Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Prediktor Waktu Konversi Kultur Dahak Pada Pasien Tuberkulosis Resistan Obat Di Dki Jakarta Tahun 2020 - 2022 Budiyani, Putri Immi Rizky; Djuwita, Ratna; Wahyono, Tri Yunis Miko; Handayani, Dwi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i7.60690

Abstract

Tuberculosis (TB) is an infectious disease that poses a global health problem, including in DKI Jakarta, which has a high burden of Drug-Resistant TB (DR-TB). Sputum culture conversion is an important indicator in monitoring TB treatment. This study aims to evaluate the time to sputum culture conversion and identify its predictors among DR-TB patients in DKI Jakarta from 2020 to 2022 using a retrospective cohort design. The analyzed variables include resistance type, initial sputum, age, gender, previous treatment history, HIV comorbidity, Diabetes Mellitus comorbidity, type of healthcare facility, and DR-TB treatment regimen. Out of 936 analyzed patients, 82.05% experienced sputum culture conversion with a cumulative survival probability at the end of observation of 11.01% and an overall median survival of 3 months. Six variables were identified as predictors of sputum culture conversion time: resistance type, initial sputum, age, previous treatment history, type of healthcare facility, and treatment regimen used. This study is expected to provide valuable information for TB programs and serve as a reference for future research.
Nature Brings Happiness: Contact with Nature as Mediator Between Nature Relatedness and Well-being Among Urban Communities in Indonesia Adiwena, Bartolomeus Yofana; Djuwita, Ratna
Psychological Research on Urban Society Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Well-being is one of the most important elements and is known to be closely related to various aspects of human life, such as physiological health. Previous studies demonstrate that the natural environment positively contributes to well-being. However, most research on the natural environment and well-being mainly focuses on situational factors, such as contact with the natural environment, and ignores dispositional factors, such as nature relatedness. Thus, the current study aims to examine the role of nature relatedness (dispositional factor) and contact with nature (situational factor) in improving well-being among urban communities in Indonesia. This study uses a cross-sectional design and recruits 596 adults from various urban areas in Indonesia. Data were analyzed using structural equation modeling. The results indicate that the level of nature relatedness positively predicts well-being, while contact with nature partially mediates this relationship. Individuals with high levels of nature relatedness tend to make contact with the natural environment. This contact with nature ultimately predicts an increase in well-being. Thus, the study proves the mechanism that underlies the relationship between nature relatedness and well-being and illustrates that situational and dispositional factors play an essential role in well-being among urban societies.
Tinjauan Literatur : Stunting Saat Balita sebagai Salah Satu Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular di Masa Depan Kurniati, Henny; Djuwita, Ratna; Istiqfani, Maulidya
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 6, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seseorang yang mengalami stunting saat balita cenderung memiliki tubuh yang lebih pendek dan memiliki risiko efek jangka panjang, yaitu menderita penyakit kronis yang berkaitan dengan gizi, rentan terhadap penumpukkan lemak tubuh, serta berisiko menderita diabetes melitus karena resistensi insulin dan beberapa penyakit tidak menular seperti hipertensi dan stroke. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menelaah secara ilmiah efek stunting yang terjadi pada seseorang saat balita terhadap penyakit tidak menular saat dewasa. Penelitian ini merupakan literature review dengan metode PICO (population, intervention, comparators and outcome). Database elektronik yang digunakan adalah Embase, Proquest dan lib.ui didapatkan sebanyak lima artikel dan satu tugas akhir (tesis) setelah melalui tahapan eksklusi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Usia anak yang dijadikan sampel dalam setiap studi berkisar dua sampai lima tahun. Hasil telaah ilmiah dari lima artikel dan satu tugas akhir yang sesuai dengan kriteria inklusi, menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami stunting saat balita memiliki risiko kegemukan atau obesitas. Adanya fase catch up growth untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan resistensi insulin sehingga rentan terhadap penumpukkan lemak tubuh. Stunting yang dialami seseorang pada saat balita dapat menjadi salah satu faktor seseorang menderita penyakit kronis yang berkaitan dengan gizi dan penyakit tidak menular lainnya karena adanya peningkatan adipositas dan penumpukkan lemak tubuh. Perlu dilakukan telaah lebih mendalam pada penelitian selanjutnya terkait efek genetik dan perubahan hormon pada masa remaja karena pada masa ini seseorang mengalami fase pubertas dan dapat mempengaruhi risiko obesitas dan hipertensi di masa dewasa.
Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 1-3 Sekolah Dasar Sahid, Muhammad Hidayat; Adisasmita, Asri, Prof; Djuwita, Ratna
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi anak yang diukur berdasarkan berat badan dan tinggi badan anak. Data status gizi pada anak usia umur 5-12 tahun di DKI Jakarta menunjukkan underweight 14,0%, stunting 22,7%, wasting 9,9%, dan overweight 6,8%. Data secara spesifik untuk wilayah Jakarta Selatan adalah underweight 7,4%, stunting 17,8%, wasting 6,3%, dan overweight 7,3%. Dari data tersebut didapatkan gambaran mengenai permasalahan gizi yang terjadi di DKI Jakarta. Permasalahan gizi memiliki dampak pada tumbuh kembang anak. Gizi merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi terhadap prestasi akademik siswa kelas 1-3 sekolah dasar. Desain yang digunakan adalah cohort restrospective dengan melihat hubungan antara hasil School Wide Assessment (SWA) dengan status gizi anak pada sembilan bulan sebelumnya. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1-3 sekolah dasar di Sekolah High Scope Indonesia dengan dilakukan total sampling yaitu mengambil seluruh siswa kelas 1-3 yang berjumlah 480 anak. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara variabel status gizi lebih pada prestasi akademik kumulatif yaitu RR 6,29 (CI 95% 3,82-10,35). Oleh karenanya masyarakat khsususnya orang tua perlu menyadari adanya pengaruh status gizi terhadap prestasi akademik sehingga akan lebih bijak dalam memilih asupan makanan dan jenis sekolah atau pendidikan yang tepat sesuai dengan usia anak.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Analisis Data Surveilans Hipertensi di Tingkat Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022 Meilisa, Meilisa; Djuwita, Ratna; Satria, Eka Budi
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah penyakit tidak menular prioritas di Kota Bukittinggi adalah hipertensi, namun cakupan SPM (25,62%) dan deteksi dini nya (9,20%) masih rendah. Evaluasi sistem surveilans menunjukkan salah satu fungsi pokok surveilans (analisis data) tidak terlaksana. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan analisis data surveilans hipertensi bagi petugas puskesmas. Desain penelitian adalah NonExperimental Pre – Post Test Design dengan total sampling sebanyak 14 orang yang dilaksanakan pada bulan November 2022 s/d Januari 2023. Intervensi dalam penelitian ini berupa pelatihan dengan metoda ceramah dan latihan pratikum. Analisis data menggunakan uji T dependen (Paired t test) dan Mc-Nemar. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang pendidikan responden paling banyak D3 (92,86%), masa jabatan d” 1 tahun (78,57%) dan kelompok usia dewasa 26 – 45 tahun (78,57%). Rata – rata skor pengetahuan sebelum pelatihan 9,07 (95%CI= 8,02 – 10,12) dan sesudah pelatihan 12,86 (95%CI= 11,73 13,98). Ada perbedaan rata – rata pengetahuan responden sebelum dan sesudah pelatihan (p=0,0001). Responden terampil sebelum pelatihan sebanyak 5 orang dan sesudah pelatihan 12 orang. Ada perbedaan rata – rata keterampilan responden sebelum dan sesudah pelatihan (p =0,0391). Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah Kota Bukittinggi dalam meningkatkan kapasitas petugas puskesmas lainnya untuk melakukan analisis data penyakit dan masalah kesehatan
Hubungan Gangguan Mental Emosional dan Obesitas Sentral: Literature Review Rahmawati, Dwi; Djuwita, Ratna
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of central obesity, both globally and in Indonesia, continues to increase. Mental and emotional disorders are one of the contributing factors to central obesity. In previous studies, it was known that the relationship between emotional mental disorders and obesity can occur in bidirections, where emotional mental disorders can cause central obesity or vice versa. This literature review aims to find out more about the relationship between emotional mental disorders and central obesity from various countries. The searching for articles used 4 databases (Scopus, Science Direct, Proquest, and Pubmed) with the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) method. The keywords used to search for literature are (Emotional mental disorders) OR (Stress) AND (Central obesity) OR (Abdominal obesity) And (Adults). The analysis was carried out on 6 research articles from America, Finland, China, Iran, Brazil, and Mexico. The research articles used cohort, case-control, and cross-sectional study designs. This literature review resulted in emotional mental disorders associated with central obesity, and were more common in women. This relationship is influenced by other factors, such as age, gender, marital status, education, occupation, smoking status, physical activity, sedentary behavior, alcohol consumption, emotional eating and binge eating. In overcoming central obesity, it is necessary to consider a person's emotional mental condition, especially in women. In addition, further research is needed on other factors that may influence the relationship between emotional mental disorders and central obesity.
