Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK DI SMP NEGERI 1 BLADO KABUPATEN BATANG Edy Setiyawan; Ns. Siti Aisah; Ali Rosidi
FIKkeS Vol 5, No 2 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.91 KB)

Abstract

Perilaku merokok yang semakin marak di kalangan siswa sekolah, dimungkinkan dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap terhadap rokok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap siswa perokok dan bukan perokok di SMP Negeri 1 Blado Batang. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif komparasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa perokok dan bukan perokok kelas VII dan VIII di SMP Negeri 1 Blado Kabupaten Batang dengan jumlah 208 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah proportionatestratified random sampling dengan jumlah 141 siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai P 0,000 pada pengetahuan dan didapatkan nilai P 0,000 pada sikap, sehingga dinyatakan terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap perokok dan bukan perokok. Siswa perokok ternyata juga memiliki pengetahuan dan sikap yang baik terhadap bahaya merokok. Oleh karena itu penyuluhan bahaya merokok dimungkinkan kurang efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok. Disarankan kepada kepala sekolah membuat kebijakan dengan memberikan sanksi tegas bagi seluruh siswa sekolah yang merokok di sekolah.Kata kunci : Pengetahuan, sikap, perokok
Perbedaan Konsumsi Cairan, Serat Makanan dan Aktivitas Fisik Berdasarkan Proses Defekasi pada Mahasiswa Diploma III Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang Elma Novianingrum; Ali Rosidi; Yunan Kholifattudin Syadi
Jurnal Gizi Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Gizi UNIMUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.222 KB) | DOI: 10.26714/jg.5.2.2016.%p

Abstract

Water consumption and dietary fiber in sufficient quantities every day can help to expedite the process of defecation, there by preventing or reducing hemorrhoids and constipation. Physical activity can also help smooth the process of defecation by stimulating peristalsis which facilitates the movement of chyme along the colon. Lifestyle changes that occur in the community, especially in adolescents who like to consume fast food thats high-calorie, and low consumption of fiber and water causes various diseases such as constipation. This study aims to prove the difference of fluid intake, dietary fiber, and physical activity based on the process of defecation on student Diploma III Nutrition, University of Muhammadiyah Semarang. The study design is cross-sectional study with subjects students Diploma III of Nutrition, University of Muhammadiyah Semarang. Data were collected by interview and recall method for fluid consumption, dietary fiber, physical activity, and the process of defecation. Statistical analysis using the Mann Whitney test to determine differences in fluid intake, dietary fiber, andphysical activity based on the process of defecation. Based on the statistical test Mann Whitney p = 0.000 there was significant discrepancy between fluid intake , dietary fiber based on the process of defecation and consistency of stool as well p = 0.010 there was significant difference between physical activity based on the process of defecation and consistency of stool. The Conclusions is consumption of fluid, fiber food and physical activity sufficient in an amount can make easy the process of defecation rather than fluid intake, dietary fiber, and lowphysical activity. Keywords: Fluid Consumption, Dietary Fiber, Physical Activity, defecation process.
Hubungan Tingkat Kecukupan Kalsium dan Kebiasan Merokok dengan Kepadatan Tulang Pada Wanita di Desa Klumpit Kabupaten Kudus Noor Mafazah; Ali Rosidi; Yunan Kholifatuddin
Jurnal Gizi Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Gizi UNIMUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.725 KB) | DOI: 10.26714/jg.5.1.2016.%p

