Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Kejadian Infeksi Saluran Kemih oleh Bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae Extended Spectrum Beta Lactamase: Studi Kasus di Rumah Sakit Swasta Periode 2012-2015 Muhammad Nazmi; Ngakan Made Ari Mahardik; Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i62.1554

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang sering dijumpai, dimana terjadi invasi bakteri secara ascending dari urethra naik ke kandung kemih, ureter hingga ke ginjal. Bakteri yang sering menyebabkan ISK adalah Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Proteus species. E.coli dan K.penumoniae merupakan bakteri penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian ISK yang disebabkan oleh E.coli dan K. pneumoniae penghasil ESBL dan kecenderungannya dalam periode tahun 2012-2015. Sampel menggunakan data sekunder dari hasil kultur urin di laboratorium mikrobiologi klinik Rumah Sakit, berupa identifikasi bakteri E.coli dan K.pneumoniae serta pola kepekaan bakterinya periode tahun 2012-2015. Identifikasi dan pola kepekaan bakteri menggunakan pemeriksaan Vitek2 compact. Angka kejadian infeksi bakteri E.coli dan K.pneumoniae ESBL pada ISK periode 2012-2015 secara berurutan sebanyak 35% dari 323 kasus dan 45% dari 69 kasus ISK. Penderita ISK perempuan ditemukan lebih banyak daripada penderita laki-laki yaitu 67% dan 59% untuk E.coli dan K.pneumoniae. Berdasarkan unit di RS maka pada unit perawatan intensif paling banyak ditemukan kasus infeksi bakteri E.coli ESBL (42%) dibandingkan dengan unit lainnya pada unit rawat inap dan rawat jalan. Sebaliknya pada infeksi bakteri K.pneumoniae ESBL banyak ditemukan pada unit perawatan inap (58%). Angka kejadian ISK disebabkan K.pneumoniae semakin meningkat dari periode 2012-2015 dan sebaliknya terlihat kecenderungan menurun pada ISK yang disebabkan oleh E.coli. Kesimpulannya ISK yang disebabkan oleh K.pneumoniae ESBL terlihat kecenderungan yang meningkat di komunitas, dibandingkan dengan yang disebabkan oleh E.coli ESBL walaupun kasus ISK lebih banyak disebabkan oleh E.coli.Kata Kunci: Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Extended Spectrum Beta Lactamase, infeksi saluran kemih
Peran Berbagai Jenis Gen Virulensi Uropathogenic Eschericia coli (UPEC) dalam Pembentukan Biofilm Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1572

Abstract

Bakteri uropathogenic Escherichia coli (UPEC) merupakan bakteri penyebab tersering infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri UPEC memunyai gen virulensi yang memudahkan timbulnya ISK seperti P fimbriae (papC), type 1 fimbriae (fimA), afimbrial adhesin (afaI), hemolisin (hlyA), cytotoxic necrotizing factor (cnf 1), aerobactin (aer), S fimbriae (sfaS). Masing-masing dari gen virulensi ini memiliki perannya masing-masing dalam patogenesis ISK yaitu sistitis dan pielonefritis. Saat ini, banyak penelitian yang juga membahas hubungan faktor gen virulensi ini dengan kemampuannya membentuk biofilm, terutama pada bakteri UPEC penyebab ISK. Adanya kemampuan pembentukan biofilm dari bakteri UPEC pada ISK akan meningkatkan virulensi bakteri, sehingga terjadi peningkatan angka morbiditas dan kesulitan dalam terapi antibiotika dalam penatalaksanaannya.Kata kunci: Eschericia coli, UPEC, biofilm, gen virulensi
Evaluasi Metode Skrining Biofilm Enterococcus faecalis Isolat Klinik Kateter Urin Wani Devita Gunardi; Mohamad Yanuar Prasetyo Nugroho; Elisabeth D. Harahap
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i68.1701

