Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMPENGARUHI PERILAKU POLITIK GENERASI MUDA DI INDONESIA: STUDI KASUS KAMPANYE PRABOWO-GIBRAN Ramadhan, Fathur Syahri; Erviantono, Tedi; Noak, Piers Andreas
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 7 No. 7 (2025): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v7i7.11516

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran media sosial dalam mempengaruhi perilaku politik generasi muda di Indonesia, dengan studi kasus kampanye Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten dan studi literatur, penelitian ini mengeksplorasi pola penggunaan media sosial, strategi kampanye digital, dampak terhadap perilaku politik, serta tantangan dan peluang yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah mentransformasi cara generasi muda mengakses dan berinteraksi dengan informasi politik, dengan 91% responden mengandalkan platform digital sebagai sumber utama informasi politik. Strategi kampanye digital Prabowo-Gibran mendemonstrasikan efektivitas penggunaan teknologi AI dan konten kreatif dalam menjangkau pemilih muda. Namun, tantangan seperti dezinformasi dan polarisasi memerlukan peningkatan literasi digital dan regulasi yang tepat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman tentang dinamika politik digital di Indonesia dan implikasinya bagi masa depan demokrasi.
Eksploitasi Tubuh Perempuan Dalam Ruang Media Sosial Tiktok (Studi Kasus: Akun Tiktok Good Ponsel) Cintami, Rizky Taqiyyah; Erviantono, Tedi; Noak, Piers Andreas
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.206

Abstract

This research aims to see how the exploitation of the body in the social media space is studied through the TikTok account of the Good Ponsel company and what causes the exploitation of the female body to occur. Good Ponsel's TikTok account is one example of how marketing can be done through social media by objectifying women. This is to see how women's body ownership and its relationship with the marketing process in social media. This research was conducted using qualitative research methods, content analysis, and interviews as data collection techniques. In addition, the author uses the theories of semiotics, objectification of the female body, and sensuality of the female body as theoretical foundations and concepts. The author finds that the exploitation of women's bodies in social media by looking at the TikTok Good Ponsel account is carried out by encouraging female talent to dress openly and move sensually. This condition can occur because of efforts to attach meaning to increase the popularity of Good Ponsel through the markers displayed in the content, coupled with the stigma attached to society regarding the position of women who are below men. Therefore, this practice is a strategy that is still not widely challenged due to patriarchal power and the concept of ownership of women's bodies. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana bentuk eksploitasi tubuh dalam ruang media sosial yang dikaji melalui akun TikTok milik perusahaan Good Ponsel dan apa saja yang menyebabkan eksploitasi tubuh perempuan tersebut dapat terjadi. Akun TikTok Good Ponsel merupakan salah satu contoh dari bagaimana pemasaran dapat dilakukan melalui media sosial dengan mengobjektifikasi perempuan. Hal ini untuk melihat bagaimana kepemilikan tubuh perempuan dan keterkaitannya dengan proses pemasaran di media sosial. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif, analisis konten, dan wawancara sebagai teknik pengumpulan datanya. Selain itu, penulis menggunakan teori semiotika, objektifikasi tubuh perempuan, dan sensualitas tubuh perempuan sebagai landasan teori serta konsep. Penulis menemukan jika eksploitasi tubuh perempuan dalam media sosial dengan melihat akun TikTok Good Ponsel dilakukan dengan mendorong talent perempuan untuk berpakaian terbuka dan bergerak secara sensual. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya upaya pelekatan makna untuk meningkatkan popularitas Good Ponsel melalui penanda yang ditampilkan dalam konten, ditambah dengan stigma yang melekat di masyarakat terkait tentang kedudukan perempuan yang berada di bawah laki-laki. Oleh karena itu, praktik ini menjadi strategi yang masih belum ditentang secara luas karena kekuasaan patriarki dan konsep kepemilikan tubuh perempuan. Kata Kunci: Good Ponsel, TikTok, Eksploitasi Tubuh Perempuan, Semiotika, Patriarki
Politik Tubuh Perempuan Antara Kontrol Sosial dan Resistensi Swastini, Ni Luh Manik Esa; Erviantono, Tedi; Noak, Piers Andreas
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.247

