Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Life Science

Aktivitas Antibakteri Infusa Simplisia Sargassum muticum terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Hidayah, Nikmatul; Mustikaningtyas, Dewi; Bintari, Siti Harnina
Life Science Vol 6 No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri sering ditemukan di negara tropis yang beriklim panas dan lembab seperti Indonesia. Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen penyebab infeksi kulit yang resisten terhadap beberapa antibiotik. Sargassum muticum dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus karena mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder salah satunya fenol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri beberapa konsentrasi infusa simplisia Sargassum muticum terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Konsentrasi infusa simplisia yang digunakan (%) yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 10 dan sebagai kontrol terdiri dari kontrol positif dan negatif. Data yang diperoleh berupa uji aktivitas antibakteri infusa simplisia S. muticum terhadap pertumbuhan S. aureus dan kandungan total fenol simplisia S. muticum dianalisis secara deskriptif, serta analisis korelasi secara statistik untuk mengetahui hubungan kedua variabel uji. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kandungan total fenol seiring bertambahnya konsentrasi simplisia S. muticum. Konsentrasi 1-5% tidak menunjukkan aktivitas antibakteri, sedangkan konsentrasi 10% menunjukkan aktivitas antibakteri dengan membentuk hambatan sebesar 21 mm. Analisis korelasi positif dengan koefisien korelasi 0,577 artinya semakin tinggi aktivitas antibakteri maka kandungan fenol yang terdapat pada simplisia S. muticum juga semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa infusa simplisia S. muticum mulai menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus ATCC 29213 pada konsentrasi 10%. Infection caused by bacteria commonly found in tropical hot climates and moist like Indonesia. Staphylococcus aureus is a pathogenic bacteria responsible for skin infections that can resistant to several antibiotics. Sargasum muticum has been used as an alternative to inhibit the growth of Staphylococcus aureus, because it contains a variety of secondary metabolite compounds such as phenols. The aim of this study was to determine the antibacterial activity several concentration of the infuse powder Sargasum muticum against Staphylococcus aureus The concentration of the infuse powder used (%): 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 10% and as a control consisting of a positive control, and negative control. The data consist of antibacterial activity of S. muticum infuse powder against S. aureus and total phenol content of S. muticum was analyzed descriptively, statistically test correlation analysis to determine the relationship between two variables tested. The results showed an increase in total phenol content with increased concentrations of S. muticum. 1-5% concentration of infuse powdered did not show antibacterial activity, while at 10% concentration showed antibacterial activity by forming a barrier diameter of 21 mm. Analysis result of correlation is positive, with a correlation coefficient 0.577, it means that higher antibacterial activity, content of phenols in S. muticum powdered are also higher. Based on the research, it concluded that the infuse powder of Sargassum muticum showed antibacterial activity against S. aureus ATCC 29213 at a concentration of 10%.
Deteksi Escherichia coli Pada Jamu Gendong di Gunungpati dengan Medium Selektif Diferensial Utami, Sri; Bintari, Siti Harnina; Susanti, R.
Life Science Vol 7 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamu gendong termasuk dalam kategori obat herbal yang dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Kontaminasi Escherichia coli pada produk jamu gendong dapat mempengaruhi manfaat jamu gendong sebagai obat herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri E. coli pada sampel jamu gendong jenis beras kencur dan kunyit asam di Kecamatan Gunungpati Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan sampel diambil secara acak. Sebanyak sebelas sampel jamu beras kencur dan kunyit asam dari perajin jamu gendong diuji menggunakan medium selektif diferensial Eosin Methylene Blue Agar. Sampel positif terkontaminasi E. coli pada medium EMBA ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna gelap dengan kilap hijau metalik. Data yang diperoleh dari hasil uji keberadaan E. coli, perhitungan jumlah koloni E. coli dan lembar observasi dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini menunjukkan bahwa dari sebelas sampel jamu gendong yang diuji, sembilan sampel beras kencur dan tiga sampel kunyit asam positif terkontaminasi E. coli. Hasil perhitungan jumlah koloni bakteri E. coli diperoleh sembilan sampel beras kencur dan dua sampel kunyit asam tidak memenuhi aturan batas cemaran mikroba dalam Standar Nasional Indonesia. ‘Jamu gendong’ included in herbal medicine category which consumed to maintain health. Escherichia coli contamination in ‘jamu gendong’ products can affect the benefits as an herbal medicine. This study aims to detect the presence of E. coli bacteria in the sample of ‘jamu gendong’ type of ‘beras kencur’ and ‘kunyit asam’ in Gunungpati District Semarang. This research is an observational study with random sampling. A total of eleven samples of ‘jamu gendong’ of ‘beras kencur’ and ‘kunyit asam’ from ‘jamu gendong’ sellers were tested using differential selective medium of Eosin Methylene Blue Agar. Positive samples which contaminated with E. coli in the EMBA medium are indicated by the presence of dark colored colonies with metallic green luster. Data obtained from the results of the test of the presence of E. coli, calculation of the number of E. coli colonies and observation sheets were analyzed descriptively. This study showed that of the eleven samples of ‘jamu gendong’ that were tested, nine samples of ‘beras kencur’ and three samples of ‘kunyit asam’ were positively contaminated with E. coli. The results of the calculation of the number of colony of E. coli bacteria obtained nine samples of ‘beras kencur’ and two samples of ‘kunyit asam’ did not meet the rules for the limits of microbial contamination in the Indonesian National Standard.
Analisis Perkembangan Titer Antibodi Hasil Vaksinasi Infectious Bronchitis pada Ayam Petelur Strain Hisex Brown Wulandari K. E, Yenni Tyas; Susanti, R.; Bintari, Siti Harnina
Life Science Vol 8 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i1.29987

