Gunawan Dwi Haryadi
Department Of Mechanical Engineering, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH SUHU TEMPERING TERHADAP KEKERASAN, KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA K-460 Haryadi, Gunawan Dwi
ROTASI Volume 8, Nomor 2, April 2006
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.739 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.8.2.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kekerasan logam yaitu baja k-460. Baja k-460mempunyai kekerasan yang tinggi dan diharapkan mempunyai keuletan. Dengan tempering baja akan menambah sifatsifatnya,seperti kekerasan, keuletan dan tegangan tariknya..Hasil pengujian yang telah dilakukan setelah proses tempering dengan variasi suhu telah merubahkekerasannya. Kekerasan baja setelah pemanasan menurun ketika suhu tempering dinaikkan. Perubahan suhutempering juga mempengaruhi nilai kekuatan tarik. Pada suhu 100oC kekuatan tarik maksimumnya 2014,8 Mpa, danpada suhu 200oC, 300oC, dan 400oC masing-masing kekuatan tarik maksimumnya adalah 1671,1 Mpa, 1444,6 MPadan 1023,3 MPa.Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai kekerasan, kekuatan tarik dan struktur mikro dipengaruhi olehsuhu tempering. Ketika suhu tempering dinaikkan kekerasan dan kekuatan tariknya akan menurun.
The relationship between heel pad compressibility index, age, body mass index and foot area contact in calcanea spur patients Wibowo, Dwi Basuki; Suprihanto, Agus; Haryadi, Gunawan Dwi
ROTASI Vol 22, No 3 (2020): VOLUME 22, NOMOR 3, JULI 2020
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/rotasi.22.3.188-193

Abstract

This study was performed to investigate the relationship between heel pad compressibility index (HPCI), age, body mass index (BMI) and (FAC) for calcanea/heel spur patients. Thirteen patients with a symptomatic heel spur (3 males and 10 females) participated in this study. The HPCI increased with age and HPCI of the elderly is greater than the adult. The HPCI increased with pain minimum compressive pressure (PMCP) indicated HPCI are all significantly greater in patients with plantar heel pain than in normal subjects. The BMI increased with FAC is caused by BMI and FAC of males is greater than females. The PMCP decreased with BMI indicated that patient with excessive body mass will make experience more pain. The result of pain measurement showed that there are 7 patients who indicated the abnormality (the PMCP value is lower than 2 kg/cm2). From this study, it can be concluded that the quantitatively pain level is worst when PMCP< 2.0 kg/cm2, it is severe when 3.0> PMCP ≥ 2.0 kg/cm2 and it is moderate when PMCP≥3.0 kg/cm2
Perhitungan Lifetime Prediction Pada Komponen Kritis Centrifugal Pump Menggunakan Metode Weibull Haryadi, Gunawan Dwi; Suprihanto, Agus; Butarbutar, Martin
ROTASI Vol 23, No 3 (2021): VOLUME 23, NOMOR 3, JULI 2021
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/rotasi.23.3.1-8

Abstract

Bencana alam utama yang dihadapi Kota Semarang adalah banjir dengan genangan yang cukup lama. Salah satu upaya mencegah dan mengurangi dampak dari bencana banjir yaitu dengan menggunakan pompa di daerah titik – titik rawan banjir di Kota Semarang. Pompa mengubah energi mekanik dari suatu penggerak menjadi energi potensial berupa head, sehingga fluida cair tersebut berpindah dan memiliki tekanan sesuai dengan head yang dimilikinya. Diperlukan juga maintenance yang tepat untuk memaksimalkan peforma dari Centrifugal Pump. Dengan tujuan memaksialkan peforma, diperlukan sistem perawatan yang tepat untuk meminimalisirkan downtime. Weibull adalah metode yang tepat untuk menentukan yang termasuk bagian kritis dan bagian tidak kritis dan sering digunakan dalam menentukan tingkat kegagalan atau kerusakan dari pola data yang terbentuk. Hasil yang diperoleh dari pengujian dengan menggunakan metode ini terdapat 3 komponen kritis yang sama yaitu pada mechanical seal, bearing, shaft. Nilai MTTF dari mechanical seal, bearing, shaft adalah 194.18 jam, 194.37 jam, 194.24 jam. Nilai keandalan mechanical seal 1, bearing 1, shaft 1 adalah 50%, 47%, dan 47%. Periodic Maintenance yang diperoleh berdasarkan hour meter (HM) dari tiap pompa.Kata kunci: Centrifugal Pump, Komponen Kritis, Weibull, Lifetime Prediction, Reliability.
Pengaruh Penambahan Mn 1,3% dan Quenching Pada Besi Cor Kelabu Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanis Gunawan Dwi Haryadi; Dwi Basuki Wibowo; Sumar Hadi Suryo; Budi Setiyana; I.M.W EKAPUTRA
TRAKSI Vol 21, No 1 (2021): TRAKSI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/traksi.21.1.2021.38-55

