Claim Missing Document
Check
Articles

Respon pertumbuhan bibit nilam aceh (Pogostemon cablin benth.) Klon sidikalang pada media tanam subsoil dengan pemberian pati beras dan pupuk hayati Mira Ariyanti; Cucu Suherman; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Dewi Santika
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.822 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14429

Abstract

Media tanam berupa topsoil masih menjadi andalan untuk mendukung pertumbuhan tanaman nilam karena kandungan mineral dan bahan organiknya yang tinggi. Seiring dengan pemanfaatannya, ketersediaan topsoil semakin berkurang dan dirasa perlu untuk mencari alternatif lain yaitu dengan memanfaatkan subsoil. Peningkatan unsur hara dalam subsoil dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik berupa pati beras dan pupuk hayati. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor pada Juni 2011- September 2011. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 11 kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Perlakuan percobaan meliputi  top soil,  sub soil + pupuk anorganik N 1.75 g, sub soil + 25 g pati beras, sub soil + 50 g pati beras, sub soil + 75 g pati beras, sub soil + 25 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 50 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 75 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 25 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g, sub soil + 50 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g, sub soil + 75 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  25 g pati beras + PHE 2,5 g pada media tanam subsoil menghasilkan pengaruh yang paling baik terhadap pertambahan tinggi, pertambahan jumlah daun, pertambahan cabang, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, dan bobot kering akar tanaman nilam. Pati beras mengandung 0.8% N, 0.29% P2O5, 0.07% K2O, 1.48% CaO, 1.14% MgO, 10.04 % C-organik. 
Studi ekofisiologis tanaman teh guna meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas teh Intan Ratna Dewi Anjarsari; Mira Ariyanti; Santi Rosniawaty
Kultivasi Vol 19, No 3 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i3.26623

Abstract

SariTeh merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia, yaitu sebagai sumber pendapatan dan devisa serta penyedia lapangan kerja bagi masyarakat. Teh di Indonesia sebagian besar berasal dari Jawa Barat dengan kontribusi produksi (rata-rata lima tahun terakhir) sebesar 66,93%, sedangkan provinsi lainnya hanya berkontribusi kurang dari 10%. Produksi teh di Indonesia padatahun 2017 sebesar 146,17 ton, selalu berfluktuasi dari tahun ke tahun, hingga diperkirakan tahun 2021 menurun dengan produksi sebesar 141,63 ton. Seperti halnya komoditas perkebunan yang lain, tanaman teh dalam perkembangannya mengalami fluktuasi produksi pucuk sebagai bahan baku olahan teh. Produktivitas teh sangat dipengaruhi oleh faktor internal (tanaman), maupun eksternal (lingkungan) .  Pengembangan tanaman teh saat ini dan masa mendatang akan dihadapkan pada berbagai kendala, diantaranya kondisi tanaman yang semakin tua sehingga perlu dimaksimalkan proses metabolismenya melalui pemeliharaan tanaman teh. Ancaman perubahan iklim berdampak besar  pada pertumbuhan dan hasil tanaman teh. Peningkatan suhu dan penurunan curah hujan akibat pemanasan global dapat mempengaruhi produktivitas dan keberlanjutan perkebunan teh di masa depan. Ekofisiologi pada tanaman teh bisa dioptimalkan dengan memaksimalkan beberapa faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, kuantitas, dan kualitas teh.Kata Kunci :  ekofisiologi,  pertumbuhan, produktivitas, perubahan iklim AbstractTea is one of the plantation commodities that plays an important role in the Indonesian economy, that is a source of income and foreign exchange and a provider of employment for the community. Tea in Indonesia is mostly from West Java with a production contribution (an average of the last five years) of 66.93% while other provinces only contribute less than 10%. Tea production in Indonesia in 2017 amounted to 146.17 tons, fluctuated year to year, until it was estimated that in 2021 tea production will decrease to 141.63 tons. Like other plantation commodities, in its development, the tea plant fluctuates in shoot production as a raw material for processing tea. Tea productivity is strongly influenced by internal (plant) and external (environmental) factors. The development of tea plants at present and in the future will be faced with various problems. The condition of the older plants needs to be maximized through the maintenance of tea plants. The threat of climate change has a significant impact on the growth and yield of the tea plant. Temperature increase and rainfall decrease due to global warming can affect the productivity and sustainability of tea plantations in the future. The ecophysiology of the tea plant can be optimized by maximizing several internal and external factors that affect the growth, quantity and quality of tea.Key words : ecophysiology, growth, productivity, climate change
Respons Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap Pemberian Pupuk Organik Asal Pelepah Kelapa Sawit dan Pupuk Majemuk NPK Mira Ariyanti; Gita Natali; Cucu Suherman
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.937 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.14955

