Claim Missing Document
Check
Articles

POTENSI EKOWISATA PANTAI MOLOTABU KABUPATEN BONE BOLANGO BERDASARKAN ANALISIS SPASIAL EKOLOGIS (The Potential of Molotabu Beach Ecotourism, Bone Bolango Regency Based on Ecological Spatial Analysis) Sunarty Suly Eraku; Mohamad Karmin Baruadi; Aang Panji Permana; Hendra Hendra; Nurdin Mohamad
Jurnal Sains Informasi Geografi Vol 3, No 2 (2020): Edisi November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/jsig.v3i2.668

Abstract

Abstract - The development of the coastal area in Bone Bolango Regency is a huge potential for ecotourism. Ecotourism development focuses on aspects of nature conservation, aspects of socio-cultural and economic empowerment of local communities, aspects of learning and education. One of the ecotourism potentials of coastal areas in Bone Bolango Regency is the Molotabu beach area. The purpose of this research is to analyze the potential of the Molotabu beach ecotourism area based on the physical parameters of the socio-cultural, economic and institutional parameters. To achieve this purpose, an ecological spatial approach is used using the Geographical Information System. Field observation research methods consisted of direct measurements, interviews, and questionnaires. The research analysis used quantitatively, namely descriptive statistical analysis, scoring analysis and qualitative descriptive analysis for the final assessment of the potential of Molotabu beach ecotourism. Based on the results of the analysis of the physical parameters of the beach, namely vegetation, environmental cleanliness, beach material and water transparency, Molotabu beach has high potential. The same results were also obtained for the measurement of physical parameters including distance, infrastructure, accessibility and attractiveness of the Molotabu beach ecotourism area. High potential for ecotourism is also obtained from criteria based on institutional, socio-cultural, economic and environmental parameters. The high potential of Molotabu Beach ecotourism is because this coastal area has the potential for natural scenery, underwater beauty, crafts, regional arts and culinary.    
DIGITAL LITERACY AND EDUCATORS OF ISLAMIC EDUCATION Sunarti Suly Eraku; Mohamad Karmin Baruadi; Samuel PD Anantadjaya; Siti Fadjarajani; Ucup Supriatna; Ardian Arifin
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 01 (2021): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v10i01.1533

Abstract

From the teacher's approach to students to the use of media in learning, the learning process has changed dramatically in this digital era. Islamic Religious Education teachers must improve their competence due to the stigma that they are "old teachers" who have difficulty keeping up with developments in the world of information and technology in learning. The purpose of this research is to describe the competence of Islamic Religious Education teachers in the digital age. As a result, the study clearly discusses the competence of teachers and learning in the digital era, as well as the challenges, as well as the strategies of Islamic Religious Education teachers in overcoming the challenges of learning in the digital era. A literature review from several journals and related references was used to demonstrate how a teacher should be in the digital era. Teachers in the digital age must be able to use an information and communication technology-based learning approach to make it easier for students to follow because the information they receive from cyberspace is extremely fast. Finally, Islamic Religious Education teachers must improve their ability to use technology and information-based learning media in the classroom and move away from textbooks. So that the learning process achieves its objectives and provides students with numerous opportunities to develop their learning creativity.
Dinamika Kepribadian Tokoh dalam Novel Harapan di Atas Sajadah Karya Mawar Malka Rahmatia Nasaru; Moh. Karmin Baruadi; Ellyana Hinta
Jambura Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.284 KB) | DOI: 10.37905/jjll.v1i2.9231

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika kepribadian tokoh dalam novel Harapan di Atas Sajadah karya Mawar Malka. Teori yang digunakan adalah psikologi Jung yaitu teori tentang pentingnya kesadaran dan ketidaksadaran membentuk pribadi yang utuh berkaitan dengan pengalaman dan hubungan dengan Sang Pencipta. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa kutipan-kutipan melalui dialog antar tokoh maupun cerita yang menggambarkan dinamika kepribadian dari segi prinsip-prinsip interaksi, fungsi, dan tujuan penggunaan energi psikis. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) dinamika kepribadian dari segi prinsip-prinsip interaksi terdiri atas prinsip oposisi, kompensasi, dan penggabungan. Prinsip ini menjadi dasar terjadinya dinamika kepribadian yang awalnya memiliki kepribadian buruk menjadi lebih baik, (2) dinamika kepribadian dari segi fungsi penggunaan energi psikis yakni adanya kekuatan semangat, keingingan, dan kemauan, (3) dinamika kepribadian dari segi tujuan penggunaan energi psikis terdiri atas progresi dan regresi. Progresi kerpibadian tokoh menampilkan dua tipe keribadian yakni sikap ekstrovert (terbuka) dan sikap introvert (tertutup). Dengan demikian, dinamika kepribadian tokoh menunjukkan perubahan yang signifikan. Perubahan yang berhubungan dengan persoalan sosial dan hubungannya dengan Sang Maha Pencipta menuju ke arah lebih baik.
Homonim dalam Bahasa Atinggola Windriyani Gobel; Moh Karmin Baruadi; Sance A Lamusu
Jambura Journal of Linguistics and Literature Vol 2, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.781 KB) | DOI: 10.37905/jjll.v2i1.10094

