Claim Missing Document
Check
Articles

Isolasi dan Identifiicasi Serologis Virus Avian Influenza Dari Sampel Unggas Yang Diperoleh di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah = Isolation and Serological Identification of Avian Influenza Virus From Poultry Sample ... Michael Haryadi Wibowo; Widya Asmara; Charles Rangga Tabbu
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3152.733 KB) | DOI: 10.22146/jsv.346

Abstract

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit penting pada unggas, karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi secara signifikan, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit sangat tinggi. L,ebih dan itu potensi penularan penyakit AI dari hewan ke manusia, memberikan dampak ekonomi tersendiri. Beberapa kasus yang diduga sebagai AI banyak mewabah di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit tersebut cukup membingungkan peternak dan sangat dikacaukan dengan penyakit Newcastle (ND) karena kedua penyakit mempunyai kemiripan karakter dan gejala klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi apakah wabah penyakit tersebut disebabkan oleh virus AI atau virus ND. Sampel isolasi diambil dari paru atau trakhea, kemudian diproses lebih lanjut untuk diisolasi, dipropagasi secara in ovo menggunakan telur ayam berembrio umur 9 sampai 12 hari, spesific pathogen free atau telur yang setidaknya bebas antibodi terhadap virus AI. Teknik isolasi menurut standar prosedur Office International des Epizooties (01E) dan kemungkinan adanya pertumbuhan virus diuji terhadap kemampuan mengaglutinasi sel darah merah ayam atau hemaglutinasi (HA). Uji HA positif, mengindikasikan ada pertumbuhan virus ND atau virus AL Kedua jenis virus tersebut dapat dibedakan dengan uji hemaglutinasi inhibisi (HI) menggunakan serum anti dari masing-masing virus yang diuji. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa beberapa sampel unggas, yaitu: ayam petelur, ayam broiler, ayam kampung, dan burung puyuh, yang di peroleh dari beberapa daerah di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah dan secara klinis menunjukkan gejala tersifat maupun tidak tersifat AI, secara serologis dapat dikonfirmasi sebagai virus avian influenza sub-tipe 145Ni.
Karakterisasi Hemaglutinin Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah = Characterization of Haemagglutinin of Streptococcus agalactiae and Staphylococcus aureus on ... Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni; I Wayan Teguh Wibawan; Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.366

Abstract

Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus merupakan dua bakteri utama penyebab mastitis subklinis pada sapi perah di Indonesia. Pada mastitis subklinis kemampuan adesi mempunyai peran lebih penting dari pada kemampuan invasi. Hemaglutinin merupakan faktor yang berperan dalam proses adesi, sebagai langkah awal kolonisasi bakteri pada permukaan set epitel ambing. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi hemaglutinin dari S. agalactiae dan S. aureu. Penentuan hemaglutinin S. agalactiae dan S. aureus dengan uji hemaglutinasi menggunakan eritrosit sapi perah 1%. Isolasi hemaglutinin dilakukan dengan afinitas kromatogarfi dan analisis dengan Sodium Dodecyl Sulphate-Polyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Hasil penelitian diketahui bahwa hemaglutinin S. agalactiae dan S. aureus dapat ditentukan dengan SDS-PAGE dengan berat molekul 28 kDa pada S. agalactiae dan 27 kDa pada S. aureus.
Perbandingan beberapa program vaksinasi penyakit newcastle pada ayam buras Michael Haryadi Wibowo; Surya Amanu
Jurnal Sain Veteriner Vol 28, No 1 (2010): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4409.3 KB) | DOI: 10.22146/jsv.446

Abstract

.
IDENTIFIKASI SEROLOGIS VIRUS INFECTIOUS LARYNGOTRACHEITIS ISOLAT MANGESTONI FARM DENGAN UJI AGAR GEL PRESIPITASI DAN UJI NETRALISASI Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2958.792 KB) | DOI: 10.22146/jsv.493