Abstract

Laporan National Healthcare Safety Network dari tahun 2006 - 2008, menunjukan penyebab paling umum kedua infeksi saluran kemih (ISK) terkait kateter adalah genus Enterococcus setelah Eschericia coli. Pada infeksi saluran kemih terkait kateter urin, faktor yang berperan penting dalam patogenesis infeksi ini, yaitu: pembentukan biofilm pada kateter urin. Peranan Enterococcus faecalis sebagai penyebab infeksi saluran kemih berkaitan dengan kemampuannya dalam membentuk biofilm. Ada beberapa variasi metode untuk mendeteksi pembentukan biofilm seperti Tissue Culture Plate (TCP), Tube method (TM), dan Congo Red Agar (CRA). Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan metode deteksi pembentukan biofilm dari E. faecalis yang tepat, cepat, dan mudah dilakukan. Total tigabelas isolat bakteri E. faecalis yang didapat dari hasil isolasi kultur kateter urin dilakukan uji deteksi pembentukan biofilm dengan metode TCP sebagai baku emas dan CRA sebagai pemeriksaan pembanding. Hasilnya, didapatkan 61,5% dan 69,2% bakteri E. faecalis mampu menghasilkan biofilm menggunakan metode TCP dan CRA. Hasil uji diagnostik metode CRA dibandingkan dengan metode TCP untuk deteksi pembentukan biofilm, didapatkan sensitivitas dan spesifisitas dari CRA sebesar 75% dan 40%. CRA merupakan metode yang cepat dan mudah untuk dilakukan, namun memiliki spesifitas yang kurang baik. Hal ini dapat disebabkan pembacaan hasil yang bersifat subjektif dan menimbulkan kesalahan paralaks. Kata kunci : Enterococcus faecalis, Kateter Urin, Biofilm.
Pemeriksaan Diagnosis Laboratorium COVID-19: Keterbatasan dan Tantangannya Saat Ini. Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i2.2036

Abstract

Corona Virus Disease 19 (penyakit COVID-19) yang disebabkan oleh virus Corona pertama kali merebak di kota Wuhan di China pada akhir Desember 2019 dan masih berlangsung sampai dengan saat ini. Diagnosis COVID-19 biasanya didasarkan pada anamnesis riwayat perjalanan seseorang dari daerah pandemik, gejala klinis dan beberapa pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang cepat dan spesifik sangat diperlukan untuk mempercepat penanganan atau mengendalikan kasus. Sampai saat ini metode pemeriksaan yang cepat dan akurat masih terus dikembangkan. Oleh karena itu, pada tulisan ini akan dibahas mengenai beberapa metode pemeriksaan COVID-19, kelebihan dan kekurangannya serta cara memilih metode pemeriksan yang tepat. Metode yang akan dibahas antara lain yaitu metode molekuler, imunoserologi, radiologi, rapid antigen, GeNose, dan metode lainnya seperti nano-biosensor dan CRISPR.
Pengaturan Sistem Heating Ventilation and Air Conditioner (HVAC) untuk Pencegahan Kontaminasi SARS-CoV-2 dalam Ruangan Gratia Erlinda Tomasoa; Wani Devita Gunardi; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2379

Abstract

Virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2) termasuk dalam kelompok β-coronavirus yang merupakan virus RNA sense positif rantai tunggal dengan selubung lipid dan penyakit yang disebabkannya disebut Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19. World Health Organization (WHO) secara resmi menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemi global dan pemerintah di seluruh dunia mulai menerapkan strategi untuk memperlambat penyebaran infeksi. Penularan SARS-CoV-2 umumnya melalui droplet tetapi penularan secara airborne (aerosol) juga mungkin terjadi. Ventilasi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi transmisi secara airborne sehingga muncul pertanyaan tentang peran sistem heating, ventilation, and air-conditioning (HVAC) dalam penyebaran COVID-19 di lingkungan dalam ruangan. Penulis hendak mengkaji sumber-sumber kepustakaan yang tersedia yang membahas tentang kontaminasi udara dan area permukaan di lingkungan dalam ruangan dan pengaturan sistem HVAC dalam mencegah penyebaran SARS-CoV-2. Tulisan ini disusun dengan mengkaji 10 artikel jurnal penelitian yang berasal dari PubMed. Hasil kajian didapatkan bahwa pencegahan kontaminasi SARS-CoV-2 di dalam ruangan dengan sistem HVAC dapat dilakukan dengan meningkatkan laju ventilasi, menghindari sirkulasi udara kembali, menggunakan filter udara, ultraviolet germicidal irradiation (UVGI), serta rutin melakukan desinfeksi atau sterilisasi ruangan maupun permukaan.
Peranan Akar Manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai Terapi Alternatif Antivirus pada COVID-19 Berlianti Bulovannelisa Meykward Salamahu; Wani Devita Gunardi; Eva Oktavia
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2511

