Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Konflik Keluarga dan Dinamika Hubungan Ayah–Anak dalam Naskah Drama Langkah Ayah di Ujung Senja Auralia Qurrota Aini; Alya Nadhifa Salsabila; Lisa Lulua; Akhmad Fatoni
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v2i1.2410

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi konflik keluarga dan dinamika hubungan ayah–anak dalam naskah drama Langkah Ayah di Ujung Senja melalui pendekatan apresiasi drama dan sosiologi pengarang dengan landasan teori Strukturalisme Profetik. Drama ini menggambarkan relasi ayah dan anak yang mengalami ketegangan akibat perbedaan habitus, kesibukan kerja, serta melemahnya adab dalam kehidupan keluarga modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis teks terhadap dialog, alur, tokoh, dan petunjuk pementasan. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan konsep amil, amal, dan amul untuk mengungkap peran agen, praktik sosial, serta proses pembentukan kesadaran etis dan transendental dalam naskah drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai unsur dramatik, tetapi juga sebagai sarana refleksi moral yang mengarahkan tokoh utama pada kesadaran akan pentingnya menghormati orang tua. Transformasi tokoh Irwan dari sikap abai menuju penyesalan dan komitmen moral menegaskan bahwa adab kepada orang tua merupakan nilai fundamental yang tidak dapat ditunda. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Strukturalisme Profetik efektif digunakan untuk membaca karya sastra sebagai praktik sosial yang mengintegrasikan dimensi estetika, sosial, dan etis, serta relevan sebagai rujukan dalam kajian sastra dan pendidikan karakter.
Representasi Identitas Multikultural dalam Monolog “Aji” yang Ditampilkan SMAN 1 Gondang, Mojokerto Akhmad Fatoni; Laili Dwi Rohmah; Nixie Sanctity
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v2i1.2433

Abstract

Indonesia sebagai bangsa yang multikultural menghadirkan dinamika identitas yang kompleks akibat perjumpaan, percampuran, dan pertentangan antarbudaya. Kondisi tersebut tercermin dalam karya sastra, salah satunya drama monolog Aji karya Gabrielle Abogado. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi identitas multikultural tokoh Aji, mengungkap konflik budaya yang melatarinya, serta memaknai pesan sosial yang disampaikan melalui naskah dan pementasan drama monolog tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra dan psikologi sastra. Analisis didasarkan pada teori hibriditas dan third space Homi K. Bhabha (1994), serta didukung konsep identitas Stuart Hall dan multikulturalisme James A. Banks. Data penelitian berupa kutipan naskah monolog, dokumentasi pementasan, hasil observasi elemen teatrikal, dan sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Aji merepresentasikan identitas hibrida yang lahir dari perjumpaan tiga budaya, yaitu Jawa, Batak, dan Minangkabau. Identitas Aji tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan cair dan terus dinegosiasikan melalui pengalaman personal, konflik keluarga, serta interaksi sosial. Konflik antara sistem patrilineal Batak dan matrilineal Minangkabau menjadi sumber utama krisis identitas yang berdampak pada kebingungan jati diri, trauma emosional, dan keterasingan sosial. Namun demikian, melalui seni ludruk, Aji menemukan ruang penerimaan dan pembebasan dari tekanan identitas kultural yang kaku. Seni berfungsi sebagai ruang ketiga yang memungkinkan terbentuknya identitas baru yang lebih reflektif, inklusif, dan humanis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama monolog Aji tidak hanya merepresentasikan multikulturalisme, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap fanatisme budaya serta menegaskan pentingnya toleransi dan dialog dalam masyarakat majemuk.
Gaya Bahasa Kiasan dalam Naskah Film Aku (1983) Karya Sjuman Djaya: Figurative Language In The Film Script Aku By Sjuman Djaya Amelia Amanda; Wawan Hermawan; Akhmad Fatoni
CARAKA Vol 12 No 2 (2026): JUNE: ON PROGRES
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v12i2.22635

Abstract

Naskah film Aku merupakan skenario yang ditulis Sjuman sebagai bagian dari proyek film biografis tentang Chairil Anwar, salah satu tokoh penting dalam Angkatan ’45. Kajian ini berfokus pada aspek gaya bahasa yang terdapat dalam naskah film tersebut. Tujuan dari kajian ini untuk menganalisis gaya bahasa kiasan melalui sudut pandang stilistika. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang berlandaskan pada teori gaya bahasa Keraf. Data dihimpun melalui baca dan catat, berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat yang memuat kiasan. Analisis dilakukan dengan tahapan analisis konten yang dikemukakan Endraswara, meliputi pengadaan data, proses inferensi dan analisis, serta validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah film Aku memuat gaya bahasa simile, metafora, alegori, personifikasi, alusi, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, dan sarkasme. Penggunaan gaya bahasa tersebut memperkuat citraan penglihatan dan pendengaran, membangun suasana dramatik dan emosional, serta memperdalam makna simbolis dalam cerita. Metafora dan personifikasi digunakan untuk menghadirkan suasana muram, pergolakan batin, dan visualisasi adegan secara lebih hidup, sedangkan ironi membuat konflik dalam cerita terasa lebih realistis. Adapun sinisme dan sarkasme memperkuat karakter Chairil Anwar sebagai sosok yang keras, bebas, kritis, dan emosional. Kajian ini diharapkan mampu memperluas apresiasi terhadap drama di Indonesia.