Abstract

This article explores the politics of women's bodies within Indonesia's social, cultural, religious, and media contexts. Women's bodies are not merely biological entities but sites of power regulated by institutions such as the state, religion, tradition, and media. Using a literature review approach, this study reveals how women's bodies are subjected to moral and symbolic regulation, yet also serve as spaces of resistance and political expression. Women assert agency through social media, art, and reinterpretation of religious texts. The ecofeminist perspective further expands the analysis by linking the exploitation of women's bodies and nature under patriarchal capitalism. This article emphasizes the importance of recognizing women's bodies as active political subjects in the struggle for gender justice. Abstrak Artikel ini membahas politik tubuh perempuan dalam konteks sosial, budaya, agama, dan media di Indonesia. Tubuh perempuan tidak hanya dipahami sebagai entitas biologis, tetapi juga sebagai medan kekuasaan yang dikontrol oleh berbagai institusi seperti negara, agama, adat, dan media. Melalui pendekatan literature review, artikel ini mengungkap bagaimana tubuh perempuan menjadi objek regulasi moral dan simbolik, namun juga menjadi ruang resistensi dan ekspresi politik. Perempuan menunjukkan agensi melalui media sosial, seni, dan reinterpretasi teks keagamaan. Pendekatan ekofeminisme turut memperluas pemahaman dengan mengaitkan eksploitasi tubuh perempuan dan alam dalam sistem kapitalisme patriarkal. Artikel ini menegaskan pentingnya melihat tubuh perempuan sebagai subjek politik yang aktif dalam perjuangan menuju keadilan gender. Kata Kunci: politik tubuh, perempuan, kontrol sosial, resistensi, media, ekofeminisme
Dominasi Purusa dan Kedudukan Perempuan Hindu Bali: Fenomena ‘Ngrembug’ pada Tradisi Bali I.G.A Mirah Laksmi Utari; Tedi Erviantono; Piers Andreas Noak
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 2 No. 3 (2025): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v2i3.4005

Abstract

Semenjak bangsa Indonesia masih menganut sistem kerajaan, perempuan telah menjadi subordinat dalam kehidupan bermasyarakat dan masih berlaku hingga saat ini. Bali merupakan salah satu pulau yang menganut sistem patrilineal dengan menitikberatkan kegiatan sosial pada perempuan. Sehingga perempuan Bali dapat dijuluki sebagai “Triple Border” karena khususnya perempuan Hindu Bali melakukan pekerjaan ganda. Mereka dituntut untuk menjadi istri yang patuh, mampu membantu keuangan keluarga, dan menjaga hubungan baik dengan nyame braye. Namun, suara perempuan Bali jarang terdengar. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah mengenai bagaimana kedudukan perempuan saat pelaksanaan Ngrembug dalam keluarga dan apakah perempuan diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada mahasiswa dan masyarakat umum, guna memperoleh gambaran mendalam terkait partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ‘Ngrembug’ dalam masyarakat Hindu Bali masih sangat didominasi oleh laki-laki (Purusa), sementara perempuan secara sadar memilih untuk tidak terlibat atau tidak diberi ruang untuk berpartisipasi aktif. Ketimpangan ini mencerminkan masih kuatnya struktur patriarki dalam komunitas adat Bali dan perlunya perubahan sosial untuk mencapai kesetaraan gender.
Strategi Komunikasi Pemerintah Bali dalam Mengatasi Penyebaran Hoaks dan Hate Speech Della, Meilia Maria; Erviantono, Tedi; Nazrina, Zuryani
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 2 No. 3 (2025): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v2i3.4123

