Claim Missing Document
Check
Articles

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI SEKITAR TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK Yelin Adalina; Dodik Ridho Nurrochman; Dudung Darusman; Leti Sundawati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.2.105-118

Abstract

Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menghadapi masalah degradasi sumberdaya alam dan lingkungan, rendahnya ekonomi masyarakat dan meningkatnya jumlah penduduk di dalam kawasan. Dukungan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian taman nasional sulit terwujud tanpa diimbangi upaya nyata yang dapat mengakomodir kepentingan ekonomi dan ekologi secara seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik sosial ekonomi masyarakat sekitar TNGHS sebagai bahan masukan dalam pengeloaan taman nasional. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2012 sampai dengan Mei 2013 dengan mewawancarai sebanyak 297 responden dari delapan desa yang dipilih secara sengaja (purposive sampling). Data penelitian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang bertempat tinggal di dalam dan di sekitar TNGHS secara sosial relatif homogen. Seluruh responden beragama Islam dengan etnis Sunda, 88% tergolong usia produktif, tingkat pendidikan formal tergolong rendah (86,9%), namun memiliki tingkat kesehatan yang baik (85,18%). Sebagian besar responden (87,9%) adalah penduduk asli. Rata-rata tingkat pendapatan responden sebesar Rp 1.155.000,-/bulan dan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) baik menurut ketentuan Provinsi Jawa Barat maupun Provinsi Banten. Rata-rata kontribusi pendapatan dari lahan TNGHS terhadap total pendapatan rumah tangga responden sebesar 38,65% termasuk kategori sedang
PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON DAN NILAI EKONOMINYA PADA KONVERSI HUTAN RAWA GAMBUT MENJADI HUTAN TANAMAN INDUSTRI PULP Yanto Rochmayanto; Dudung Darusman; Teddy Rusolono
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.87 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.2.93-106

Abstract

Hutan gambut merupakan cadangan karbon yang penting. Saat ini keberadaan hutan rawa gambut semakin terancam oleh ekpansi HTI pulp, sehingga penelitian tentang perubahan kandungan C dan nilai ekonominya penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perubahan simpanan C pada konversi hutan rawa gambut menjadi HTI pulp, dan (2) mendapatkan nilai ekonomi karbon pada hutan alam gambut dan hutan tanaman industri pulp. Kandungan C dikuantifikasi dengan persamaan alometrik, dan nilai ekonomi C dihitung dengan pendekatan penerimaan ekonomi proyek REDD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi hutan gambut bekas tebangan dan sekunder menyebabkan penurunan kandungan C vegetasi masing-masing sebesar 103,53 ton/ha/th dan 61,02 ton/ha/th. Sedangkan konversi pada hutan gambut terdegradasi menyebabkan peningkatan kandungan karbon vegetasi sebesar 22,47 ton/ha/th. Nilai ekonomi HTI pulp diperoleh sebesar Rp 15,56 juta/ha. Proyek REDD HTI pulp dari hutan terdegradasi menyebabkan peningkatan nilai ekonomi sebesar 20,21% dan 51,13% untuk harga satuan kompensasi US$ 9 dan 12/tCO2-e. Proyek REDD pada hutan gambut bekas tebangan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari HTI pulp pada harga satuan kompensasi US$ 9.00/tCO2-e dan US$ 12/tCO2-e pada skenario UP PAN-KARBON dengan konservasi maupun PHPL. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa karbon dari hutan gambut lebih bernilai ekonomi dibandingkan dengan pengusahaan HTI pulp.
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KELESTARIAN PRODUKSI PLTAWAY BESAI DI PROVINSI LAMPUNG Bambang Soeharto; Cecep Kusmana; Dudung Darusman; Didik Suharjito
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.555 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.1.25-34

Abstract

Alih guna lahan hutan menjadi sistem penggunaan lainnya akan menimbulkan masalah terhadap suplai air sebagai fungsi penyedia jasa lingkungan secara kuantitas maupun kualitas Skenario perubahan penggunaan lahan juga dikuantifikasikan untuk mengetahui komposisi penggunaan lahan di Sumber jaya yang memberikan pendapatan maksimum bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Total PLTA di Kecamatan Sumber jaya, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung dipengaruhi oleh komposisi penggunaan lahan. Simulasi didasarkan pada skenario perubahan penggunaan lahan (skenario 1: 13% monokultur; skenario 2: 61% agroforestri berbasis kopi; skenario 3: 23% hutan; skenario 4: 30% hutan dan skenario 5: 84% hutan) untuk memprediksi total pendapatan PLTA yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pendapatan PLTA yang memberikan keberlanjutan terjadi ketika 61% total area ditutupi oleh agroforestry berbasis kopi dan total pendapatan terendah terjadi ketika total areal ditutupi 84% hutan. Sebaliknya penghutanan seluruh areal di Kecamatan Sumber jaya kecuali lahan padi, hortikultur dan perumahan akan menurunkan total pendapatan PLTA sebesar 13,5%.
SISTEM INSENTIF KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN BERBASIS MASYARAKAT: STUDI KASUS PROYEK RHL KECAMATAN NGLIPAR KABUPATEN GUNUNG KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Fitri Nurfatriani; Dudung Darusman; Hendrayanto Hendrayanto
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 3, No 1 (2006): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7964.198 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2006.3.1.43-60