Abstract

.
Comparation Protection Level of Newcastle Disease in Broiler Sarwo Edy Wibowo; Widya Asmara; Michael Haryadi Wibowo; Bambang Sutrisno
Jurnal Sain Veteriner Vol 31, No 1 (2013): JULI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1180.682 KB) | DOI: 10.22146/jsv.2625

Abstract

Newcastle Disease (ND) is both  respiratory and digestive diseases in poultry caused by avian paramyxovirus type 1 (APMV-1). Field data showedthat there were still many cases of Newcastle Disease faced by farmers despite of vaccination programs had been  doneroutinely. The aim of this research is to find out the effectiveness of  some routine ND vaccination program in broiler chiken challengedeither with viscerotropic velogenic Newcastle Disease (VVND) virus or virulent ND virus from field isolates. One hundred broiler chickens were divided into 4 groups of 25 each. In theGroup I,vaccination was carried out at day 1 with combination of ND-IB live vaccineand ND killed vaccine, and booster at day 18 with live ND vaccine, in the Group II, chickens were vaccinated with live ND-IB vaccine at day 1 and day 18 and  in the Group III, chickens  were vaccinated with live ND-IB vaccine at day 1 and vaccinated with ND live vaccine at day 18. Challenge test performed in twenty broiler chickens of each group with virulent ND that has chicken lethal dose fifty (CLD50) 4,8. Virus preparation 26 and then diluted to 10-4, to obtain dilution 10000. Twenty chicken from each group were then given 0.5 cc dilution of 6 HA virulent virus at 28 days of old. Six challenged chicken from group I showed ND clinical symptom and were eventually death.  This mean that the vaccine program provided 70% protection. Whereas all challenged chicken from the Groups II and III were sick, then died meaning that these vaccination programs did not give any protection at all. Bsed on the present study, it is concluded that the administration of ND live vaccine priming along with ND killed vaccine is needed to improve the protection against velogenic NDV.    
Isolation and Identification of Egg Drop Syndrome Virus with Hemagglutination and Hemagglutination Tests Fidyah Fitrawati; Michael Haryadi Wibowo; Surya Amanu; Bambang Sutrisno
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 1 (2015): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.063 KB) | DOI: 10.22146/jsv.8107

Abstract

Egg drop syndrome (EDS) is a disease that attacks layer hens in the production phase causing failure of peak eggs production, decreased in eggs production, and presence of eggs without shell. This study was conducted to isolate and identify the EDS virus in the chicken layer that was diagnosed as a disease of EDS by hemagglutination (HA) and  hemagglutination inhibition (HI) assays. Specific pathogen free (SPF) layerchickens which were passing through the production phase fed with food which was mixed with egg without shell from SR/WNO/2011. The chicken together with chicken FF/Sleman/2011 were dissected when pathological lesions, such as the dents or palor eggs observed. The uterine tissues were then collected for samples. Infundibulum of chicken FF/Sleman/2011 was explored and was found out that the eggs were lack ofegg shells. The eggs were then washed using sterile PBS. The three subsequent samples were propagated in the allantoic fluid of embryonated duck eggs for 16 days. Allantoic fluid was harvested after being incubated for 4 days. It was then tested by HA and HI assay by use of avian influenza virus (AIV), Newcastle disease virus (NDV), and EDS anti serum. The HA and HI test with EDS anti serum used chickens erythrocytes in percentageof 0,8. The HA test in uterine sample of both SR/WNO/2011 and FF/Sleman/2011 showed the titer 23 HA units and egg washed water sample of FF/Sleman/2011 showed titer 22 HA units. The HI test for comparison with ND and AI anti serum was negative, while the test with EDS anti serum showed positive results. Based on the HA and HI test results, it was concluded that the virus grown in the allantoic fluid is EDS virus.
Deteksi Molekuler Virus Infectious Bursal Disease (IBD) pada Samp l Bursa Fabrisius yang Diperoleh dari Ayam Terdiagnosa Penyakit IBD Michael Haryadi Wibowo; Radhian Fadiar; Dito Anggoro; Sidna Artanto; Surya Amanu; Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1648.66 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17890