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali dalam menangkal penyebaran hoaks dan ujaran kebencian (hate speech) melalui pendekatan berbasis nilai lokal. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi literatur yang mengkaji berbagai dokumen kebijakan, literatur akademik, serta praktik komunikasi publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Strategi komunikasi yang diidentifikasi dalam kajian ini mencakup edukasi literasi digital berbasis komunitas, optimalisasi penggunaan media sosial resmi pemerintah, pendekatan hukum melalui sinergi dengan aparat penegak hukum, serta kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, media lokal, dan organisasi masyarakat sipil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi publik di Bali sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah dalam mengontekstualisasikan pesan sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal seperti Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan ajaran Dharma. Pelibatan tokoh adat sebagai komunikator sosial turut memperkuat kredibilitas pesan dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Narasi yang dibangun bukan sekadar bersifat informatif, melainkan juga persuasif dan edukatif, dengan menekankan pentingnya etika berkomunikasi dan tanggung jawab sosial dalam ruang digital. Selain itu, upaya membangun narasi kolektif berbasis spiritualitas Hindu Bali mampu memperkuat rasa kebersamaan dan memperkokoh ketahanan sosial masyarakat. Kesimpulan dari studi ini menegaskan bahwa strategi komunikasi pemerintah yang bersifat inklusif, kolaboratif, dan berbasis kearifan lokal merupakan elemen krusial dalam membangun ketahanan informasi serta menjaga harmoni sosial di tengah arus informasi digital yang tidak terkendali.
Praktik Komodifikasi Tubuh Perempuan Sebagai Konten Pemasaran dalam Ruang Media Sosial Tiktok Ni Made Putri , Lestari; Erviantono, Tedi; Noak, Piers Andreas
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 2 No. 4 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v2i4.4402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana tubuh perempuan digunakan sebagai komoditas dalam praktik pemasaran di media sosial TikTok. Dalam konteks ini, perempuan diposisikan sebagai objek visual yang dimanfaatkan untuk menarik perhatian publik melalui strategi pemasaran yang menonjolkan sensualitas dan estetika tubuh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh dari berbagai literatur relevan, termasuk hasil penelitian sebelumnya, dokumen, dan berita daring yang berkaitan dengan topik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh perempuan di TikTok sering kali dikonstruksi sebagai alat pemasaran visual yang dieksploitasi demi kepentingan kapitalis. Algoritma TikTok yang berorientasi pada visual turut memperkuat penggunaan tubuh perempuan sebagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan dan nilai ekonomi suatu konten. Praktik ini memperlihatkan adanya politisasi tubuh dan relasi kuasa yang timpang, di mana perempuan menjadi objek subordinasi dalam sistem kapitalisme digital yang dikendalikan oleh norma patriarki. Selain berdampak pada representasi perempuan yang sempit, komodifikasi ini juga meningkatkan risiko pelecehan berbasis gender di ruang daring. Penelitian ini menegaskan perlunya kesadaran kritis terhadap bagaimana tubuh perempuan digunakan dan dimaknai dalam ruang digital sebagai komoditas, serta pentingnya regulasi etis dalam konten pemasaran berbasis media sosial.
Analisis Politik Hukum dan Relasi Antar Aktor Dalam Perumusan Kebijakan Adat Pararem di Kabupaten Tabanan Sattvika, Ayu; Pramana, Gede; Erviantono, Tedi
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 2 No. 4 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v2i4.4644

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana peran dan kepentingan suatu aktor dalam memengaruhi kebijakan lokal, yang dalam penelitian ini peneliti mengacu pada konsep kebijakan "pararem", dalam wilayah adat yang terdapat pada beberapa desa di Kabupaten Tabanan. Di Tabanan, Pararem sering digunakan untuk menangani berbagai masalah penting seperti pengaturan tata ruang adat, pelarangan aktivitas tertentu, atau pengelolaan sumber daya. Pendekatan yang diterapkan dalam studi ini adalah pendekatan deskriptif dengan sifat kualitatif, serta jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui tinjauan literatur. Penyusunan Pararem di Kabupaten Tabanan lebih dari sekadar kegiatan adat biasa; ini juga merupakan arena persaingan politik yang rumit. Pararem sebagai bentuk hukum adat tidak hanya muncul dari musyawarah masyarakat, tetapi juga melalui hubungan kekuasaan, simbol, dan kepentingan yang saling terlibat. Dalam perspektif teori politik Actor-Network Theory (ANT) yang diperkenalkan oleh Bruno Latour dan Michel Callon, penyusunan Pararem dapat dipahami sebagai produk dari interaksi antara berbagai aktor. Melalui pandangan teori ini, Pararem bukanlah entitas yang muncul dari tradisi yang murni. Ia merupakan hasil dari negosiasi, terjemahan, dan mobilisasi aktor dalam konteks sosial-politik setempat.
Interaksionisme Simbolik Aparatus Dan Pekerja Seks Di Bali Ayu S Joni, I Dewa; Dewi Pascarani, Ni Nyoman; Erviantono, Tedi
Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik (JISoP) Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jisop.v1i2.4807

