Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Association Of Stunting And Supplementary Feeding In Stunting Prevention Program On Under-Five (6 - 59 Months Old) Children: A Systematic Review Syahana Indaryono, Cleo; Djuwita, Ratna; Julianti, Rita
Journals of Ners Community Vol 13 No 6 (2022): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i6.2428

Abstract

The effect of supplementary feeding in stunting prevention programs for toddlers has had mixed results. The purpose of this study was to determine the association of stunting and supplementary feeding in stunting prevention programs in children under five (6 - 59 months): systematic review. subscription database from the University of Indonesia, namely Embase, PUBMED, SAGE, Science Direct, Scopus, and Taylor & Francis. Systematic reviews were extracted and sorted using EndNote and reviewed using Rayyan.ai. The risk of bias was assessed using the Cochrane risk of bias tool. Results: Eight publications meeting the inclusion and exclusion criteria were included in the systematic review and presented qualitatively. Five publications significantly increased LAZ and reduced stunting events over the duration of the study. Conclusion: Five of the eight publications analyzed showed a higher increase in LAZ compared to the controls in each study. Studies show that dual interventions have a higher chance of reducing stunting, and that further research is needed to determine effective and optimal interventions in food absorption through the role of gut health..
STUNTING SAAT BALITA SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENYAKIT DIABETES MELITUS DI KEMUDIAN HARI : TINJAUAN LITERATUR Zahra, Yuliana; Djuwita, Ratna; Wijaya, Fikri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43488

Abstract

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Kekurangan gizi ini menyebabkan perubahan permanen pada metabolisme tubuh, termasuk cara tubuh memproses glukosa dan insulin. Stunting saat balita memberikan dampak jangka panjang berupa resistensi insulin yang pada akhirnya meningkatkan risiko diabetes melitus saat dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dampak stunting saat balita terhadap risiko diabetes melitus di kemudian hari dari berbagai penelitian. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur yang menggunakan metode PICO (Population, Intervention, Comparators and Outcome) dengan menelusuri basis data elektronik yaitu Cochrane Library, PubMed, Scopus dan Google Scholar serta dengan hand searching pada penelitian relevan lainnya. Tiga artikel didapatkan setelah melalui tahapan inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Hasil telaah menunjukkan adanya hubungan stunting saat balita dengan risiko diabetes melitus saat usia remaja dan dewasa. Akan tetapi, dua studi yang dilakukan di Brazil menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik. Pada balita yang stunting, respons tubuh terhadap insulin menjadi tidak optimal, sehingga produksi insulin meningkat seiring waktu, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes melitus dalam jangka panjang. Hasil ini memperkuat bahwa pencegahan stunting sangat penting tidak hanya untuk pertumbuhan anak, tetapi juga untuk mencegah risiko penyakit tidak menular di masa depan, termasuk diabetes melitus. Diperlukan lebih banyak data epidemiologi yang meneliti hubungan antara stunting saat balita dan risiko diabetes melitus agar pemahaman mengenai hubungan ini semakin akurat.  
HUBUNGAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN STUNTING PADA BALITA : TINJAUAN LITERATUR Nurmaliani, Rizki; Djuwita, Ratna; Wijaya, Fikri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43620

Abstract

Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat masyarakat. Secara global, kejadian stunting masih banyak ditemukan pada anak berusia di bawah lima tahun. Selain itu, penyakit infeksi juga masih menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada anak terutama balita, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara penyakit infeksi dengan stunting pada anak berusia di bawah lima tahun dengan menggunakan pendekatan tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah PICO (population, intervention, comparator, dan outcome). Penelusuran literatur dilakukan dengan mengakses basis data elektronik yang bersumber dari Medline (Pubmed), Cochrane CENTRAL, Proquest dengan menggunakan kata kunci berbahasa Inggris dan lens.org dengan menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia. Proses penyeleksian literatur dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu identifikasi, penyaringan, dan menetapkan literatur terpilih. Tahapan ini digambarkan menggunakan diagram alir PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis). Dari hasil penelusuran didapatkan 3 artikel yang memenuhi kriteria yang dibutuhkan dimana 2 artikel menunjukkan hubungan yang bermakna antara penyakit infeksi dengan stunting, sedangkan 1 artikel menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara penyakit infeksi dengan stunting. Sebagian besar penyakit infeksi yang diamati adalah diare dan ISPA. Dapat disimpulkan bahwa penyakit infeksi (diare dan ISPA) berhubungan dengan kejadian stunting pada balita.  
Hypertension Patients' Knowledge, Attitudes, and Control Measures in Bukittinggi: A Qualitative Study Apriza, Cici; Djuwita, Ratna; Martha, Evi; Besral, Besral
Jurnal Kesmas Jambi Vol. 9 No. 1 (2025): VOLUME 9 - NUMBER 1 - MARCH 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jkmj.v9i1.42240

