Claim Missing Document
Check
Articles

Hydrological Implication of Bamboo And Mixed Garden In The upper Citarum Watershed Chay Asdak
Indonesian Journal of Geography Vol 38, No 1 (2006): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.2231

Abstract

The assessment of important factors affecting runoff and erosion was carried out by collecting runoff and soil loss from four runoff/erosion plots. The runoff/erosion plots were set up in sloping areas of about 40% slope in the upper area of Ciwidey sub-watershed (upper Citarum watershed), West Java. The plots (6 x 10 m) were established in the following four sets of conditions: bamboo plantation, mixed garden, small shrub, and agricultural field with different species and stand structures. After 20 rainfall events, a treatment in the form of removing undergrowth and litter were applied to bamboo and mixed garden plots. The result of this before and after treatment are the following: runoff from bamboo plantation was increased from 0.40 to 1.02 litre/m2 and erosion was increased from 1.47 to 11.65 gr/m2. While the runoff and erosion in mixed garden were increased from 0.36 to 1.65 litre/m2 and from 1.36 to 10.88 65 gr/m2, respectively. When this compared to the runoff and soil loss in the agricultural plot, the soil erosion is much higher, 50.5 gr/m2 (about 50 times higher). Stand/canopy structure appeared to be the important factors that determine the magnitude of soil erosion. While the role of these factors were less significant compared to rainfall in determining the magnitude of runoff.
Estimasi Volume Limpasan dan Debit Puncak Sub DAS Cikeruh Menggunakan Metode SCS-CN (Soil Conservation Service-Curve Number) Andiles Kusnadi Sentosa; Chay Asdak; Edy Suryadi
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2021.009.01.10

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk dan pembangunan yang terus meningkat menjadi permasalahan yang serius, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi pusat perekonomian, pemerintahan, perdagangan dan perindustrian. Perubahan tata guna lahan akibat pembangunan dapat menyebabkan sebuah wilayah mengalami banjir dan genangan yang terjadi pada musim hujan. Sub DAS Cikeruh merupakan Sub DAS bagian dari DAS Citarum hulu. Wilayah Sub DAS Cikeruh dikenal sering mengalami musibah banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volume limpasan dan debit puncak Sub DAS Cikeruh. Analisis volume limpasan dan debit puncak menggunakan metode SCS-CN (Soil Conservation Service-Curve Number). Total volume limpasan permukaan (Q) Sub DAS Cikeruh pada kejadian hujan maksimum sebesar 102.8 mm tahun 2016 adalah 9 920 025 m3. Debit puncak (Qp) periode ulang 2 tahun sebesar 462.47 m3/s, periode ulang 5 tahun diperoleh sebesar 908.83 m3/s, periode ulang 10 tahun diperoleh sebesar 1 044.07 m3/s, periode ulang 25 tahun diperoleh sebesar 1216.63 m3/s, periode ulang 50 tahun diperoleh sebesar 1345,25 m3/s dan periode ulang 100 tahun diperoleh sebesar 1 472.96 m3/s. Hasil penelitian ini berguna untuk data awal sebagai penelitian lanjutan seperti pemodelan banjir dan pembuatan saluran pengendali banjir.
KAJIAN PEMBUANGAN LIMBAH INDUSTRI BATU ALAM TERHADAP KUALITAS AIR IRIGASI DESA PANONGAN KECAMATAN PALIMANAN KABUPATEN CIREBON Silvy Santika; Chay Asdak; Edy Suryadi
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 2 No. 10 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.226 KB) | DOI: 10.59141/jiss.v2i10.438

