Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pelatihan Penyusunan RPP dan Modul Proyek P5 Digital Terintegrasi Kurikulum Merdeka: Upaya Mendukung Sekolah Adiwiyata Mandiri Rahayu, Ayu; Nasir, Agus; Sopiandy, Dede; Puspitasari, Serli; Fiqran, Fiqhi Al
Prima Abdika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/abdika.v4i4.4830

Abstract

Sustainable education is one of the main pillars in facing global challenges such as environmental degradation and climate change. The Adiwiyata program, initiated by the Indonesian government, aims to integrate environmental values into the school curriculum, helping students not only understand environmental concepts theoretically, but also apply them in everyday life. SMPN 1 Kolaka, as a community service partner, is working to achieve the Adiwiyata Mandiri award and needs strengthening in the implementation of the Adiwiyata concept, especially in the preparation of learning tools based on environmental values. The training program includes five main stages, namely the planning, implementation, technology application, mentoring, evaluation, and program sustainability stages. In the training process, teachers are invited to be more skilled in preparing Learning Implementation Plans (RPP) and Project Modules for Strengthening the Pancasila Student Profile (P5) which are integrated with environmental values. The results of this training showed a significant improvement in teachers' abilities, as evidenced by the difference in pretest and posttest scores by 20%. In addition, feedback from participants showed that this activity received positive appreciation, with a satisfaction rate of 90%. The success of this training not only improves teachers' competence in developing environment-based learning, but also strengthens teachers' capacity in developing environment-based learning.
Bureaucratic Reform and Eradicating Corruption Crimes: Steps Towards a Healthy Economy Putra, Zulfikar; Sopiandy, Dede; Umpi, Ridwan
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Manajemen, Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Vol. 3 No. 1 (2024): TOP 10 Best Paper, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Manajemen, Ekonomi, Keuangan
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/snimekb.v3i1.9822

Abstract

The aim of this research is to optimize the role of bureaucratic reform which has an important role in preventing and eradicating corruption, with the aim of achieving a healthy economy. The research used is a qualitative normative legal approach with inductive logic, using comparative legal interpretation and construction tools. The results of this research are that the government, in this case, needs to optimize bureaucratic reform as a whole by simplifying procedures, increasing the professionalism of ASN and utilizing digital technology to speed up public services. Apart from that, bureaucratic reform is also needed to increase efficiency, improve public services, and create a conducive climate for investment and economic growth.
Penjabaran Nilai-Nilai Pancasila Melalui Media Ajar Berbasis Komik Melin, Melin; Nur Wahida, Sitti; Rahmadani, Natasha; Sopiandy, Dede; Hariyadi, Slamet; Hariati, Sri
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): November
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v4i4.338

Abstract

Tujuan dari artikel pengabdian ini yaitu untuk menyampaikan nilai- nilai Pancasila dengan menggunakan media ajar berbasis komik dengan ikut melibatkan siswa dalam pembuatan komik sehingga meningkatkan pemahaman serta keantusiasan siswa dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini yaitu pendekatan edukatif- partisipatif yang menekankan keterlibatan aktif antara tim pengabdian, dan siswa dalam proses pembelajaran nilai- nilai Pancasila. Hasil dari kegiatan pengabdian ini berdasarkan observasi dan evaluasi yang dilakukan, terlihat adanya peningkatan signifikan dalam antusiasme dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, komik yang dirancang dengan visual menarik dan cerita yang kontekstual mampu menarik perhatian siswa dan menjadikan materi yang sebelumnya dianggap abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami, dari data yang disajikan, peningkatan nilai siswa secara keseluruhan menunjukkan bahwa penggunaan media komik memberikan dampak positif terhadap hasil belajar, rata- rata kenaikan nilai berada dalam rentang 10 hingga 15 poin.
Membangun Jejak, Menggapai Puncak : Pengabdian Dalam Satu Langkah Ramadhani Abdul Asis, Rahmi; Hariyadi, Slamet; Jasrudin, Jasrudin; Hariati, Sri; sopiandy, Dede; Anastasia, Anastasia; Mudassir, Mudassir; Aswar, Hajar; Ikram, M. Haspedil; Hasrani, Hasrani
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): November
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v4i4.344

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Gerakan Membangun Jejak, Menggapai Puncak: Pengabdian Dalam Satu Langkah” dilaksanakan di kawasan wisata alam Puncak Kapu Sani-Sani, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif yang melibatkan mahasiswa, masyarakat, dan pengelola wisata secara aktif dalam setiap tahap pelaksanaan. Kegiatan utama meliputi observasi lapangan, pembuatan serta pemasangan papan plang jalan sebagai media komunikasi visual bertema lingkungan, dan kegiatan pembersihan kawasan wisata melalui kerja bakti bersama. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi masyarakat dan terbentuknya kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan. Papan plang yang dipasang berfungsi efektif sebagai penunjuk arah sekaligus media edukasi yang menyampaikan pesan moral untuk mencintai alam. Selain menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai gotong royong, tanggung jawab sosial, dan kepedulian bersama terhadap kelestarian alam. Program ini menjadi bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta contoh praktik baik (best practice) pengabdian masyarakat berbasis lingkungan yang berkelanjutan.
Simbol Tujuh Ajaran Moral Masyarakat Wolio Keraton Buton: Kearifan Lokal sebagai Cerminan Pancasila Jasrudin, Jasrudin; Sopiandy, Dede; Hariyadi, Slamet; Ramly, Amisbah; Bambang Murdiansyah, Eko; Rahmat, Alibin
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50009