Abstract

Bone density is key to determining the magnitude of the risk of osteoporosis. Osteoporosis is characterized by decrease in bone strength and increase in fragility caused by low bone density. To prevent the low bone density, we can optimize the bone mass at the top of our growth, thats happen before we 30 years old. Smoking habit, exspecially on women can speed up the decrease of bone density, called osteopenia. By the survey, the prevalenceof osteopenia on smoker women is 29,4 %. Osteopenia on the smoker women will increase the risk factor of osteoporosis. The smoker women have the 6 th biger risk factor than the man. Beside smoker, the risk factor thats can increase the osteoporosis incident on women are decreasing estrogen hormonon 30 years old, the lengt of breastfeeding, fisical activity, alcohol and cafein consumption, and dietary of calcium, fosfor, vitamine D, fluorida, kalium, and protein.The objective of this study was to determine the relationship of calcium adequacy levels, and smoking habit and bone density of women at Klumpit village,Kudus District. Observasional study with a survey method and cross-sectional approach was conducted in the village of Klumpit, Kudus district. The number of sampel is 60 women who 26-44 years old, consist of 30 smoker women and 30 not smoker women. The sampling method is stratifiedrandom sampling. The data collecting by interview, FFQ and Quantitative Ultrasound Bone Densitometry. The test of normally distributed of the variable data was conducted by Shapiro Wilk test. The variable correlation test was conducted by applying Pearson Product MomentorRank Spearman.The result show that the respondens average of calcium intake is 97,58 mg/days 12,89 mg/days. There are 43,3 % of the women are calcium deficiency. The smoker women smoke by the average of 4,67 0,5 cigarete/day. The average of bone density is 1,29 gram/cm 0,212 gram/cm 2.The lowest bone density is 1.8 g/cm2 and the highest is 4.5 g/cm2. There are 23,3 % of responden who suffer the osteopenia and 40 % of the other were osteoporosis.The rankspearman test show there was a strong significant positive correlation between calcium adequacy level and bone density (r = 0,619 and p = 0,000)and there was a significant negative correlation between smoking habit and bone density (r = -0,488 and p = 0,000).Increasingly the smoke freqeuncy wil more decrease the bone density. The bone density strongly related to the level of calcium adequacy and smoking habits on womens at Klumpit village, District of Kudus.Keywords:Calcium adequacy level, smoking habit, bone density
POTENSI TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Ali Rosidi; Ali Khomsan; Budi Setiawan; Hadi Riyadi; Dodik Briawan
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL - HASIL PENELITIAN & PENGABDIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.06 KB)

Abstract

Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb) adalah salah satu tumbuhan obat keluarga Zingi beraceae yang banyak tumbuh dan digunakan sebagai bahan baku obat tradisional di Indonesia. Temulawak diketahui memiliki banyak manfaat salah satunya  potensi sebagaiantioksidan. Komponen aktif yang bertanggung jawab sebagai antioksidan dalam rimpang temulawak adalah kurkumin. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi temulawak sebagai antioksidan. Bahan baku yang digunakan adalah rimpang temulawak diperoleh dari petani temulawak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Metode ekstrasi menggunakan ekstraksicair-cair yang dikembangkan PT Javaplant. Ekstrak temulawak dianalisis kandungan proksimat.Pengujian antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan Analisis Kadar kurkuminoid Temulawak Menggunakan HPLC. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis denganmenggunakan program SPSS. Data disajikan dalam bentuk diskriptif.  Pada ekstrak temulawak ditemukan kadar kurkumin sebesar 27,19% dengan rendemen sebesar 1,02%. Aktivitasantioksidan ekstrak temulawak dengan IC sebesar 87,01 ppm. Ekstrak temulawak memiliki aktivitas antioksidan tergolong aktif sehingga  berpotensi  sebagai antioksidan alami yang baik. Kata kunci : Kadar Kurkumin, Antivitas antioksidan,Temulawak 50
KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI PONDOK PESANTREN PUTRI KECAMATAN MRANGGEN KABUPATEN DEMAK JAWA TENGAH Rahayu Astuti; Ali Rosidi
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL - HASIL PENELITIAN & PENGABDIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.587 KB)

Abstract

Anemia is a nutritional problem in Indonesia. Prevalence of anemia in adolescents still high,whereas in adolescents living in boarding schools showed a higher prevalence. The purpose ofthe study analyzed the differences of levels of hemoglobin (Hb) based on student characteristics,menarche status and body mass index (BMI). This study is an analytic with cross-sectionaldesign. Population were all female students from two boarding schools (pesantren) who was inMranggen the District of Demak. The entire student also attending formal education inMadrasah Tsanawiyah. Sampling with the inclusion and exclusion criteria. The variablesstudied were hemoglobin levels were measured by Cyamethemoglobin, student identity dataincluding age, class, medical history, number of children, father education and menarche status,and body mass index (BMI). Statistical analysis used univariate and bivariate analysis of theMann Whitney test and Kruskal Wallis test. Data normality test used Kolmogorov Smirnov test.The level of significance was 5%. The results showed that of 213 girls studied, who suffer fromanemia 159 people (74,6%). Lowest hemoglobin level of 7,56 g/dL, the highest 14,80 g/dL, anaverage of 11,15 g/dL and standard deviation 1,46 g/dL. There is a significant difference (p =0,000 and p = 0,007) mean Hb level by grade and age. There were no differences in mean Hblevels by categories of children, father education, menarche status, and BMI categories (p>0,05). Keywords: hemoglobin levels, anemia, menarche status, BMI, boarding school
HUBUNGAN KEBIASAAN CUCI TANGAN DAN SANITASI MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK SD NEGERI PODO 2 KECAMATAN KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN Ali Rosidi; Erma Handarsari; Mita Mahmudah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 6. No. 1. Tahun 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.22 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.6.1.2010.%p

