Claim Missing Document
Check
Articles

Distribusi Data dan Informasi JKN-KIS PBI di Desa Cintaratu Kabupaten Pangandaran: Data and Information Distribution of JKN-KIS PBI in Cintaratu Village, Pangandaran Regency Masrina, Dwi; Arifin, Hadi Suprapto; Fuady, Ikhsan
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 2 No. 2 (2021): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v2i2.801

Abstract

Community service activities in Cintaratu Pangandaran Village were carried out as an initial program to find out and map the things needed by people of Cintaratu Village in terms of health information, especially information about JKN-KIS PBI (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat-Penerima Bantuan Iuran). Researchers want to see how information related to JKN-KIS PBI is obtained and understood by the people. This activity was carried out for about four weeks using three different methods, namely the survey method, focus group discussion (FGD), and observation. The results of this community service showed that the distribution of information and data in Cintaratu Village regarding JKN-KIS PBI is generally less transparent. The population data used by the central government as the basis for determining aid has been out of date so that aid has not been well-targeted. The people of Cintaratu Village got health information about JKN-KIS PBI by relying on opinion leaders, namely village officers, midwives, and health cadres. Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cintaratu Pangandaran dilakukan sebagai program awal untuk mengetahui dan memetakan hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat desa khususnya informasi seputar JKN-KIS PBI (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat-Penerima Bantuan Iuran). Peneliti ingin melihat bagaimana informasi-informasi terkait JKN-KIS PBI didapat dan dipahami oleh masyarakat Desa Cintaratu. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat pekan menggunakan tiga metode yang berbeda yaitu metode survei, focus group discussion (FGD) dan observasi. Hasil dari pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa distribusi informasi di Desa Cintaratu seputar JKN-KIS PBI secara umum kurang transparan. Data penduduk yang digunakan pemerintah pusat sebagai dasar penetapan bantuan telah kedaluwarsa sehingga bantuan menjadi tidak tepat sasaran. Masyarakat Desa Cintaratu mendapatkan informasi kesehatan seputar JKN-KIS PBI mengandalkan opinion leader yaitu aparat desa/dusun/RW/RT, bidan dan kader kesehatan.
Personal branding Ridwan Kamil dalam program Gerakan Pungut Sampah Prawira. W, R. Yogie; Suryana, Asep; Arifin, Hadi Suprapto
Manajemen Komunikasi Vol 6, No 2 (2022): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v6i2.31319

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat besarnya pengaruh personal branding Ridwan Kamil yang terdiri dari roles, standards dan style pada sikap siswa SMA Kota Bandung pada Gerakan Pungut Sampah. Metode penelitian yang digunakan adalah survei eksplanatori, yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel penelitian dengan pengujian statistik inferensial path analysis. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Kota Bandung yang melakukan dan melaporkan Gerakan Pungut Sampah melalui akun twitter @GPSbdg dan @BDGcleanaction setelah dilakukannya sosialisasi. Sampel diambil dengan menggunakan teknik penarikan sampel cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 102 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel personal branding Ridwan Kamil yang terdiri dari roles, standards dan style secara keseluruhan berpengaruh terhadap sikap siswa SMA Kota Bandung pada Gerakan Pungut Sampah. Hal tersebut menunjukkan bahwa personal branding yang dimiliki oleh Ridwan Kamil mampu menggerakkan dan membentuk sikap siswa SMA Bandung untuk berpartisipasi aktif dalam program Gerakan Pungut Sampah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, hendaknya Ridwan Kamil perlu menjaga dan mengevaluasi personal branding yang dimilikinya. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah personal branding yang melekat pada dirinya sudah efektif dalam menunjang keberhasilan program yang dijalankan. Selain itu, penggunaan personal branding sebaiknya digunakan oleh semua individu dalam kehidupan sehari-hari secara praktis dengan tujuan pengembangan diri. Selanjutnya dimensi personal branding dalam penelitian ini hendaknya mampu dijadikan alat untuk membangun personal branding yang positif pada masing-masing individu.
Komunikasi krisis Forum Ekonomi Kreatif Kabupaten Bandung Barat menghadapi pandemi Covid-19 Venus, Antar; Octavianti, Meria; Karimah, Kismiyati El; Arifin, Hadi Suprapto
Manajemen Komunikasi Vol 5, No 1 (2020): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v5i1.29799