Abstract

ABSTRACTThe growth response of oil palm (Elaeis Guineensis Jacq.) seedling toward the application of organic fertilizer from palm fronds and NPK compound fertilizerThe research was aimed to study the influence between organic fertilizers from palm fronds and NPK compound fertilizer to reduce NPK compound fertilizer in main nursery. The experiment was conducted from January to April 2017 at the Experiment Station Ciparanje, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design used was Randomized Block Design that arranged in factorial patterns with two factors and three replications. The fisrt factor was dosage of organic fertilizers from palm fronds consisted of three levels of 0 g/polybag, 800 g/polybag, and 1600 g/polybag and the second factor was dosage of NPK compound fertilizer consisted of four levels of 0 g/polybag, 20 g/polybag, 40 g/polybag, and 60 g/polybag. The result of the experiment showed that there was interaction effect between organic fertilizers from palm fronds and NPK compound fertilizer on height of seedling and dry weight of the shoot. The dosage of 1600 g/polybag organic fertilizers from palm fronds with the dosage of 20 g/polybag NPK compound fertilizer showed the best result in dry weight of the shoot.Keywords: Oil palm seedling, Main nursery, Organic fertilizer, Palm frond, NPK compound fertilizerABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dengan pupuk majemuk NPK yang baik untuk mengurangi penggunaan pupuk majemuk NPK di pembibitan utama kelapa sawit. Percobaan dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan April 2017 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas , Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama meliputi dosis pupuk organik asal pelepah kelapa sawit terdiri dari tiga taraf yaitu 0 g/polybag, 800 g/polybag, dan 1600 g/polybag dan faktor kedua dosis pupuk majemuk NPK yang terdiri empat taraf yaitu 0 g/polybag, 20 g/polybag, 40 g/polybag, dan 60 g/polybag. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dengan pupuk majemuk NPK terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tajuk. Perlakuan pupuk organik asal pelepah kelapa sawit 1600 g/bibit dengan pupuk majemuk NPK 20 g/bibit menghasilkan bobot kering tajuk bibit kelapa sawit terbaik.Kata Kunci: Bibit kelapa sawit, Pembibitan utama, Pupuk organik, Pelepah kelapa sawit, NPK
RESPON TANAMAN TEH (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) KLON GAMBUNG 7 TERHADAP PUPUK P DAN KOMPOS BIOAKTIF Intan Ratna Dewi; Santi Rosniawaty; Mira Ariyanti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7 terhadap Pupuk P dan Kompos bioaktif bioaktif.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Lembang Kabupaten Bandung.Ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Andisols.  Percobaan dilaksanakan  pada bulan Mei hingga Oktober 2007. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut : A = 100% dosis rekomendasi pupuk SP-36, tanpa kompos bioaktif;  B =75%  dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; C = 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag; D =  75% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g kompos bioaktif /polibag ; E  = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; F = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; G = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; H = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ;  I = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; J = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; K = 100% kompos bioaktifHasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk P dan kompos bioaktif  memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun tanaman teh umur 12 msp dan bobot kering tanaman. Perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata pada tinggi tunas, diamater batang dan nisbah pupus akar. Pertumbuhan terbaik  diperoleh dari perlakuan kombinasi 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag ; dan 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  75 g kompos bioaktif /polibag. Kata kunci : Pupuk P, kompos bioaktif, tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7