Abstract

Besi cor kelabu merupakan salah satu material yang paling sering digunakan karena mudah dibentuk dalam bentuk rumit, proses pembuatan yang mudah, mudah dalam proses pemesinan, dan harganya yang relatif murah. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan unsur mangan dan proses quenching terhadap nilai kekerasan dan perubahan struktur mikro yang terbentuk. Karakteristik dari besi cor kelabu ditentukan oleh kadar karbon yang terdapat di dalam struktur pembentuknya. Untuk meningkatkan sifat mekanis, besi cor kelabu dapat ditambahkan unsur paduan lain yang sesuai, salah satunya adalah unsur mangan. Unsur mangan dapat meningkatkan kekerasan besi cor kelabu. Selain penambahan unsur paduan lain, untuk meningkatkan sifat mekanis besi cor kelabu dapat dilakukan dengan proses perlakuan panas quenching. Penambahan unsur mangan sebesar 1,3% ini dilakukan ketika proses pengecoran besi cor kelabu dilakukan dengan metode open ladle. Mangan disebut sebagai unsur penstabil austenite penggalak pearlite Unsur mangan dapat menurunkan temperatur eutectoid yang mengakibatkan kisaran austenite meningkat, sehingga fase yang dominan terbentuk adalah pearlite. Besi cor kelabu terbentuk akibat pendinginan lambat ketika proses pengecoran, sehingga laju pendinginan lambat ini mengakibatkan fase austenite cenderung berubah membentuk pearlite.. Proses quenching dilakukan untuk melihat adanya perubahan fase yang terjadi. Pemanasan pada suhu 9000C mengakibatkan karbon terdifusi untuk membentuk struktur lain ketika dipanaskan, selanjutnya dilakukan proses pendinginan cepat menggunakan media air. Hasil pengujian kekerasan pada spesimen, terlihat kekerasan tertinggi dimiliki besi cor kelabu Fc-25 dengan Mn 1,3% setelah quenching sebesar 433,943 kg/mm2, dibandingkan dengan tanpa perlakuan memiliki kekerasan sebesar 224,336 kg/mm2. Pada spesimen besi cor kelabu Fc-25 setelah quenching memiliki kekerasan sebesar 173,743 kg/mm2, dibandingkan dengan tanpa perlakuan memiliki kekerasan sebesar 153,221 kg/mm2. Hasil yang didapatkan dari pengujian ini adalah unsur mangan dan proses quenching dapat meningkatkan nilai kekerasan dari spesimen pengujian.
LIFETIME PADA PIPA GAS LURUS 14 MENGGUNAKAN METODE RISK BASED INSPECTION BERDASARKAN API 581 Gunawan Dwi Haryadi; Ismoyo Haryanto; Dwi Basuki Wibowo; Agus Suprihanto
TRAKSI Vol 19, No 1 (2019): TRAKSI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.875 KB) | DOI: 10.26714/traksi.19.1.2019.34-47