Abstract

Kasus penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) dewasa ini masih sering ditemukan pada peternakan ayam komersial baik layer maupun broiler di Indonesia. Diagnosis penyakit IBD sejauh ini mengandalkan lesi patologik spesifik dan kultur in ovo dengan mengamati lesi makroskopis embrio, serta diidentifikasi dengan uji agar gel presipitasi (AGP). Penelitian ini bertujuan menerapkan diagnosis dengan teknik reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) dari sampel Bursa Fabrisius (BF) sebagai konfirmasi pada kasus terdiagnosa IBD. Deteksi serologis virus IBD dengan uji AGP dengan sumber antigen chorioallantoic membrane (CAM) dan embrionya, untuk melihat potensinya sebagai sumber antigen uji AGP. Sampel BursaFabrisius sebanyak 5 yang diperoleh pada kasus terdiagnosa IBD, dikoleksi dari peternakan ayam komersial di Yogyakarta. Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan metode RT-PCR. Sampel positip uji RT-PCR yang mengamplifikasi fragmen gen VP2. Isolasi virus IBD yang dilakukan kultur in ovo pada telur ayam berembrio (TAB) antibodi negatif terhadap virus IBD, berumur 11 hari. Desposisi materi inokulasi dilakukan pada (CAM), diinkubasi selama lima hari. Panen virus dilakukan dengan mengkoleksi membran korioalantois dan embrio, selanjutnya diamati lesi makroskopis yang timbul akibat infeksi virus IBD. Membran korioalantois dan embrioselanjutnya digerus dan diproses sebagai suspensi antigen yang digunakan dalam uji AGP. Hasil uji RT-PCR terhadap lima sampel Bursa Fabrisius yang dikoleksi dari peternakan ayam terdiagnosa penyakit IBD, tiga sampel menunjukkan hasil positif teramplifikasi fragmen gen VP-2 virus IBD dengan produk amplifikasi sebesar 440 bp, sedangkan dua sampel sisanya menunjukkan hasil negatif. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil positip 2 dari 3 sampel yang diuji, sedangkan sumber antigen embrio menunjukkanhasil negatif. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa uji RT-PCR dapat digunakan dalam mendeteksi virus IBD dari sampel BF terdiagnosa IBD. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil lebih baik dari pada embrionya.
Karakterisasi Gen Non Struktural 1 (NSI) Virus Avian Influenza pada Isolat Itik Tahun 2013 Nur Khusni Hidayanto; Widya Asmara; Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.282 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17919

