Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Ekonomi Pengolahan Limbah Ceri Kopi Menjadi Teh Cascara Dengan Metode Pengeringan Yang Berbeda: Studi Kasus di Sub DAS Cikamiri, Desa Cisarua, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut Prawiranegara, Boy Macklin Pareira; Asdak, Chay; Nugroho, Chrismaria Putri; Widyasanti, Asri
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi teh cascara dari limbah kulit ceri kopi dalam menurunkan jumlah limbah dan nilai ekonomisnya di Sub DAS Cikamiri, Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif denganpengumpulan data survei dan observasi langsung di lapangan dari bulan November 2023 hingga Januari 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan limbah kulit ceri kopi menjadi teh cascara mampu menurunkan jumlah limbah hingga 90%,dengan lima kali produksi yang menghasilkan 1,5 ton limbah kulit ceri kopi, dimana 10% dapat diolah menjadi produk teh cascara. Selain itu, analisis nilai ekonomi menunjukkan bahwa baik pengeringan menggunakan sinar matahari maupun Fooddehydrator menghasilkan nilai B/C ratio yang positif, menunjukkan bahwa pengolahan teh cascara merupakan investasi yang menguntungkan secara ekonomis. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pengolahan limbah kulit ceri kopi menjadi teh cascara adalah solusi yang efektif dalam mengurangi limbah dan menciptakan produk bernilai ekonomis. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah meningkatkan kesadaran konsumen tentang manfaat teh cascara dan investasi dalam infrastruktur pengolahan yang lebih efisien. Dengan demikian, praktik pengelolaan limbah di daerah produsen kopi dapat ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutanlingkungan dan ekonomi lokal.Kata kunci: Teh Cascara, Limbah Kulit Ceri Kopi, Pengurangan Limbah, NilaiEkonomis, Pengolahan Berkelanjutan
Analisis Tingkat Kerawanan Banjir Bandang Menggunakan Metode Flash Flood Potential Index (Studi kasus: Sub DAS Cipeles, DAS Cimanuk) Suryadi, Dede; Asdak, Chay; Kendarto, Dwi Rustam
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2024): TEKNOTAN, Desember 2024
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol18n3.10

Abstract

Sub DAS Cipeles merupakan wilayah yang secara rutin mengalami kejadian banjir bandang setiap tahun pada musim penghujan. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari banjir bandang tersebut meliputi korban jiwa, kerusakan pada lahan pertanian, fasilitas umum, dan organisasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam dan pemetaan tingkat kerawanan terhadap banjir bandang di Sub DAS Cipeles, serta untuk menjelaskan dan menggambarkan kondisi wilayah ini berdasarkan faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya banjir bandang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode FFPI (Indeks Potensi Banjir Bandang), sebuah metode analisis tingkat kerawanan terhadap banjir bandang yang menggunakan lima faktor.Faktor-faktor yang digunakan meliputi kemiringan lereng, nilai angka kurva (CN), indeks curah hujan sebelumnya (API), potensi pergerakan tanah, dan jenis litologi batuan. Setiap parameter yang diberi bobot dan skor menggunakan metode penilaian (metode pembobotan dan penilaian), kemudian ditumpang tindihkan (overlay) untuk menghasilkan nilai FFPI. Hasil utama dari penelitian ini adalah peta kerawanan banjir bandang yang mempertahankan tingkat kerawanan di berbagai wilayah di Sub DAS Cipeles. Peta ini dapat digunakan sebagai alat mitigasi bencana yang efektif untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat banjir bandang.
Pengolahan Limbah Kopi Menjadi Teh Cascara Sebagai Produk Prioritas Berdasarkan Metode AHP di Sub DAS Cikamiri Nugroho, Chrismaria Putri; Prawiranegara, Boy Macklin Pareira; Asdak, Chay; Widyasanti, Asri; Kendarto, Dwi Rustam
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 8 (2025): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v8i.1473