Abstract

Hypertension remains a major global health concern, causing numerous deaths worldwide. Approximately 1.13 billion people suffer from hypertension, with an estimated 10.44 million deaths annually due to hypertension and its complications. This study aims to explore the knowledge, attitudes, and actions taken by hypertensive patients in Bukittinggi City. The research was conducted in the Mandiangin Health Center Working Area, involving 17 hypertension patients, one officer responsible for the Non-Communicable Diseases (NCD) program, and the head of the community health center. This qualitative study used a phenomenological approach, identifying three main themes: knowledge, attitude, and action. The sub-themes include "awareness of hypertension diagnosis," "emotional response to diagnosis," "hypertension management efforts," and "support from health workers." Findings indicate that most patients were unaware of their hypertension diagnosis until they experienced symptoms or were screened during routine checkups. The dominant hypertension management strategies involved seeking treatment at the community health center and maintaining dietary modifications. This study highlights the experiences of hypertensive patients in improving knowledge, attitudes, and behavioral strategies for better hypertension control.
BIBLIOMETRIC STUDY ON THE UTILIZATION OF GARDENING AS A MODE TO IMPROVE PHYSICAL ACTIVITY FOR ELDERLY Prasetyo, Iqbal; Djuwita, Ratna
MEDIKORA Vol. 24 No. 1 (2025): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/medikora.v24i1.82001

Abstract

This study utilized bibliometric analysis to map the literature on the utilizaiton of gardening as a mode to improve physical activity among older adults. The dataset was obtained from Scopus for the period 2004–2024 and analyzed using RStudio and VOSViewer. The results revealed that physical activity and gardening were dominant themes with strong connections to elderly, aging, and quality of life. Most studies originated from Western and East Asian countries, while Southeast Asia, including Indonesia, presents significant opportunities for further research in this field. Keywords such as horticultural therapy and human issues in horticulture remain underexplored, offering new research avenues. This study recommends the adaptation of gardening as a community-based health intervention and the application of scientific measurements such as METs using discovered keywords within Indonesia's cultural context.
Together We Can Change the Issues of Polluted Air: Identity as A Jakarta Citizen Could Predict Collective Action through Group Efficacy Alfiannor, Muhammad; Djuwita, Ratna
Indonesian Journal of Social Science Research Vol. 5 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Social Science Research (IJSSR)
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ijssr.05.02.10

Abstract

In high-density metropolitan areas, urban air pollution increasingly affects the physical environment of cities. The city of Jakarta has poor air quality which can threaten the health of its citizens. The purpose of this research was to find out whether the role of fusion identity with the city of Jakarta in the collective action demanding clean air in Jakarta is mediated by group efficacy and group-based anger. a correlational survey approach with cross-sectional was used for data collection. People who live in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi are the samples of this study. After data collection, 127 people were found with an age range of 17-47 years. Based on the results of the research, it proves that in this study there is a role for fusion identity towards collective action demanding clean air in mediation in Jakarta by group efficacy which can be confirmed. This finding is different from SIMCA, which shows that group-based anger emotions can mediate the indirect effect of social identity on collective action. In this study, we found that identity fusion has no effect on collective action.
Perubahan Profil Bakteri dan Pola Resistensi Terhadap Antibiotik Pasien Sepsis Neonatal Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Lusinta, Hesty; Djuwita, Ratna
Action Research Literate Vol. 8 No. 6 (2024): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v8i6.394

