Claim Missing Document
Check
Articles

Pengalaman Komunikasi Dewasa Muda dengan Keluarga Broken Home dalam Menjalin Hubungan Romantis Bunga Nieta Putri Vidanska; Hadi Suprapto Arifin; Puji Prihandini
Jurnal Politikom Indonesiana Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Politikom Indonesiana
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/jpi.v4i2.3237

Abstract

Broken home menjadi momok menakutkan tersendiri bagi seorang anak yang menjadi korban. Mungkin bagi para orangtua yang mengalaminya, hal itu kurang lebih sama saja seperti putus cinta. Namun bagi anak-anak yang pada saat itu belum mengerti dan masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lengkap dari kedua orangtuanya, maka hal tersebut dapat mendatangkan trauma tersendiri bagi mereka, terutama dalam caranya memandang kehidupan dan cinta. Hubungan romantis (romantic relationship) bertujuan untuk mengenal lawan jenis secara mendalam dan beradaptasi satu sama lain. Jika hubungannya berhasil, maka hubungan tersebut juga berperan sebagai bentuk melatih diri sendiri untuk mempersiapkan diri ke jenjang selanjutnya, yaitu pernikahan. Kelancaran hubungan romantis akan didukung dengan adanya komunikasi. Penelitian ini akn mengkji mengeni bgaimn pengalama komunikasi bgi dewasaa muda dalam menjalin hubungan romantis penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitin menunjukkan . Tiga hambatan yang paling umum dirasakan oleh dewasa muda broken home, berdasarkan penjabaran dari hasil penelitian pada sub bab sebelumnya adalah: 1.) Trauma; 2.) Rasa Malu; 3.) Penolakan dari Calon Pasangan. Secara keseluruhan ada dua harapan yang umumnya dimiliki  para informan sebagai individu dewasa muda broken home, yaitu: 1.) Menikah saat sudah siap, dan; 2.) Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Kedua harapan tersebut, merupakan harapan yang dimiliki oleh semua informan berdasarkan wawancara mendalam dari penelitian ini.Kata Kunci: Broken Home, Hubungan, Romantis, Komunikasi
Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan Penularan Covid-19 Bagi Siswa Sekolah Dasar Taty Hernawaty; Arlette Puspa Pertiwi; Wiwi Mardiyah; Hadi Suprapto Arifin
PaKMas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/pakmas.v2i2.1269

Abstract

During the Covid-19 pandemic, the government set various policies to prevent transmission. The use of masks, practicing a clean and healthy lifestyle, and limiting distance and even Large-Scale Social Restrictions are the efforts that have been set. However, many violations are still being committed, including school children who have had face-to-face meetings (PTM) at school. Disobedience to implementing health protocols can be caused by a lack of knowledge. This health education activity is about preventing the spread of Covid-19. Activities are carried out offline when students do PTM at Bojong 01 Elementary School, Majalaya District, Bandung Regency, totaling 44 students. The results of this activity showed that there was an increase in students' knowledge about preventing the transmission of Covid-19 by 5.45% from previous knowledge so that it became 88.18%. Good knowledge about preventing the transmission of Covid-19 can be a strengthening basis for the formation of a healthy lifestyle. In conclusion, students' knowledge about preventing the transmission of Covid-19 increased after being given health education. Suggestions, the next study is an effort to increase students' positive attitudes so that they can form good behavior in preventing the transmission of Covid-19.
Pengalaman Komunikasi Penyandang Kanker Serviks dalam Pencarian Informasi Pengobatan di Jawa Barat Purwanti Hadisiwi; Hadi Suprapto Arifin
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.014 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i1.15388