Abstract

Infectious bronchitis (IB) is a disease that attacks the chicken's respiratory system caused by an infectious bronchitis virus. IB transmission can occur directly and indirectly. IB disease transmission can be done by vaccination. Vaccination can fail so that to determine the success of the vaccination program an antibody titer monitor is performed using serological tests. ELISA is one of the serological tests that can be used to measure antigens/antibodies. The main principle of the ELISA technique is the use of enzyme indicators for immunological reactions. This study aims to analyze the differences in chicken antibody titers at certain periods after vaccination. The sample in this study used 18 female layer hens of Hisex Brown Strain aged 20 weeks that were vaccinated by IB. This study was an experimental study with treatment of antibody titer measurements at 7, 14, and 21 days after vaccination. Data analysis is descriptive quantitative using the Normality test and t test. The mean results of antibody titers at each consecutive time period at 7, 14, and 21 days after vaccination were 1695, 4207, and 5978. The results of the t test showed that at each sampling period 7 dpi, 14 dpi and 21 dpi had differences significant. The number of titers of IgG antibodies to the IBV virus increases from a distance after vaccination. Conclusions were obtained that antibodies increased in each period of time taken after vaccination. Penyakit Infectious bronchitis (IB) adalah penyakit yang menyerang sistem pernafasan ayam yang disebabkan oleh Infectious bronchitis virus. Penularan IB dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Penularan penyakit IB dapat dilakukan dengan cara vaksinasi. Vaksinasi dapat mengalami kegagalan sehingga untuk mengetahui keberhasilan program vaksinasi dilakukan monitor titer antibodi menggunakan uji serologis. ELISA adalah salah satu uji serologis yang dapat digunakan untuk mengukur antigen/antibodi. Prinsip utama teknik ELISA adalah penggunaan indikator enzim untuk reaksi imunologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis adanya perbedaan titer antibodi ayam pada periode tertentu setelah vaksinasi. Sampel pada penelitian ini menggunakan 18 ekor ayam petelur betina Strain Hisex Brown umur 20 minggu yang divaksin IB. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan perlakuan pengukuran titer antibodi pada 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi. Analisis data secara deskriptif kuantitatif menggunakan uji Normalitas dan uji t. Rerata hasil titer antibodi pada setiap periode waktu berturut-turut pada 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi yaitu 1695, 4207, dan 5978. Hasil uji t menunjukkan pada setiap periode pengambilan sampel yaitu 7 dpi, 14 dpi, dan 21 dpi mempunyai perbedaan yang signifikan. Jumlah titer antibodi IgG terhadap virus IBV semakin meningkat dari jarak setelah vaksinasi. Kesimpulan yang diperoleh bahwa antibodi mengalami peningkatan pada setiap periode waktu pengambilan setelah vaksinasi.
Pengaruh Pemberian Pakan dengan Penambahan Overripe Tempeh terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Pakan pada Ayam Petelur L. Putri, Afra Fauziah; Bintari, Siti Harnina
Life Science Vol 10 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v10i1.47168