Abstract

Sungai merupakan salah satu sumberdaya air yang sangat dibutuhkan bagi makhluk hidup. Fungsi sungai yaitu sumber air minum, sarana transportasi, irigasi, perikanan, dan sebagainya. Sungai dekat kawasan industri batu alam di Kecamatan Palimanan, Cirebon yaitu Sungai Jamblang, berfungsi sebagai sumber air irigasi Desa Panongan. Sungai Jamblang berpotensi tercemar limbah cair batu alam yang berdampak pada kualitas air irigasi Desa Panongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuangan limbah cair batu alam di sekitar Sungai Jamblang dan dampak limbah cair batu alam terhadap kualitas air irigasi Desa Panongan. Metode dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan metode Storet. Parameter uji dalam penelitian ini meliputi pH, DHL, TDS, NO3, Cl, B, PO4, dan K dari setiap titik lokasi pengambilan sampel air. Hasil pengujian dilakukan di PT. Sucofindo kemudian dihitung menggunakan metode Storet. Status mutu air Sungai Jamblang di titik 1 yaitu cemar sedang dan air Sungai Jamblang di titik 2 yaitu cemar berat. Status mutu air irigasi Desa Panongan yaitu cemar sedang. Status mutu air yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya limbah cair batu alam berdampak pada kualitas air irigasi, namun tidak semua parameter kualitas air irigasi yang melebihi baku mutu air buruk bagi tanaman pertanian di Desa Panongan.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERDASARKAN KEARIFAN TRADISIONAL: PERSPEKTIF HUKUM LINGKUNGAN Nadia Astriani; Ida Nurlinda; Amiruddin A.Dajaan Imami; Chay Asdak
Arena Hukum Vol. 13 No. 2 (2020)
Publisher : Arena Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.arenahukum.2020.01302.1

Abstract

AbstractLegal pluralism in Indonesia provides a place for indigenous peoples to manage their natural resources where their lives are based on a living philosophy that is in harmony with nature, produces a pattern of management of natural resources that is environmentally friendly and sustainable. This article focus on studying water resource management practices based on traditional wisdom carried out by indigenous peoples in Indonesia and whether the management of water resources based on traditional wisdom can be used as an example of sustainable water resource management. The results of research conducted on the Ciptagelar indigenous people, Subak practices in Bali and 9 (nine) regions in Indonesia show that the practices of water resource management carried out in these areas are in line with the approach of sustainable water resource management. Some forms of community practice can even be adopted in the management of water resources carried out by the government. Furthermore, regulation of water resources based on values that live in society is easier to implement in the life of the community itself, therefore, regulation of water resources in the future must pay more attention to the values that live in the community. Abstrak Pluralisme hukum di Indonesia memberikan tempat bagi masyarakat adat untuk mengelola sumber daya alamnya, yang kehidupannya dilandasi falsafah hidup yang selaras dengan alam, menghasilkan pola pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Artikel ini fokus pada mempelajari praktek pengelolaan sumber daya air (SDA) berdasarkan kearifan tradisional yang dilakukan masyarakat adat di Indonesia dan apakah pengelolaan SDA berdasarkan kearifan tradisional ini dapat dijadikan contoh pengelolaan SDA yang berkelanjutan. Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat adat Ciptagelar, praktik Subak di Bali dan 9 wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa praktik-praktik pengelolaan SDA di wilayah tersebut sejalan dengan pendekatan pengelolaan SDA yang berkelanjutan. Beberapa bentuk praktik masyarakat bahkan dapat diadopsi dalam penyelenggaraan pengelolaan SDA yang dilakukan oleh pemerintah. Pengaturan SDA yang berbasis nilai-nilai yang hidup di masyarakat lebih mudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri, sehingga ke depan pengaturan SDA harus lebih memperhatikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
Sustainable Forest Management from Hydrology and Climate Change Mitigation Perspectives Widiyatno Widiyatno; Chay Asdak
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 17 No 1 (2023): March
Publisher : Faculty of Forestry Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jik.v17i1.6904

Abstract

The increasing number of hydrometeorological disasters induced by unsustainable landscape management has led to significant fatalities and economic loss. Forest ecosystem landscapes are strategic national capital that could contribute to climate change mitigation. The government had formulated policies on Folu Net Sink 2030 through sustainable forest management, environmental and carbon governance, and a Nationally Determined Contribution (NDC) strategic approach using its natural infrastructure in the form of forest ecosystem landscapes. The government could establish attractive and integrated incentive and disincentive systems and mechanisms with sustainable forest management to achieve the targets.
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AIR di SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI CIRASEA, JAWA BARAT Marjan Siti Maryam; Yogina Lestari Ayu; Chay Asdak
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 48, No 2 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v48i2.10162

