Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Identitas Multikultural dalam Monolog “Aji” yang Ditampilkan SMAN 1 Gondang, Mojokerto Akhmad Fatoni; Laili Dwi Rohmah; Nixie Sanctity
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v2i1.2433

Abstract

Indonesia sebagai bangsa yang multikultural menghadirkan dinamika identitas yang kompleks akibat perjumpaan, percampuran, dan pertentangan antarbudaya. Kondisi tersebut tercermin dalam karya sastra, salah satunya drama monolog Aji karya Gabrielle Abogado. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi identitas multikultural tokoh Aji, mengungkap konflik budaya yang melatarinya, serta memaknai pesan sosial yang disampaikan melalui naskah dan pementasan drama monolog tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra dan psikologi sastra. Analisis didasarkan pada teori hibriditas dan third space Homi K. Bhabha (1994), serta didukung konsep identitas Stuart Hall dan multikulturalisme James A. Banks. Data penelitian berupa kutipan naskah monolog, dokumentasi pementasan, hasil observasi elemen teatrikal, dan sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Aji merepresentasikan identitas hibrida yang lahir dari perjumpaan tiga budaya, yaitu Jawa, Batak, dan Minangkabau. Identitas Aji tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan cair dan terus dinegosiasikan melalui pengalaman personal, konflik keluarga, serta interaksi sosial. Konflik antara sistem patrilineal Batak dan matrilineal Minangkabau menjadi sumber utama krisis identitas yang berdampak pada kebingungan jati diri, trauma emosional, dan keterasingan sosial. Namun demikian, melalui seni ludruk, Aji menemukan ruang penerimaan dan pembebasan dari tekanan identitas kultural yang kaku. Seni berfungsi sebagai ruang ketiga yang memungkinkan terbentuknya identitas baru yang lebih reflektif, inklusif, dan humanis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama monolog Aji tidak hanya merepresentasikan multikulturalisme, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap fanatisme budaya serta menegaskan pentingnya toleransi dan dialog dalam masyarakat majemuk.
Gaya Bahasa Kiasan dalam Naskah Film Aku (1983) Karya Sjuman Djaya: Figurative Language In The Film Script Aku By Sjuman Djaya Amelia Amanda; Wawan Hermawan; Akhmad Fatoni
CARAKA Vol 12 No 2 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v12i2.22635

Abstract

Naskah film Aku merupakan skenario yang ditulis Sjuman sebagai bagian dari proyek film biografis tentang Chairil Anwar, salah satu tokoh penting dalam Angkatan ’45. Kajian ini berfokus pada aspek gaya bahasa yang terdapat dalam naskah film tersebut. Tujuan dari kajian ini untuk menganalisis gaya bahasa kiasan melalui sudut pandang stilistika. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang berlandaskan pada teori gaya bahasa Keraf. Data dihimpun melalui baca dan catat, berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat yang memuat kiasan. Analisis dilakukan dengan tahapan analisis konten yang dikemukakan Endraswara, meliputi pengadaan data, proses inferensi dan analisis, serta validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah film Aku memuat gaya bahasa simile, metafora, alegori, personifikasi, alusi, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, dan sarkasme. Penggunaan gaya bahasa tersebut memperkuat citraan penglihatan dan pendengaran, membangun suasana dramatik dan emosional, serta memperdalam makna simbolis dalam cerita. Metafora dan personifikasi digunakan untuk menghadirkan suasana muram, pergolakan batin, dan visualisasi adegan secara lebih hidup, sedangkan ironi membuat konflik dalam cerita terasa lebih realistis. Adapun sinisme dan sarkasme memperkuat karakter Chairil Anwar sebagai sosok yang keras, bebas, kritis, dan emosional. Kajian ini diharapkan mampu memperluas apresiasi terhadap drama di Indonesia.
Transforming Eco-Digital Literacies Through Multimodal Projects in English Language Learning Iklil Saifulloh; Khuaxay Sengsouk; Akhmad Fatoni; Syihabul Irfan
E-Link Journal Vol 13 No 1 (2026): E-Link Journal
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/ej.v13i1.1392