Abstract

Overripe tempeh is soybean tempeh which has undergone continuous fermentation. The use of overripe tempeh as a food ingredient in making traditional dishes was not done optimally. In fact, overripe tempeh contains isoflavones and probiotic compounds which are considered to improve the quality of animal feed. Isoflavone compounds contained in overripe tempeh have phytoestrogen properties in increasing the productivity of laying hens. This study aims to examine the effect of feeding with the addition of overripe tempeh with different concentrations on feed consumption, body weight gain, and feed conversion. This research was an experimental study with a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 7 replications. The research material used 28 layers of 94 week old laying hens. The feed treatment with the addition of overripe tempeh consisted of P0 (feed without overripe tempeh), P1 (7.5% addition of overripe tempeh), P2 (15% addition of overripe tempeh), and P3 (22.5% addition of overripe tempeh). The parameters observed consisted of feed consumption, body weight gain, and feed conversion. The data from the research results were analyzed for a variance with the F test at the 5% level. The results of the variance analysis showed that laying hens had a significant effect on feed consumption, but had no significant effect on body weight gain and feed conversion. It can be concluded that the use of tempeh overripe can be used up to 7.5% in layer hens feed. Keywords: overripe tempeh, layer chicken, performances, overripe tempeh, ayam petelur, performans. Overripe tempeh merupakan tempe kedelai yang telah mengalami fermentasi yang berkelanjutan. Pemanfaatan overripe tempeh sebagai bahan makanan dalam penambahan masakan tradisional tidak dilakukan secara optimal. Padahal, overripe tempeh memiliki kandungan senyawa isoflavon dan kandungan probiotik yang dinilai dapat meningkatkan mutu pakan hewan ternak. Senyawa isoflavon yang terkandung didalamnya memiliki sifat fitoestrogen sehingga dapat meningkatkan produktivitas ayam petelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pakan dengan penambahan overripe tempeh dengan konsentrasi yang berbeda terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 7 ulangan. Materi penelitian menggunakan ayam petelur umur 94 minggu sebanyak 28 ekor. Perlakuan pakan dengan penambahan overripe tempeh terdiri dari P0 (tanpa overripe tempeh), P1 (7,5% penambahan overripe tempeh), P2 (15% penambahan overripe tempeh), dan P3 (22,5% penambahan overripe tempeh). Parameter yang diamati terdiri dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Data hasil penelitian dianalisis ragam dengan uji F pada taraf uji 5%, jika berpengaruh nyata dilanjutkan uji BNJ (5%). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ayam petelur berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan overripe tempeh dapat digunakan hingga 7,5% dalam pakan ayam petelur. Keywords: overripe tempeh, layer chicken, performances, overripe tempeh, ayam petelur, performans.
Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri dari Bakteri Endofit Daun Kelor (Moringa oleifera) Sadikin, Nadya Audina Nurkhafiya; Bintari, Siti Harnina; Widiatningrum, Talitha; Dewi, Pramesti
Life Science Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v10i2.54441

Abstract

Endophytic bacteria are beneficial microorganisms that interact with host plants without causing any interference or damage to plants. Moringa oleifera is a medicinal plant that contains secondary metabolites and has antibacterial properties. The aim of this research is to isolate and characterize endophytic bacteria from Moringa oleifera leaves, and to test the antibacterial activity against pathogenic bacteria (Escherichia coli and Bacillus subtilus). The results of the isolation of Moringa leaf endophytic bacteria (Moringa oleifera) obtained amounted to one isolate. Based on the results of the catalase test, gram staining and spore observation, moringa oleifera leaf endophytic bacteria included in the genus Bacillus. The antibacterial test begins with the production of secondary metabolites of Moringa oleifera leaf endophytic bacteria, measures the rate of bacterial growth and tests the antibacterial activity using the Kirby Bauer method with paper disks. Observational data were analyzed statistically using ANOVA and further tests with Duncan (sig <0.05). Antibacterial activity test results showed that the incubation time of endophytic bacteria affected the growth of Escherichia coli and Bacillus subtilus bacteria. The incubation time of 10 hours showed the highest inhibition zone diameter of Escherichia coli and Bacillus subtilus bacteria respectively of 7.5 mm and 1.8 mm. The formation of inhibitory zones indicates the presence of secondary metabolite compounds from Moringa leaf endophytic bacteria which have an antibacterial effect. Bakteri endofit merupakan mikroorganisme menguntungkan yang berinteraksi dengan tanaman inang tanpa menyebabkan gangguan atau kerusakan pada tanaman. Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman obat yang mengandung metabolit sekunder dan berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri endofit dari daun kelor, serta menguji aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen (Escherichia coli dan Bacillus subtilus). Hasil isolasi bakteri endofit daun kelor (Moringa oleifera) yang diperoleh berjumlah satu isolat. Berdasarkan hasil uji katalase, pewarnaan gram dan pengamatan spora, bakteri endofit daun kelor termasuk ke dalam genus Bacillus. Uji antibakteri dimulai dengan produksi metabolit sekunder bakteri endofit daun kelor, pengukuran laju pertumbuhan bakteri dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode Kirby bauer dengan paper disk. Data hasil pengamatan dianalisis statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut dengan Duncan (sig < 0.05). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa waktu inkubasi bakteri endofit berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilus. Waktu inkubasi selama 10 jam menunjukan diameter zona hambat tertinggi terhadap bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilus berturut-turut sebesar 7.5 mm dan 1.8 mm. Terbentuknya zona hambat mengindikasikan adanya senyawa metabolit sekunder dari bakteri endofit daun kelor yang memiliki efek antibakteri.
Pengaruh Penambahan Tepung Kulit Ari Kedelai terhadap Pertumbuhan Burung Puyuh (Cortunix-cortunix japonica) Isnaeni Karunia Annisa; Siti Harnina Bintari; Pramesti Dewi; Dewi Mustikaningtyas
Life Science Vol 12 No 2 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v12i2.66750

