Articles
Peran Balai Pemasyarakatan Dalam Upaya Hukum Bagi Anak
Reki Akbal Amaludin;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 9 (2023): Oktober
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10059008
Seluruh perangkat yang ada di masyarakat tak selamanya berjalan dengan baik/ lurus pasti ada setitik potensi untuk melakukan sebuah perbuatan kejahatan, kejahatan yang di lakukan di masyarakat memiliki banyak dasar baik dari internalnya maupun dari eksternalnya oleh karena itu seluruh kalangan yang ada di masyarakat bisa berpotensi melakukan kejahatan, tidak melihat dari gender, kedudukan dan usia. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Metode penelitian deskrptif merupakan metode penelitian yang digunakan dengan cara menyediliki suatu subjek ataupun objek yang berupa seseorang suatu lembaga, masyarakat ataupun yang lainnya. Terkait dengan pendekatan yang digunakan terhadap data. Metode kualitatif memperlakukan data sebagai sesuatu yang bermakna secara intrinsik. Dengan demikian, data yang ada dalam penelitian kualitatif bersifat “lunakâ€, tidak sempurna, imaterial, kadangkala kabur dan seorang peneliti kualitatif tidak akan pernah mampu mengungkapkan semuanya secara sempurna. . Anak merupakan anugrah terbesar yang diberikan tuhan untuk setiap pasangan suami dan istri yang memiliki sifat dan karakter yang beragam. Dengan sifat dan karakter yang beragam menjadi dasar bahwa anak melakukan tindakan menyimpang karena memiliki karakter yang berbeda-beda. Mengingat sifat dan ciri khas anak, dalam melakukan tindak pidana atau gugatan terhadap anak yang nakal perlu dilakukan upaya untuk tidak memisahkan anak dari orang tuanya. Pertimbangkan hal ini karena ikatan antara orang tua dan anak merupakan ikatan yang esensial, baik secara psikologis maupun spiritual. Jika ikatan antara orang tua dan anak tidak baik atau karena perilakunya yang sangat tidak menguntungkan bagi masyarakat maka perlu dilakukan pemisahan anak dari orang tua, perlu diperhatikan bahwa pemisahan ini hanya untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dan tepat mendidik dan mebimbing anak ke ranah yang seharusnya. Anak merupakan generasi penerus bangsa yang posisinya sangat penting, namun tidak menutup kemungkinan seorang anak dapat melakukan tindak kejahatan sehingga harus mengikuti proses pidana. Penanganan hukum pidana anak-anak dengan orang dewasa memiliki sistem yang berbeda. Balai pemasyarakatan merupakan lembaga yang berfungsi untuk meberikan bimbingan kepada narapidana, termasuk anak-anak dengan cara memberi segala informasi yang dibutuhkan, memberikan pemahaman dan beberapa fungsi dan tugas lainnya agar anak tersebut dapat menjadi manusia yang lebih baik.
Identifikasi Perilaku Seksual Menyimpang Pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Mohamad Ridho Pijar Gemilang;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 9 (2023): Oktober
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10035737
Prisoner or correctional inmate is a law violator who has received a final decision from the court and is then placed in a correctional institution to serve his criminal sentence. Imprisonment for law violators will deprive a person of their right to freedom and independence. Not only focusing on that, imprisonment is intended so that prisoners receive guidance so they can realize their mistakes and change into better humans. However, in implementing coaching in prisons, various obstacles are still found, such as overcrowded prison conditions. This condition can trigger other problems in prison if not treated immediately, one of which is the emergence of deviant sexual behavior in prisoners. Sex is one of the basic human needs that must be fulfilled and otherwise it will cause the prisoners to engage in abnormal sexual behavior to fulfill their desires. Deviant sexual behavior is any behavior that is driven by desire with the opposite sex or with the same sex, often even using unnatural sex objects. Sexual deviation occurs when an individual carries out activities to obtain pleasure through relationships outside of heterosexual sexual relations. The aim of this research is to find out what factors cause the emergence of sexual deviant behavior in prisoners and what efforts can be made to minimize and anticipate sexual deviant behavior in correctional institutions.
Kondisi Sanitasi Dalam Meningkatkan Kualitas Kesehatan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Aldy Dwi Aryanto;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10067322
Sanitation is something that is often related to humans and their environment. Parts of sanitation include the cleanliness of a place, clean water treatment, rubbish disposal systems and waste disposal systems. Sanitation is needed in all places, including correctional institutions. The health of prisoners can be disturbed if sanitation in the correctional institution does not work well. Many inmates contract skin diseases such as scabies, ARI, and diarrhea as a result of poor sanitation systems in correctional institutions. Therefore, this research was conducted to determine the sanitary conditions in correctional institutions to improve the quality of prisoners' health. The research method used is descriptive qualitative and data collection using the observation method. The conclusion from the results of this research is that the sanitation system in correctional institutions is running well. However, there is a need to repair and upgrade facilities to improve sanitation in correctional institutions. The correctional institution must also be able to routinely control and clean the environment around the correctional institution so that it does not cause diseases that could harm the prisoners inside.
Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Efektivitas Bimbingan Kepribadian Klien Pemasyarakatan Tindak Pidana Narkotika
Mico Jeje Saputra;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 9 (2023): Oktober
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10065775
Correctional clients are correctional inmates who are undergoing a period of guidance outside the correctional institution. In its implementation, community clients are under the supervision of a community counselor to receive guidance, supervision and mentoring. Clients of narcotics crimes have the stigma of being negative or naughty individuals, this is because many narcotics users are found to be someone who has promiscuous relationships and carries out actions that are contrary to religious and societal norms. So personality guidance becomes a very important thing for narcotics crime clients. Social support was identified as a key factor influencing an individual's progress and success in overcoming the challenges of rehabilitation and reintegration into society. Social support provided by family, friends and the community environment is considered capable of increasing the effectiveness of counseling correctional clients. This research aims to determine the effect of social support on the effectiveness of personality guidance for narcotics crime correctional clients. This research uses a literature review study method with the technique of collecting and reviewing various relevant sources such as previous research.
Kebiasaan Anak Binaan Dalam Clothing Cleanliness (Kebersihan Pakaian) Yang Berkaitan Dengan Kesehatan di Lembaga Pembinaan Khusus Kelas 1 Kutoarjo
Farhan Anwarrul Anam;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10071383
Cleanliness is a state of being free from dirt such as dust, rubbish and unpleasant odors. Bad habits in maintaining cleanliness will cause disease or infection caused by viruses and bacteria. Bad habits in keeping clothes clean can become a breeding ground for viruses and bacteria, especially dirty and damp clothes. Poor clothing hygiene can cause diseases such as fungal infections, itching or skin cancer. A Special Child Development Institution is a place where children who have been found guilty by the court are placed to receive guidance with the aim of making the child better and realizing their mistakes. A foster child is a child who is 14 (fourteen) years old, but not yet 18 (eighteen) years old and is currently undergoing the formation process at a Special Children's Institution. Writing this journal uses descriptive qualitative research methods from the results of observations and literature studies. Qualitative research is based on findings, behavior, interviews, and this research does not use statistical procedures or other quantitative methods. It is hoped that this qualitative research can explain the habitual patterns of assisted children in maintaining clean clothes which are related to the health of the assisted children.
Strategi Pembimbingan Klien Kasus Terorisme Dengan Melibatkan Masyarakat Melalui Pokmas Lipas
Dimas Mukthar;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10069947
Dinamika terkait permasalahan terorisme pada saat ini tidak hanya berkaitan dengan terjadinya aksi terorisme itu sendiri, tetapi juga menyangkut bagaimana bentuk penanganan terhadap pelaku tindak terorisme tersebut. Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembimbingan klien kasus terorisme berkaitan dengan stigma negatif yang melekat pada diri klien tersebut. Hal ini dapat membuat klien menjadi sulit beradaptasi secara sosial atau membuka jaringan kerja untuk memenuhi kebutuhannya sehingga berisiko terjadinya pengulangan tindak pidana atau residivis pada klien. Berkaitan dengan hal tersebut maka dibutuhkan upaya atau strategi yang dilakukan melalui pembimbingan dengan melibatkan masyarakat terhadap klien kasus terorisme sehingga diharapkan dengan adanya kolaborasi antara pembimbing kemasyarakatan dan masyarakat melalui POKMAS LIPAS dapat membantu proses reintegrasi sosial klien kasus terorisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskritif analisis dan mengacu pada hukum normatif dengan menganalisis undang-undang dan peraturan lainnya. Pengumpulan data penelitian ini dikumpulkan berdasarkan data studi kepustakaan sebagai literatur, hasil penelitian, serta peraturan perundang-undangan. Pembimbingan terhadap klien kasus terorisme oleh Pembimbing Kemasyarakatan dapat dilakukan melalui pembimbingan dengan pendekatan psikologi serta dengan menerapkan prinsip-prinsip pembimbingan. Pelaksanaan pembimbingan terhadap klien kasus terorisme dengan melibatkan masyarakat melalui POKMAS LIPAS dilakukan melalui tiga tahap dengan diawali tahap pra pembingan, kemudian tahap pelaksanaan, dan tahap pasca pembimbingan. Dalam hal pembimbingan terhadap klien kasus terorisme dengan melibatkan masyarakat melalui POKMAS LIPAS ditemukan hambatan-hambatan dalam proses pelaksaannya seperti kurangnya partisipasi klien kasus terorisme dalam mengikuti pembimbingan, jauhnya lokasi klien dengan bapas atau lokasi pembimbingan, masih adanya Stigma negatif masyarakat terhadap klien kasus terorisme, serta kurang aktifnya petugas balai pemasyarakatan dalam mencari jejaring atau mitra.