Abstract

Sepsis neonatal menyebabkan mobiditas dan mortalitas yang signifikan terutama pada bayi prematur. Bakteri menjadi penyebab tersering yang jenisnya sangat bervariasi. Kultur darah merupakan baku emas untuk dapat mengidentifikasi bakteri penyebab SN. Pemberian antibiotik empirik yang adekuat dan tepat waktu dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. Pemilihan antibiotik empiris harus mempertimbangkan pola kuman dan resistensi pada masing-masing rumah sakit. Tujuan penelitian ini Mengetahui pola bakteri dan resistensi pasien sepsis neonatorum di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Metode penelitian studi deskriptif retrospektif menggunakan data hasil kultur dan uji resistensi dari spesimen darah neonatus tersangka sepsis yang dirawat di instalasi NICU RSST periode 2016 sampai 2023.  Hasil menunnukan  jumlah spesimen darah yang diperiksa sejak tahun 2016 sampai 2023 sebanyak 2178 dengan positivity rate 17,7%. Bakteri gram negatif mendominasi sebagai penyebab sepsis neonatal pada fase I dan II. Klebsiella pneumoniae (33%), Acinetobacter baumannii (17,7%) dan Serratia marcescens (16,5%) bakteri gram negatif terbanyak dan Staphylococcus coagulase negative (80,4%) terbanyak di kelompok gram positif. Terjadi penurunan sensitifitas bakteri terhadap semua antibiotik yang diuji pada fase II jika dibandingkan dengan fase I. Kesimpulan menunjukan Profil bakteri penyebab sepsis neonatal antara fase I dan II tidak banyak berbeda, namun terjadi peningkatan resistensi pada bakteri tersebut.
Epidemiologi Diskriptif Penyakit Avian Flu di Lima Provinsi di Indonesia, 2005-2006 Endarti, Ajeng Tias; Djuwita, Ratna
Kesmas Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah kasus flu burung pada manusia meningkat sangat pesat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit flu burung (Avian Influenza/AI) pada kejadian luar biasa di 5 provinsi Indonesia in 2005-2006. Studi ini mengunakan sumber data sekunder data surveilens, sub direktorat Surveilens, Depkes RI, pada periode Juli 2005-2006. Dari 28 kasus konfirmasi ditemukan banyak pada pria (57.1%). Sekitar 89.3% kasus memperlihatkan gejala demam tinggi (>38°C), batuk dan masalah pernapasan dan sekitar 80% diantaranya meninggal dunia. Gejala tersebut mengindikasikan kerusakan jaringan paru-paru pada tubuh penderita. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan laboratorium, terlihat bahwa 60.7% penderita mengalami penurunan kadar leukosit (leucopenia) dan 46.4% penurunan kadar trombosit (thrombocytopenia). Laju fatalitas kasus yang telah mendapat pengobatan Tamiflu mencapai 66.7%. Sekitar 53.6% mempunyai riwayat kontak dengan ayam dan bebek. Banyak kasus terjadi pada kelompok dewasa (> 18 years) dengan frekuensi 57.1%. Sebaliknya, laju respon untuk kasus, terlihat sekitar 64,3% mengalami pengobatan yg terlambat. Rata-rata semua kasus konfirmasi di Indonesia pada July 2005 - February 2006 adalah 3.5 kasus /bulan. Kasus-kasus tersebut terjadi dalam wilayah yang mengalami KLB pada binatang ternak. Sampai 28 Februari, 2006, KLB telah ditemukan di lima provinsi yang meliputi: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), Jawa Barat (39.29%), Banten (14.28%) and Jawa Tengah (3.57%). Dapat disimpulkan bahwa kasus lebih sering ditemukan pada pria dewasa dan pada orang yang lebih terpapar dengan faktor risiko. Kasus-kasus tersebut menampilkan gejala demam tinggi, batuk, masalah-masalah pernapasan leukopenia and trombositopenia. Selain itu, angka dan keefektifan ditemukan rendah. Kasus-kasus tersebut terjadi terutama pada musim hujan dan pada wilayah yang sebelumnya mengalami KLB pada binatang seperti ayam dan bebek. The number of Human Avian Influenza in Indonesia increasing tremendously. The research is intended to identify the epidemiological description of Avian Influenza’s (AI outbreaks within five provinces in Indonesia in 2005-2006. The research conducted descriptively using AI surveillance data from July 2005 up until February 2006. The data gained from the Surveillance sub-directorate Ministry of Health of Indonesia. From 28 confirmed AI cases, many occurred to male (57.14%) since Approximately 89.29% of the cases showed symptom of high fever (>38° C), cough and respiratory problems and 80 % of such cases resulted to deceased for the victim. The symptoms indicated that severe destruction of tissue (pneumonia) occurred in the victim body. Based on laboratory’s report, it shows 60.71% of leucopenia and 46.43% of thrombocytopenia cases. The death rate for the cases that have Tamiflu treatment reached 66.67%. 