Abstract

Masyarakat di Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunung Kidul memiliki persepsi yang positif terhadap kegiatan RHL yang ditunjukan dengan tingkat kepentingan yang tinggi terhadap kegiatan RHL berdasarkan persepsi masyarakat. Hal tersbut disebabkan karena masyarakat menerima manfaat berupa manfaat ekonomi dan ekologi. Berbagai manfaat yang dirasakan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa masayarak di Kecamatan Nglipar telah memiliki inisiatif yang tinggi dalam kegiatan RHL sehingga perlu disusun suatu sistem insentif RHL sebagai suatu penghargaan bagi masyarakat. Penyusunan rancangan sistem insentif berdasarkan pada tahapan-tahapan:1). Pengumpulan informasi yang melatar belakangi mata pencaharian masyarakat dan karakteristik sumberdaya alam,2) Analisis pengaruh ekonomi masyarakat terhadap sumberdaya alam,3) Identifikasi kebutuhan dan relung insentif,4) Memilih insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan analisa data dilakukan secara deskriftif disertai perhitungan statistik deskriftif.Tindakan insentif ekonomu untuk RHL yang diplih berdasarkan persepsi masyarakat yaitu:1) insnentif mata pencaharian berupa pelatihan pemanfaatan SDA berkelanjutan, pelatihan teknik pemanenan yang efisien , pelwtihan pengolahan hasil komoditas RHL (44%) ,2) tindakan finansial berupa dana bantuan pengembangan RHL, target hadiah untuk aktivitas RHL, kompensasi atas aktivitas RHL, kredit lunak untuk kegiatan RHL (43%),3) hak kepemlikan berupa hak pengelolaan, hak milik (10%),4) tindakan pasar berupa peningkatan saluran an informasi pemasaran (2%) dan5) tindakan fiskal berupa subsidi untuk teknologi RHL (1%)
INTEGRATED MANAGEMENT OF MANGROVES ECOSYSTEM IN LAMPUNG MANGROVE CENTER (LMC) EAST LAMPUNG REGENCY, INDONESIA Asihing Kustanti; Bramasto Nugroho; Dudung Darusman; Cecep Kusmana
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 15, No 2 (2012): Volume 15, Number 2, Year 2012
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.339 KB)

Abstract

Mangroves forest ecosystem along the east coastal in Lampung Mangrove Center (LMC) Margasari Village is a renewable resources. It is a border between two ecosystem. Because of that situation, more than one stakeholders involved. There are department involues, Forestry Fisheries and Marine, and Agriculture Department in East Lampung District. Often, the policy of each department is not efficient and effective.  Based on that situation, on 2006, the mangroves management try to make an integrated model between the stakeholders.  In this research, It want to know the effectiveness of that model.  The samples in this research used Simple Random Sampling which they were 25 the people and the team of integrated management of University of Lampung and the East Lampung Regency government. The datas will be described and analysis with SWOT Analizing (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats). The strategy of the integrated management will be defined after that.  Integrated management of mangroves ecosystem in Margasari Village have in good management of sustainability approach and increase the welfare of the people.  The position of the analzing of the integrated management is on the aggressive curve.  It is indicated that the integrated management has been done since 2006 have progressive development, between the people, government, and  University of Lampung. The strategies of management plan are education for the people on mangroves ecosystem functions and benefits, human resources development, law enforcement in break the rule in mangroves management (illegal loging and wild harvesting), development in international and national net working,  science and technology development, and  community empowerment and economyc increase. 
ORIENTASI MASYARAKAT KOTA BOGOR TERHADAP NILAI KENYAMANAN UDARA Andry Saputra; Ricky Avenzora; Dudung Darusman; Rachmad Hermawan
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1717.522 KB) | DOI: 10.20886/jpsek.2016.13.3.177-187

