Claim Missing Document
Check
Articles

Eksplorasi Vegetasi Kawasan Hutan Pantai Sebagai Atraksi Edu-Wisata Di Pantai Gatra Dusun Sendang Biru Desa Sitihatjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang Sitti Nor Fajariyah; Ratna Djuniwati Lisminingsih; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.133 KB)

Abstract

Gatra Beach in Malang Regency has the concept of ecotourism, but the reality is this beach for camping that is at risk of damaging vegetation in Gatra beach. The purpose of this study are to find out the structure and composition of the Gatrah beach vegetation, knowing the perception of tourists on the vegetation of Gatra beach and knowing the potential of Gatra beach vegetation as a tourist attraction. The method used is the belt-transect method with four stations. Analyses are used i.e., RFC analysis and the SWOT analysis. Analysis of the results obtained by the two vegetation formations that make up the beach Gatra i.e. formation Barringtonia and the formation of lowland forests. Formation Barringtonia found 10 species with index value important highest are Barringtonia asiatica (65,9) and Samanea saman (57,6) Formation the lowland forest found 11 species with index value important highes Musa acuminate (80,2) and Samanea saman (59,5). Tourist perceptions of species of interest in the Barringtonia formation is Samanea saman (0,29), while species of interest in lowland forest formation is Musa acuminata (0,11). So that the beach of Gatra has the potential as an edu-tourism attraction area. Keywords: analysis of vegetation, RFC, tourist attractions, ecotourism, Barringtonia ABSTRAK Pantai Gatra di kabupaten Malang memiliki konsep ekowisata, namun kenyataan di lapangan pantai Gatra menjadi tempat berkemah yang beresiko merusak vegetasi pantai Gatra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi pantai Gatra, mengetahui persepsi wisatawan terhadap vegetasi pantai Gatra dan mengetahui potensi vegetasi pantai Gatra sebagai atraksi wisata. Metode yang digunakan yakni metode belt-transek dengan empat stasiun. Analisis yang digunakan melalui analisis RFC dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua formasi yang menyusun pantai Gatra yakni formasi Barringtonia dan formasi hutan dataran rendah. Formasi Barringtonia dengan 10 spesies, indeks nilai penting tertinggi yakni Barringtonia asiatica (65,9) dan Samanea saman (57,6). Formasi hutan dataran rendah dengan 11 spesies, indeks nilai penting tertinggi spesies Musa acuminata (80,2) dan Samanea saman (59,5). Persepsi wisatawan terhadap spesiesdiminati pada formasi Barringtonia adalah Samanea saman (0,29), sedangkan pada formasi hutan dataran rendah yakni spesies Musa acuminata (0,11). Sehingga pantai Gatra berpotensi sebagai kawasan atraksi edu-wisata. Kata kunci: analisis vegetasi, RFC, atraksi wisata, ekowisata, Barringtonia
Etnobotani Aspek Pemanfaatan dan Konservasi Katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) pada Masyarakat Pandalungan Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan Elmi Zakiah; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.01 KB)

Abstract

Katuk is one of the many floras that grow on Indonesian soil, one of which is in the Pasuruan area. Katuk plants have many benefits for humans, including can be used as food ingredients in the form of vegetables and traditional medicines. Traditional uses of plants that emphasize the cultural relationship of the community with plant resources in their environment, directly or indirectly, are called ethno botany studies. This study aims to determine the public perception about aspects of knowledge, utilization and conservation strategies of katuk plants in Prigen District, Pasuruan Regency. This research uses descriptive qualitative method by conducting observations, questionnaires, interviews, and documentation. The results showed that as many as 42% of respondents used katuk in the field of food, 27% in the health sector, 19% as hedgerows, 12% in the economic field. The part of the katuk plant that is widely used is the leaf part. The distribution of katuk in Klataan sub-village consists of 11 points with a total of 63 individuals, and there are 10 points in Tonggowa sub-village with 49 individuals. Keywords: Ethnobotany, Sauropus androgynus L. Merr, Prigen district ABSTRAK Katuk merupakan salah satu flora yang banyak tumbuh di tanah Indonesia, salah satunya di daerah Pasuruan. Tanaman katuk memiliki banyak manfaat bagi manusia, diantaranya dapat dijadikan sebagai bahan dasar makanan berupa sayur serta obat-obatan tradisional. Pemanfaatan tumbuhan secara tradisional yang menekankan pada hubungan budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung di sebut dengan kajian ilmu etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pengetahuan, pemanfaatan dan strategi konservasi tanaman katuk di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara melakukan observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 42 % responden memanfaatkan katuk dibidang pangan, 27 % bidang kesehatan, 19 % sebagai tanaman pagar, 12 % dibidang ekonomi. Bagian tanaman katuk yang banyak digunakan adalah bagian daun. Distribusi katuk di dusun Klataan terdapat 11 titik dengan jumlah 63 individu, dan di dusun Tonggowa terdapat 10 titik dengan jumlah 49 individu. Kata kunci: Etnobotani, Sauropus androgynus L. Merr, Kecamatan Prigen
Eksplorasi Pengetahuan Masyarakat Pandalungan Terhadap Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan Khamidatul Ula; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.413 KB)