53.57% of the case reveals the victims’ high interactions with chicken and duck as the risk factor (avian). Many cases occurred to adult (> 18 years) with a hit rate of 57.14%. On the other hand, the response rate for the cases shows that 64.29 show late treatment of the cases. The average of confirmed AI cases in Indonesia from July 2005 to February 2006 is 3.5 cases/months. The cases occurred within the area that has AI outbreak to the animal. Up until February 28, 2006, the AI outbreaks have been found within five provinces, they are: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), West Java (39.29%), Banten (14.28%) and Central Java (3.57%). It can be concluded that the cases inflicted more to adult male and to those people who interact more with the risk factor. The cases reveal symptoms such as high fever, cough, respiratory problems, leucopenia and thrombocytopenia. Furthermore the cases response rates and Tamiflu effectively were low. The cases occurred mainly in rainy seasons and to the areas those priories have AI outbreaks to the animals such as chickens or ducks.
Risk Factors of Worsening of Systemic Lupus Erythematosus in Patients at Two Tertiary Hospitals in Jakarta Aji, Giri; Sudaryo, Mondastri Korib; Djuwita, Ratna; Sukamto, Sukamto
Kesmas Vol. 18, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a prototypical multiorgan autoimmune disease with a fluctuating and chronic disease course. As an emerging disease in this century, SLE will burden stakeholders and the country. This study was conducted to determine the prognostic factors for SLE worsening, especially in ambulatory patients. This ambispective study used logistic regression to view the risk factors for worsening SLE in patients. Anemia, age, body mass index, education level, employment status, marital status, hydroxychloroquine, and immunosuppressants were the independent variables in this study. This study concludes that anemia is statistically significant and, therefore, a risk factor for worsening SLE in patients (RR = 5.31; p-value
Kehamilan Pranikah Remaja di Kabupaten Sumedang Omarsari, Sri Dwi; Djuwita, Ratna
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan pranikah remaja adalah fenomena kehidupan remaja yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi secara fisik, mental dan sosial serta komplikasi dan kematian ibu dan bayi. Secara psikososial, remaja dapat terkucil, merasa malu, depresi, putus sekolah, sulit bekerja, miskin dan menambah pertumbuhan penduduk. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran epidemiologi dan faktor determinan dengan kehamilan pranikah remaja di Kabupaten Sumedang. Rancangan studi yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan studi cross sectional. Penelitian ini menemukan prevalensi kehamilan pranikah remaja di Kabupaten Sumedang tinggi (40,5%). Faktor yang berhubungan dengan kehamilan pranikah remaja meliputi usia ketika hamil, frekuensi pacaran, pola asuh orang tua, keutuhan pernikahan orang tua dan keterpaparan teman. Disarankan untuk melakukan peningkatan metoda pelayanan kesehatan reproduksi dan seksualitas dikalangan remaja, menambah jumlah kader remaja (peer educator) melalui pendidikan dan pelatihan. Meningkatkan keterlibatan orang tua mendampingi remaja melalui masa transisi kehidupan, mendirikan pusat konsultasi dan youth centre. Pre-marital pregnancy among teenagers is one phenomenon occurred in adolescent’s life that can affect the reproductive health status physically, mentally and socially. It causes complication leading to death risk for both mother and her infant. Psycho-socially, teenagers could be isolated, felt ashamed, deppressed, being dropped out of school, difficult to find job, sunk into poverty, and increase population growth rate. This research objective is to describe the epidemiologic situation of pre-marital pregnancy among teenagers and to investigate its determinant factors in Sumedang District. This research found prevalence of pre-marital pregnancy of 40.5%. There are several factors related to pre-marital preganncy, that is, age, frequency of having a dating relationship, parental control, success of parental marriage, and peer exposure. Parental control has the highest OR of 2,90. Based on this research it is suggested to improve reproductive health services including teenage sexual education, to increase the number of peer educator through adequate education and training, and to improve parent’s involvement to accompany their teenagers through difficult phase of life’s transition, and to establish consultation for teenager center.