Abstract

Public participation is needed to answer the limitation of fund in realizing the micro-climate amelioration program. This research aims to analyze the public perception on climate change in Bogor City, the air amenity index on micro-climate, and the value of willingness to pay (WTP) of community. Data was collected through questionnaires using One Score One Criteria method (Avenzora, 2008) and result was analyzed using statistics. The research showed that each village facing different problems related to the causes of the air amenity degradation. This result was also supported by the value of Temperature Humidity Index which was uncomfortable and according to the public perception that there was an increasing of the air temperature and humidity. The value of willingness to contribute of the community was Rp12,413/family/month which is accumulatively community participation potency of Bogor City estimated to reach Rp3,220,453,546 per month.
PENDEKATAN SISTEM DALAM PENDUGAAN NILAI EKONOMI TOTAL EKOSISTEM HUTAN : NILAI GUNA HASIL HUTAN KAYU DAN NON KAYU Bahruni Bahruni; Endang Suhendang; Dudung Darusman; Hadi S. Alikodra
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2007.4.4.369-378

Abstract

Nilai ekonomi total ekosistem hutan berasal dari berbagai jenis hasil hutan, mencakup hasil hutan kayu dan non kayu, termasuk juga jasa fungsi ekologis. Pendekatan sistem digunakan di dalam pendugaan nilai ekosistem hutan, dengan dasar pertimbangan adanya karakteristik saling keterkaitan berbagai hasil hutan tersebut. Pada umumnya, masing-masing pihak atau stakeholders mempunyai penilaian yang berbeda-beda tergantung pada persepsi dan kepentingan masing-masing pihak. Tujuan penelitian ini adalah menjawab pertanyaan bagaimana mengukur dinamika nilai ekonomi total ekosistem hutan, dan bagaimana cara mengharmoniskan berbagai kepentingan stakeholders itu di dalam pengelolaan hutan. Hasil simulasi dengan intensitas penebangan tegakan 0%, 50%, 76% dan 100% menunjukkan bahwa nilai ekonomi total (nilai guna kayu dan non kayu) tidaklah statis, tetapi nilai ini dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekosistem hutan, sebagai akibat tindakan pengelolaan hutan. Harmonisasi kepentingan stakeholders di dalam pengelolaan hutan dapat dievaluasi melalui distribusi nilai ekonomi total, dan pemenuhan kriteria kelestarian sumber daya hutan, yang di dalam simulasi penelitian ini dapat dicapai pada intensitas penebangan tegakan 50%.
Socio-cultural Factors on The Establishment and Development of Communal Homestay in Eco Rural Tourism Mita Erdiaty Takaendengan; Ricky Avenzora; Dudung Darusman; Cecep Kusmana
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 28 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.28.2.91

Abstract

Socio-cultural in homestay need to be identified, since such business can make very close interactions among tourists and rural life. This study aims to analyze socio-cultural factors in the establishment and development of communal homestays in the rural tourism. The study was conducted in tourist villages in three provinces, namely the Special Region of Yogyakarta (Brayut and Tanjung villages), West Java (Banceuy and Bunihayu villages) and North Sulawesi (Bahoi, Tiwoho, Popareng, Tandengan and Urongo villages). The research instrument used close ended questionnaire with 585 respondent. Data analysis was carried out in a quantitative descriptive by grouping, simplifying and presenting data using class intervals. The results showed that the majority of people in tourist villages agree on the concept of communal homestay which can be a forum for the preservation of the culture, customs and norms of the local community. In the aspect of cultural heritage conservation, homestay businesses are considered capable of providing the function of protecting and preserving customs, arts, culture, religious traditions and languages. The management of this communal homestay is considered to be able to create social interaction, cooperation and can reduce forms of unhealthy competition.
Polarization among Stakeholders Perception on the Interpretation of Ecotourism Resources in Gunung Halimun Salak National Park Helianthi Dewi; Ricky Avenzora; Dudung Darusman; Cecep Kusmana
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 28 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.28.2.174

Abstract

The study of polarization of stakeholder perceptions is important to consider the policies that must be taken by area managers related to the development of interpretation programs in national park areas. This study was aimed to analyze and evaluate the characteristics of the subject of interpretation that are considered important by stakeholders, to analyze the differences in perceptions among stakeholders of the attractiveness of the subject of interpretation and to determine the polarization of perceptions of the subject of interpretation among stakeholders in relation to the management of Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP). Stakeholder perception data was obtained by distributing a closed pattern questionnaire. Cluster analysis was used to determine the variety of stakeholder perception in interpretation subjects within the GHSNP area. As for knowing the direction and scale of the polarization of stakeholder perceptions, it was analyzed by Kruskal Wallis and Mann Whitney test. The results showed that the largest polarization among stakeholders occurred in the cultural subjects, and the direction of polarization was negative. This indicates the weak attractiveness of the subject of cultural interpretation to stakeholders. The greater commonality of perception between the community and managers forms the basis for the development of cultural interpretations. This development is expected to bridge the community's needs for the GHSNP area as well as provide stronger support for the management of the national park area.
Social Values Analysis Toward Ecotourism Development in The Kei Islands Jamaludin Kabalmay; Ricky Avenzora; Dudung Darusman; Nimmi Zulbairnarni
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 28 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.28.2.101