Abstract

Moringa oleifera is the traditional medicinal plant in Indonesia and it has a complete source of nutrition and it is beneficial to human health from its roots, stems, leaves and fruit. The utility of plants in life is a part of Botany that can be studied through the branch of Biology, Ethnobotany. The aims of this study was to determine the benefits, description and distribution of Moringa plants in Jatiarjo and Dayurejo Village in Prigen District, Pasuruan. This study uses descriptive methods which include: literature study, field observations, structural interviews and open manner, data analysis and documentation of the distribution of Moringa oleifera villages. The results of this study indicate the potential of Moringa oleifera plant in Dayurejo Village as a traditional medicine of 28%, a food ingredient of 30%, a hedgerow of 20%, traditional ritual of 10%, and an additional economic value of 12%. Whereas in Jatiarjo Village as food of 40%, traditional rituals of 10%, additional economic value of 6%, a hedgerow of 12% and a traditional medicine of 32%. The organ plant of Moringa oleifera which are leaves utilizing are 54% in Dayurejo and 60% in Jatiarjo Village. The number of Moringa oleifera was found 79 individuals in hamlet of Klataan and 35 in Tonggowah. Keywords: Ethnobotany, Prigen Pasuruan Moringa oleifera. ABSTRAK Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman obat tradisional di Indonesia dan ia memiliki sumber nutrisi yang lengkap dan bermanfaat bagi kesehatan manusia baik akar, batang, daun dan buah. Pemanfaatan tumbuhan dalam kehidupan manusia adalah bagian dari Botani yang dapat di kaji melalui cabang ilmu Biologi yaitu Etnobotani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat, deskripsi dan distribusi tanaman Moringa oleifera di Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang meliputi: studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara dilakukan secara terstruktur dan terbuka, analisis data, dan dokumentasi persebaran tanaman Moringa oleifera. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya potensi tanaman Moringa oleifera di Desa Dayurejo sebagai obat tradisional 28 %, sebagai bahan pangan 30 %, sebagai tanaman pagar 20 %, ritual adat 10 %, dan tambahan nilai ekonomi 12 %, pada Desa Jatiarjo 40 % sebagai bahan pangan, 10 % ritual adat, 6 % sebagai tambahan nilai ekonomi, 12 % sebagai pagar dan 32 % sebagai obat tradisonal. Bagian organ tanaman Moringa oleifera yang di manfaatkan daun 54 % pada Desa Dayurejo dan 60 % Desa Jatiarjo. Jumlah Moringa oleifera yang ditemukan sebanyak 79 individu di Dusun Klataan dan 35 individu di Dusun Tonggowah. Kata kunci: Etnobotani, Prigen Pasuruan, Moringa oleifera.
Diversitas dan Asosiasi Tumbuhan Liar pada Lahan Padi (Oryza sativa) dan Jagung (Zea mays) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang Ifadotul Lailatussholiha; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.662 KB)

Abstract

The research aims to find out the diversity and association between wild plant species on rice fields (Oryza sativa) and corn (Zea mays) at technical unit of Singosari Seed Crop Development, Malang Regency. In this study using the survey method, by observing directly any wild plants found in the fields of rice and corn. The exploration of wild plants was carried out by exploratory methods, namely observing wild plants found around rice and maize plantations in predetermined plots. Analysis of the data used is the Shannon-Wienner Diversity Index and Pielou Evenness Index. Whereas to find out the association between wild plant species that is by calculating the Chi-square test based on the results of the 2x2 contingency table whose value is obtained from the presence or absence of speces in a plot. Furthermore, to find out the positive or negative interactions that occur, the correlation coefficient calculation is also based on the 2x2 contingency table. The results obtained for the highest Diversity Index value of 2.729 was on land II from the corn field. Whereas the high palin value of Pielou's Tightness Index of 0.371 is on land II from the corn field. Keywords: Diversity, association, wild plants ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui diversitas dan asosiasi antar spesies tumbuhan liar pada lahan tanaman padi (Oryza sativa) dan jagung (Zea mays) di UPT Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini mengunakan metode Eksploratif, dengan mengamati langsung setiap tumbuhan liar yang terdapat pada lahan tanaman padi dan jagung. Pengambilan sampel tumbuhan liar dilakukan cara purposive sampling yaitu mengamati tumbuhan liar yang terdapat di sekitar pertanaman padi dan jagung pada plot-plot yang sudah ditentukan. Analisis data yang digunakan yaitu Indeks Keanekaragaman shannon-Wienner dan Indeks Kemerataan Pielou. Sedangkan untuk mengetahui asosiasi antar spesies tumbuhan liar yaitu dengan menghitung uji Chi-square berdasarkan hasil tabel kontingensi 2x2 yang nilainya didapatkan dari ada atau tidak adanya spesies dalam suatu plot. Selanjutnya untuk mengetahui positif atau negatifnya interaksi yang terjadi dilakukan perhitungan koifisien korelasi yang juga didasarkan pada tabek kontingensi 2x2. Hasil yang didapatkan untuk Indeks Keanekaragaman yaitu nilai paling tinggi berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 2,729. Sedangkan nilai paling tinggi dari Indeks Kemeratan Pielou berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 0,371. Kata kunci: Diveritas, asosiasi, tumbuhan liar.
Studi Etnobotani dan Distribusi Tanaman Siwalan (Borassus flabillifer) di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Suku Madura Niqrisatut Thibab; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.245 KB)