Pemenuhan Hak Anak Dalam Menunjang Pemasyarakatan Yang Mengedepankan Hak Asasi Manusia
Maskur Hidayat;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10115858
Child protection is an integral part of human rights. Every child has the right to live, develop, and be protected from all forms of discrimination, violence, and exploitation. Special protection is afforded to children involved in the justice system, including those engaged in legal violations, children who are victims of crimes, and children who serve as witnesses in legal proceedings. The research method employed is a normative juridical approach, and the research methodology used is a descriptive-analytical approach to elucidate the situation and information related to the fulfillment of children's rights within correctional institutions. Therefore, to fulfill children's rights in accordance with Law Number 35 of 2014 concerning child protection, correctional facilities must provide special treatment for children.
Peran Konseling Dalam Proses Pembinaan Kepribadian Anak Binaan
Akmal Nur Fauzy;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10144108
The Special Child Development Institute is not only a place for children who are serving criminal periods. However, children will be given coaching so that they can change into better humans and be useful for society in the future. The role of counseling in the Special Child Development Institute is very important and helps in providing personality development programs for children. Counseling will help with the problems your child faces and the needs he needs to change into a better human being. This research method uses content analysis of various journals or scientific papers related to problems in research. The purpose of this study is to find out the importance of the role of counseling in the process of coaching child prisoners. The punishment for a person who violates the law is the loss of independence. This is not easy to deal with, especially for children. The existence of counseling helps children to adapt to the new environment in prison and is able to provide encouragement to serve their criminal period. Counselors can be a bridge for children in expressing their problems by using a variety of good communication.
Residivisme dan Sistem Pemasyarakatan di Indonesia
Mochamad Afrizal Azka;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10116253
Residivisme menjadi salah satu permasalahan yang tak kunjung berhenti dihadapi pemasyarakatan di Indonesia. Segala upaya terbaik selalu diusahakan dan diberikan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memerangi residivis. Ada beberapa hal yang menjadi faktor faktor yang menyebabkan residivisme ini terjadi, seperti lingkungan masyarakat dan juga dampak dari Prisonisasi. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian hukum normatif, yang berfokus pada pemeriksaan dan analisis terhadap hukum sebagai norma, aturan, prinsip, serta doktrin atau teori hukum, guna menjawab permasalahan hukum yang sedang dikaji. Pendekatan penelitian yang diterapkan mencakup pendekatan perundang-undangan yang meliputi aturan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebab-penyebab individu melakukan kejahatan berulang tersebut meliputi bagaimana hasil yang diperoleh sangat sesuai dengan keinginan subjek, melakukan kejahatan tersebut dikarenakan niat dan tanggungan pekerjaan. Bebas dari Lapas para mantan narapidana masih mendapatkan stigma masyarakat yang menganggap mantan narapidana sebagai individu yang berbahaya jika kembali ke masyarakat, ketiga subjek memiliki motivasi ketika melakukan tindak kejahatannya. Motivasi tersebut berbeda-beda dari tiap subjek, Subjek melakukan tindak kejahatan repetitif dikarenakan subjek sudah ahli, ketagihan dan kebiasaan. Motivasi kejahatan repetitif tersebut dilakukan subjek karena adanya keinginan atau usaha untuk mencari uang dengan cepat dengan waktu yang singkat, hal ini yang disebut sebagai mentalitas instan.
Pembinaan Narapidana Gangguan Kejiwaan Pada Lapas Kelas II A Magelang
Zada Aryaguna;
Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10082639
The development of prisoners has become an obligation carried out in a correctional institution. All correctional inmates should receive this training while serving their sentence in prison. As stated in Law No.12/1995 concerning Correctional Institutions and Government Regulation no. 99 of 2012 concerning the Second Amendment to Government Regulation Number 32 of 1999 concerning Requirements and Procedures for Implementing the Rights of Correctional Inmates, however, it does not explain how to provide guidance for an Inmate who experiences mental disorders. Therefore, it is a big homework for correctional officers, especially prisons, in providing treatment, especially in terms of guidance for prisoners who experience mental disorders. This research aims to determine the treatment and guidance of prisoners who experience mental disorders. This research also reveals that there is no definite policy for ODGJ prisoners to get reduced sentences and early release with consideration of treatment. However, in the Class II A Magelang Penitentiary, full efforts have been made to treat prisoners who experience mental disorders by seeking routine treatment in collaboration with the local mental hospital for efforts to cure prisoners and this is proven by the existence of a prisoner who has recovered from mental disorders thanks to the presence of Efforts are being made by prisons involving mental hospitals so that the treatment and care given is appropriate.