Abstract

Penurunan kondisi hidrologi yang terjadi di Sub-DAS Cirasea, dalam bentuk meningkatnya debit banjir dan nilai koefisien limpasan disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan akibat peningkatan jumlah penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi neraca air di Sub-DAS Cirasea. Informasi besar ketersediaan air dan kebutuhan air yang diperlukan untuk sektor pertanian dan perikanan air tawar serta mengetahui debit andalan untuk irigasi Sub-DAS Cirasea. Metode FJ Mock digunakan untuk menganalisis ketersediaan air dan kebutuhan air, dalam hal ini, menggunakan pendekatan SNI 6728.1 Tahun 2015. Hasil penelitian menunjukan kondisi neraca air Sub-DAS Cirasea tahun 2021 mengalami defisit dengan total ketersediaan air sebesar 494.664.218,63 m3/tahun sedangkan total kebutuhan air sebesar 495.701.906,61 m3/tahun dan total debit andalan Q80% sebesar 287.274.419,59 m3/tahun.
KAJIAN KOMBINASI KETEBALAN MULSA DAN INTERVAL IRIGASI TETES DILAHAN KERING TERHADAP PRODUKTIVITAS JAGUNG MANIS Primus Metafaty Daeli; Chay Asdak; Kharistya Amaru
SEMINAR NASIONAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 4 No 1 (2022): Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian 4 UM Metro tahun 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung manis merupakan salah satu tanaman pangan yang disukai dan banyak diusahakan oleh masyarakat di Indonesia. Tingginya permintaan jagung manis tidak sebanding dengan jumlah produksi akibat penurunan produktivitasnya. Salah satu upaya untuk masalah tersebut adalah intensifikasi pertanian melalui pemanfaatan lahan kering. Keterbatasan ketersediaan air pada lahan kering dapat menghambat produktivitas jagung manis sehingga diperlukan upaya konservasi melalui kombinasi ketebalan mulsa dan interval irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi ketebalan mulsa dan interval irigasi terhadap produksi jagung manis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental tanpa pengulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ketebalan mulsa dan interval irigasi memberikan hasil yang berpengaruh nyata terhadap produksi jagung manis. Hasil analisis secara umum, kombinasi perlakuan ketebalan mulsa dan interval irigasi memberikan produksi yang lebih baik terhadap jagung manis dibanding dengan tanaman yang tidak diberi perlakuan. Pemberian ketebalan mulsa mampu memberikan lingkungan yang lembab dan suhu tanah optimal yang akan berpengaruh terhadap sistem perakaran, penyerapan air dan unsur hara, dan hasil panen. Interval irigasi 1 hari lebih baik dalam hal mencukupi kebutuhan air tanaman dimana selama masa tanam distribusi dan frekuensi curah hujan sangat rendah, sehingga dengan pemberian irigasi yang tidak terlalu lama maka tanaman jagung manis tetap dapat tumbuh dengan baik.
HUTAN DAN PERILAKU ALIRAN AIR: KLARIFIKASI KEBERADAAN HUTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR DAN KEKURANGAN AIR (Forest and Stream Flow Behaviour: Clarification on Forest Relation With Flood and Drought Issues) Chay Asdak
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18587