Abstract

Homonim terbagi menjadi dua macam yaitu homonim yang homofon dan homonim yang homograf. Adapun homofon yaitu kata yang sama lafalnya dengan kata yang lain namun ejaan dan maknanya berbeda. Homograf yaitu kata yang sama ejaannya dengan kata lain tetapi beda lafalnya dan maknanya. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu, 1) bagaimanakah bentuk kata homonim yang homofon dalam bahasa Atinggola; 2) bagaimanakah bentuk kata homonim yang homograf dalam bahasa Atinggola; 3) bagaimanakah makna leksikal dan makna gramatikal homonim yang homofondalambahasaAtinggola; 4) bagaimanakah makna leksikal dan makna gramatikal homonim yang homograf dalam bahasa Atinggola. Tujuan penelitian ini yaitu, mendeskripsikan bentuk kata homonim yang homofondalambahasaAtinggola, mendeskripsikanbentuk kata homonim yang homograf dalam bahasa Atinggola, mendeskripsikanmaknaleksikal dam maknagramatikalhomonim yang homofon dan mendeskripsikan makna leksikal dangramatikal homonim yang homograf dalam bahasa Atinggola. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Data penelitian bagian dari homonim yang terdiri atas homofon dan homograf. Sumber data dalam penelitian ini dijaring dari informan penutur asli bahasa Atinggola melaluipercakapan. Data dalampenelitianinimerupakanbentuk kata dan makna leksikal gramatikal dari bahasa Atinggola. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik cakap, teknik simak dan teknik catat. Adapun analisis data yang dilakukan dengan cara mentranskip data ke dalam bentuk tulisan, menerjemahkan, mengidentifikasi, mengklasifikasi , menganalisis, mendeskripsi, menyimpulkan dan menyusun laporan hasil penelitiandalambahasaAtinggola.Hasil penelitian menunjukan bahwabentuk kata homofon dalam bahasa Atinggola terbagi atas tiga yaitu bentuk kata kerja, bentuk kata benda dan bentuk kata sifat. Bentuk kata Homofon berjumlah 11 kata. Sedangkan bentuk kata homograf dalam bahasa Atinggola terbagi menjadi empat bentuk kata yaitu bentuk kata kerja, bentuk kata benda, bentuk kata sifat, dan bentuk kata hubung. Bentuk kata homograf bejumlah 47 kata. Pembahasan homofon dan homograf dalam bahasa Atinggola diuraikan dengan pebentukan makna, ada beberapa jenis makna tetapi dalam penelitian ini difokuskan pada makna leksikal dan gramatikal dalam kalimat. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa homonim yang terbagi atas homofon dan homograf terdapat dalam bahasa Atinggola.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BUGIS DALAM NOVEL LONTARA RINDU KARYA S. GEGGE MAPPANGEWA Firmansyah Yantu; moh. Karmin Baruadi; Fatmah AR Umar
Jambura Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.526 KB) | DOI: 10.37905/jjll.v1i2.9232