Abstract

Diare adalah suatu keadaan abnormal dari pengeluaran berak dengan frekuensi tiga kali atau lebih dengan melihat konsisten lembek, cair sampai dengan atau tanpa darah dan lendir dalam tinja. Diare berhubungan dengan berbagai macam faktor yang mempengaruhinya yaitu : faktor makan, faktor infeksi, faktor psikis dan faktor lingkungan.Tujuan penelitian : menganalisis hubungan kebiasaan cuci tangan dan sanitasi makanan dengan kejadian diare pada Anak SD Negeri Podo 2 Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini merupakan jenis explanatory research, pendekatan belah lintang ( crossectinal ). Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak yang terdaftar dan masih aktif sebagai siswa-siswi kelas IV, Vdan VI. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling,sebanyak 50 anak diambil sebagai sampel.Hasil: penelitian menunujukkan bahwa kebiasaan cuci tangan yang tergolong terbiasa cuci tangan sebanyak 47 anak ( 94,0% ), dan tidak terbiasa cuci tangan sebanyak 3 anak ( 6,0% ). sanitasi makanan yang tergolong baik sebanyak 21 keluarga ( 42,0%), dan tergolong kurang sebanyak 29 keluarga (58,0% ). Anak SD yang tidak menderita diare dalam satu bulanterakhir sebanyak 48 anak ( 96,0% ), sedangkan anak SD yang menderita diare dalam satu bulan terakhir sebanyak 2 anak (4,0% ).Kesimpulan : Ada hubungan kebiasaan cuci tangan dengan kejadian diare dan tidak ada hubungan sanitasi makanan dengan kejadian diareKata kunci : cuci tangan , sanitasi makanan, kejadian diare, anak SD
PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhezeus) DAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN KADAR MDA (Malondialdehide) SYARIFAH ZAHRA; S. SUROTO; ALI ROSIDI
Jurnal Ilmiah Spirit Vol. 19 No. 1 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRIT
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jis.v19i1.955