Abstract

Korosi terjadi tanpa mengenal waktu di segala aspek kehidupan manusia dan dapat mengakibatkan banyak kerugian. Di industri minyak dan gas, kerugian yang terjadi akibat korosi berdampak pada penurunan kualitas material yang digunakan. Dua hal ini berarti berhubungan dengan lamanya operasional alat berfungsi atau kemampuan jangka panjang dari suatu alat dan kemungkinan terjadinya kegagalan pada peralatan yang digunakan. Sehingga jika korosi menyerang, maka selain kerugian finansial yang dialami. Sehingga jika korosi menyerang maka selain kerugian finansial yang dialami, kerugain juga berdampak terhadap lingkungan sekitar dan juga safety dari pekerja dan masyarakat sekitar juga bisa terjadi. Oleh karena itu inspeksi terhadap peralatan yang ada penting untuk dilakukan. Indonesia yang masih mengacu pada inspeksi berdasarkan jangka waktu (time based inspection) masih memberikan peluang untuk terjadinya kegagalan pada peralatan yang digunakan. Oleh karena itu penting untuk menggunakan acuan lain seperti inspeksi berdasarkan tingkat risiko (Risk-Based Inspection)/RBI.Hasil penelitian menunjukan bahwa dari pipeline yang dianalisa yakni berdiameter 14” dengan lama penggunaan 8 tahun memiliki nilai 1C yang berarti berstatus risiko low medium dan mendapatkan respon corrective maintenance. Usulan inspeksi yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan visual, ultrasonic straight beam, eddy current, flux leakage, radiography, dan pengukuran dimensi. Usulan waktu inspeksi yang dapat dilakukan kembali adalah 3 tahun kemudian. Nilai rendah yang diperoleh melalui penelitian ini dikarenakan pipa memiliki system inspeksi yang baik sehingga nilai TMSF tidak mengalami pertambahan yang signifikan
PENGARUH PERLAKUAN ANIL TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO PADA SAMBUNGAN LAS PIPA BAJA Z 2201 Heru Danarbroto; A.P. Bayu Seno; Gunawan Dwi Haryadi; Seon Jin Kim
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Las  listrik frekuensi tinggi  (high frequency welding) merupakan salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan untuk mengelas pipa baja karbon rendah. Luasnya pemakaian las  ini disebabkan karena  pengelasan  dilakukan  secara    otomatis serta memiliki kehandalan yang cukup tinggi. Ketangguhan dan ketahanan fatik las dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya masukan panas, fluks, kecepatan las  dan laju pendinginan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kekuatan    las dengan proses anil berbagai variasi temperatur 4000 C, 5000 C, 6000 C, 7000 C, dan 8000C  dan  waktu tahan  60 menit dari proses anil pada pipa baja JIS Z 2201 dengan  diameter =25,9mm,  tebal=  1,9 mm.  Eksperimen dilakukan dengan menggunakan struktur mikro dan nilai kekerasan (miro vickers). Pengujian didapatkan dari hasil pelebaran ukuran dark band efek dari variasi temperatur (post weld heat treatment) pada batas sambungan baja karbon (base metal dan weld metal), serta terjadinya pengkasaran butir pada daerah HAZ pada baja karbon yang berstruktur full ferit. Nilai kekerasan daerah dark band ini lebih tinggi dibanding daerah lainnya, dan menurunnya nilai kekerasan pada daerah HAZ, sehingga akan menimbulkan kegagalan jika pipa ini semakin lama dipakai pada aplikasi ini. Kata Kunci    : Kekerasan, proses anil, sifat mekanis, dan struktur mikro
PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGELASAN GMAW BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK AISI 316L TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK Harlian Kadir; Gunawan Dwi Haryadi; Sri Nugroho; Kim Jeon
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis Pengelasan baja tahan karat austenitik AISI 316L banyak di aplikasikan pada bidang konstruksi dan pembuatan komponen. Permasalahan pengelasan baja tahan karat austenitik AISI 316L adalah menurunnya kualitas hasil las akibat masalah penggetasan oleh endapan halus karbida krom diantara batas butir dan juga ketahanan korosi menjadi berkurang. Pada sisi lain baja tahan karat austenitik AISI 316L akan mengalami kekurangan krom pada daerah fusi karena terbentuknya krom karbida. Metoda penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan kecepatan pengelasan  gas metal arc welding (GMAW) secara semiotomatis pada pelat baja tahan karat austenitik AISI 316L dengan tebal 3 mm,menggunakan kawat elektroda pejal ER 308L dengan diameter 0.8 mm,pada kecepatan pengelasan bervariasi 175 mm/menit,190 mm/menit,205 mm/menit,dengan arus las 140A, pada polaritas arus direct current electrode positive (DCEP). Dilakukan beberapa pengujian kekerasan,dan pemeriksaan struktur mikro pada daerah terpengaruh panas (HAZ) dan daerah fusi las. Kata kunci: AISI 316L, DCEP, ER308L, HAZ, krom karbida, krom oksida, kecepatan pengelasan.
Pembuatan dan Pengujian Alat Pengukur Temperatur pada Rem Tromol Kendaraan Roda Dua dengan Remote Measuring System Hanny Widura Septriana; Gunawan Dwi Haryadi; Mochammad Ariyanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 5, No 1 (2017): VOLUME 5, NOMOR 1, JANUARI 2017
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.045 KB)