PENGARUH KOMBINASI DOSIS PUPUK HAYATI DAN PUPUK MAJEMUK NPKMg TERHADAP PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA Mira Ariyanti; Ilfa Rini Lubis
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk hayati dan pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Percobaan dilaksanakan dari bulan Juli 2007 sampai dengan bulan Oktober 2007 di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Perkebunan Marihat, Pematang Siantar, Sumatera Utara pada ketinggian369 mdiatas permukaan laut, jenis tanah Ultisol, dengan curah hujan rata-rata2993 mmper tahun dan tipe curah hujan A.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari sebelas perlakuan dan diulang lima kali, dengan perlakuannya sebagai berikut : B0 = 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B1= 0,5 cc Bio-Trent/polibeg  + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B2 = 0,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B3 = 1 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk mejemuk/bibit ; B4 =       1 cc Bio-Trent/polibeg  + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B5 = 1,5 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B6 = 1,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B7 = 2 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B8 = 2 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B9 = 2,5 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B10 = 2,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5g pupuk majemuk/bibit.Hasil percobaan menunjukkan kombinasi dosis pupuk hayati Bio-Trent dan pupuk majemuk NPKMg memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada tinggi tanaman (10 MST, 14 MST, 16 MST), jumlah daun (6 MST, 8 MST, 10 MST, 12 MST, 14 MST), diameter batang (4 MST, 6 MST, 14 MST) dan luas daun (16 MST). Pemberian kombinasi pupuk hayati Bio-Trent 2,5 cc/polibeg dan pupuk majemuk 2,5 g/bibit memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot kering daun (16 MST), bobot kering akar (16 MST), bobot kering batang (16 MST), bobot kering tanaman (16 MST), dan nisbah pupus akar (16 MST). Kata kunci : Bibit kelapa sawit, Pupuk majemuk, Pupuk hayati
PENGARUH MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN AIR KELAPA PADA VOLUME DAN INTERVAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BATANG BAWAH KARET (Hevea brasiliensis L.) KLON GT 1 Mira Ariyanti; Komariah -; Ani Putri Setiasari
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan kombinasi volume dan interval pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan bibit batang bawah karet (Hevea brasiliensis) klon GT 1 dengan tipe tanah Latosol. Percobaan ini telah dilakukan di Kebun Karet Cikumpay, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Purwakarta Jawa Barat, dengan ketinggian ± 70 m di atas permukaan laut, dari bulan Mei 2008 sampai Juni 2008.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Perlakuannya adalah penggunaan media tanam tanah, tanah dan pasir (1:1), tanah dan arang sekam (1:1), tanah dan arang sekam (2:1), dengan kombinasi pemberian air kelapa pada enam taraf, yaitu 100 ml dengan interval 5 hari sekali, 100 ml dengan interval 10 hari sekali, 300 ml dengan interval 5 hari sekali, 300 ml dengan interval 10 hari sekali, 500 ml dengan interval 5 hari sekali dan 500 ml dengan interval 10 hari sekali.Hasil percobaan menunjukkan bahwa media tanam yang diberi air kelapa lebih baik dibandingkan dengan media tanam yang tidak diberi air kelapa pada pengamatan tinggi bibit (6 MST-12 MST), lilit batang (10 MST dan 12 MST), luas daun (12 MST), bobot kering akar (12 MST), bobot kering pupus (12 MST), dan volume akar (12 MST). Penggunaan media tanam tanah dan arang sekam (2:1) dengan pemberian air kelapa 100 ml pada interval 10 hari lebih efektif dan efisien untuk diaplikasikan. Kata kunci : Media tanam, Air kelapa, Bibit karet
Induksi Kalus dari Daun Nilam Kultivar Lhoksemauwe, SIdikalang, dan Tapaktuan dengan 2,4-D Suseno Amien; Mira Ariyanti; Mohamad Arief; Dani Kurniawan
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6718