Abstract

Seringnya mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak dan kolesterol memicu tingginya kadar kolesterol dalam darah yang disebut Hiperkolesterolemia yaitu suatu keadaan patologis yang disebabkan oleh kelainan metabolisme kolesterol yang kadarnya melebihi batas normal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian jus buah naga merah dan aktivitas fisik terhadap perubahan berat badan dan menurunkan kadar kolesterol total, kadar MDA tikus Wistar hiperkoesterolemik. Penelitian menggunakan rancangan  eksperimental faktorial  (Factorial Experiment Design) dua faktor yaitu pemberian jus buah naga merah dan olahraga renang pada 30 ekor tikus putih dengan randomized pre test -post test only control group design, menggunakan 5 kelompok : X1 (kelompok kontrol pakan standar), X2 (kelompok pakan standar+pakan tinggi lemak), X3 (kelompok pakan standar+pakan tinggi lemak+jus buah naga merah), X4 (kelompok pakan standar+pakan tinggi lemak+aktivitas fisik) dan X5 (kelompok pakan standar+pakan tinggi lemak+aktivitas fisik+jus buah naga merah), masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor tikus. Variabel yang diamati adalah berat badan tikus, kadar kolesterol total dan kadar MDA pada pre dan post-test. Analisis data menggunakan paired t-test, uji Shapiro Wilk, uji Kruskal Wallis, uji Mann Whitney dan one-way Anova.Hasil pengujian menunjukkan : Rata-rata berat badan tikus sebesar 126,553 ± 32,954 g. Rata-rata kadar kolesterol total sebesar 59,228 mg/dl. Rata-rata kadar MDA sebesar 1,952 ± 0,605 pmol/dl. Kelompok yang diberi Pakan Tinggi Lemak (X2-X5) rerata pertambahan berat badannya lebih tinggi daripada kelompok kontrol (X1) yang diberi pakan standar. Kelompok yang diberi pakan tinggi lemak (kelompok X2-X5) rata-rata kadar kolesterol totalnya lebih tinggi daripada kelompok yang diberi pakan standar (X1). Tidak terdapat perbedaan pengaruh antar kelompok perlakuan terhadap selisih kadar kolesterol total. Terjadi penurunan kadar MDA pada semua kelompok penelitian, dimana rata-rata penurunannya berkisar 31,975%. Simpulan yg didapat pemberian jus buah naga merah dan aktivitas fisik tidak berpengaruh pada kadar kolesterol total, namun berpengaruh pada kadar MDA darah tikus hiperkolesterolemik.
SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS RASIO LINGKAR PINGGANG DAN PANGGUL (RLPP) DALAM MENDETEKSI RISIKO KOMPLIKASI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 Amali Rica Pratiwi; Ali Rosidi; Inggita Kusumastuty; Kanthi Permaningtyas Tritisar; Dian Handayani
Jurnal Gizi Aisyah Vol. 1 No. 1 (2018): Jurnal Gizi Aisyah
Publisher : Journal Aisyah University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.407 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) penyakit gangguan metabolik yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal. Parameter pengendalian DM Tipe 2 dengan pengukuran RLPP berfungsi untuk mendeteksi risiko komplikasi mikrovaskuler jangka panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) dalam mendeteksi risiko komplikasi pada pasien DM Tipe 2 dibandingkan dengan IMT sebagai gold standar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah responden 35 orang, dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil kekuatan diagnostik pengukuran rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) dalam mendeteksi risiko komplikasi pada pasien DM Tipe 2 hasil sensitivitas sebesar 88,4% kategori baik, RLPP memiliki spesifisitas sebesar 44,4% kategori buruk (poor). Berdasarkan analisis nilai area under curve didapatkan bahwa pengukuran RLPP biasa / fair (nilai AUC 0,739) untuk mendeteksi risiko komplikasi penyakit lainnya pada pasien DM Tipe 2. RLPP memiliki kemampuan yang biasa/fair dalam mendeteksi risiko komplikasi penyakit lain pada pasien DM Tipe 2.
TOTAL FENOL NANOENKAPSULASI EKSTRAK TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORIZA ROX.B) DENGAN VARIASI PENYALUT Ali Rosidi; Annisa Puspitasari; Addina Rizky Fitriyanti; Yuliana Noor SU; - Nurhidajah; Aniatun Linafi’ah
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rimpang temulawak mengandung senyawa fitokimia yang bersifat sebagai antioksidan seperti totalfenol, namun senyawa tersebut memiliki kelemahan yaitu mudah mengalami reaksi oksidasi akibatpengaruh suhu, pH, dan intensitas cahaya, selain itu temulawak memiliki rasa pahit serta aroma yangkhas. Proses enkapsulasi menggunakan penyalut kitosan-STPP diharapakan mampu memperbaikisifat dan stabilitas zat aktif dari ekstrak temulawak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh nanoenkapsulasi pada ekstrak temulawak dengan berbagai variasi penyalut terhadap kadartotal fenol.Penentuan kadar total fenol menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis denganlarutan standar asam galat. Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental dengan desainpenelitian yang dipilih yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian kadar total fenoltertinggi yaitu 261,9 mg GAE/gram sampel dengan konsentrasi penyalut kitosan 0,1% : STPP0,05%.Berdasarkan analisis ragam (ANOVA) perbedaan konsentrasi penyalut berpengaruh terhadapkadar total fenol (p<0,05).Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi kitosan dan STPPmaka kandungan total fenolnya semakin rendah. Kata Kunci: Ekstrak Temulawak, Nanoenkapsulasi, Total Fenol
HUBUNGAN UMUR, PARITAS, DAN BERAT BAYI LAHIR DENGAN KEJADIAN LASERASI PERINEUM DI BIDAN PRAKTEK SWASTA Hj. SRI WAHYUNI, S.SiT SEMARANG TAHUN 2012 Siti Dwi Endriani; Ali Rosidi; Wening Andarsari
Jurnal Kebidanan Vol 2, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.354 KB) | DOI: 10.26714/jk.2.1.2013.%p

Abstract

Laserasi perineum terjadi selama persalinan. Laserasi jalan lahir dapat menyebabkan perdarahan postpartum. Umur, paritas, dan berat lahir yang termasuk faktor penyebab laserasi. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan case control. Subyek dibagi pada dua kelompok, yaitu kelompok kasus (30) dan kelompok kontrol (30). Teknik sampling yang digunakan purposive sampling, memilih subyek berdasarkan kriteria tertentu. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan data sekunder. Rata-rata ibu berusia 27 tahun. Ada 63,3% dari ibu yang memiliki paritas multipara. Rata-rata berat lahir bayi adalah 3077,5 g. Uji chi square menunjukkan p = 0,795 untuk usia, p = 0,001 (OR = 6,538) untuk paritas, dan p = 0,052 untuk berat badan lahir. Tidak ada hubungan antara usia dan laserasi pada perineum. Ada korelasi antara paritas dan laserasi perineum. Tidak ada hubungan antara berat badan lahir bayi dan laserasi perineum. Semua terjadi pada persalinan normal di bidan praktek swasta Hj. Sri Wahyuni​​, S.SiT. Kata kunci: Umur, Paritas, Berat bayi lahir, Laserasi perineum