Abstract

This article explores a form of symbolic interaction between the formal security apparatus of the State and sex workers in Bali. The study uses qualitative research methods with data collection methods for interviews and observations. Through this type of research traced the efforts of sex workers to communicate in order to negotiate their interests with the power represented by the local government security apparatus (apparatus). Sanders' (2001) and O'Neill's (2001) study shows sex workers are resistant to control. But in this capacity, sex workers have a communication style to negotiate activities with local state officials. Theory used symbolic interactionism from Blumer. In the field data obtained there are two types of meaning in symbolic interactions. Sex worker as a party spreading disease and violation of morality. Even this is used as building the meaning of the moral image of regional leaders. In this symbolic interaction meaning, sex workers with bureaucratic state apparatus are very dependent on social structures in society which depend on social status, involvement in sex trade organizations, and laws or policies related to the regulation of CSWs. Bali as a world tourism destination prioritizes the basic value of the development of cultural tourism and has never once declared it as sex tourism. It's just ironic that Bali is often used as a transit point for the existence of the trafficking industry before they depart overseas. Bali is used as the main transit of commercial sex workers in the women's trafficking network. Although in the interactionism the symbolic meaning of the repression of the state apparatus is still considered to manifest a patriarchal value system that provides more legal sanctions to service providers in this case sex workers, especially women, than their users, namely men.
THE APPLICATION OF DAVID EASTON SYSTEM THEORY IN THE POLICY-MAKING PROCESS OF USING FOREIGN WORKERS IN INDONESIA Alianti, Trisma Yepa; Erawan , I Ketut Putra; Erviantono, Tedi
Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora Vol. 2 No. 6 (2024): Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora
Publisher : Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/kultura.v2i6.1526