Abstract

Kalus merupakan sumber penting dalam meningkatkan keragaman genetik dan pemahaman proses organogenesis dan embriogenesis serta rekayasagenetika kultivar untuk memperoleh bibit unggul nilam. Peneltian bertujuan untuk memperoleh karakteristik kalus yang terbentuk dari daun nilam kultivar Lhoksemauwe,Sidikalang, dan Tapaktuan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh 2,4-D. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Setiap perlakuan terdiri dari dua botol kultur. Faktor pertama adalah kultivar Nilam (A), terdiri dari tiga kultivar (a1 = Lhoksemauwe, a2 = Sidikalang, a3 = Tapaktuan) dan faktor kedua adalah konsentrasi 2,4-D (D) yang terdiri dari enam macam d1 = 0 mg/L, d2 = 0.5 mg/L, d3 = 1.0 mg/L, d4 = 1.5 mg/L, d5 = 2.0 mg/L, d6 = 2.5 mg/L. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dengan kultivar nilam Lhoksemauwe, Sidikalang dan Tapaktuan pada karakter ukuran kalus, persentase terbentuk kalus, bobot biomassa, jumlah tunas dan tinggi tunas. Varietas Lhoksemauwe memberikan respon yang lebih baik daripada varietas Sidikalang dan Tapaktuan pada karakter bobot biomassa kalus, ukuran kalus dan persentase terbentuk kalus. Kalus dapat diinduksi dengan menggunakan media MS dengan penambahan 2,4-D pada konsentrasi 0.5 mg/L, 1.0 mg/L, 1.5 mg/L, 2.0 mg/L dan 2.5 mg/L. Pada media MS tanpa penambahan 2,4-D tunas dapat tumbuh dari kultivar nilam Lhoksemauwe, Sidikalang dan Tapaktuan. Waktu awal terbentuk kalus tercepat diperoleh dari media yang mengandung 2,4-D 0.5 mg/L (d2), 1.0 mg/L (d3), 1.5 mg/L (d4), 2.0 mg/L (d5). Berturutturut waktu pemunculan kalus adalah 11.67; 12.17; 12.00; 12.50 HST. Media MS + 2,4-D 2.0 mg/L sangat baik untuk petumbuhan bobot biomassa kalus, ukuran kalus dan persentase terbentuk kalus pada varietas Tapaktuan.
Induksi Akar dari Eksplan Daun Tiga Varietas Nilam (Pogostemon cablin Benth.) dalam Media MS yang Mengandung Paclobutrazol In Vitro Ela Rosita; Mira Ariyanti; Suseno Amien
Zuriat Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i1.6698

Abstract

Nilam (Pogostemon sp.) merupakan salah satu tanaman perdu wangi penghasil minyak atsiri penting berupa minyak nilam (patchouli oil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dan induksi akar dari eksplan daun tiga varietas nilam pada media Murashige and Skoog (MS) yang diberikan paclobutrazol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah varietas nilam (V) yang terdiri dari tiga taraf yaitu Lhokseumawe (v1), Sidikalang (v2), dan Tapak Tuan (v3). Faktor kedua adalah konsentrasi paclobutrazol (P), terdiri dari 5 taraf yaitu 0 ppm (p1), 0,5 ppm (p2), 1 ppm (p3), 1,5 ppm (p4), 2 ppm (p5). Hasil percobaan menunjukkan tidak terdapat interaksi antara tiga varietas nilam (Lhoksemauwe, Sidikalang dan Tapaktuan) dengan beberapa konsentrasi paclobutrazol dalam media MS pada karakter waktu awal munculnya tunas, jumlah tunas, tinggi tunas, waktu awal munculnya akar, jumlah akar, jumlah daun dan bobot basah planlet. Untuk beberapa karakter, perlakuan paclobutrazol memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap induksi akar eksplan daun tiga varietas nilam. Konsentrasi paclobutrazol 2 ppm menunjukkan hubungan jaringan batang dan akar lebih jelas dibandingkan dengan konsentrasi lainnya yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm dan 1,5 ppm pada ketiga varietas nilam. Untuk beberapa karakter yang diamati, varietas Lhokseumawe menunjukkan hasil tertinggi pada karakter tinggi tunas, dan jumlah akar terbanyak. Sedangkan varietas Tapak Tuan menunjukkan hasil jumlah tunas dan jumlah daun terbanyak serta bobot basah planlet terberat. Untuk karakter waktu munculnya akar dan tunas waktu tercepat ditunjukkan oleh varietas Sidikalang dan Tapak Tuan.
TEKNOLOGI BUDIDAYA LABU MADU DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PANGAN ALTERNATIF DI DESA PASIGARAN, SUMEDANG, JAWA BARAT Mira Ariyanti
Dharmakarya Vol 10, No 2 (2021): Juni, 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v10i2.32340

Abstract

Tanaman labu madu belum banyak dikenal oleh masyarakat secara umum. Tanaman ini apabila ditelaah dari segi manfaatnya ternyata berpotensi dijadikan pangan alternatif yang dapat memenuhi asupan gizi masyarakat dengan cara mengolahnya lebih lanjut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diadakan di Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat bertujuan memperkenalkan dan mendiseminasikan teknik budidaya daya labu madu dan pemanfaatannya sebagai pangan alternatif yang diharapkan dapat menjadi tambahan pendapatan bagi warga setempat. Peserta kegiatan ini kelompok tani Desa Pasigaran. Metode yang digunakan adalah: penjajagan, penyuluhan, pembuatan demplot percontohan pertanaman budidaya labu madu, pemanenan dan pengolahan labu madu, pendampingan. Hasil kegiatan ini adalah terjadi peningkatan wawasan tentang informasi labu madu dan warga sangat antusias untuk melanjutkan ke praktek pengolahan menjadi produk makanan yang sehat dan bergizi.
Pengaruh Air Kelapa dan BAP terhadap Tanaman Teh Klon GMB 7 setelah Centering Ke-2 SYLVIA PUSPA HARJANTI; SANTI ROSNIAWATY; MIRA ARIYANTI; YUDITHIA MAXISELLY
Agrotrop : Journal on Agriculture Science Vol 8 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.411 KB) | DOI: 10.24843/AJoAS.2018.v08.i02.p01