Abstract

Banyak penyandang kanker serviks yang terdiagnosis awal sudah berada pada stadium lanjut. Hal ini diantaranya disebabkan oleh perbedaan aksesnya terhadap informasi kesehatan serta tingkat pemahaman yang berbeda terhadap informasi yang diterimanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman komunikasi penyandang kanker serviks di Jawa Barat, pola pencarian informasi kesehatan dan jenis informasi kesehatan yang diperlukan penyandang kanker serviks. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Melalui wawancara mendalam terhadap delapan penyandang kanker serviks yang berasal dari Bandung, Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon dan Pangandaran diperoleh pemahaman bahwa, penyandang kanker serviks yang berasal dari strata sosial ekonomi rendah cenderung merasa terstigma sehingga menghambat aksesnya terhadap informasi dan berimplikasi pada kondisi stadium kanker serviks yang tinggi; mereka yang berasal dari strata sosial ekonomi rendah mendapatkan informasi kesehatan dari teman/kerabat dan dokter, sedangkan yang berasal dari strata yang lebih tinggi selain mendapatkan informasi kesehatan dari dokter, mereka juga mendapatkan informasi dari teman/komunitas dan media massa; mereka memerlukan informasi tentang penyakitnya, pengobatan dan jenis tindakan yang harus dijalani, nutrisi serta gaya hidup yang dapat memperpanjang harapan hidupnya. Diperlukan informasi tentang kanker serviks yang mudah diakses dan mudah dipahami disertai dengan pemberdayaan kader kesehatan yang dapat memberikan pendampingan kepada perempuan yang memiliki gejala awal kanker serviks.
SOSIALISASI SANITASI DIRI DAN LINGKUNGAN DI PESANTREN SALAFI MELALUI POS KESEHATAN PESANTREN (POSKESTREN) DALAM MEMBENTUK SIKAP SANTRI TERHADAP SANITASI Uud Wahyudin; Hadi Suprapto Arifin
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.58 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v3i2.7405

Abstract

Berbagai perilaku hidup yang tidak bersih dan tidak sehat masih dapat dijumpai di pesantren-pesantren salafi/ tradisional di perdesaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa budaya hidup sehat di pondok pesantren salafi tidak memenuhi pola hidup sehat. Hal ini dapat dilihat pada indikasi kesehatan yaitu santri dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar kurang sehat karena masih banyak kekurangan seperti terlalu banyak jumlah santri yang menyebabkan kumuh dan berdesakan dan masih kurangnya ventilasi dalam kamar yang menyebabkan lembab. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sosialisasi sanitasi diri dan lingkungan melalui poskestren berkaitan dengan inovasi, waktu, saluran, dan sistem sosial memberikan pengetahuan dan mengubah perilaku santri untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sekitar, membuat ventilasi yang cukup dalam kamar atau tempat tinggal, membudayakan pola perilaku hidup sehat dengan ditambah olahraga senam, jogging dan lainnya, mengkonsumsi air yang matang, istirahat dengan cukup dan gunakan alas tidur dengan kasur atau karpet. Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) di pesantren salafi di perdesaan yang dilakukan secara terus menerus dengan cara mendekatkan akses pelayanan kesehatan berhubungan dengan upaya memberdayakan santri dalam bidang kesehatan diri dan lingkungannya. Kesimpulan penelitian bahwa poskestren di pesantren salafi yang terletak di kecamatan Jampang Tengah Kabupaten Sukabumi merupakan langkah pendekatan edukatif untuk mendampingi (memfasilitasi) santri di pesantren untuk menjalani proses pembelajaran yang berupa proses perubahan sikap positif dalam pemecahan masalah-masalah kesehatan (sanitasi diri dan lingkungan) yang dihadapinya.
Makna Simbol “ZERO” Sebagai Pesan Non Verbal Yayasan Matahati Dalam Mencegah Penyebaran HIV Aids Di Kawasan Pangandaran Ditha Prasanti; Hadi Suprapto Arifin; Ikhsan Fuady
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i1.4281