Abstract

Pengelolaan limbah kopi yang tidak optimal telah menjadi salah satu permasalahan utama di sektor pertanian, khususnya di daerah penghasil kopi seperti Sub DAS Cikamiri. Limbah kopi, seperti kulit kopi, sering kali hanya dibuang tanpa pemanfaatan yang maksimal, sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekaligus menghilangkan nilai tambah ekonomi.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi teh cascara sebagai produk prioritas dalam pengolahan limbah kopi di Sub DAS Cikamiri dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Sub DAS Cikamiri, yang merupakan wilayah penghasil kopi utama, menghadapi permasalahan pengelolaan limbah kopi yang tidak terkelola dengan baik, menyebabkan dampak lingkungan yang negatif. Pemanfaatan kulit kopi sebagai bahan baku teh cascara dapat menjadi solusi dalam mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.Metode AHP diterapkan untuk menentukan prioritas produk berdasarkan sejumlah kriteria, yaitu ketersediaan tenaga kerja, biaya investasi, nilai jual, dan ketersediaan bahan baku. Hasil analisis menunjukkan bahwa teh cascara memiliki potensi pasar yang signifikan serta mampu berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani kopi, mendukung praktik pertanian berkelanjutan, dan menciptakan lapangan kerja baru. Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis dalam optimalisasi pemanfaatan limbah kopi di Sub DAS Cikamiri, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Penentuan Prioritas Produk Berbahan Limbah Kopi Menggunakan Metode AHP di Sub DAS Cikamiri, Garut, Jawa Barat: Prioritization of Coffee Waste-Based Products Using AHP Method in Cikamiri Sub Watershed, Garut, West Java Nugroho, Chrismaria Putri; Prawiranegara, Boy Macklin Pareira; Asdak, Chay; Widyasanti, Asri; Kendarto, Dwi Rustam
JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/j-agt.v18i2.53266

Abstract

The suboptimal management of coffee waste affected a significant challenge because the coffee waste is often discarded without being utilized optimally. As a long-term impact, this can cause environmental pollution and loss of economic opportunities from coffee waste. A similar case occurred in the Cikamiri Sub Watershed, Garut, West Java. So it needed to be carried out by applying coffee waste to potential products such as cascara tea, liquid organic fertilizer, and bio-briquettes, but the product priority is not yet known. So that, this study aims to determine the priority for processing coffee waste into high-value products, such as cascara tea, liquid organic fertilizer (POC), and bio-briquettes using the Analytic Hierarchy Process (AHP) method in the Sub DAS Cikamiri, Garut, West Java. AHP was chosen for its ability to handle multi-criteria decision-making in a structured manner. The criteria used in this study include labor availability, investment cost, high market value, and material availability. The result showed that cascara tea (prevalence value of 68.6%) was the highest-priority product, followed by liquid organic fertilizer (prevalence value of 20.7%) and bio-briquettes (prevalence value of 10.6%). This study indicated that cascara tea had high market potential, while liquid organic fertilizer and bio-briquettes can be developed by considering environmental impact and sustainability. This research provides strategic recommendations to optimize coffee waste utilization, focusing primarily on cascara tea production to enhance economic value and positive environmental impacts. Keywords: analytical hierarchy process, bio-briquettes, cascara, coffee waste, liquid organic fertilizer
Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Bengkulu dan Perubahan Penggunaan Lahannya dalam Kaitannya dengan Kejadian Banjir Saraswati, Gredia Sekar; Asdak, Chay; Joy, Benny
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.915-922

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu areal tempat berlangsungnya proses-proses biofisik hidrologis; yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya pada sungai utama ke laut atau danau.  Salah satu DAS dengan kepadatan penduduknya paling tinggi di Provinsi Bengkulu adalah DAS Air Bengkulu.  Penelitian ini dilakukan untuk melakukan pengkajian terhadap karakteristik DAS Air Bengkulu, perubahan penggunaan lahan tahun 2013-2022 dan hubungannya dengan frekuensi kejadian banjir. Analisis sistem informasi geografis (SIG), analisis data curah hujan harian, dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) digunakan dalam penelitian ini.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Air Bengkulu memiliki luas ± 50.035 ha, keliling DAS-nya 110,63 km, Panjang sungai utama 57,91 km, lebar DAS-nya 20,13 km, Panjang DAS-nya 37,93 km, ketinggian tempat 0-1.000 mdpl, dan jumlah sungai keseluruhan 14 buah. Bentuk DAS ini termasuk paralel, dengan pola aliran sungainya denditrik dan nilai kerapatan sungai 1,06. DAS Air Bengkulu ini termasuk kategori yang harus dipulihkan karena memiliki lahan kritis yang luas. Dalam kurun waktu 10 tahun (2012-2021) telah terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS Air Bengkulu. Penggunaan lahan berupa hutan berkurang seluas 2.684 ha (5,4%), perkebunan sawit bertambah 1.966 ha (3,9%), pemukiman bertambah 2.800 ha (5,6%), lahan pertanian campur bertambah 1.973 ha (3,9%), dan areal pertambangan bertambah 1.637 ha (3,2%).  Fluktuasi kejadian banjir yang terjadi di DAS Air Bengkulu dipengaruhi oleh intensitas curah hujan dan penggunaan lahannya. Korelasi luasan lahan pertanian, pemukiman, sawah; perkebunan dan pertambangan bernilai positif artinya meningkatnya jumlah penggunaan ini akan meningkatkan nilai debitnya.  Korelasi luasan hutan dan semak belukar bernilai negatif artinya meningkatnya luas penggunaan lahan ini akan menurunkan debit sungainya. Kelas penggunaan lahan dan curah hujan memiliki hubungan yang kuat terhadap debit total, dengan nilai diterminasi 95%.
Spatial dynamics model of land use and land cover changes: A comparison of CA, ANN, and ANN-CA Dede, Moh.; Asdak, Chay; Setiawan, Iwan
Register: Jurnal Ilmiah Teknologi Sistem Informasi Vol 8 No 1 (2022): January
Publisher : Information Systems - Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/register.v8i1.2339

