Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Diakronika

Zulbainar: Perempuan Pejuang Masyarakat Marjinal Sebagai Aktivis Gerwani (1961-1977) Serli Agustina; Siti Fatimah
Diakronika Vol 20 No 1 (2020): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.704 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol20-iss1/126

Abstract

Artikel ini merupakan kajian sejarah yang membahas mengenai perjalanan hidup dan pengalaman seorang Zulbainar yang merupakan perempuan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) asal Sungai Sariak Kabupaten Padang Pariaman yang merupakan salah satu daerah basis PKI dan ‘keluarganya’ di Sumatera Barat. Penelitian ini termasuk penelitian biografi tematis dengan tujuan penelitian untuk mendeskripsikan perjalanan hidup, peran, serta pengalaman-pengalaman Zulbainar dalam Gerwani di Nagari Sungai Sariak Kab. Padang Pariaman. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang bertumpu pada empat langkah kegiatan yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Kesimpulan yang diperoleh adalah penelitian ini memaparkan fakta-fakta yang terkait dengan peristiwa G30S 1965 yang terjadi di Sumatera Barat. Zulbainar merupakan salah satu korban diantara ribuan korban lainnya yang ikut mendapat dampak meletusnya G30S 1965. Keikutsertaannya dalam organisasi terlarang tersebut membawa dampak besar dalam hidupnya. Kiprahnya yang ikut gencar dalam mengembangkan organisasi tersebut membuatnya dicap sebagai tahanan politik gol.B. Selama 12 tahun dipenjara dan penderitaan mereka berakhir tahun 1977. Status baru sebagai eks-Tapol ia nikmati hingga kini di usia senjanya. Kini di usia senjanya Zulbainar aktif menyuarakan penengakkan HAM bagi mereka yang menjadi korban G30S 1965 melalui sebuah Yayasan yang bernama YPKP 1965 (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965) Sumatera Barat.
Guru dan Kualitas Pendidikan di Indonesia Masa Kolonial dan Pasca Kemerdekaan Siti Fatimah; Firza Firza
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.64 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/204

Abstract

Persoalan guru dan kualitas pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang berlangsung semenjak zaman kolonial di Indonesia. Tujuan dari artikel ini untuk menganalisis guru dan kualitas pendidikan pada masa kolonial dan pasca kemerdekaan Indonesia. Metode penelitian menggunakan metode Komparasi dengan pendekatan sejarah (historis). Hasil penelitian pada tahun 1892 kebutuhan guru sangat mendesak, sehingga pemerintah mengambil kebijakan mengangkat guru tanpa melalui pendidikan guru. Akibatnya terjadi kemerosotan kualitas pendidikan dan tidak membawa perubahan. Kebijakan diperbaiki pada masa ini, (1) kenaikan gaji guru yang cukup besar; (2) mengizinkan lambang-lambang sosial kehormatan; (3) Tamatan sekolah guru (kweekschool) dapat ditempat dalam setiap jabatan pemerintah, dan hasilnya kualitas guru dan pendidikan menjadi meningkat. Sehingga guru menjadi salah satu profesi yang didambakan masyarakat pada masa ini. Pasca kemerdekaan sampai saat ini pola yang sama juga terjadi. Pada masa Orde Baru, tepatnya pada tahun 1980-an, dikenal dengan guru “galodo”. Semenjak tahun 2000-an, pemerintah melahirkan beberapa kebijakan yang mirip dengan apa yang sudah dilakukan pemerintah kolonial. Gaji guru dinaikkan melalui sertifikasi guru, program pendidikan guru (baik dalam jabatan maupun di luar jabatan) juga mulai diterapkan. Namun, sampai pada hari ini belum terlihat perubahan yang signifikan, meskipun berbagai kebijakan sudah dilakukan. Simpulan penelitian ini terdapat pola kebijakan yang sama, namun hasilnya berbeda.
Pengembangan Kawasan Wisata Mandeh melalui rekonstruksi kearifan lokal perempuan pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat Siti Fatimah
Diakronika Vol 22 No 2 (2022): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.589 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol22-iss2/302

Abstract

The Mandeh Tourism Area has been considered as Raja Ampat of the western Sumatra. However, this tourist area is very genuine and has not functioned as well as possible. In the National Tourism Development Master Plan (RIPPNAS) in 1998, the Mandeh tourism area recorded as a center for marine tourism development for the western region of Indonesia, along with Biak and Bunaken in the eastern part. Towards this preparation, exploring all aspects of local potential in preserving marine tourism is necessary. One of the aspects is through women's groups. Women's understanding is fundamental in environmental examination to create an environmentally friendly and women-friendly life. Therefore, investigating its potential as a reconstruction reference is necessary. This paper aims to describe the local potential of women in the Mandeh tourist area through the rebuilding of environmentally friendly local wisdom. This article employed an approach that focuses on the historical method, especially the oral history method. Data was collected through in-depth interviews and participant observation. The primary informants of this study were women in the Mandeh Integrated Tourism Area using the snowball technique. Data analysis was collected by using a historical analysis model. The local wisdom of Mandeh women can be categorized into several groups; (1) in preserving the environment and maintaining marine ecosystems through the prevention of their husbands who work as fishermen in brutal fishing; (2) utilization of the natural surroundings for healthy food and medicine; (3) culinary processing based on local potential.