Abstract

Soybean hulls is a solid waste from the tempe industry. Utilization of soybean epidermis has not been done optimally. Soybean hulls contains isoflavone compounds and crude protein which are expected to be utilized in quail feed. This study aims to examine the effect of feeding with soybean hulls at different concentrations on the growth of quail. The research was conducted using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 8 replications. The research material used 32 laying quails aged 42 days. Feed treatment with the addition of soybean epidermis consisted of P0 (without soybean hulls), P1 (7.5% addition of soybean hulls), P2 (10.5% addition of soybean hulls), and P3 (13.5% addition of soybean hulls). Parameters observed consisted of feed consumption, body weight gain, and feed conversion. The research data were analyzed using ANOVA, if it had a significant effect it was continued with the BNJ test (5%). The results of the analysis of variance showed that the addition of soybean hulls had a significant effect on feed consumption and body weight gain, but had no significant effect on feed conversion. It can be concluded that the addition of soybean husk as much as 7.5% is still effective in increasing weekly feed consumption and is able to provide the best feed conversion value.
Profil Antioksidan Minuman Sari Tempe Berbahan Dasar Tepung Tempe Original dan Tepung Tempe Kelor Andiniyati, Fitri; Bintari, Siti Harnina; Dewi, Pramesti; Mustikaningtyas, Dewi
Life Science Vol 12 No 1 (2023): May 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v12i1.66771