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang diakibatkan oleh infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi seluruh lapisan masyarakat dan berdampak buruk pada kesejahteraan manusia. Hingga saat ini, belum ditemukan terapi spesifik terhadap SARS-CoV-2 sehingga diperlukan agen terapeutik alternatif yang dapat mencegah maupun mengobati penyakit ini. Tanaman akar manis merupakan salah satu tanaman herbal yang telah menunjukkan kemampuan signifikan dalam menghambat replikasi SARS-CoV-1 sehingga memiliki potensi dalam terapi COVID-19. Dalam tinjauan pustaka ini, dilakukan analisis literatur menggunakan pangkalan data Pubmed guna mengetahui efek senyawa akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai antivirus, anti-inflamasi, dan imunomodulator yang dapat digunakan sebagai terapi alternatif pada penyakit COVID-19. Dari data yang didapatkan, ditemukan bahwa glycyrrhizin merupakan senyawa dengan mekanisme kerja paling luas pada beragam target protein SARS-CoV-2 dan dapat menghambat replikasi virus ini pada konsentrasi 0,5 mg/ml secara in vitro. Secara khusus, glycyrrhizin mampu bekerja pada 3CLpro, suatu target protein yang konsisten ditemukan pada strain virus SARS-CoV-2 sehingga menghindari resistensi akibat mutasi. Hasil tinjauan pustaka ini menunjukkan adanya peranan akar manis (Glycyrrhiza sp.) sebagai terapi alternatif antivirus pada COVID-19 melalui kerjanya secara langsung pada SARS-CoV-2 serta didukung oleh efek anti-inflamasi dan imunomodulasi yang signifikan.
Literature Review: Model Matematika Penyebaran Virus SARS-COV-2 pada Masa Pandemi COVID-19 Tahun 2020 Donna Mesina Rosadini Pasaribu; Ernawaty Tamba; Muhammad Faturrahman Adani; Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 29 No 2 (2023): MEI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v29i2.2607

Abstract

Pandemi COVID-19 dinyatakan sebagai Public Health Emergency of International Concern oleh WHO. Model Matematika penyebaran Susceptible-Infected-Recovered (SIR) dan model Susceptible-Exposed-Infected-Recovered (SEIR) digunakan dalam pemodelan penyakit menular dengan menghitung jumlah orang dalam populasi tertutup. Pemodelan matematika ini merupakan matematika epidemiologi untuk memahami dinamika populasi pada saat pandemi, dan acuan efektivitas kebijakan yang dilakukan selama pandemi. Literatur Riview ini bertujuan untuk mengetahui gambaran situasi pandemi COVID-19 berdasarkan model matematika SIR dan SEIR di beberapa negara tahun 2020. Data yang dipakai pada Literatur Riview ini adalah hasil penelitian, laporan dari lembaga terkait, situs web resmi jurnal dan beberapa situs berita resmi. Model SIR dan SEIR dengan baik menyajikan perubahan data COVID-19 dan model ini dapat memberikan panduan untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang evolusi pandemi COVID-19. Model Matematika SIR dan SEIR membantu pemerintah negara di dunia dan badan kesehatan dunia WHO, dalam membuat kebijakan pencegahan penularan dan pengendalian COVID-19.
DISTRIBUSI DAN POLA KEPEKAAN BAKTERI PATOGEN PADA UNIT PERAWATAN INTENSIF SEBUAH RS SWASTA DI JAKARTA Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Layanto, Nicolas
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P08