Abstract

Penelitian ini menggunakan kajian antropologi sastra interpretative Clifford Geertz. Teori yang mengemukakan cara untuk menemukan bentuk kearifan lokal melalui bentuk dan nilai kearifan lokal yang ada dalam lingkungan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Data penelitian ini berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat yang menggambarkan bentuk dan nilai kearifan lokal masyarakat Bugis. Sumber data penelitian ini adalah novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa diterbitkan oleh Republika pada tahun 2012. Tebal halaman 343 halaman; 13,5 cm x 20,5 cm. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui studi kepustakaan. Analisis data yang dilakukan meliputi; mengidentifikasi, klasifikasi, analisis, interpretasi, menyajikan hasil data. Hasil penelitian menunjukkan bentuk dan nilai yang merujuk pada kearifan lokal masyarakat Bugis. Bentuk kearifan lokal yang ditemukan ada 9 bagian. Diantaranya; 1) kepercayaan terhadap mitos, 2) bentuk tradisi lokal; 3) bentuk upacara adat; 4) bentuk kebijaksanaan lokal; 5) bentuk kepedulian sosial; 6) bentuk menjunjung tinggi harga diri; 7) bentuk religi; 8) bentuk kasih sayang; 9) bentuk menghargai orang lain. Sedangkan nilai kearifan lokal yang ditemukan ada 8 bagian. Diantaranya; 1) sopan santun; 2) kejujuran; 3) kerukunan dan penyelesaian konflik; 4) komitmen; 5) pikiran positif; 6) rasa syukur; 7) kerja keras; 8) gotong royong. 9 bentuk dan 8 nilai ini merujuk pada kearifan lokal yang ada di lingkungan masyarakat Bugis melalui novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa.
Sendi Adat dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo Moh. Karmin Baruadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.674 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2312

Abstract

This articel aimed to describe a value of custom and an existence of unwritten literature which becomed a local tradition among Gorontalo society. It researched custom phenomenon through historical fenomenologic and empiric approach. The result of this study showed that Gorontalo Ethnic was people who applied custom based on kitâb Allâh as their rule life. So, Gorontalos culturally appreciated the tradition which were based on Islam forever and ever.Gorontalo’s culture was influenced by Islam which  could be seen through the way of their culturing and their literaturing.  They based their culture, art, and literature to Islam because they thought these were  like praying to Allah. The Islamic values in the Gorontalo’s culture and literature were coherence to their custom untill today. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sendi adat dan keberadaan sastra lisan Gorontalo yang mentradisi pada budaya lokal masyarakat Gorontalo. Pengkajian dilakukan secara historical-fenomenologis melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap pelaksanaannya di setiap peristiwa adat. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan historis masyarakat suku Gorontalo adalah masyarakat adat, yang menempatkan adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitâb Allâh sebagai pandangan hidup, sehingga secara kultural masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa Islami yang selamanya tetap dipelihara dan dilestarikan. Kebudayaan Gorontalo identik dengan Islam yang tampak pada aktivitas berbudaya dan bersastra. Berbudaya, berseni dan bersastra dengan azas Islam yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo dapat diinterpretasikan sebagai suatu wujud beribadah kepada Allah. Nilai-nilai Islami dalam budaya dan peradaban Gorontalo termasuk sastranya menyatu dengan adat istiadat yang berlaku hingga sekarang.
Tradisi Sastra Dikili dalam Pelaksanaan Upacara Adat Maulidan di Gorontalo Moh. Karmin Baruadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.179 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2760

Abstract

This article intent to reveal extent dikili's activity performing that terminological custom tradition/Gorontalo's culture. Assessment did by sosio-cultural's approaching passes through search empirik's literature and watch to its performing at any given custom scene about dikili  that. Study result points out that matter-of-fact social and tribal society culture Gorontalo places dikili as something that important and contains religious point in manage society life behaviour. Islamic aesthetical norms constitute translations symbolically to trusts and grasps to God that most formula deep mirror recitation. Assess dominant Islamic teaching obeyed by that Gorontalo's islamic community constitute basis source that bear artistry as modikili. Such thing this is too causative Gorontalo's society really price traditions especially that gets islami's nuance that all along maintained regular and is kept up. That islami's point was braced motto thru or slogan that becomes Gorontalo's culture reflection that identic with islam which is ‘ adati hula hula’a. to sara’a., sara’a. hula hula’a. to kuru’ani ’ or custom based on al Quran (kitab Allah). Artikel ini bertujuan mengungkapkan pelaksanaan kegiatan dikili atau maulud Nabi menurut tradisi Gorontalo. Pengkajian dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap setiap peristiwa adat terkait dikili. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan, sosial dan budaya masyarakat suku Gorontalo menempatkan dikili sebagai sesuatu yang penting dan mengandung nilai-nilai religius dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula zikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dipatuhi oleh masyarakat Islam Gorontalo tersebut merupakan sumber acuan yang melahirkan kesenian seperti modikili. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa islami yang selamanya tetap dilestarikan. Nilai-nilai Islami tersebut telah dikukuhkan melalui semboyan yang menjadi cerminan budaya Gorontalo yang identik dengan Islam yaitu ‘adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani’ atau adat bersendi syarak dan syarak bersendi al Quran
Makna Simbolik Istilah Konstruksi Bangunan Adat Bantayo Poboide Gorontalo Andriliwan Muhammad; Mohamad Karmin Baruadi; Hasanuddin Fatsah; Dakia N. Djou
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 9, No 1 (2023): January 2023
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.9.1.355-372.2023

