Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilaliyah, Hilda; Setiawati, Sulis; Muzaki, Ahmad; Anam, Ahmad Khoiril; Rahman, Fauzi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
Antroponimi, Penamaan Obat Generik Bermerek dan Konteks Linguistik Atikah, Ana; Anam, Ahmad Khoiril; Chadis, Chadis; Purnama, Yogi
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 8, No 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v8i1.8853

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penamaan obat generik bermerek di pabrik-pabrik obat yang berada di Bekasi, Indonesia, dengan fokus pada antroponimi sebagai simbol yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai perusahaan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data langsung melalui teknik wawancara yang direkam dan ditranskrip, serta melakukan analisis isi untuk mengorganisasi informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan obat didominasi oleh nama-nama yang berkaitan dengan penemu dan pembuat (80 temuan), diikuti oleh penamaan berdasarkan bahan (59 temuan) dan pemendekan (53 temuan). Temuan ini menunjukkan bahwa nama-nama obat bukan hanya berfungsi sebagai identifikasi produk, tetapi juga merefleksikan norma dan nilai-nilai yang dipegang oleh perusahaan, memberikan wawasan mendalam mengenai proses penamaan dalam industri farmasi lokal. Implikasi pedagogis dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman antroponimi dapat menjadi materi pembelajaran yang berharga dalam Bahasa Indonesia, mendorong siswa untuk memahami interaksi antara bahasa dan identitas kultural. Kontribusi teoretis penelitian ini memperkaya kajian antropolinguistik dengan menghubungkan proses penamaan produk dengan nilai-nilai sosial dan kultural yang lebih luas.