Abstract

Wabah avian influenza (AI) di Indonesia telah terjadi sejak akhir tahun 2003 dan masih terjadi secara endemis sampai sekarang. Pada akhir tahun 2012 terjadi kasus kematian yang cukup tinggi pada itik yang disebabkan penyakit AI subtipe H5N1 yang diklasifikasikan ke dalam clade 2.3.2, sedangkan virus AI sebelumnya diklasifikasikan pada clade 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3. Salah satu yang berperan dalam virulensi penyakit AI adalah motif asam amino C-terminal protein nonstruktural1 (NS1). Analisis sekuens virus influenza terutama protein nonstruktural 1 (NS1) yang berasal dari unggas mempunyai motif asam amino ESEV pada Cterminal sedang pada virus influenza manusia mempunyai motif RSKV pada C-terminal. Data sekuen NS1 untuk virus AI terbaru belum lengkap sehingga perlu disekuen untuk melengkapi data molekuler NS1 virus AI.Residu C-terminal protein NS1 virus avian influenza subtype H5N1 perlu dikaji karena mempengaruhi patogenisitas dan virulensi virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif asam amino pada C-terminal protein nonstruktural 1 (NS1) virus avian influenza yang menyerang itik pada tahun 2013. Sampel berasal dari kasus AI pada itik di Tulungagung dan Blitar pada tahun 2013. Isolasi virus menggunakan telur berembrio tertunas ayam. Identifikasi virus AI subtipe H5N1 menggunakan teknik reverse transcription polimerase chain reaction (RT-PCR) dengan primer H5 (Lee et al., 2001) dengan target amplifikasi 545 bp dan primer N1 (Payungporn et al., 2004) dengan target amplifikasi 131 bp. Amplifikasi gen NS1 menggunakan RT-PCR dengan 2 pasang primer (Bannet-Noah et al., 2007) yang didesain mengamplifikasi gen NS dan dilanjutkan proses sekuensing gen NS1. Sekuen yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan software MEGA 5.05 yang meliputi multiple alignment, prediksi asam amino dan analisis pohon filogenetik. Hasil sekuen isolat diperoleh panjang nukleotida yang mengkode protein NS1 sepanjang 690 nt. Hasil analisis pohon filogenetik menunjukkan bahwa ke lima isolat uji tidak berada satu grup dengan dengan isolat asal Indonesia tahun 2003- 2008 dan berdekatan dengan klaster virus AI yang berasal dari Asia clade 2.3.2. Pada semua isolat tahun 2013 ditemukan delesi asam amino pada posisi 80-84, substitusi asam amino D92E, asam amino 149 semua isolat mempunyai asam amino alanine (A), asam amino ke 196 ditemukan adanya variasi substitusi berupa lysine (K) dan glutamic acid (E) dan asam amino pada gen NS1 mempunyai motif ESEV pada posisi PDZ ligand.
Pengembangan Deteksi Aeromonas hydrophila pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dengan Metoda Agar Gel Presipitasi di Yogyakarta Surya Amanu; Tri Untari; Michael Haryadi Wibowo; Sidna Artanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.96 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17921

Abstract

Aeromonas hydrophila telah diidentifikasi sebagai agen penyebab penyakit pada ikan Nila.Mikroorganisme ini diketahui patogen terhadap manusia terutama sebagai penyebab gastroentritis, meskipun demikian, belum dilaporkan adanya infeksi pada manusia di Yogyakarta. Uji karakteristik biokimiawi dapat mengarahkan pada diagnosa yang kurang akurat, oleh karena itu terdapat kebutuhan untuk mengembangkan metode yang lebih spesifik dan akurat, yaitu dengan metode agar gel presipitasi (AGP). Dua sampel yang dikoleksi berasal dari lokasi budidaya ikan Nila di Yogyakarta yang terjadi outbreak A. hydrophila dengan mortalitas lebih dari 50%. Antigen terlarut yang tahan terhadap panas dipersiapkan dari 4 kultur isolat murni yang diperoleh untuk uji AGP. Antiserum yang digunakan untuk uji pada sumuran adalah antiserum A. hydrophila (ATCC 35654) yang diproduksi dengan menginokulasikan whole-cell antigen (heat-stable) dan antigen flagellar (formalin-killed) pada kelinci. Kontrol positif yang digunakan untuk uji ini berasal dari A. hydrophila (ATCC 35654), dan kontrol negatif berasal dari Edwardsiella tarda (E. tarda) ATCC 15947 dan Aeromonas salmonicida (A. salmonicida). Antiserum yang digunakan terhadap kultur isolat murni dan juga kontrol positif menunjukkan adanya reaksi positif saat diujikan menggunakan metode AGP. Hasil reaksi positif adalah dengan adanya pembentukan garis presipitasi diantara sumuran antiserum dan antigen, sedangkan hasilnegatif tidak menunjukkan adanya garis presipitasi tersebut. Hasil dari uji ini menunjukkan bahwa AGP dapat dianggap sebagai metode yang dapat digunakan dan diandalkan (reliable) untuk mengidentifikasi A. hydrophila. Hasil yang sama ditunjukkan melalui uji AGP terhadap antiserum pada isolat A. hydrophila yang berasal dari isolat sampel ikan Nila dari Yogyakarta serta A. hydrophila sebagai kontrol positif (ATCC 35654).
Newcastle Disease Virus Detection from Chicken Organ Samples Using Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction Lehgarubini Shanmuganathan; Dito Anggoro; Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 35, No 1 (2017): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.211 KB) | DOI: 10.22146/jsv.29300