Abstract

Kegagalan pada sistem pengereman banyak berakibat fatal yang berujung kecelakaan, salah satu penyebabnya yaitu Brake Fade. Penyebab dari brake fade adalah temperatur pengereman yang melebihi temperatur maksimum material kampas rem tersebut, sehingga terjadi penurunan koefisien gesek (daya pengereman). Maka dari itu pada penilitian ini dilakukan untuk menganalisa pengaruh temperatur pengereman terhadap koefisien gesek, pengurangan ketebalan, dan waktu pengereman. Jenis rem yang digunakan merupakan rem tromol dengan kampas rem dari beberapa merk diantaranya, merk AHM, merk Indopart, merk Binapart, dan kampas rem OES. Metode pengujian yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan dua metode, metode pertama adalah melakukan pengereman dari variasi RPM hingga kondisi steady, dan metode kedua yaitu melakukan pengujian braking cycle dimana pengereman dilakukan tiap 500 RPM dengan penahanan waktu 2 menit. Pengukuran temperatur pengereman dengan menggunakan infrared thermometer dan thermocouple yang menjadi rangkaian RMS-Brake. Pengukuran waktu pengereman dan ketebalan kampas rem sebelum dan setelah pengujian juga dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap temperatur pengereman. Dari hasil pengujian, merk AHM fading pada temperatur 281,4˚C dengan koefisien gesek 0,0998, merk Indopart fading pada temperatur 229,7˚C dengan koefisien gesek 0,108175, merk Binapart fading pada temperatur 218,4˚C dengan koefisien gesek 0,099842, dan kampas rem OES fading pada temperatur 250,4˚C dengan koefisien gesek 0,102478. Selain itu, terdapat pula pengaruh temperatur terhadap pengurangan ketebalan kampas rem, dimana merk OES merupakan yang paling baik karena mengalami pengurangan ketebalan paling rendah dibanding yang lain yaitu sebesar 0,25 mm untuk mencapai temperatur 179,3˚C. Dan untuk pengaruh temperatur terhadap waktu pengereman, semua merk memiliki waktu pengereman yang relatif kecil, namun didapat merk OES paling sedikit melepas panas dengan delta temperatur 0,49˚C.
PENGARUH PROSES NORMALIZING TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA SAMBUNGAN LAS THERMITE SIMILLAR BAJA UIC-54 (Union Internasionale des Chemins de fer -54) Adityo Ristyanto; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.863 KB)