Abstract

ABSTRAKBanjir bandang di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali dihubungkan dengan penebangan hutan di wilayah hulu DAS. Hal ini terkait dengan dua hal: (1) perhatian masyarakat terhadap tingginya laju degradasi sumberdaya hutan di banyak tempat di Indonesia, dan (2) adanya kesenjangan pemahaman tentang keterkaitan antara vegetasi, air, dan tanah. kedua hal ini mendorong terbentuknya pemahaman bersama (masyarakat luas termasuk akademisi) yang cenderung bersifat simplistik bahwa banjir bandang tersebut terjadi karena mengingkatnya penebangan hutan. Apakah pemahaman tersebut di atas didukung oleh bukti-bukti ilmiah? Atau karena didorong oleh emosi bahwa kerusakan hutan makin meningkat. Tulisan ini mencoba untuk menunjukkan hasil penelitian bahwa, pada banyak kasus, banjir bandang lebih disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan. ABSTRACTBig floods found in downstream areas that occurred in the wettest months of rainy season are often said to be associated with forest cutting in the upper parts of a watershed. This is partly caused by an increasing strong concerned from many people on high rate of forest destruction in many parts of Indonesia. Partly by false perception on forest-water-soil interaction. In the mean time, there is a common perception among the people including some scientific communities that large floods with severe economic impact are closely linked with the increasing forest cutting. Does this allegation have scientific justification? Or is it just a public emotion driven by the fact that many forest stands are becoming degraded overtime. This article is trying to bring up some scientific findings that, in many cases, big floods were often associated with extreme rainfall. Some illustrations used in this article are mainly from research findings in the temperate climates, with small protions from tropical regions.
A NATIONAL POLICY ON INDONESIA’S INTEGRATED WATER RESOURCE CONSERVATION MANAGEMENT Chay Asdak; Yulizar Yulizar; Subiyanto Subiyanto
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 2 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.2.151-162

Abstract

Changes in the global precipitation would affect Indonesia to improve the water resources management system. As most watersheds are in the critical stage nowadays, it is extremely important to develop a new plan and policy on water conservation which integrate the most important parameters reasonably. This has a purpose to ensure that water resources are available for all activities purposes within the area, especially for the future time period. Integrated Water Resources Conservation Management (IWCM) is one of the promising approaches that mainly developed through the participation of all stakeholders. This participation brings the equal responsibility to protect and manage the water resources in a sustainable way, which might differ from one to another area in Indonesia. Therefore, it is important to bring up local practices on water conservation management. The approach strategies that provided in this paper could improve the water national policy in Indonesia. Furthermore, it also could minimize the gap of the current regulation between local and national levels.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah dan Implikasinya terhadap Serangga di Kawasan Budi Daya Tanaman di Kawah Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Rasiska, Siska; Sudarjat, Sudarjat; Asdak, Chay; Parikesit, Parikesit; Gunawan, Budhi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.46186

Abstract

Lanskap di Kawah Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung terdiri dari kawasan konservasi, kawasan lindung dan kawasan budi daya yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan serangga yang terdapat di kawasan budi daya. Metode yang digunakan adalah eksploratif deskriptif dengan pengambilan sampel secara transek garis berjalur sejauh radius 500m di empat lokasi kawasan budidaya yang berbeda, yaitu di dekat Cagar Alam (CA), Taman Wisata Alam (TWA), lahan pertanian dan Hutan Lindung (HL). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga November 2022. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 41 famili dan 96 spesies tumbuhan bawah serta tiga famili yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi, yaitu Asteraceae, Fabaceae, dan Poaceae. Tumbuhan bawah Ageratina riparia banyak ditemukan di dekat CA dan TWA, sedangkan Imperata cylindrica banyak ditemukan di dekat lahan pertanian dan HL. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah terkategori tinggi dan tersebar di semua lokasi secara merata. Kelompok serangga yang ditemukan termasuk ke dalam 9 ordo dan 78 famili dan tiga famili dengan nilai INP tertinggi yaitu Cicadellidae, Acrididae dan Drosophilidae.  Famili Cicadellidae banyak ditemukan di dekat CA dan HL, Acrididae di dekat TWA dan Drosophillidae di  dekat lahan pertanian. Sebagian besar serangga memiliki peran fungsional sebagai herbivor (32 famili) dengan INP tertinggi yaitu Cicadellidae, predator (11 famili) dengan INP tertinggi yaitu Formicidae, parasitoid (16 famili) dengan INP tertinggi yaitu Braconidae, dan polinator (3 famili) dengan INP tertinggi yaitu Syrphidae. Serangga lainnya memiliki peranan sebagai dekomposer, netral, hama ternak, serangga air, vektor entomopatogen, dan vektor penyakit. Keanekaragaman jenis serangga terkategori sedang dan menyebar secara merata.