Abstract

The Effect of Coconut Water and Bap on Tea Plant Clone Gmb 7 After 2nd Centering. Tea plants as one of the leading commodities in Indonesia demanding high productivity. Clone GMB 7 and maintenance such as the formation of the area of plucking by 1st centering and 2nd centering on the immature plant can be done to improve the productivity of tea. Centering that plays a role in stimulating bud formation can be enhanced by the addition of Plant Growth Regulator (PGR) derived from natural ingredients such as coconut water and synthetic ingredients such as Benzyl Amino Purine (BAP). This research was conducted to determine the effect of BAP concentration and coconut water on tea plants after the 2nd centering. The research was conducted from July 2017 to September 2017 at Ciparanje Field Station, Padjadjaran University. The experimental design used was Randomized Block Design with 7 treatments repeated 4 times. The treatment used were: control (without PGR); 25% coconut water; 50% coconut water; 75% coconut water; 60 ppm BAP; 90 ppm BAP; and 120 ppm BAP. The best result are shown by 50% coconut water on the ratio of leaves number, the ratio of bud number, and the bud length.
Co-Authors Abdul Halim Luthfi Abdul Halim luthfi Adhani, Rafika Meidya Agus Wahyudin Al- Adawiah, Alin Robial Albert Franscyscus Alin Robial Al- Adawiah Alvi, Bisri Ani Putri Setiasari ANNE NURAINI Annisa Nuraisah Az Zahra, Fatimah Bahjatien, Isnaini Dzatie Bisri Alvi Bisri Alvi Dalpen Nilmawati Cucu Suherman DANI KURNIAWAN Defri, Ifwarisan Dewi Santika Dewi Santika Ela Rosita Endah Yulia Erika Wahyuni Saragih Erni Suminar Esnakelga Bernadetha Keliat Farida Farida Fatwa Halimah Risandi Febiola, Anita Firma, Farin Gelsbrata Furqan Mubarak Djula Gita Natali Hana Alfianita Utami Hasril Hasan Siregar Hasril Hasan Siregar Henriawaty, R Dwi Puspita Heri Syahrian Khomaeni, Heri Syahrian Ilfa Rini Lubis Intan Ratna Dewi Anjarsari Intan Ratna Dewi Anjarsari K. Murtilaksono K. Murtilaksono Komariah - Kukuh Murtilaksono M. Arief Sholeh M.Arief Soleh Manggala, Ranu Meidya Adhani, Rafika Moch Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh, Mochamad Arief Mohamad Arief Mohamad Arief Soleh Muhamad Eza Suprapto Muhamad Rizky Permana Muhammad Rizki Fauzan Musnar Indra Daulay Nadiyah, Farah Nadiyanti, Nadiyanti Naufal Fikri Nurliawati, Sri Desi Nurmalina Nurmalina, Nurmalina Prayoga, Muhammad Khais Rachmad Akbar Rachman Achmad Indrawan Rafika Arum Sari Ranu Manggala Ratna Dewi Anjarsari, Intan Rija Sudirja Rosafira Putri Zistalia S. Yahya S. Yahya Sa'adah, Dinda Rachmatis Safira, Sania Santi Rosniawaty Siregar, Hasril H. SIska Rasiska, SIska Soleh, Mochamad Arief Sudirman Yahya Suherman VZ, Cucu Suseno Amien Suwarto SYARIFUL MUBAROK Syfani Fitria Syfani Fitria SYLVIA PUSPA HARJANTI Tommy Ario Sirait Uum Umiyati Yenni Asbur Yudha Arief Chandra Yudhitia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly YUDITHIA MAXISELLY Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly, Yudithia Yusup Hidayat Zalfa, Inaz Nuzul