Abstract

The policy on the use of foreign workers is an important concern in the context of economic and social development of a country like Indonesia. In this case, David Easton's System Theory provides a relevant foundation to analyze the related policy-making process. This article discusses the application of systems theory in the context of foreign labor policies in Indonesia. First, the article identifies inputs in the policy process, such as global pressures, labor needs, and political considerations. Then, through a conversion process, the government processes these inputs into concrete policies, including regulations regarding the acceptance and use of foreign workers. The output of this process is policy implementation, which is reflected in official decisions and practical steps taken by the government. In addition, this article also highlights the feedback mechanism that leads to policy evaluation and adjustment to accommodate changing external and internal conditions. By analyzing this process through the lens of David Easton's Systems Theory, this article provides a more in-depth understanding of the dynamics of foreign labor policymaking in Indonesia and its relevance in the context of the current global political and economic system.
PEMBUNGKAMAN KEBEBASAN BERPENDAPAT AKTIVIS PERUBAHAN IKLIM PADA PENYELENGGARAAN KTT G20 DI BALI Noak, Piers Andreas; Erviantono, Tedi; Pratiwi , Ni Putu Wahyu
Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora Vol. 2 No. 9 (2024): Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora
Publisher : Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara hukum yang demokratis, Indonesia juga merupakan sebuah negara yang berdaulat dikarenakan adanya pengakuan bahwa rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pada suatu sistem pemerintahan negara, yang dimana rakyat ikut mengambil andil dalam sistem pemerintahan suatu negara yang dalam hal ini adalah negara Indonesia. Dalam kebebasan berpendapat yang dinilai sangat penting karena empat hal yang menjadi sorotan yaitu ; pertama kebebasan berekspresi, kedua untuk pencairan kebenaran dan kemajuan pengetahuan, dan ketiga kebebasan berekspresi. Kebebasan berpendapat saat ini di negara Indonesia tidaklah menurut undang-undang yang sudah tertulis dan patut harus dipertanyakan dengan mengingat banyak sekali persoalan-persoalan yang dimana negara Indonesia dapat dikatakan menolak argument dan kritik dari masyarakat dengan salah satunya akhir tahun lalu terjadi pembungkaman kebebasan berpendapat khususnya di Bali. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan proses penelitian menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia terhadap kebebasan berpendapat. Dari hasil penelitian disimpulkan bentuk pembungkaman dari pemerintah yang diterima para aktivis perubahan iklim pada perhelatan KTT G20 adalah sweeping, terror dan intimidasi di beberapa daerah dan Bentuk perlawanan dari para aktivis perubahan iklim terhadap pembungkaman yang diterima adalah melakukan kordinasi dengan berbagai LBH baik nasional maupun internasional untuk penangan litigasi dan melakukan propaganda terhadap pembungkaman demokrasi yang terjadi.
Co-Authors Adiyasa, I Ketut Indra Ahmad Rifki Nurfebriansyah Alianti, Trisma Yepa Amanda Kania Prabanari Amy Nathalia Rebecca Anak Agung Ayu Primayuni Natalia, Anak Agung Ayu Primayuni Andreas, Ronald Andrew Vandenberg Ardila, Nelta Ariani, Ni Komang Aris Joko Susilo, Aris Joko Arsari, Ni Putu Diah Aulia Ghassani Zahra Ayu S Joni, I Dewa Ayuningsih, Ni Made Bandiyah Bandiyah Bandiyah M.A S.Fil Bandiyah S.Fil.,MA, Bandiyah Cahyaningrat, A.A Made Bintang Cintami, Rizky Taqiyyah Della, Meilia Maria Denica Sharon Siahaan Dewi, Intan Sri Dharmawan Haryo Dewanto, Dharmawan Haryo Dhedhu, Kristianus Marten Dimas Aprianto Dwi Ratih Saraswati, Dwi Ratih Efatha Filomeno Borromeu Duarte Efatha Filomeno Borromeu Duarte, Efatha Filomeno Borromeu Eka Wahyu Krisna Dewi Erawan , I Ketut Putra Euginia Febryan, Denise Felix Felix Fieda, Oxana Putri Fridayanti, Ni Luh Putu Intan Dewi Gautama, I Nyoman Sugiartha Gede Angga Wardana, Gede Angga Gede Indra Pramana Ginting, Alung Brema Guntari, Ni Wayan Henny I Dewa Ayu S Joni I Gede Abicatra Rezadana, I Gede Abicatra I Gede Indra Pramana I Gede Made Pastika Semara Putra I Gede Ngurah Aris Prasetya, I Gede Ngurah Aris I Ketut Putra Erawan I Ketut Putra Erawan I Ketut Winaya I Made Adi Artana I Putu Dharmanu Yudartha I Putu Dharmanu Yudharta, I Putu Dharmanu I Putu Wahyu Mantrawan, I Putu Wahyu I.G.A Mirah Laksmi Utari Ida Ayu Nyoman Subarwati Ifa Ristanty, Ni Luh Komang Indah Ambar Sari, Indah Ambar Jayanthi Mertha, Anak Agung Sagung Mirah Jayanthi Mertha, Anak Agung Sagung Mirah Mahaswari Juliarta, I Gede Wisnu Kadek Dwita Apriani Kadek Wiwin Dwi Wismayanti Karimica, Yovela Poppy Olethea Unwana Hubby Manurung, Patra Maria Yovani Putu Arista, Maria Yovani Muhamad, Adinda Friska Amalia Muhammad Ali Azhar Muhammad Ali Azhar Narayana, Putu Nandito Nazrina Zuryani Nazrina Zuryani Nazrina, Zuryani Ni Luh Gede Ambarawati, Ni Luh Gede Ni Luh Putu Vina Austriani, Ni Luh Putu Vina Ni Made Putri , Lestari Ni Made Ras Amanda Ni Made Ras Amanda Gelgel Ni Nyoman Dewi Pascarani Ni Putu Chyntia Sandrina Devi, Ni Putu Chyntia Sandrina Ni Putu Evilia Octaviani, Ni Putu Evilia Ni Putu Nilam Anneliani Putri Ni Wayan Radita Novi Puspitasari Ni Wayan Supriliyani Ning, Raqhuel Dominique Novi, Ni Wayan Radita Novitayanti, Anak Agung Dwi Nyoman Ayu Sukma Pramestisari Pande Made Elinda Suryani, Pande Made Pebriani, Ni Kadek Dwi Piers Andreas Noak Pramana, Gede Pramiswari, Anak Agung Ayu Intan Pratiwi , Ni Putu Wahyu Puspitasari, Ni Wayan Radita Novi Putri, I Gusti Ayu Isiana Putrika, Dwitty Ayuning Putu Eka Purnamaningsih Putu Nindya Pradnya Dewi, Putu Nindya Pradnya Putu Tya Aryantini Rachmadia, Tiara Raenaldy Yoga Pratama, Raenaldy Yoga Raenaldy, Aldy Ramadhan, Fathur Syahri Rhayi Permata Juang, Rhayi Permata Richard Togaranta Ginting, Richard Sahala, Priyanto Renaldo Saputri, Putu Anggita Sattvika, Ayu Secelia A.P.Simanjuntak Silitonga, Natasha Abeline Sudharani, Made Gita Sugesti, Ratri Amalia Sukaja, Dodok Samdana Surbakti, Samuel Maranatha R. Surya Mahadewa, I Gusti Ngurah Agung Suryawan, I Wayan Agus Swastini, Ni Luh Manik Esa Tamara, Kadek Tania Ulla, Fitri Nurhidayatul Vandenberg, Andrew Widawan, I Kadek Krisna Wina wigraheni wigraheni, Wina wigraheni Wulandari, Intan Zikri Ahmad Azzam