Analisis Situasi Masalah Penyakit Infeksi Menular Seksual di Kota Bogor Tahun 2024 wardiman, wardiman; Djuwita, Ratna; Kusnadi, Bai
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif 15-49 tahun. Di Kota Bogor, angka kasus IMS mengalami peningkatan, namum belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi IMS secara mendalam dan menetapkan prioritas masalah kesehatan menggunakan metode PAHO-adapted Hanlon, yang mengacu pada pembobotan Basic Priority Rating (BPR) berdasarkan lima kriteria utama, yaitu, A=Masalah utama; B=Keseriusan masalah; C=Efektivitas intervensi; E=Ketidakadilan; F=Kapasitas institusi dalam mengatasi masalah. Penelitian ini dilaksanakan di Dinas kesehatan Kota Bogor pada Oktober 2024 hingga Januari 2025, dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, serta disajikan secara deskriptif. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang diperoleh melalui wawancara sementara data sekunder bersumber dari profil kesehatan, laporan Umpan Balik P3MS, dan laporan SIHA Dinas Kesehatan Kota Bogor. Penilaian ini melibatkan enam pejabat struktural Dinas Kesehatan Kota Bogor serta enam pemegang program IMS dari puskesmas dengan angka kasus IMS tertinggi. Hasil analisis menunjukkan enam masalah kesehatan utama dengan skor PAHO tertinggi pada HIV/AIDS (36,02), diikuti sifilis dan sifilis kongenital (22,67), gonore (22,14), infeksi Human Papilloma Virus (13,16), infeksi Herpes Simplex Virus (10,43), dan infeksi klamidia (7,85). HIV/AIDS ditetapkan sebagai prioritas utama karena target Fast Track 95-95-95 belum tercapai, dengan capaian indikator saat ini: 82% Orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui statusnya, 31% menjalani pengobatan, dan 67% memiliki viral load tersupresi. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan konselor HIV/AIDS, pelatihan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) secara berkala, kampanye edukasi massal berbasis komunitas untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, serta penambahan jumlah petugas penelusur dengan melibatkan lebih banyak LSM dan organisasi local guna mempercepat pencapaian target Fast Track 95-95-95.
Determinants of Stunting Among Under-Five Children (0–59 Months) in Central Sulawesi Province Bamba, Marchell; Sudaryo, Mondastri Korib; Djuwita, Ratna; Umniyati, Helwiah
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is caused by chronic malnutrition which can be caused by various factors including poverty, poor nutritional intake and maternal health, and inappropriate infant feeding. This study was conducted to determine what factors cause stunting in Central Sulawesi Province. This study was conducted using a cross-sectional observational analysis method using secondary data from the Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. The analysis was carried out using logistic regression. The sample used was 2179 respondents. The dependent variable is stunting while the independent variables are age, gender, area of residence, gestational age, provision of PMT, exclusive breastfeeding, maternal occupation, maternal education, and the number of family members in the household. Based on the data obtained, the prevalence of stunting in Central Sulawesi Province is 24.42%. In the multivariate analysis, the factors that had a significant relationship were: age variable (P value Keywords: Stunting, Risk factor, Central Sulawesi
Together We Can Change the Issues of Polluted Air: Identity as A Jakarta Citizen Could Predict Collective Action through Group Efficacy Alfiannor, Muhammad; Djuwita, Ratna
Indonesian Journal of Social Science Research Vol. 5 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Social Science Research (IJSSR)
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ijssr.05.02.10

Abstract

In high-density metropolitan areas, urban air pollution increasingly affects the physical environment of cities. The city of Jakarta has poor air quality which can threaten the health of its citizens. The purpose of this research was to find out whether the role of fusion identity with the city of Jakarta in the collective action demanding clean air in Jakarta is mediated by group efficacy and group-based anger. a correlational survey approach with cross-sectional was used for data collection. People who live in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi are the samples of this study. After data collection, 127 people were found with an age range of 17-47 years. Based on the results of the research, it proves that in this study there is a role for fusion identity towards collective action demanding clean air in mediation in Jakarta by group efficacy which can be confirmed. This finding is different from SIMCA, which shows that group-based anger emotions can mediate the indirect effect of social identity on collective action. In this study, we found that identity fusion has no effect on collective action.