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji makna simbolik istilah Konstruksi Bangunan Adat Bantayo Poboide Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tahapan pengumpulan, pengklasifikasian data, penganalisisan data dan penyimpulan. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Penelitian ini berlokasi di rumah adat Bantayo Poboide di Kelurahan Kayu Bulan Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo dan rumah adat yang ada di Provinsi Gorontalo sebagai data pembanding. Data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan bangunan adat Bantayo Poboide tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan masyarakat Gorontalo dimana raja sebagai pemimpin pemerintahan di Linula tidak bersifat absolut, tidak pula ditunjuk berdasarkan keturunan, melainkan atas pilihan dan persetujuan wakil-wakil masyarakat yang duduk dalam pemerintahan. Istilah-istilah bangunan adat Bantayo Poboide dalam Bahasa Gorontalo mengarah kepada kebiasaan dan budaya yang berlaku di dalam masyarakat. Temuan menelitian menunjukkan bahwa keberadaan rumah adat Bantayo Poboide erat kaitannya dengan dimensi kultural masyarakat Gorontalo dan sebagai bukti wujud sistem demokrasi Gorontalo jaman dulu. Makna simbolik rumah adat erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Gorontalo yang masih memegang teguh tradisi adat dalam proses membangun rumah di Gorontalo yang dapat mencerminkan kekuatan adat dan budaya dan bukti jejak budaya arsitektur Gorontalo.
Proses Perkembangan Kejiwaan Tokoh Utama Dalam Novel “Totto-Chan: Gadis Cilik Di Jendela” Karya Tetsuko Kuroyanagi (Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan) Wahyuni Maleja; Moh. Karmin Baruadi; Zilfa Achmad Bagtayan
Jambura Journal of Linguistics and Literature Vol 3, No 2 (2022): Vol. 3, No. 2, Desember 2022
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjll.v3i2.18368

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses perkembangan jiwa tokoh utama yang bernama Totto-Chan dengan menggunakan teori psikoanalisis Jacques Lacan. Teori Lacan berfokus pada proses perkembangan jiwa manusia yang dilihat dari tiga aspek yaitu, aspek real, aspek imajiner, dan aspek simbolik. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-analisis. Teknik analisis data dalam penelitian ini diawali dengan mengklasifikasi data dalam novel kemudian menganalisis, mendeskripsikan dan terakhir menginterpretasi data. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa aspek real yang dialami Totto-Chan berkaitan dengan pola asuh orang tua Totto-Chan yang sangat peka dan mengerti kebutuhan dan kondisi psikologisnya sebagai anak usia dini yang memiliki segudang keinginan dan hasrat yang berbeda dari anak-anak pada umunya. Selanjutnya, aspek imajiner dalam penelitian ini menggambarkan adanya kesenjangan antara harapan dan keinginan Totto-Chan terhadap lingkungan sekolahnya yang sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya sebagai peserta didik. Terakhir, aspek simbolik dalam penelitian ini menggambarkan adanya perubahan positif pada diri Totto-Chan ketika berada di lingkungan sekolah yang memiliki metode pembelajaran yang berbeda, artinya lingkungan sekolah yang bisa memahami kebutuhan dan kondisi psikologis siswa adalah salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan terutama pada anak usia dini. Kata Kunci: Novel, psikologi, aspek real, aspek imajiner, aspek simbolik Abtsack This study aimed to describe the mental development process of the main character in the novel. This qualitative descriptive research uses Jacques Lacan’s psychoanalytic theory, which focuses on disclosing the development process of the human soul through three aspects, including the real aspect, imaginary aspect, and symbolic aspect. The data are in the form of quotations, narrations, and paragraphs related to the character’s psychological condition, while the data analysis technique comprises clarifying, analyzing, describing, and interpreting data. The findings and discussion results revealed that Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela illustrates the mental development of Totto-Chan's character when she is in a different school environment. Further, based on the real aspect, there is no sense of deprivation experienced by the character Totto-Chan. All her wishes are still fulfilled when she receives parental affection and is allowed to do anything she desires. Meanwhile, based on the imaginary aspect of the desire for fulfillment, the character Totto-Chan feels insecure because she is a naughty child, according to the teacher at the previous school. In addition, as well the anxiety by Toto-Chan’s mother that concerned about her daughter’s unchanging attitude. The last symbolic aspect experienced by Totto-Chan, namely feelings of pleasure, comfort, and self-confidence that arise due to good acceptance by teachers, principals, and friends at her new school, Tomoe Gakuen school, which has a teaching method. Which was so different from the previous school that Totto-Chan grew up to be a more creative and diligent child than before. Keywords: a novel, psychology, real aspect, imaginary aspect, symbolic aspect
Masalah Sosial dalam Novel Gerhana Merah Karya Muhammad Sholihin (Tinjauan Sosiologi Sastra) Silvana Dewi Jalajat; Moh. Karmin Baruadi; Ja'far Lantowa
Jambura Journal of Linguistics and Literature Vol 3, No 2 (2022): Vol. 3, No. 2, Desember 2022
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjll.v3i2.18395

