Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Konsep model evaluasi context, input, process dan product (CIPP) di sekolah menengah kejuruan Alzet Rama; Ambiyar Ambiyar; Fahmi Rizal; Nizwardi Jalinus; Waskito Waskito; Rizky Ema Wulansari
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 8 No. 1 (2023): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30032976000

Abstract

Beberapa model evaluasi yang umum digunakan adalah model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), model evaluasi Kirkpatrick, dan model evaluasi ROI (Return on Investment). Namun, evaluasi model tidak selalu mudah dilakukan. Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) adalah salah satu model evaluasi yang paling sering digunakan dalam evaluasi program. Salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah model CIPP (Context, Input, Process, Product). Model Evaluasi CIPP Model evaluasi adalah suatu kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi suatu sistem atau program. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep evaluasi model CIPP di SMK. Model evaluasi CIPP adalah model evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi suatu program atau sistem dengan mempertimbangkan konteks, input, proses, dan produk. Model ini merupakan salah satu model evaluasi yang paling banyak digunakan di dunia pendidikan. Model CIPP adalah alat evaluasi yang banyak digunakan dalam evaluasi program. Model evaluasi ROI adalah model evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas suatu program atau sistem dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat. Penelitian ini akan membahas tentang pengertian, prinsip, dan tahapan evaluasi model CIPP serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya di SMK
Digital technology dalam teaching factory: kerangka konseptual untuk revolusi industri vokasi di indonesia Alzet Rama; andri Dermawan; Nova Chintia Rahma; Meila Rosi Putri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 9 No. 3 (2024): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30035838000

Abstract

Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 telah mengubah lanskap pendidikan, sehingga memerlukan adaptasi terhadap teknologi digital seperti Kecerdasan Buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam model Teaching Factory (TEFA) guna meningkatkan relevansi pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan industri. Melalui tinjauan literatur dan analisis SWOT, studi ini mengidentifikasi potensi kolaborasi industri-pendidikan dan penciptaan lapangan kerja sebagai pendorong utama, sementara perluasan infrastruktur digital dan resistensi agama di sektor pendidikan menjadi faktor yang signifikan. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi TEFA dapat meningkatkan hasil belajar melalui pembelajaran berbasis simulasi (Virtual Reality/Augmented Reality), kurikulum dinamis, dan pengajaran berbasis data. Namun, kesuksesan bergantung pada peningkatan akses terhadap teknologi, peningkatan kapasitas guru, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan. Artikel ini memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan TEFA digital sebagai sarana transformasi pendidikan vokasi dalam menanggapi tuntutan periode industri saat ini
Reconstructing vocational identity in the gig economy: a protean-boundaryless model for vocational students alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036744000

Abstract

Artikel ini merekonstruksi konsep pembentukan identitas profesional siswa vokasi di tengah transformasi ekonomi gig. Melalui sintesis teoritis, studi ini mengidentifikasi bahwa identitas vokasional tradisional yang dibangun atas spesialisasi tetap, validasi institusional, dan jalur karier linear tidak lagi memadai dalam ekosistem kerja berbasis proyek. Ekonomi gig menuntut identitas yang adaptif, multipel, dan dikelola secara strategis, di mana kemampuan membangun portofolio hibrida, reputasi digital, dan navigasi mandiri menjadi krusial. Artikel mengusulkan model integratif "Protean-Boundaryless" yang memandang identitas sebagai "proyek diri" yang terus diperbarui melalui interaksi dinamis antara agensi individu, struktur platform digital, dan pendidikan vokasi. Implikasinya menuntut pergeseran paradigma pendidikan vokasi dari penyiapan tenaga kerja spesialis menuju pengembangan kapasitas navigasi, ketangguhan psikologis, dan literasi digital untuk merespons ketidakpastian pasar kerja kontemporer
Kerangka konseptual bimbingan karir berperspektif keadilan sosial bagi kelompok marginal alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036781000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ke dalam bimbingan karir dalam sistem Pendidikan Teknis dan Kejuruan (TVET) yang inklusif. Melalui tinjauan literatur sistematis, kajian ini menggabungkan teori-teori keadilan sosial (seperti kerangka Nancy Fraser, Pendekatan Kapabilitas, dan Teori Kritis) untuk mentransformasi peran konselor dari fasilitator individu menjadi agen perubahan yang advokatif. Kerangka multi-level yang diusulkan mencakup intervensi pada tingkat makro (kebijakan), meso (kelembagaan), dan mikro (praktik konseling), dengan prinsip-prinsip operasional seperti interseksionalitas, pemberdayaan agensi, perspektif berbasis kekuatan, dan aksesibilitas universal. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem TVET yang secara aktif menghapus hambatan struktural bagi kelompok marginal dan penyandang disabilitas, memastikan partisipasi penuh dan hasil yang setara. Artikel ini menyoroti perlunya reorientasi dalam pendidikan konselor dan kebijakan TVET untuk mewujudkan inklusi yang transformatif.
Model konseptual transisi sekolah ke kerja berbasis kesehatan mental di era pasca pandemi alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036785000