Abstract

Salah satu penerapan metode pengelasan saat ini adalah pengelasan thermite yang merupakan pengembangan dari proses pengelasan yang umum dilakukan. Penerapannya terutama dalam bidang yang besar seperti rail crane, rel kereta api, gear yang besar, atau patahan pada komponen-komponen peralatan yang ukurannnya besar, ataupun perbaikan instalasi rel kereta api. Namun di Indonesia sendiri masih jarang digunakan. Pengelasan thermite adalah reaksi eksotermik antara alumunium dan besi oksida yang menghasilkan baja lebur yang kemudian dituangkan ke dalam suatu cetakan yang akan di-las. Dari pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa adanya penyetaraan nilai kekerasan dari base metal, HAZ (Heat Affected Zone), dan weld metal yang disebakan adanya pengaruh post weld heat treatment normalizing. Nilai kekerasan tertinggi pada daerah base metal terletak pada temperatur 850 ˚C, kekerasan tertinggi pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) terletak pada temperatur 850˚C, dan kekerasan tertinggi pada daerah weld metal terletak pada temperatur 775 ˚C. Hasil pengelasan dari kedua sisi bahan baja UIC-54 (Union Internasionale des Chemins de fer-54) menghasilkan tiga daerah utama yaitu daerah logam dasar, daerah terpengaruh panas HAZ (Heat Affected Zone), dan daerah logam las. Dalam proses pengelasan thermite, bagian sambungan yang di las menerima panas pengelasan setempat dan selama proses berjalan suhunya terus berubah sehingga distribusi menjadi tidak merata. Karena panas tersebut, maka pada bagian terjadi pengembangan thermal, sedangkan bagian yang dingin tidak berubah sehingga terbentuk penghalang pengembangan yang menyebabkan terjadinya peregangan. Akibat peregangan ini akan timbul tegangan tetap yang disebut tegangan sisa.
ANALISIS RELIABILITY KOMPONEN KRITIS ELECTRIC SUBMERSIBLE AXIAL FLOW PUMP BERKAPASITAS 2000 LITER PER DETIK MENGGUNAKAN PROBABILITY PLOT DAN ROOT CAUSE ANALYSIS Athanasius Soedira; Gunawan Dwi Haryadi; Khoiri Rozi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 10, No 2 (2022): VOLUME 10, NOMOR 2, APRIL 2022
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis ekuator dan beriklim tropis sehingga memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Curah hujan tropis merupakan variabel atmosfer yang paling penting, karena dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan manusia. Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang mengalami permasalahan banjir hingga saat ini, sehingga pompa merupakan salah satu bagian yang sangat berperan penting dalam membantu menanggulangi masalah banjir. Electric Submersible Axial Flow Pump adalah pompa yang umumnya dimasukkan ke dalam lubang dan berfungsi untuk menaikkan fluida kerja dari bawah dengan digerakkan oleh motor listrik. Untuk menjaga performa dan kualitas dari pompa agar tetap dapat beroperasi secara optimal, maka diperlukan sebuah sistem perawatan atau maintenance yang baik dan terjadwal. Salah satu metode untuk kegiatan perawatan yang lebih terjadwal mengacu pada keandalan dari masing-masing komponen kritis pada pompa. Keandalan didapatkan dengan menggunakan probability plot dan metode root cause analysis untuk menentukan penyebab kerusakan pada komponen kritis. Hasil yang diperoleh pada analisis tersebut ialah terdapat empat komponen kritis yaitu mechanical seal – 105, seal bushing – 104a, seal ring – 154b, dan seal ring – 104. Nilai MTTF masing-masing komponen kritis yaitu mechanical seal – 105 adalah 1399,23 jam, seal bushing – 104a adalah 1392,74 jam, seal ring – 154b adalah 1392,74 jam, dan seal ring – 104 adalah 1392,74 jam. Berdasarkan HM (Hour Meter) juga didapatkan nilai keandalan masing-masing komponen kritis yaitu mechanical seal – 105 adalah 49,02%, seal bushing – 104a adalah 55,65%, seal ring – 154b adalah 55,65%, dan seal ring – 104 adalah 55,65%. Jadwal periodic maintenance dibuat berdasarkan HM (Hour Meter) dari setiap komponen pompa.
Co-Authors A.P. Bayu Seno Adhityo Sarwo Nugroho Adibawa, Adham Adhwa Adityo Ristyanto Agus Suprihanto Agus Suprihanto Agus Suprihanto Agus Suprihanto Agus Tri Hardjuno Agus Tri Hardjuno Agus Tri Hardjuno Agy Randhiko Al Azis, Bimasakti Sulthan Amrizal, Abdi Gilang Andrea Tri Wibowo Arijanto Arijanto Arya Erlangga Athanasius Soedira Aulia Rahman Berlin, Rilo Billy Boazter Sebastian Siregar Bintang Satria Hartadi Budi Setiyana Butarbutar, Martin Chrisman Chrisman Deivandra Ginanjar Bhakti Deka Setyawan Diwonsyah, Fadel Muhammad Djarot B Darmadi Djoeli Satrijo Dwi Basuki Wibowo Dwi Basuki Wibowo Ekaputra, I. M. W. Eko Saputra Farhani, Ilham Fakhri Fidrioza Althaf Ferdinand Fitriyana, Deni Fajar Garry Rahadian Muslim Glenn Natanael Samudera Grandy Yustisio Rizaldi Ginting Haira, Mahmuda Hanif, Dimas Naufal Hanifa, Kana Hanny Widura Septriana Harlian Kadir Heru Danarbroto Hocky Adiatmika Huda Fathu Rohman I Made Wicaksana Ekaputra I.M.W EKAPUTRA Ian Wiharja Ian Yulianti, Ian Ignatius Devin Gunawan Ikhsan Aresy Ismoyo Haryanto Ismoyo Haryanto Jericho Jericho Joga Dharma Setiawan Joshua Misael Juan Pratama Anandika Karomi, Dimas Adib Khoiri Rozi Khoiri Rozi Khoiri Rozi Kim Jeon Korna Ariesta Kustomo, Himawan Kristian Kustomo, Himawan Kristian Lie, Calvin M Rafly Rafiqi Matheus Agung Putra Yoga Mhd. Brian Awiruddin Mochammad Ariyanto Mohammad Fauzan Muhammad Ali Yafi Muhammad Fachry Ramadhany Muhammad Fakhri Aji Pratomo Muhammad Zahran Ramadhan Munadi Munadi Norman Iskandar Norman Iskandar Nurul Widiyanto Ojo Kurdi Pratomo, Muhammad Fakhri Aji Purbonugroho, Hanindhieto Dias Andra Purwiantoro, Arman Rafi Ziyad Akbar Rando Tungga Dewa Reihan Rahmadi Rhyienaldi Hardian Dhammaputra Rifky Ismail Rusaily, A. Wildan Sadrach Othniel David Raja Seon Jin Kim Seon Jin Kim Setyoko, Adi Tri Sianipar, Daniel Sri Nugroho Sri Nugroho Stefanus Prasetyo Sulardjaka Sulardjaka Sumar Hadi Suryo Susanto, Alexander Eka Susilo Adi Widyanto Sutopo, Farrel Rico Alifta Utomo, Angelius Fredy Wahyu Eko Purnomo Waruwu, Kezia Gracelynn Wibisono, Yustinus Akas Yonathan Jalu Bagaskara Yusuf Umardani