Abstract

Abstrak Novel Gerhana Merah merupakan novel ke tiganya Muhammad Sholihin yang diterbitkan pada tahun 2018.Novel ini termasuk salah satu novel yang menarik untuk diteliti, karena pengarang menggambarkan masalah sosialdengan cukup jelas. Novel ini digunakan sebagai objek penelitian dengan tujuan untuk: (1) Mendeskripsikan masalah sosial dari segi kemiskinan, (2) Mendeskripsikan masalah sosial dari segi disorganisasi keluarga,(3) Mendeskripsikan masalah sosial dari segi kejahatan,(4) Mendeskripsikan masalah sosial dari segi peperangan,(5)Mendeskripsikan masalah sosial dari segi kemiskinan. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan tinjauan sosiologi sastra.Sumber data berasal dari kutipan-kutipan kata-kata, kalimat, dialog, maupun paragraf yang memberikan kode pada novel Gerhana Merah Karya Muhammad Sholihin.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik membaca dan teknik mencatat. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi masalah sosial dalam novel Gerhana Merah Karya Muhammad Sholihin, menginterprestasikan data serta menyimpulkan hasil analisis penelitian. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa masalah sosial yang terdapat dalam novel Gerhana Merah Karya Muhammad Sholihin yaitu dapat dilihat dari segi kemiskinan, disorganisasi keluarga, kejahatan, peperangan dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat.Interaksi yang memperlihatkan kemiskinan, disorganisasi keluarga, kejahatan, peperangan dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat banyak diceritakan dalam novel ini.Penceritaan dalam novelini juga menggambarkanpada cerminan kehidupan masyarakat yang mengalami penindasan. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa novel Gerhana MerahKarya Muhammad Sholihin menyajikan persoalan-persoalan social yang muncul dimasyarakat di Joronf Bolong dan Taeatak Siguman seperti kemiskinan, disorganisasi, keluarga, kesejahteraan, peperangan dan pelanggaran terhada[ norma=norma masyarakat. Kata Kunci :Masalah Sosial, Novel, Sosiologi sastra Abstrack Gerhana Merah Novel was the third novel by Muhammad Sholihin, which was published in 2018. The novel is intriguing to study because the author effectively outlines social issues. This novel is used as the study’s object to describe social issues from the point of view of; poverty, family disorganization, crime, war, and poverty. It applied a qualitative descriptive method and used a sociological review of literature, while data source was obtained from words, quotations, sentences, dialogues, and paragraphs that provide code to the Gerhana Merah novel by Muhammad Sholihin. Data collection techniques used were reading and note-taking. The data analysis technique was carried out by identifying the social issues, interpreting the data, and conclusion drawing.The findings and discussion revealed that the social issues in the said Novel could be seen in terms of poverty, family disorganization, crime, war, and violations of societal norms. The interaction of aforementioned social issues was frequently depicted in the Novel. The storytelling in this novel also describes the people’s lives who experience oppression. Thus, it can be concluded that Muhammad Sholihin’s novel Gerhana Merah presents social issues that arise in society, namely the people in Jorong Batu Bolong and Taratak Siguman, such as poverty, family disorganization, crime, war, and violation of societal norms. Keywords: Social Issues, Novel, Sociological Literature