Abstract

Artikel ini mengusulkan model teoretis baru untuk memfasilitasi transisi sekolah-ke-dunia kerja (School-to-Work Transition/STWT) di era pasca-pandemi. Model ini merespons dampak psikologis mendalam dari pandemi seperti penurunan self-efficacy, kecemasan, dan atrofi keterampilan sosial yang memperumit adaptasi lulusan baru di dunia kerja yang telah bertransformasi secara digital. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang linier dan berfokus pada skill-matching, model ini menempatkan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikologis sebagai landasan fundamental. Di atas landasan ini, model dibangun dengan empat pilar utama: Literasi Digital dan Keterampilan Hybrid, Kompetensi Sosial-Emosional yang Diperbarui, Identitas Karier yang Lentur dan Eksploratif, serta Jejaring Dukungan Ekologis yang Diperkuat. Artikel ini berargumen bahwa jembatan transisi yang efektif harus holistik, resilien, dan mengintegrasikan dimensi psikologis dengan kompetensi adaptif dan dukungan sistemik. Implementasi model memerlukan kolaborasi sinergis dari institusi pendidikan, industri, pembuat kebijakan, dan individu sebagai agen aktif
Model cognitive apprenticeship-mentoring: sebuah sintesis konseptual untuk pengembangan kompetensi vokasional alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 1 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036812000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka kerja integratif yang mensinergikan teori Cognitive Apprenticeship (CA) dan teori mentoring karir untuk pengembangan kompetensi vokasional yang holistik di era modern. Melalui studi literatur dengan pendekatan kualitatif dan analisis konseptual, penelitian ini mengidentifikasi titik konvergensi dan komplementaritas antara kedua pendekatan. Hasilnya adalah model Cognitive Apprenticeship-Mentoring (CAM) yang terdiri atas empat fase dinamis: pemodelan terintegrasi, pembinaan kontekstual, artikulasi-refleksi berbasis dialog, dan eksplorasi karir. Model ini tidak hanya memperkuat transfer keterampilan teknis dan kognitif, tetapi juga memperhatikan dimensi psikososial, identitas profesional, serta adaptabilitas karir. Implementasinya menuntut kolaborasi antara pendidikan vokasi, industri, dan konseling karir, serta transformasi peran pendidik dan pembimbing menjadi mentor-cognitive coach. Kerangka CAM diharapkan dapat menjawab tantangan sistem vokasional yang terfragmentasi dan membentuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Merekonstruksi konseling vokasi melalui integrasi socio emotional learning dan kecerdasan emosional alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 2 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036813000

Abstract

Artikel ini menganalisis secara kritis keterbatasan paradigma konseling vokasi yang masih didominasi pendekatan teknis-transaksional dan berorientasi penempatan kerja. Berdasarkan tinjauan konseptual sistematis, penelitian menunjukkan bahwa dinamika dunia kerja abad ke-21 menuntut lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, tangguh, dan memiliki kecakapan sosio-emosional yang matang. Oleh karena itu, artikel ini mengusulkan rekonstruksi paradigma konseling vokasi melalui integrasi prinsip-prinsip Socio-Emotional Learning (SEL) dan kecerdasan emosional sebagai fondasi inti. Argumen teoretis dibangun dengan mensintesis teori karir kontemporer, model kecerdasan emosional, dan kerangka SEL untuk menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas intrapersonal dan interpersonal merupakan prasyarat bagi kesiapan kerja yang berkelanjutan. Implikasinya, peran konselor perlu bertransformasi dari placement officer menjadi developmental facilitator, dengan kurikulum layanan yang menginternalisasi pengembangan kompetensi sosio-emosional secara sistematis dan terintegrasi dalam ekosistem sekolah vokasi.