Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi krisis Forum Ekonomi Kreatif Kabupaten Bandung Barat menghadapi pandemi Covid-19 Venus, Antar; Octavianti, Meria; Karimah, Kismiyati El; Arifin, Hadi Suprapto
Manajemen Komunikasi Vol 5, No 1 (2020): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v5i1.29799

Abstract

Forum Ekonomi Kreatif (Fekraf) sebagai sebuah organisasi resmi yang dibentuk pemerintah Kabupaten Bandung Barat, memilliki peran yang sentral dalam menghadapi krisis yang dialami oleh hampir sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung Barat. Banyak pekerja di berbagai subsektor ekonomi kreatif terpaksa dirumahkan karena sudah tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dan banyak pelaku ekonomi kreatif yang akhirnya gulung tikar karena tidak bisa menjalankan roda perekonomiannya selama pandemic berlangsung. Penelitian ini berupaya untuk mencari tahu mengenai bagaimana komunikasi krisis yang dilakukan oleh Fekraf KBB dalam menghadapi pandemic Covid-19. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara, focus group discussion, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan komunikasi krisisnya, Fekraf KBB sudah menjalankan seluruh prinsip dan tahapan dari komunikasi krisis dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi yang relevan dengan kondisi krisis yang dihadapi. Crisis preparedness, initial respons, corrective & reaction, serta evaluation merupakan tahap komunikasi krisis yang dilakukan oleh Fekraf KBB. Media komunikasi yang digunakan dalam komunikasi krisis ini terbatas pada media online dan media sosial. Hampir seluruh prinsip komunikasi krisis diaplikasikan oleh Fekraf KBB dalam menghadapi pandemik Covid-19 ini, yaitu adanya tim komunikasi, melakukan kontak dengan media, mengumpulkan fakta-fakta, tidak menutup informasi, hati-hati dalam menyampaikan informasi, satu suara, dan menggunakan banyak saluruan komunikasi.
Pendidikan Kesehatan Jiwa Bagi Kader Kesehatan Di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya Taty Hernawaty; Hadi Suprapto Arifin; Imas Rafiyah
Faletehan Health Journal Vol 5 No 1 (2018): Faletehan Health Journal, Maret 2018
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v5i1.8

Abstract

Pada umumnya penderita gangguan jiwa tinggal bersama keluarga sehingga keberadaan kader di masyarakat sangat membantu pemerintah dalam menggerakkan masyarakat agar aktif dalam berbagai program kesehatan yang digalakkan pemerintah. Kader perlu memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa. Pendidikan kesehatan jiwa merupakan upaya langsung untuk meningkatkan pengetahuan kader. Kader di Kecamatan Cikatomas belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan jiwa secara khusus sehingga perlu diberikan pendidikan kesehatan jiwa agar pemahamannya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang pendidikan kesehatan jiwa di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental pre-post test. Populasinya adalah seluruh kader kesehatan yang berada di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya sebanyak 32 kader. Pemilihan sampel menggunakan sampling jenuh, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Lokasi penelitian di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan telah dilakukan uji validitas-reliabilitas. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader meningkat, sebelum diberi pendidikan kesehatan jiwa menunjukan rerata nilai sebesar 29,34 dan setelahnya menjadi 35,20 dengan selisih 5,86. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak Puskesmas agar mengembangkan materi dan metoda yang diberikan pada kader dalam rangka mengoptimalkan program kesehatan jiwa.
Persuasive Communication in Digital Philanthropy: Bridging the Zakat Intention-Behavior Gap on Instagram Agustin Santriana Wijayant; Asep Suryana; Hadi Suprapto Arifin
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i2.6877

Abstract

This research investigates how Islamic philanthropic institutions employ digital persuasive communication strategies on Instagram to bridge the critical intention-behavior gap following public trust deficits. By integrating persuasive message design with an extended Theory of Planned Behavior (TPB), this study examines the impact of institutional trust-building, visual social proof (social norms), and instructional clarity (perceived ease of transaction) in predicting digital zakat behavior. An explanatory quantitative survey was conducted among 385 active Instagram followers of Rumah Zakat Indonesia, with data analyzed using the PLS-SEM algorithm. The findings reveal that visual social proof, manifested as a digital bandwagon effect, is the most dominant persuasive predictor of the audience's zakat intention. Crucially, trust-building messages lack a significant direct effect on actual behavior, requiring the audience's intention as a full mediator. Furthermore, clear instructional communication regarding digital transaction functions as a 'moral nudge' that directly facilitates spontaneous giving. To optimize digital philanthropy, persuasive communication campaigns must move beyond generic transparency claims and prioritize influencer-driven social proof combined with frictionless digital call-to-actions.
Communication Barriers Faced by Ustaz Guides of KBIHU Al Waritsah with Indonesian Hajj Pilgrims Faisyal Muhammad Syahri Alwi; Diah Fatma Sjoraida; Hadi Suprapto Arifin
Jurnal Komunikasi Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v17i1.34310

Abstract

Effective communication between Hajj guides (ustaz pembimbing) and pilgrims is a key factor in ensuring the success of Hajj guidance services in Indonesia. In practice, however, communication barriers often disrupt interactions, reduce service effectiveness, and weaken interpersonal trust. This study aims to identify and analyze the communication barriers faced by the guides of Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al Waritsah, Group 16, Bandung City, during the 2024 Hajj season. The analysis draws on the perspective of interpersonal communication and the concept of communication barriers, considering affective, structural, relational, cultural, and perceptual/intrapersonal dimensions. The uniqueness of this case lies in three specific conditions shaping the communication dynamics: the absence of the KBIHU leader for the first time, the sudden onset of dementia symptoms in an elderly pilgrim that the KBIHU had never previously handled, and the presence of a pilgrim from the Persatuan Islam (Persis) organization within a KBIHU affiliated with Nahdlatul Ulama (NU). This study employed a qualitative case study approach, conducting in-depth interviews with three guides and eight pilgrims representing diverse ages and educational backgrounds. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The findings reveal five main categories of communication barriers: (1) affective barriers involving negative emotions and complaints, (2) structural-hierarchical barriers related to social status distance, (3) relational barriers stemming from unmet role expectations, (4) cultural and ideological barriers due to differences in religious affiliation, and (5) perceptual and intrapersonal barriers involving prejudice and internal conflict. These findings provide valuable insights for developing more empathetic, open, and adaptive communication strategies for Hajj guides, and offer practical recommendations for KBIHU and the Ministry of Religious Affairs in designing training programs, emergency response protocols, and inclusive guidance models that address the diverse backgrounds of pilgrims.