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis nilai di era globalisasi yang berimplikasi pada melemahnya solidaritas dan kesadaran kebangsaan. Pancasila sebagai dasar negara sering dipahami sebatas dokumen formal, padahal nilai-nilainya telah lama hidup dalam kearifan lokal Nusantara. Salah satu contohnya adalah simbol tujuh ajaran moral masyarakat Wolio yang tersimpan di Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis keterkaitan antara ajaran moral Wolio dengan sila-sila Pancasila, serta menggali relevansinya bagi penguatan identitas kebangsaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis. Data diperoleh melalui observasi langsung di Keraton Buton, dokumentasi simbol ajaran moral, wawancara dengan tokoh adat dan pengelola keraton, serta studi literatur. Analisis dilakukan melalui reduksi data, interpretasi makna sosial- budaya, dan pemetaan nilai Wolio dengan sila Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketujuh ajaran moral Wolio: po ma maasiaka, po pia piara, po angka angkataka, po mae-maeaaka, po binci-bincika kuli, man arafah nafsahu wakad arafah rabbahu, dan bolimo karo somanamo lipu memiliki kesesuaian yang kuat dengan sila-sila Pancasila. Nilai kasih sayang, kepedulian, penghormatan, keadilan, religiusitas, dan patriotisme yang terkandung di dalamnya menegaskan bahwa Pancasila berakar dari budaya lokal. Kesimpulan penelitian ini adalah simbol tujuh ajaran moral Wolio berfungsi tidak hanya sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai cerminan nilai Pancasila yang relevan untuk memperkuat kesadaran kebangsaan. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal serta pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan identitas nasional.
Strategi Guru PPKn dalam Pembentukan Moral pada siswa di SMA Negeri 2 Kolaka Asis, Rahmi Ramadhani Abdul; Sopiandy, Dede; Hariyadi, Slamet
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.33036

Abstract

The decline in students moral quality, reflected in low discipline, responsibility, and social awareness, has become a serious challenge in education amid globalization and rapid digital development. This condition highlights the strategic role of teachers, particularly civics education (ppkn) teachers, in fostering students’ moral development in a contextual and sustainable manner. This study aims to analyze in depth the strategies employed by ppkn teachers in shaping students’ morality at SMA Negeri 2 Kolaka, as well as examining the support, constraints, and efforts of the school environment in this process. The study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving ppkn teachers, the principal, the vice principal for student affairs, and students. Data analysis was conducted interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the strategies used by ppkn teachers in moral formation are holistic, integrative, and contextual. Teachers implement contextual moral discussion-based learning combined with exemplary behavior in daily school life. This strategy encourages moral internalization through reflection, moral decision-making, and the habituation of positive behavior. Furthermore, the integration of local socio-cultural values and social interaction among students strengthens the moral formation process. The school environment supports moral development through value-based school culture, habituation programs, and a humanistic guidance system. Despite internal and external challenges, adaptive strategies implemented by teachers and the school contribute to positive changes in students’ moral behavior. This study emphasizes that effective moral education requires synergy between pedagogical strategies, teacher exemplarity, and institutional school support.
Efektivitas Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila pada Siswa SMA Negeri 1 Lalolae Melin, Melin; Wahida, Sitti Nur; Rahmadani, Natasha; Sopiandy, Dede; Jasrudin, Jasrudin; Putra, Zulfikar
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.33682

Abstract

Students' understanding of Pancasila values ​​remains a persistent challenge in Indonesian education. In learning practices, Pancasila values ​​are often delivered textually and memorization-oriented, preventing students from fully internalizing their meaning and implementing them in their daily lives. This situation demands learning innovations that not only emphasize cognitive aspects but also engage students in an effective, contextual, and meaningful way. This study aims to analyze the effectiveness of the Project-Based Learning (PiBL) model combined with comics in improving high school students' understanding of Pancasila values. This study used a weak experimental method with a One Group Pre-test and Post-test design. The subjects were 25 10th-grade students of SMA Negeri 1 Lalolac. Data were collected through essay tests administered before and after the treatment. Data were analyzed using descriptive statistics and N-gain calculations to determine the level of improvement in students' understanding. The results of the study showed an increase in students' average scores from 77.20 in the pre-test to 89.00 in the post-test. The distribution of score categories shifted significantly from a predominance of low and medium scores to a predominance of high scores. The N gain value of 0.56 indicates that the implementation of project-based learning with comics was effective in the medium category. These findings indicate that integrating the PIBL model with comics significantly improved students' understanding of Pancasila values. Therefore, project-based learning with comics can be used as an alternative, innovative learning strategy in Pancasila and Citizenship Education. This model not only improves students' conceptual understanding but also encourages active involvement, creativity, and critical thinking skills in internalizing Pancasila values.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila: Masyarakat Adat Keraton Dalam Konteks Masyarakat Modern Sopiandy, Dede; Bambang Murdiansyah, Eko; Mudassir, Mudassir; Irnanda, Tanti
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Keraton Buton serta mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut berinteraksi dengan tantangan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung dan wawancara mendalam, yang didukung dengan kajian literatur dari sumber-sumber ilmiah mutakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila tertanam kuat dalam tradisi dan sistem pemerintahan Keraton Buton. Nilai Ketuhanan tercermin dalam ritual keagamaan, nilai Kemanusiaan dalam penghormatan terhadap seluruh lapisan sosial, nilai Persatuan dalam ikatan komunal yang kokoh, nilai Kerakyatan dalam proses pengambilan keputusan kolektif melalui dewan adat sembilan orang, serta nilai Keadilan Sosial dalam pembagian peran secara proporsional dalam masyarakat. Modernisasi memengaruhi praktik tersebut dengan menghadirkan tantangan seperti individualisme dan pergeseran budaya, tetapi juga peluang seperti pelestarian digital dan penyebaran kearifan lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menunjukkan bahwa Pancasila tetap relevan baik sebagai ideologi nasional maupun kekuatan budaya dalam menjaga kohesi sosial dan identitas lokal di era modern.