Abstract

Newcastle disease (ND) is a systemic, viral respiratory disease that is acute and easily transmitted which affects various types of poultry, especially chickens. Diagnosis of ND which generally involves virus isolation and subsequent identification with serological assays has limitations that needs more time. This research was aimed to detect Newcastle Disease virus (NDV) in chickens suspected with ND using the Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) technique. Nine chicken organ samples such as lien, trachea, and lungs were collected from chicken farms diagnosed with ND. The organ samples were processed and the targeted viral RNA was extracted using the RNA extraction kit. Genome amplification was performed with RT-PCR using specificprimers to target the F gene. Amplification results produced an amplicon product of 565 base pairs (bp). PCR product samples were then visualised using agar gel electrophoresis and viewed using the unified gel documentation system. Amplification results show nine samples positive for the DNA bands corresponding to the targeted band of the NDV F gene fragment. The results of this research confirm that the RT-PCR method is applicable for NDV detection from chicken organ samples.
Co-Authors Ade Erma Suryani Aditya Ahkami Pratomo AETH. Wahyuni AETH. Wahyuni, AETH. Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni Agnesia Endang Trihapsari Wahyuni Agus Eko Srihanto Agus Eko Srihanto, Agus Eko Agustina Dwi Wijayanti Ahmad Sofyan Akbar Agus Anshori Mussama Anastasia Endang Tri Hastuti Wahyuni Antasiswa Windraningtyas Rosetyadewi Arfian Rahma Shanti Arini Nurhandayani Aris Haryanto Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Charles Rangga Tabbu Charles Rangga Tabbu Claude Mona Airin Damairia, Bernike Anggun Devi Yunita Sari Dewi Noor Hidayati Dini Wahyu Yudianingtyas Dito Anggoro Dito Anggoro Dito Anggoro Dyah Ayu Widiasih Eko Agus Srihanto Eko Agus Srihanto Eko Agus Srihanto Eko Agus Srihanto, Eko Agus Ferdinand Prayogo Cahyo Santoso Fidyah Fitrawati Fransiskus Trisakti Haryadi Hendra Herdian Herawati, Okti Heru Susetya I Nyoman Suarsana I Wayan Suardana I wayan Teguh Wibawan Ifah Khairunnizak Iwan Harjono Utama Khrisdiana Putri Khrisdiana Putri, Khrisdiana Koichi Akiyama Krisdiana Putri Lehgarubini Shanmuganathan Liza Angeliya Liza Angeliya Liza Angeliya Lusty Istiqomah Maria Anggita Marla Anggita Maxs Urias Ebenheizer Sanam Medania Purwaningrum Mohammad Faiz Karimy Niken Respati Maharani Nur Khusni Hidayanto Nyoman Reishita Andriyani Purnama Edy Santosa Radhian Fadiar Rahmat Setya Adji Rahmat Setya Adji Ratna Ermawati Rini Widayanti Risang Aji Dewandaru Santoso, Ferdinand Prayogo Cahyo Sari, Desi Puspita Sarwo Edy Wibowo Sidna Artanto Sidna Artanto Sidna Artanto Sidna Artanto Sidna Artanto Sidna Artanto, Sidna Sitarina Widyarini Siti Andarwarti Sri Handayani Irianingsih Sugiyono Sugiyono Surya Amanu Surya Amanu Surya Amanu Surya Amanu Surya Amanu Surya Amanu Surya Amanu Syarifah Alawiyah Tri Guntoro Tri Untari Tri Untari Tri Untari Tri Untari Tri Untari Ukon Susetyo Widagdo Sri Nugroho Widya Asmara Widya Asmara Widya Asmara Widya Asmara Widya Asmara Yuli Purwandari Kristiangingrum Yustina Yuni Suranindiyah