Abstract

Students’ engagement with digital media has increasingly influenced English language learning; however, its role in developing ecological awareness remains underexplored, particularly in Indonesian English language learning (ELL) contexts. Previous studies have primarily discussed digital literacy and environmental education as separate areas, while paying limited attention to how English learners transform ecological concerns into meaningful digital texts through multimodal practices. This study investigates how transformed practice within multiliteracies pedagogy supported undergraduate students in redesigning local environmental issues into multimodal digital texts. Employing a qualitative case study approach, this research involved twelve undergraduate English language learners and collected data from student artefacts, reflective accounts, classroom observations, and semi-structured interviews. The digital artefacts included a reforestation documentary, the Nawasena educational game, digital journalism, and fandom-based environmental posters. Data were analysed thematically using multiliteracies pedagogy, particularly the concept of transformed practice, and ecolinguistic perspectives to examine how students constructed and communicated ecological meanings through different modes. The findings indicate that students used digital media not only to complete academic assignments but also to communicate ecological concerns and engage audiences beyond the classroom. The documentary project developed place-based ecological storytelling; the game project integrated environmental decision-making through narrative interaction; the journalism project encouraged critical ecological discourse; and the poster project transformed youth popular culture into an environmental campaign language. Nevertheless, the transformation process varied among students due to differences in digital experience, access, and confidence in using multimodal resources. The study suggests that eco-digital projects can support English learning by connecting language practices with students’ local ecological experiences, cultural resources, and environmental concerns.
KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP NILAI DAN NORMA SOSIAL DALAM DRAMA “BLONG” KARYA MIJIL PAWESTRI Mita Marisa Nirditaranti; Firnanda Putria Ananta; Tisya Rexa Oktavia; Akhmad Fatoni
Jurnal Padamu Negeri Vol. 3 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Padamu Negeri (JPN)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/kbe90s13

Abstract

This study aims to describe the social values ​​and norms contained in Mijil Pawestri's drama "BLONG." This drama depicts domestic life, addressing various social issues, particularly those concerning loyalty, responsibility, and shifting values ​​in modern society. The research method used is a qualitative descriptive approach with a sociology of literature approach according to Wellek and Warren, which emphasizes the reciprocal relationship between the literary work, the author, and society. The data source for this study is the text of Mijil Pawestri's drama "BLONG," while supporting data were obtained through literature review relevant to the theory and social context of the work. Data collection was conducted using reading and note-taking, then analyzed by identifying intrinsic elements and relating them to the social realities depicted in the text. The results show that the drama "BLONG" reflects several social values, such as loyalty, hard work, and responsibility, and incorporates social norms such as family norms, economic norms, and moral norms. This drama also provides a glimpse into changes in societal behavior and attitudes toward modernity and materialism. Thus, this work serves not only as entertainment but also as a social mirror reflecting the dynamics of contemporary society.
ANALISIS PENERAPAN STRATEGI ART-BASED LEARNING BERBASIS MUSIK INSTRUMENTAL DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI Nur Kholida Hanum; Asih Andriyati Mardliyah; Akhmad Fatoni
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.48602

Abstract

This study was motivated by students’ low proficiency in writing poetry, particularly in developing ideas, imagination, and word choice, which is attributed to the fact that instruction is still conducted using conventional methods. Therefore, a teaching strategy is needed that can create a more engaging learning environment and support students’ creative processes. This study aims to describe the process of implementing art-based learning strategies through instrumental music and to examine students’ responses and teachers’ feedback regarding poetry writing instruction at SMK Khoiriyah Sumobito. This study employs a descriptive qualitative approach with 32 tenth-grade students as the research subjects. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Data analysis involved data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the implementation of art-based learning strategies using instrumental music is capable of creating a more conducive learning atmosphere, improving student concentration, and developing imagination and creativity in poetry writing. This strategy is considered appropriate for the learning objectives of poetry writing and is capable of increasing student engagement throughout the learning process.
PERSPEKTIF ETIKA FRANZ MAGNIS-SUSENO TERHADAP MORALITAS TOKOH DALAM NOVEL HANA TARA HATA KARYA TERE LIYE: Bahasa indonesia Mayangsari, Salsa Devista; Jayanti, Rani; Fatoni, Akhmad
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 02, Juni 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.50367

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan moralitas tokoh dalam novel Hana Tara Hata karya Tere Liye berdasarkan perspektif etika Franz Magnis-Suseno. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data penelitian berupa novel Hana Tara Hata karya Tere Liye, sedangkan data penelitian berupa kutipan dialog maupun narasi yang mengandung nilai moral. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui membaca, mencatat, dan mengklasifikasikan data sesuai indikator nilai moral Magnis-Suseno yang meliputi kejujuran, tanggung jawab, kemandirian moral, dan kerendahan hati. Teknik analisis data menggunakan model analisis isi Endraswara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moralitas tokoh dalam novel Hana Tara Hata direpresentasikan melalui empat nilai moral utama. Nilai kejujuran terlihat pada sikap tokoh yang menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tulus. Nilai tanggung jawab tampak melalui kesediaan tokoh menerima konsekuensi atas tindakan yang dilakukan. Nilai kemandirian moral tercermin dari kemampuan tokoh mengambil keputusan berdasarkan keyakinan moral pribadi tanpa tekanan lingkungan. Adapun nilai kerendahan hati tampak pada sikap tokoh yang tidak sombong serta menghargai orang lain. Dengan demikian, novel Hana Tara Hata karya Tere Liye mengandung nilai moral yang relevan dengan kehidupan sosial dan dapat dijadikan media pembelajaran karakter.