Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilaliyah, Hilda; Setiawati, Sulis; Muzaki, Ahmad; Anam, Ahmad Khoiril; Rahman, Fauzi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilda Hilaliyah; Sulis Setiawati; Ahmad Muzaki; Ahmad Khoiril Anam; Fauzi Rahman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
Antroponimi, Penamaan Obat Generik Bermerek dan Konteks Linguistik Ana Atikah; Ahmad Khoiril Anam; Chadis Chadis; Yogi Purnama
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 8, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v8i1.8853

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penamaan obat generik bermerek di pabrik-pabrik obat yang berada di Bekasi, Indonesia, dengan fokus pada antroponimi sebagai simbol yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai perusahaan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data langsung melalui teknik wawancara yang direkam dan ditranskrip, serta melakukan analisis isi untuk mengorganisasi informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan obat didominasi oleh nama-nama yang berkaitan dengan penemu dan pembuat (80 temuan), diikuti oleh penamaan berdasarkan bahan (59 temuan) dan pemendekan (53 temuan). Temuan ini menunjukkan bahwa nama-nama obat bukan hanya berfungsi sebagai identifikasi produk, tetapi juga merefleksikan norma dan nilai-nilai yang dipegang oleh perusahaan, memberikan wawasan mendalam mengenai proses penamaan dalam industri farmasi lokal. Implikasi pedagogis dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman antroponimi dapat menjadi materi pembelajaran yang berharga dalam Bahasa Indonesia, mendorong siswa untuk memahami interaksi antara bahasa dan identitas kultural. Kontribusi teoretis penelitian ini memperkaya kajian antropolinguistik dengan menghubungkan proses penamaan produk dengan nilai-nilai sosial dan kultural yang lebih luas.
RELASI KUASA PADA TOPONIMI NAMA KOTA BEKASI, PROVINSI JAWA BARAT: ANALISIS WACANA KRITIS MODEL RUTH WODAK Ahmad Khoiril Anam; Yumna Rasyid; Miftahulkhairah Anwar
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 12 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v12i3.10085

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam dan kritis menggunakan model Ruth Wodak tentang Relasi Kuasa pada Toponimi Kota Bekasi dalam Buku Sejarah Bekasi (Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini), karya Endra Kusnawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Objek penelitian ini mencakup naskah Buku Sejarah Bekasi (Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini), karya Endra Kusnawan Bab Toponimi Bekasi. Berdasarkan analisis data, penulis dapat menyimpulkan: Naskah buku Sejarah Bekasi (Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini) karya Endra Kusnawan memenuhi unsur spesifikasi topik yang baik; strategi diskursif, strategi rekrutmen, strategi kredibilitas, strategi pendelegasian, strategi dramatisasi, strategi kontroversial; dan relasi kuasa makna-makna kebahasaan. Pada dasarnya, penamaan pada nama Kota Bekasi dari masa ke masa banyak dipengaruhi oleh kaidah-kaidah kebahasaan yang dianut tiap penguasa pada tiap zamannya. Kata kunci: analisis wacana kritis, relasi kuasa, toponimi,
TOPONIMI NAMA-NAMA KALURAHAN DI KOTA BEKASI (KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK) Rosmalia Herawati; Memmy Dwi Jayanti; Yulia Agustin; Ahmad Khoiril Anam
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 13 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v13i3.12657

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui asal-usul dan makna penamaan kelurahan di Kota Bekasi berdasarkan beberapa aspek, yaitu aspek perwujudan, kemasyarakatan, dan kebudayaan. Penulis berharap para pembaca dapat memahami proses pembentukan nama dan sejarah penamaan kelurahan di Kota Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, di mana penulis harus mencari narasumber dan melakukan wawancara. Setelah itu, penulis mengategorikan nama-nama kelurahan tersebut ke dalam beberapa aspek: aspek perwujudan yang terdiri dari latar perairan, latar rupa bumi, dan latar lingkungan alam; aspek kemasyarakatan yang terdiri dari kedudukan seseorang, profesi, dan pekerjaan; serta aspek kebudayaan yang terdiri dari folklor, mitos, dan sistem kepercayaan. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam menyusun langkah kerja. Setelah melakukan wawancara dan mengategorikan penamaan kelurahan ke dalam beberapa aspek, penulis menarik kesimpulan bahwa toponimi dan makna nama-nama kelurahan di Kota Bekasi didominasi oleh aspek perwujudan dengan rincian sebagai berikut: indikator latar lingkungan alam sebesar 40,6%, indikator latar perairan sebesar 17%, dan indikator latar rupa bumi sebesar 1,7%. Pada aspek kemasyarakatan, kedudukan seseorang memiliki persentase 15,2%, profesi 3,3%, dan pekerjaan 1,7%. Pada aspek kebudayaan, sistem kepercayaan memiliki persentase terbesar yaitu 10,3%, folklor 8,5%, dan mitos 1,7%. Secara keseluruhan, aspek perwujudan paling dominan dalam penamaan kelurahan di Kota Bekasi dengan persentase sebesar 60%, diikuti oleh aspek kemasyarakatan dan aspek kebudayaan masing-masing dengan persentase sebesar 20%.