Abstract

This article is the result of a study of health communication studies on HIV AIDS prevention and prevention by the Matahati Foundation in Pangandaran district. Like the iceberg phenomenon, the number of HIV AIDS in Pangandaran district is increasing, so that it attracts the attention of various parties, one of which is the Matahati Foundation. In this article, the method which used is qualitaitv method, in line with the aim of research that is describes the existence of a symbol used by the Matahati Foundation, namely the symbol "ZERO". If examined in communication studies, this ZERO symbol has a certain meaning in relation to the vision and mission of the Matahati Foundation itself. This was later revealed by the author in the discussion section of this article. The results showed that the symbol "ZERO" for the Matahati Foundation had several meanings, including: as a non-verbal message containing the meaning of the hopes of the Matahati Foundation in reducing the prevalence of HIV AIDS rates in Pangandaran district; the meaning of motivation for people with HIV AIDS to try to arrive at "ZERO" HIV AIDS, which means recovery; and the meaning of persuasion for the community to be together in order to achieve "ZERO" HIV AIDS in Pangandaran district. Artikel ini merupakan hasil penelitian kajian komunikasi kesehatan tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS yang dilakukan Yayasan Matahati di kabupaten Pangandaran. Layaknya fenomena gunung es, angka HIV AIDS di kabupaten Pangandaran semakin meningkat, sehingga menarik perhatian berbagai pihak, salah satunya adalah Yayasan Matahati. Dalam artikel ini, metode penelitian yang relevan digunakan adalah metode kualitatif, sebagaimana tujuan dari penelitian ini yaitu menggambarkan tentang adanya sebuah simbol yang digunakan oleh Yayasan Matahati, yaitu simbol “ZERO”. Jika diteliti dalam kajian komunikasi, simbol ZERO ini memiliki makna tertentu kaitannya dengan visi misi dari Yayasan Matahati sendiri. Hal tersebut yang kemudian diungkapkan penulis dalam bagian pembahasan artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol “ZERO” bagi Yayasan Matahati tersebut memiliki beberapa makna, di antaranya: sebagai pesan non verbal yang berisi makna harapan Yayasan Matahati dalam menurunkan prevalensi angka HIV AIDS di kabupaten Pangandaran; makna motivasi bagi para penyandang HIV AIDS agar berupaya untuk sampai pada “ZERO” HIV AIDS, yang berarti sembuh; dan makna persuasi bagi masyarakat untuk bersama-sama dalam rangka mencapai “ZERO” HIV AIDS di kabupaten Pangandaran.
The Knowledge related to Mental Health of the People around the Coastal Areas Taty Hernawaty; Hadi Suprapto Arifin; Efri Widianti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 23 No 3 (2020): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v23i3.1234

