Claim Missing Document
Check
Articles

LANGEN SEKAR PAMUJI ALIRAN BARU DALAM MUSIK RELIGI GEREJA KRISTEN JAWA DI SURAKARTA Sembodo, Midhang Langgeng; Sunarto, Bambang
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol. 14 No. 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v14i1.3815

Abstract

AbstraksiPenelitian yang disusun dalam karya tulis ilmiah ini mencoba menggali dan menemukan sebuah kepingan kecil mengenai ragam musik religi. Suatu aliran musik ‘baru’ yang disebut Langen Sekar Pamuji dideklarasikan pada tahun 1955 bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gereja Kristen Jawa Margoyudan yang ke-25 di Surakarta. Dekade 2000 ini, Langen Sekar Pamuji tetap bertahan bahkan mengalami perkembangan. Namun hingga kini, belum ada yang mencoba meneliti tentang seluk beluk Langen Sekar Pamuji. Ciri musikal dijadikan poin utama dalam pembahasan, agar terlihat sejauh mana batasan dan bentuk yang khas melalui kajian atas sejumlah karya yang dihasilkan Langen Sekar Pamuji. Selain itu, dibahas pula peran para Penyusun lagu atau gending serta respon civitas gereja yang menjadi faktor penentu atas perkembangan dari Langen Sekar Pamuji selanjutnya.Untuk membedah permasalahan yang diajukan, dipilih jenis penelitian kualitatif deskriptif yang ditinjau dari perspektif emik dengan metode pengumpulan data, validitas, dan analisis data. Ada pun landasan konseptual yang digunakan yaitu Garap dari  Supanggah yang menekankan pada ide, proses, tujuan, dan hasil garap. Selain itu, konsep kreativitas dari Sukerta yang mengatakan bahwa untuk penyusunan karya musik dibutuhkan perangkat, meliputi: keberanian, mencari yang baru dan tidak sekedar aneh.Hasil dari pencarian informasi mengenai ciri musikal dan perkembangan Langen Sekar Pamuji adalah pertama, kehadiran LSP di GKJ dapat diduga sebagai kelanjutan lambang perlawanan terhadap sistem liturgi di GKJ yang diatur sejak zaman Penjajahan Belanda. Kedua, LSP termasuk Aliran Baru dalam Musik Religi  Kristiani di Surakarta. Ketiga,  Ciri LSP adalah dihilangkannya garap abon-abon dan wangsalan di dalam sajiannya. Penghilangan ini dilakukan, karena menyangkut tentang hakikat suatu kotbah yaitu menyampaikan firman Tuhan yang dianggap suci dan serius. Keempat, Perkembangan LSP sangat ditentukan oleh perhatian civitas jemaat GKJ se-Klasis Surakarta dan Sinode Jawa Tengah. Peran lembaga Perguruan Tinggi Agama Kristen seperti Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta juga dinantikan kelanjutannya.Kata Kunci: Langen Sekar Pamuji, Ciri Musikal, Aliran Musik Gereja.
From Da’wah to Spectacle: Negotiating Sacred Space and Ritual Meaning in The Commodification of Sekaten Nugroho, Mukhlis Anton; Sunarto, Bambang; Setiyono, Budi
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v10i2.46339

Abstract

Abstract: This study examines how the Sekaten ritual in Surakarta has shifted from an Islamic da’wah-centred ceremony into a commodified cultural festival shaped by mass tourism and urban entertainment. Using a qualitative socio-cultural design grounded in cultural ethnography, the research draws on participatory observation conducted during the 2023–2025 celebrations at the alun-alun (town square), the Grand Mosque, the night market, and Bangsal Pagongan (theatre ward), alongside purposive interviews with abdi dalem (palace retainers), mosque administrators, vendors, and festival attendees. The analysis applies cultural transformation theory (Nasukah & Winarti, 2021), Lefebvre’s theory of the social production of space (Lefebvre, 1991), and ritual commodification theory (D. Picard & Robinson, 2006) to trace how shifts in actors, spatial organisation, and symbolic interpretation reorient the ritual’s meanings. Findings indicate that municipal institutions and market stakeholders are increasingly governing Sekaten through the dominance of the night market, commercial stages, and sponsorships, while traditional custodianship by the Kraton (palace) and Masjid Agung is becoming more marginal. Sacred elements, such as the Gamelan Sekaten (traditional music), Miyos Gangsa (ritual procession), and ritual symbols including nginang (chewing betel nut) and janur (decorated palm leaves), persist; yet, they often operate as aesthetic markers within a spectacle economy rather than as central media of religious pedagogy. This reconfiguration produces spatial secularisation as the alun-alun transitions from a sacred zone into a consumerist arena, and public participation shifts from spiritual aspiration towards leisure-oriented consumption, particularly among younger visitors. This study advances debates on religion, space, and heritage governance by demonstrating that ritual changes in contemporary Java reflect negotiated struggles over symbolic power—rather than mere cultural decline. It advocates for participatory preservation strategies that sustain both ritual meaning and physical form amid tourism-driven urban development.