Abstract

HAIs merupakan infeksi yang didapat saat pasien mendapatkan perawatan kesehatan. Salah satu faktor terjadinya infeksi nosokomial adalah perawatan di ruang rawat intensif. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif potong lintang, menggunakan data sekunder dari data pola bakteri periode Januari – Desember 2020 di salah satu RS Swasta di Jakarta. Hasil penelitian didapatkan 5 bakteri terbanyak pada pasien infeksi di ruang perawatan intensif adalah A. baumannii 32,7%, K. pneumoniae 15,9%, S. maltophilia dan S. epidermidis masing-masing 12%, serta P. aeruginosa 10%. Dari hasil pola sensitivitas antibiotik, A. baumannii sensitif hanya terhadap Colistin (100%), K. pneumonia, cukup baik sensitivitasnya terhadap Amikacin (88,2%) dan Colistin (100%), S. maltophilia sensitif terhadap Trimethoprim-Sulfamethoxazole 84,6% dan Colistin 100%, sedangkan P. aeruginosa masih cukup sensitif terhadap Amikacin (72,7%), Ceftazidime dan Colistin masing-masing 75%.
POLA KEPEKAAN ANTIBIOTIK ORAL PADA INFEKSI SALURAN KEMIH KOMUNITAS PADA PASIEN PEDIATRIK RS X TAHUN 2022 Layanto, Nicolas; Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Rina, Veronica
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i03.P12

Abstract

Some pediatric urinary tract infection show unspesific symptoms and can be treated as an outpatient. Right oral antibiotic can prevent those infection become more severe. All urin sample from pediatic patient without history of antibiotic before sample were taken were collected for one year to get antibiotic pattern from oral antibiotic such as amoxicillin, amoxicillin clavulanat, cefixime, cotrimoxazole, and fosfomycin from all pathogen. All pediatric patient were classified by age. From 0-1 year group dan 1-3 years old group, Proteus mirabilis, Eschericia coli and Enterococcus sp. are the most common bacteria found while oral antibiotic with highest sentivity are cotrimoxazole and fosfomycin. Most Multi Drug Resistant bacteria found in this study were from 0-1 year old group
The Effect of Service Quality and Patient Satisfaction on Patient Loyalty Mediated by Patient Trust at Byor Skin Clinic Lepianda, Jessica; Gunardi, Wani Devita; Fushen, Fushen
Maneggio Vol. 1 No. 4 (2024): Maneggio-Aug
Publisher : Pt. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/xtsxb056

Abstract

Nowadays, women in Indonesia are very fond of the beauty and smoothness of the skin of Korean artists, along with the increasing trend of drama and KPOP in Indonesia, many are competing to do beauty treatments to be able to maintain their appearance and have white, clean, bright, glowing skin or what is currently often called clear skin. The increasing awareness of self-beauty treatments are in line with the beauty industry in Indonesia which also continues to grow, it can be seen from the increasing number of people who visit and perform treatments at beauty clinics and the increasing number of beauty clinics that we can find. Data were obtained through questionnaires distributed randomly. The analysis technique was SEM and using AMOS software version 23. Based on the analysis results, it was found that out of 7 hypotheses, there was 1 hypothesis that rejected, and other 6 hypotheses were accepted. The service quality has no positive effect to the patient loyalty, the patient satisfaction has positive effect to patient loyalty, patient trust has positive effect to patient loyalty, service quality has positive effect to patient trust, patient satisfaction has a positive effect to patient trust, patient trust has positive effect mediate service quality with patient loyalty, and the patient trust also has positive effect mediate patient satisfaction with patient loyalty.