Abstract

The application of carrying capacity has the potential to protect tourist areas, both natural and cultural, and it is also related to the lifestyle of the local community, as well as the potential of tourist destinations. The condition of the people of the Kei Islands who are still experiencing conflicts of interest in several areas causes a development that is not according to plan or can even change or destroy the character of natural and cultural resources. The purpose of this study was to analyze the condition of social values ​​related to current social carrying capacity with conditions 10 years ago. The number of respondents was 600 people who come from 10 community groups. Primary data were obtained through filling out a list of questions by respondents using a closed-ended questionnaire by applying the “one score one indicator scoring system”. Data analysis was carried out in a quantitative descriptive manner based on the average value of each indicator. To find out the difference between the current condition and the condition 10 years ago, a paired t test was conducted. The results showed that the local community's response to tourism development activities both now and 10 years ago felt positive and negative impacts. The conditions of social situations that produce positive impacts are condusive situations, associations, cooperative situations, and productive collaborations, while the negative ones were dissociation, conflict, and war. Communication and economic aspects must be the attention of the parties so that conflicts of interest can be reduced so that the development of ecotourism in the Kei Islands can be more optimal.
Co-Authors Aceng Hidayat Achmad Machmud Thohari Adi Sutrisno Agus Hikmat Agus Priyono Kartono Ahmad Sahab Andi Sadapotto Andry Saputra Anggit Haryoso Anita Hafsari Ardi Ardi Arya Hadi Dharmawan ASEP SAEFUDDIN Asihing Kustanti Azis Khan Bahruni . Bambang Soeharto Bambang Soeharto Bintang C. H. Simangunsong Boen Purnama Bondan Winarno Bondan Winarno Bramasto Nugroho Cecep Kusmana Daniel Happy Putra Debby.V. Pattimahu Deddy Ruchjadi Devitha Windy Kalitouw Dewi Febriani Didik Suharjito Dodik Ridho Nurrochman Dodik Ridho Nurrochman, Dodik Ridho Dodik Ridho Nurrochmat E Elias Eddyono, Fauziah Edwin Martin Edwin Martin Eka Intan Kumala Putri Ekawati Sri Wahyuni Emi Roslinda Endang Hernawan Endang Suhendang Endriatmo Soetarto Entin Hendartin Ervizal A. M. Zuhud Eva Anggraini Evelin Parera F. Gunawan Suratmo Faridh Almuhayat Uhib Hamdani Ferdinal Asmin Ferdinal Asmin, Ferdinal Fitri Nurfatriani Gusti Hardiansyah H R Syaukani Hadi S Alikodra Hariadi Kartodiharjo Hartrisari Harjomidjojo Helianthi Dewi Helianthi Dewi Hendrayanto . Henry Silka Innah Hermanu Triwidodo Hermawan, Rachmad Iin Ichwandi Indra Gumay Febryano Indra Setiawan Purba IRA TASKIRAWATI Irwan Irwan Jamaludin Kabalmay, Jamaludin Kartodihardjo, Hariadi Kooswardhono Mudikdjo Leti Sundawati Luthfia Zahra Zen Mafut Munajat Manifas Zubayr, Manifas Mappatoba Sila marwoto marwoto Mita Erdiaty Takaendengan Mohamad Subhan Labetubun Mukhlas Ansori Naik Sinukaban Nimmi Zulbairnarni Noor Farikhah Haneda Nugroha, Bramasto Nur Arafah Nur Suhada, Nur Nurheni Wijayanto Nursidah Nyoto Santoso Omo Rusdiana Pernando Sinabutar Pernando Sinabutar Pudjianto, Kuat Ricky Avenzora Rini Untari Risky Novan Ngutra Rizaldi Boer Rudi C Tarumingkeng Rudy C. Tarumingkeng Sambas Basuni Saqinah Nur Rahmawati Sardjo, Sulastri SATRIYAS ILYAS Satyawan Sunito Satyawan Sunito Setiyawati Titi Soedomo, Sudarsono Soeryo Adiwibowo Soni Trison Suria Darma Tarigan Syaiful, Syufriandi Tatang Tiryana Tati Rajati Teddy Rusolono Triyono Puspitojati Tutut Sunarminto Ujang Sumarwan Wahyuni, Ekawati Widada Yanto Rochmayanto Yanto Rochmayanto YANTO SANTOSA Yayuk Siswiyanti Yelin Adalina Yelin Adalina Yelin Adalina Yulius Hero Yuzirwan Rasyid