Abstract

Forum Ekonomi Kreatif (Fekraf) sebagai sebuah organisasi resmi yang dibentuk pemerintah Kabupaten Bandung Barat, memilliki peran yang sentral dalam menghadapi krisis yang dialami oleh hampir sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung Barat. Banyak pekerja di berbagai subsektor ekonomi kreatif terpaksa dirumahkan karena sudah tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dan banyak pelaku ekonomi kreatif yang akhirnya gulung tikar karena tidak bisa menjalankan roda perekonomiannya selama pandemic berlangsung. Penelitian ini berupaya untuk mencari tahu mengenai bagaimana komunikasi krisis yang dilakukan oleh Fekraf KBB dalam menghadapi pandemic Covid-19. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara, focus group discussion, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan komunikasi krisisnya, Fekraf KBB sudah menjalankan seluruh prinsip dan tahapan dari komunikasi krisis dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi yang relevan dengan kondisi krisis yang dihadapi. Crisis preparedness, initial respons, corrective & reaction, serta evaluation merupakan tahap komunikasi krisis yang dilakukan oleh Fekraf KBB. Media komunikasi yang digunakan dalam komunikasi krisis ini terbatas pada media online dan media sosial. Hampir seluruh prinsip komunikasi krisis diaplikasikan oleh Fekraf KBB dalam menghadapi pandemik Covid-19 ini, yaitu adanya tim komunikasi, melakukan kontak dengan media, mengumpulkan fakta-fakta, tidak menutup informasi, hati-hati dalam menyampaikan informasi, satu suara, dan menggunakan banyak saluruan komunikasi.
Pendidikan Kesehatan Jiwa Bagi Kader Kesehatan Di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya Taty Hernawaty; Hadi Suprapto Arifin; Imas Rafiyah
Faletehan Health Journal Vol 5 No 1 (2018): Faletehan Health Journal, Maret 2018
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v5i1.8

Abstract

Pada umumnya penderita gangguan jiwa tinggal bersama keluarga sehingga keberadaan kader di masyarakat sangat membantu pemerintah dalam menggerakkan masyarakat agar aktif dalam berbagai program kesehatan yang digalakkan pemerintah. Kader perlu memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa. Pendidikan kesehatan jiwa merupakan upaya langsung untuk meningkatkan pengetahuan kader. Kader di Kecamatan Cikatomas belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan jiwa secara khusus sehingga perlu diberikan pendidikan kesehatan jiwa agar pemahamannya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang pendidikan kesehatan jiwa di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental pre-post test. Populasinya adalah seluruh kader kesehatan yang berada di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya sebanyak 32 kader. Pemilihan sampel menggunakan sampling jenuh, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Lokasi penelitian di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan telah dilakukan uji validitas-reliabilitas. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader meningkat, sebelum diberi pendidikan kesehatan jiwa menunjukan rerata nilai sebesar 29,34 dan setelahnya menjadi 35,20 dengan selisih 5,86. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak Puskesmas agar mengembangkan materi dan metoda yang diberikan pada kader dalam rangka mengoptimalkan program kesehatan jiwa.
Persuasive Communication in Digital Philanthropy: Bridging the Zakat Intention-Behavior Gap on Instagram Agustin Santriana Wijayant; Asep Suryana; Hadi Suprapto Arifin
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i2.6877

Abstract

This research investigates how Islamic philanthropic institutions employ digital persuasive communication strategies on Instagram to bridge the critical intention-behavior gap following public trust deficits. By integrating persuasive message design with an extended Theory of Planned Behavior (TPB), this study examines the impact of institutional trust-building, visual social proof (social norms), and instructional clarity (perceived ease of transaction) in predicting digital zakat behavior. An explanatory quantitative survey was conducted among 385 active Instagram followers of Rumah Zakat Indonesia, with data analyzed using the PLS-SEM algorithm. The findings reveal that visual social proof, manifested as a digital bandwagon effect, is the most dominant persuasive predictor of the audience's zakat intention. Crucially, trust-building messages lack a significant direct effect on actual behavior, requiring the audience's intention as a full mediator. Furthermore, clear instructional communication regarding digital transaction functions as a 'moral nudge' that directly facilitates spontaneous giving. To optimize digital philanthropy, persuasive communication campaigns must move beyond generic transparency claims and prioritize influencer-driven social proof combined with frictionless digital call-to-actions.