewed journal articles, analyzed sequentially through open, axial, and selective coding, with library triangulation applied to ensure validity. Findings indicate that KH Sahal’s social fiqh prioritizes maqāṣid and basic needs fulfillment as practical instruments of ijtihād, enabling pesantren to develop integrated curricula, productive enterprises such as cooperatives and canteens, primary health services, vocational training, and environmental conservation programs. Implications call for institutional reform, enhanced methodological capacity among administrators, transparent waqf management, and supportive local policies to facilitate stakeholder partnerships. The study recommends comparative field testing of the proposed reactivation model. Systematic implementation is expected to improve social inclusion, reduce local economic disparities, and strengthen community resilience through women’s and youth participation alongside sustained monitoring and evaluation and institutional learning frameworks also.
The Integration of Reason and Revelation in Addressing the Complexity of Contemporary Theology Mukminin, Moh. Amiril; Amin, Nasihun; Mukit, Abdul
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2024.3.2.231-251

Abstract

This research focuses on the response of Ilmu Kalam to contemporary theological challenges, particularly related to atheism, secularism, and modern scientific developments. The underlying concern of this study is how Ilmu Kalam can maintain its relevance in addressing increasingly complex theological issues amidst the advancements in science and the dominance of atheistic views in contemporary academic circles. This study adopts a qualitative approach with a literature review of the thoughts of key figures in Ilmu Kalam, alongside critiques of atheism and secularism, to analyze how Ilmu Kalam responds to contemporary theological challenges. The main finding of this research indicates that Ilmu Kalam continues to transform by integrating reason and revelation to address contemporary theological challenges, although it still faces obstacles in innovating and critically responding to modern issues.
PENGGUNAAN MEDIA POP-UP BOOK DALAM MENINGKATKAN HAFALAN SISWA PADA MATERI ASMAUL HUSNA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI Amin, Nasihun
Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 1 (2024): Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Pascasarjana IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hafalan siswa pada materi Aamaul Husna mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menggunakan media Pop Up Book. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Subjek dari penelitian ini adalah fase B Kelas IV SDN Inpres Lirung Kabupaten Kepualaun Talaud Tahun Ajaran 2024/2025, yang terdiri dari 10 peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan media Pop Up Book berhasil meningkatkan hafalan siswa pada materi Asmaul Husna. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan tindakan dalam setiap siklusnya mengalami peningkatan, yaitu mulai dari pre test nilai rata-rata mencapai 72 meningkat pada siklus I menjadi 74,5 kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 100. Siswa lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena media ini mendukung peserta didik untuk berperan secara aktif dalam proses pembelajaran.
TRANSFORMASI MAKNA RITUAL DALAM MASYARAKAT MODERN: ANALISIS SOSIOLOGIS DAN BUDAYA Siti Mubayanah; Nasihun Amin
GAHWA Vol. 3 No. 1 (2024): JULY-DECEMBER
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/gahwa.v3i1.473

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual (rites) dan peranannya dalam masyarakat, dengan fokus pada relevansinya dalam memperkuat kohesi sosial dan struktur masyarakat. Ritual adalah serangkaian kegiatan simbolis yang dilakukan secara teratur oleh suatu kelompok masyarakat dengan tujuan tertentu. Dalam perspektif sosiologis, ritual dilihat sebagai sarana untuk menjaga solidaritas sosial dan membangun identitas kolektif. Beberapa tokoh, seperti Émile Durkheim dan Victor Turner, mengemukakan bahwa ritual berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat hubungan antarindividu dan memperjelas status sosial dalam komunitas. Dalam masyarakat tradisional, ritual memperkuat ikatan sosial, menyampaikan nilai dan norma budaya, serta mengkomunikasikan perubahan status. Di sisi lain, dalam masyarakat modern, ritual masih relevan dalam menjaga stabilitas sosial meskipun terjadi perubahan konteks dan makna. Tulisan ini juga menyoroti bagaimana ritual, baik dalam konteks budaya lokal maupun universal, memainkan peran dalam memperkuat kohesi sosial, menginternalisasi nilai-nilai kolektif, dan mempertahankan identitas budaya. Ritual, baik dalam sosiologi maupun antropologi, menunjukkan fungsi sosial yang lebih dari sekadar aktivitas simbolis, melainkan sebagai elemen penting dalam pembentukan, pemeliharaan, dan peralihan identitas sosial. Hasil tulisan tersebut penting karena memberikan penekanan pada peran esensial ritual dalam membangun dan mempertahankan kohesi sosial, baik di masyarakat tradisional maupun modern. Dengan menyoroti pandangan tokoh seperti Durkheim dan Turner, tulisan ini menegaskan bahwa ritual bukan sekadar aktivitas simbolis, tetapi memiliki fungsi mendalam dalam menginternalisasi nilai-nilai kolektif, menyampaikan norma budaya, dan memperkuat identitas sosial.