Abstract

Land use and land cover (LULC) changes through built-up area expansion always increases linearly with land demand as a consequence of population growth and urbanization. Cirebon City is a center for Ciayumajakuning Region that continues to grow and exceeds its administrative boundaries. This phenomenon has led to peri-urban regions which show urban and rural interactions. This study aims to analyze (1) the dynamics of LULC changes using cellular automata (CA), artificial neural network (ANN), and ANN-CA; (2) the influential factors (drivers); and (3) change probability in the period 2030 and 2045 for Cirebon’s peri-urban. We used logistic regression as quantitative approach to analyze the interaction of drivers and LULC changes. The LULC data derived from Landsat series satellite imagery in 1999-2009 and 2009-2019, validation of dynamic spatial model refers to 100 LULC samples. This research shows that LULC changes are dominated by built-up area expansion which causes plantations and agricultural land to decrease. The drivers have a simultaneous effect on LULC changes with r-square of 0.43, where land slope, distance from existing built-up area, distance from CBD, and accessibility are significant triggers. LULC simulation of CA algorithm is the best model than ANN and ANN-CA based on overall accuracy and overall accuracy (0.96, 0.75, 0.73 and 0.95, 0.66, 0.66 respectively), it reveals urban sprawl through the ribbon and compact development. The average probability of built-up area expansion is 0.18 (2030) and 0.19 (2045). If there is no intervention in spatial planning, this phenomenon will decrease productive agricultural lands in Cirebon's peri-urban.
Identification of Invasive Aliens Plant Species in Cultivated Area of Kamojang Crater at Ibun District, Bandung Regency, West Java Rasiska, Siska; Asdak, Chay; Parikesit, Parikesit; Sudarjat, Sudarjat; Gunawan, Budhi; Setiawan, Iwan; Setiawan, Ditriz
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.45383

Abstract

The Cultivated Area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency is part of a single landscape mountain, adjacent to conservated and protected areas which has high biodiversity. This study aims to identify invasive alien plants species in cultivated areas, adjacent to conservation and protected areas. The method used is a descriptive qualitative study with the sampling line transect in 500 meter radius of four location, namely near Nature Reserves (NR), near Nature Tourism Parks (NTP), agriculture (A) and near Protected Forests (PF), and this study has done up at July until November, 2022. The results showed that in the cultivated area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency found 41 families and 96 species of understorey, with the highest number being from the Asteraceae, Poaceae and Fabaceae. Diversity of understorey was categorized as high (H'=3.428), evenly distributed (E=0.738), high species richness (R=13.503) and no dominant species (C=0.165). Several understorey, namely 8 orders, 10 families, and 29 species were categorized as invasive aliens plant species, with the highest important values index being Ageratina riparia (99,642%), Imperata cylindrica (72,919%), Paspalum notatum (31,155%), Chromolaena odonata (31,074%), Etlingera elatior (27,905%), Ageratum conyzoides (20,179%), Lantana camara (19,029%), Amaranthus hybridus (18,818%), Pennisetum purpureum (15,120%), Mimosa pudica (15,031%), Crassocephalum crepidioides (14,037%), and Axonopus compresus (10,671%).
Determination of Sustainable Factory Locations for the Lemon Agroindustry using AHP, Mapping and Water Management Asdak, Chay; Octoyne, Aisyah; Kendarto, Dwi Rustan; Prawiranegara, Boy Macklin Pareira
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.012.2.272-283