Abstract

Mental health is one of Indonesia’s public health development goals. The Pangandaran District Administration of West Java is an expanded district that actively carries out various development programs, including mental health programs. This study aimed to identify public knowledge about mental health in Pangandaran District using quantitative descriptive method. The research population comprised residents of the Pangandaran District, and a sample was collected via cluster multistage sampling technique. The sample was gradually determined in the order of subdistricts, villages, subvillages, community units, and neighborhood units. The total sample was composed of 113 respondents. The questionnaire was developed based on theories and concepts on public mental health and distributed to participants after validity and reliability tests were conducted. The construct validity test result was between 0.303 and 0.764, which meant that all items were valid. The Kuder-Richardson 20 formula was used to test reliability, and the reliability coefficient was 0.887. Mathematical calculations were used for data analysis; data are presented as frequency distributions. In this study, 61.10% of the respondents had “less” knowledge, 33.59% had “good” knowledge, and the remaining 5.30% had “enough” knowledge of mental health. The results suggest that the local government should provide mental health education for the residents. For educational institutions, mental health programs should be a fundamental offering in Indonesian society. Abstrak Pengetahuan tentang Kesehatan Mental Warga di Sekitar Wilayah Pesisir. Sehat secara mental merupakan bagian dari tujuan pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pangandaran merupakan kabupaten pemekaran yang sedang menggalakkan berbagai program pembangunan termasuk program kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengetahuan masyarakat Kabupaten Pangandaran mengenai kesehatan jiwa. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat Kabupaten Pangandaran dan sampel diambil menggunakan tehnik cluster multistage sampling. Tahapan penetapan sampel dilakukan bertahap mulai dari kecamatan, desa, dusun, rukun warga, sampai rukun tetangga dan didapat sebanyak 113 orang. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner dan dibagikan pada seluruh responden. Kuisioner dikembangkan dari teori dan konsep kesehatan jiwa masyarakat dan sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas konstrak didapatkan hasil berkisar antara 0,303 sampai 0,764 sehingga semua item dinyatakan valid. Uji reliabilitas menggunakan uji Kuder Richardson 20 dan diperoleh koefisien reliabilitas KR-20 sebesar 0,887. Analisa data menggunakan perhitungan matematis dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,10% responden kurang memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa, 33,59% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang baik, dan sisanya 5,30% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang cukup. Saran, bagi pemerintah setempat agar memberikan pendidikan kesehatan jiwa bagi masyarakat. Bagi instansi pendidikan, diharapkan menjadi data dasar dalam membuat program kesehatan jiwa di masyarakat. Kata Kunci: Jawa Barat, kesehatan masyarakat, program kesehatan jiwa, wilayah pesisir
PELATIHAN KOMUNIKASI EFEKTIF UNTUK PENGENALAN OBJEK WISATA CILETUH-PALABUHANRATU UNESCO GLOBAL GEOPARK (UGGp) Hadi Suprapto Arifin; Weny Widyowati; Ari Agung Prastowo; Meria Octavianti
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 12, No 2 (2023): Juni, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i2.39127

Abstract

Rangkaian kegiatan Pengabdian pada Masyarakat atau PPM adalah media yang memberikan kesempatan pada para dosen dan juga mahasiswa untuk dapat turut serta belajar dari masyarakat dan mengembangkan pemikiran dalam membantu mencari solusi dari masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat setempat. Melalui analisis situasi kondisi ditemukan kurangnya pemahaman masyarakat tentang geopark dan kurangnya pemahaman komunikasi efektif dari para pelaku wisata terutama dalam memperkenalkan kekayaan geopark pada para wisatawan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi masyarakat di kawasan wisata Geopark Ciletuh, namun juga menimbang kondisi pandemi Covid-19, pada periode ini Tim Pelaksana PPM Universitas Padjadjaran menyelenggarakan kegiatan pelatihan komunikasi yang dilakukan secara daring, dengan mengangkat tema “Pelatihan Komunikasi Efektif untuk Pengenalan Objek Wisata Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark”. Pelatihan daring ini menyasar para pemandu wisata, pelaku wisata, dan siswa sekolah di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UGGp dengan tujuan mengedukasi agar para peserta pelatihan dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam konteks komunikasi pariwisata, terutama dalam upaya memperkenalkan objek wisata di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UGGp.  
TikTok’s utilization as the Pangandaran tourism promotion media during COVID-19 pandemic Widyaswara, Safira; Arifin, Hadi Suprapto; Prasanti, Ditha
Manajemen Komunikasi Vol 8, No 1 (2023): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v8i1.42458