Abstract

Tepung tempe dapat dijadikan sebagai substitusi makanan atau suplemen antara lain minuman sari tempe. Namun, minuman sari tempe saat ini belum banyak diproduksi. Padahal minuman sari tempe memiliki efek fungsional untuk menjaga kesehatan tubuh. Perlu adanya pengujian terhadap kualitas minuman sari tempe meliputi nilai aktivitas antioksidan, kadar protein, dan tingkat kesukaan terhadap produk minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original dan tepung tempe kelor dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 1%, 2%, dan 3%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai aktivitas antioksidan dan kadar protein minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original dan tepung tempe kelor dengan konsentrasi 1%, 2%, dan 3%, dan mengetahui minuman sari tempe yang paling disukai konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan berupa minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original konsentrasi 1%, minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original konsentrasi 2%, minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original konsentrasi 3%, minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe kelor konsentrasi 1%, minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe kelor konsentrasi 2%, dan minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe kelor konsentrasi 3%. Masing-masing perlakuan dilakukan dua kali ulangan. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, pengujian kadar protein menggunakan metode Kjeldhal, dan pengujian tingkat kesukaan menggunakan metode hedonik. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan uji Anova dua arah dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan minuman sari tempe yang mempunyai nilai aktivitas antioksidan sangat kuat adalah minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe kelor dengan konsentrasi 1% yang ditunjukkan dengan nilai (IC₅₀ < 50), minuman sari tempe dengan kadar protein tertinggi ada pada minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe kelor dengan konsentrasi 3%, dan minuman sari tempe yang paling disukai oleh konsumen adalah minuman sari tempe berbahan dasar tepung tempe original dengan konsentrasi 1%.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Alam, Aulia Nuanza Alamsyah - Alfiyan, Jamil Maulana Zahriyan Anam, M. Khairul Andin Vita Amalia, Andin Vita Andiniyati, Fitri Anhari, Saeful Ani Nur Fauziah, Ani Nur Anik Ulfah, Anik Anisa Dyah P Anisa Dyah P Asih, Tri Sri Noor Astrid Farmayati B., F. Putut Martin H. Chatarina Umbul Wahyuni Chulia Mubtadiah, Chulia Danang Dwi Saputro Deddy Muchtadi DEDDY MUCHTADI Dewi Mustikaningtyas Dewi Susilowati Dhimas Fajar Eka Purnama DIMAS WICAKSONO Dwi Handayani DWI SUSILANINGSIH DWI YULIANTI Dwi Yulianti Dyah Rini Indriyanti Eka - Mukaromah, Eka - Ely Rudyatmi, Ely Endah Peniati Enni Suwarsi Rahayu Evi Widowati Farikhul Ulum Farikhul Ulum Fazat Haniyya, Fazat Fernando, G. S.N. Fidia Fibriana Hadi Nasbey Hayati, Dwi Puji Hayati, Dwi Puji Heni Pujiastuti Ibnul - Mubarok, Ibnul - Ibnul Mubarok Ibnul Mubarok Ibnul Mubarok Ichsani, Nadya Iin Kurnia Iin Kurnia Intan Zainafree, Intan Isnaeni Karunia Annisa Istiani, Fahrun Istiani, Fahrun Jamil Maulana Zahriyan Alfiyan Jayanti, Septi Jumiyati - Jumiyati - Kartika Nugraheni Kartika Nugraheni Khairunisa, Nisrina L. Putri, Afra Fauziah Lail Isro, Abda Latipah, Rina April Lisdiana Lisdiana MADE ASTAWAN Mafaza Khaisuntaha Mafaza Khaisuntaha Maftuhah, Anis Margareta Rahayuningsih Nugroho Edi K Martien Herna Susanti Maryani Suwarno Maryani Suwarno Maryani Suwarno Masru'ah, Masru'ah Milah, Nihayatul Moeis, Siti Fatimah Muhammad Agus Muljanto Muhammad Khumaedi Mursyid . Mursyid Mursyid Nadya Ichsani Najah, Khoirun Nana Kariada Trimartuti Natalia Desy Putriningtyas, Natalia Desy Natalia, Lidya Ayu Nicky, Dhea Niken Subekti Nikmatul Hidayah Ning Setiati Ning Setiati Ning Setiati Ningtyas, Mega Mawarni Eva Noor Aini Habibah Nugraini, Anisa Ratna Nurika, Nurika P. Eko Prasetyo Parmin - Pramesti Dewi Prananta, Widya Pratama, Rizka Nur Priyantini Widiyaningrum Puput Roy Purnawati R. Susanti R. Susanti Rachmadi, Moch Faizal Rahina Nugrahani Rahmawati, Fahmi Ramadani, Mutiara Bintang Retno - Istifarini, Retno - Retno Sri Iswari Revandi, Yanuar Rivana Citra R Rivana Citra r Rohman, Shohihatur Rosidah Rosidah Sadikin, Nadya Audina Nurkhafiya Saiful Ridlo Sarjadi Sarjadi Sarjadi Sarjadi Siti Alimah Siti Fatimah Moeis Siti Maesaroh Sri Sukaesih Sri Sukaesih Sri Utami Sri Widowati Sri Widowati Stephani Diah Pamelasari, Stephani Diah Sucihatiningsh Dian Wisika Prajanti, Sucihatiningsh Dian Wisika Sudarman Sudarman Sugianto - Sunyoto Sunyoto Sunyoto Sunyoto Sutikno Sutikno Syukron Rizqi, Syukron Talitha Widiatningrum Tiara Linanti, Annisa Tirtaningrum, Fitria Ayu Tri Budi Kurniawan Tri Budi Kurniawan, Tri Budi Tutik Wresdiyati Ufi Saraswati, Ufi Ulfa, Berlina Maika Umaira, Nurunnisa Veronika Eka J Veronika Eka J Widya Hary Cahyati Widyanigrum, Dewi Widyanigrum, Dewi Winanti, Ruri Wiwi Isnaeni Wiwi Isnaini Wulan Christijanti Wulandari K. E, Yenni Tyas Yatin Mulyono Yuliana, Lusia Retno Yuliana, Lusia Retno Yuniarti Yuniarti Yustinus Ulung Anggraito