Claim Missing Document
Check
Articles

Digital activism and environmental justice: Social media mobilization against waste management Gumelar, Rangga Galura; Mukhroman, Iman; Hafiar, Hanny
Manajemen Komunikasi Vol 10, No 2 (2026): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher E
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v10i2.66583

Abstract

Background: Digital activism has increasingly shaped environmental justice movements, particularly in Global South contexts where local communities face environmental risks from large scale waste management projects. Social media platforms provide new spaces for grassroots mobilization, enabling citizens to circulate information, construct collective narratives, and attract broader public attention. However, empirical evidence on how digital activism amplifies environmental justice claims in localized environmental conflicts remains limited. Purpose: This study examines how social media activism mobilizes public engagement and strengthens environmental justice narratives in community resistance to waste management infrastructure. Methods: This research employs a mixed-methods approach combining quantitative content analysis and qualitative inquiry. The dataset consists of 61 Instagram posts and 175 TikTok videos related to the environmental conflict. Engagement rates (ER) were calculated to measure audience interaction, while digital observation and in-depth interviews with three key informants provided contextual insights. The analysis is informed by Schlosberg’s environmental justice framework and mediatization theory. Results: The findings indicate that visual protest narratives significantly increase engagement and narrative diffusion. A viral TikTok video depicting residents’ protests generated the highest engagement rate of 67%, significantly boosting the visibility of the campaign hashtag. Posts using symbolic protest narratives produced up to 1.8 times more social sharing compared to purely informational posts, demonstrating the importance of visual storytelling in amplifying grassroots environmental claims. Conclusion: Social media platforms function not only as communication channels but also as strategic arenas for environmental advocacy and mobilization. Implications: Digital activism can strengthen environmental justice movements by expanding citizen participation, increasing visibility of local environmental conflicts, and generating broader public pressure for more equitable environmental governance.
Peluang dan tantangan live streaming sebagai sarana pemasaran pasca penutupan Tiktok Shop Sudadi, Muhammad Annas; Gumelar, Rangga Galura; Priana, Ronny Yudhi Septa
Comdent: Communication Student Journal Vol 3, No 2 (2025): November 2025 - April 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v3i2.62858

Abstract

Latar Belakang: Penutupan TikTok Shop pada 4 Oktober 2023 memberikan dampak negatif terhadap pelaku usaha yang mengandalkannya sebagai strategi pemasaran digital, termasuk Womenwear (@Womenwear_), bisnis fashion yang aktif menggunakan platform tersebut. TikTok Shop dan fitur live streaming menjadi sarana utama bagi Womenwear untuk membangun interaksi dengan audiens, menawarkan promo eksklusif, serta meningkatkan penjualan secara langsung. Akibat penutupan ini, Womenwear harus menyesuaikan strategi pemasaran dan mencari alternatif baru untuk tetap menjaga keterlibatan konsumen dan stabilitas penjualan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Womenwear dalam mempertahankan penggunaan live streaming sebagai sarana pemasaran pasca penutupan TikTok Shop tersebut, serta menganalisis upaya adaptasi yang dilakukan dalam menjaga keterlibatan konsumen dan keberlanjutan penjualan melalui platform alternatif. Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Penelitian ini menggunakan Model Promotional Mix George E. Belch dan Michael A. Belch. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara dengan empat informan, observasi, studi literatur, dan dokumentasi. Hasil: Hasil penelitian mengungkap bahwa peluang bagi Womenwear dalam mempertahankan live streaming sebagai sarana pemasaran terletak pada peralihan ke platform live streaming lain yang dapat dioptimalkan, misalnya melalui promosi eksklusif untuk menarik audiens. Tantangan yang dihadapi Womenwear meliputi perbedaan harga akibat perubahan platform, penurunan traffic, dan kurangnya pemahaman terhadap regulasi TikTok, yang menghambat penggunaan TikTok dan TikTok Shop setelah dibuka kembali.