Abstract

This article aims to find out the use of TikTok social media as a promotional medium for Pangandaran Tourism during the COVID-19 pandemic, carried out by the @kelilingpangandaran account. This study uses a qualitative method. Data was collected by in-depth interviews with eight informants and observations of the social media accounts for two months. The results and discussion in the study were relevant to Berger and Luckman’s theory of social construction. This research found a social construction process carried out by the @kelilingpangandaran account. This process uses TikTok social media through audio-visual content packaged creatively and trends to attract more attention. In addition, the TikTok feature is used to facilitate the spread of promotions. The use of Tiktok social media as a promotional medium for Pangandaran Tourism was carried out because it saw the advantages and opportunities that Tiktok social media could utilize to increase promotion. During the tourism promotion activities carried out during the COVID-19 pandemic, of course, experienced various obstacles, but the @kelilingpangandaran account has a strategy to continue maintaining Pangandaran Tourism’s existence. It is even used as a good opportunity to get wider engagement. These processes are included in the construction, which was built to influence the audience to be interested in visiting tourism in Pangandaran during the COVID-19 pandemic.
Distribusi Data dan Informasi JKN-KIS PBI di Desa Cintaratu Kabupaten Pangandaran Masrina, Dwi; Arifin, Hadi Suprapto; Fuady, Ikhsan
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol 2 No 2 (2021): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v2i2.801

Abstract

Community service activities in Cintaratu Pangandaran Village were carried out as an initial program to find out and map the things needed by people of Cintaratu Village in terms of health information, especially information about JKN-KIS PBI (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat-Penerima Bantuan Iuran). Researchers want to see how information related to JKN-KIS PBI is obtained and understood by the people. This activity was carried out for about four weeks using three different methods, namely the survey method, focus group discussion (FGD), and observation. The results of this community service showed that the distribution of information and data in Cintaratu Village regarding JKN-KIS PBI is generally less transparent. The population data used by the central government as the basis for determining aid has been out of date so that aid has not been well-targeted. The people of Cintaratu Village got health information about JKN-KIS PBI by relying on opinion leaders, namely village officers, midwives, and health cadres. Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cintaratu Pangandaran dilakukan sebagai program awal untuk mengetahui dan memetakan hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat desa khususnya informasi seputar JKN-KIS PBI (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat-Penerima Bantuan Iuran). Peneliti ingin melihat bagaimana informasi-informasi terkait JKN-KIS PBI didapat dan dipahami oleh masyarakat Desa Cintaratu. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat pekan menggunakan tiga metode yang berbeda yaitu metode survei, focus group discussion (FGD) dan observasi. Hasil dari pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa distribusi informasi di Desa Cintaratu seputar JKN-KIS PBI secara umum kurang transparan. Data penduduk yang digunakan pemerintah pusat sebagai dasar penetapan bantuan telah kedaluwarsa sehingga bantuan menjadi tidak tepat sasaran. Masyarakat Desa Cintaratu mendapatkan informasi kesehatan seputar JKN-KIS PBI mengandalkan opinion leader yaitu aparat desa/dusun/RW/RT, bidan dan kader kesehatan.
Message strategy in short film production competition for strengthening film ecosystem Arindi, Citra; Abdullah, Aceng; Arifin, Hadi Suprapto
ProTVF Vol 7, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v7i2.48308

Abstract

Background: Film festivals in Indonesia are mostly used by filmmakers as a premiere space and showcase their work. The pandemic delayed the festival, which was not even held then, while film production was delayed. The Film, Music, and Media Directorate organize a Short Film Production Competition to strengthen the film ecosystem. A communication strategy must convey information to match the community’s expectations and the program’s objectives. Purpose: Therefore, this study aims to analyze the competition’s message orientation and message style. Methods: This research uses qualitative methodology with a case study approach based on Kotler’s marketing management and Joep Cornelissen’s message strategy model. Researchers obtained preliminary data from publication content with the highest number of ‘Likes’ on Instagram @pusbangfilm, then classified based on the series of activities of this competition to get an overview of the message strategy. Results: This research shows results that Hashtags, Colors, Fonts, and other visual elements emotionally attract attention the first time. Choosing words, language, and who conveys it becomes a stronger attraction. It is necessary to bring added value from the program, for example, with Behind the Scene content. Positive testimonials from various parties are also important messages conveyed. The general description of the program and the purpose of the program influenced the determination of the message theme so that it adjusted message orientation and in what style conveyed the message to stakeholders. Implication: Competition or festival organizers design messages following the objectives to be achieved from organizing the festival or competition.