Abstract

This research was conducted in Suntenjaya Village, Lembang, West Bandung Regency, focusing on lemon agro-industry development through the Analytical Hierarchy Process (AHP) method approach, area mapping, and water management to determine a sustainable factory location. The main objective is the selection of factory site by integrating lemon production considering sustainable agriculture aspects, product aspects, and water conservation programs. The results of the study provide a strong foundation for sustainable agro-industrial development will support sustainable agriculture, local economy, and environmental protection. The research also combined qualitative and quantitative elements with a mixed approach that included Focus Group Discussion (FGD) and AHP with the results showing that integrated drainage management was the top priority, followed by sanitation, clean water, reforestation, and sustainable agriculture. Mapping of areas based on geographical characteristics such as rainfall, slope, and soil type provided a map of water infiltration rates that became a key guide in planning water conservation programs. This research has positive implications in supporting sustainable agricultural practices and local economic empowerment. The results of the AHP analysis and area mapping form a strong framework for the development of a sustainable lemon agro-industry with positive economic and environmental impacts.
The Implementation of Micro/Nanobubbles (MNBs) Technology to Treat Basin Water as The Primary Water Source for Hydroponics in Greenhouse Yusuf, Asep; Asdak, Chay; Muhaemin, Mimin; N.P, Sophia Dwiratna; Sugiarto, Anto Tri; Alam, Hilman Syaeful
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i1.197-204

Abstract

The greenhouse plays a pivotal role in creating an ideal environment for hydroponic cultivation. The greenhouse has utilized rainwater and basin water as a source of raw water for hydroponic farming. Presently, the water quality of Leuwi Padjadjaran basin fails to meet the standards required for hydroponics due to its turbidity, sediment content, discoloration, pH levels exceeding 7, and low dissolved oxygen (DO) concentration of 2.2 mg/l. The micro/nanobubbles (MNBs) technology stands as a viable method for water treatment owing to its capacity to bind impurities via radical OH. The application of MNBs for the treatment of basin water involves the use of a hydrodynamic cavitation MNBs generator with a dual-chamber rotating flow nozzle. The parameters evaluated in this research encompass DO concentration, MNBs stability, microbubble size, and the visual response to MNBs application. MNBs treatment was conducted with three different gases: air, oxygen, and ozone. Microbubbles were measured using the particle image velocimetry (PIV) method. The DO concentration reaches 21.6 mg/l when employing oxygen-based MNBs. On the third day post-generation, MNBs stability still maintains DO concentrations above the initial levels. Thus it can be used as hydroponic raw water.  Keywords:  DO concentration, Greenhouse, Micro/nanobubbles, Water treatment.
The Application of Nanobubble Technology in Hydroponic SWU-01 to Increase Dissolved Oxygen Concentration and Lettuce Plant Growth Yusuf, Asep; Asdak, Chay; Muhaemin, Mimin; Fuadah, Eza Zahrotul; Dwiratna, Sophia; Nanda, Muhammad Achirul; Sugiarto, Anto Tri; Alam, Hilman Syaeful
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i4.1395-1402

Abstract

Hydroponic model SWU-01 is a new hydroponic system innovation that regulates watering automatically and independently by utilizing gravity and Archimedes' law. Dissolved oxygen concentration in SWU-01 is only around 3-4.2 mg/L. DO values can be increased by applying nanobubble technology. Ultrafine bubble or nanobubble is a gas bubble in a liquid that has a diameter of <200 nm. The purpose of this study was to determine the effect of nanobubble on dissolved oxygen concentration and growth of lettuce plants cultivated with SWU-01 hydroponics. The experiment used a one-factor randomized complete block design, namely intermittent administration of nanobubble for 15 min every 3 day (P1) and 7 days (P2), and without nanobubble (P0l). The results obtained based on the ANOVA test at the 5% level with the Least Significant Difference (LSD) follow-up test, namely the parameters of fresh weight and number of leaves of lettuce P1 significantly different from P0 and P2, and no significant differences were found in root length, canopy width, and plant height. The P1 treatment is more effective in increasing dissolved oxygen concentration, leaf count, and fresh weight of lettuce produced in lettuce cultivation using the SWU-01 hydroponic system. Keywords: Dissolved oxygen, Hydroponics, Lettuce, Nanobubbles, Plant growth.