Abstract

Siwalan merupakan produk unggulan daerah yang dapat diangkat menjadi produk unggulan nasional. Tumbuhan siwalan yang seluruh bagiannya dimanfaatkan bagi masyarakat desa. Salah satu tanaman siwalan banyak tumbuh di Desa Gapura Timur yang terletak di Kecamatan Gapura Kaupaten Sumenep yang luas wilayahnya 582 Ha dengan jumlah penduduk 2.656 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pemanfaatan dan konservasi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dan untuk mengetahui distribusi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif, analisis datanya menggunakan Uji validitas dan Reabilitas, hasil penelitian untuk responden didata dari jenis kelamin, pekerjaan , pendidikan, usia sedangkan hasil uji validitasnya berjumlah 96,37 dibulatkan menjadi 100, persepsi masyarakat dalan aspek konservasi dan pemanfaatanyya yaitu di ambil 50% untuk dusun battangan dan 50% dan distribus pada tanaman siwalan terdapat di dusun pangabasen karena mayoritas masyarakatnya mengelolah tanaman siwalan, penyebarannya terdapat di 3 lokasi yaitu di perkebunan masyarakat, pinggir jalan dan pekarangan rumah. Kata kunci: Etnobotani, Distribusi, Tanaman Siwalan
Keanekaragaman Koloni Mikroorganisme Rizosfer Lahan Tebu (Saccharum officinarum) Pada Penggunaan Pupuk Bio-Slurry dan Pupuk Kimia Adifatul Ismy; Ahmad Syauqi; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.477 KB)

Abstract

The diversity of microorganisms is very important in the balance of soil ecosystems is also an indicator of soil health and can affect the condition of plants that grow on it. Rizosphere is a part of the soil around the root of a plant. The activity of some rhizosphere microorganisms plays a role in the nutrient cycle and the process of soil formation, plant growth, affecting microorganism activity, and as biological control of root pathogens. The research objective was to determine the value of the sugarcane (Saccharum officinarum) rhizosphere microorganism index using Bio-slurry and chemical fertilizers. This study uses descriptive explorative methods. The data analyzed in the form of measurement of pH, number of microorganism colonies and diversity index. Diversity of Colonies Rhizosphere microorganisms Sugarcane land that uses Bio-slurry and those using Chemical Fertilizer are classified as low respectively 0.47 and 0.69. Colony groups found in each land are bacteria and fungi. Keywords: Diversity, Rizosphere, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Chemical Fertilizers ABSTRAK Keanekaragaman mikroorganisme sangat penting dalam keseimbangan ekosistem tanah juga merupakan indikator kesehatan tanah dan dapat mempengaruhi kondisi tanaman yang tumbuh di atasnya. Rizosfer merupakan bagian tanah yang berada di sekitar perakaran tanaman. Aktivitas beberapa mikroorganisme rizosfer berperan dalam siklus hara dan proses pembentukan tanah, pertumbuhan tanaman, memengaruhi aktivitas mikroorganisme, serta sebagai pengendali hayati terhadap patogen akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks keanekaragaman mikroorganisme rizosfer tebu (Saccharum officinarum) yang menggunakan Bio-slurry dan pupuk kimia. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif eksploratif. Data yang dianalisis berupa hasil pengukuran pH, jumlah koloni mikroorganisme dan indeks keragaman. Keanekaragaman koloni mikroorganisme rizosfer lahan tebu yang menggunakan Bio-slurry dan yang menggunakan Pupuk kimia tergolong rendah masing-masing bernilai 0,47 dan 0,69. Kelompok koloni mikroorganisme yang ditemukan pada masing-masing lahan yaitu bakteri dan jamur. Kata kunci: Keanekaragaman, Rizosfer, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Pupuk Kimia
Studi Etnobotani Jahe (Zingiber officinale) pada Masyarakat Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan Husnul Hotimah; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.424 KB)

Abstract

Ginger (Zingiber officinale) is a plant belonging to the Rhizoma group, ginger plants are relatively easy to find and its use has expanded not only for cooking purposes, but also for health, Ginger or commonly called "Jheih" in Madura is a plant that has often been used by the Banyior community as food or traditional medicine or more commonly called jamu or "jhemoh" in the Maduran language. In general, drinking herbs which are formulated from plants has become the habit of Maduran families and communities. This study aims to determine the public perception of the benefits of Ginger plants in the Banyior Village, Sepulu District, Bangkalan Regency. This study uses descriptive exploratory methods which include: literature studies, field observations, interviews, data analysis, and documentation of the distribution of ginger plants. The results of this study indicate the potential of Ginger plants in Banyior Village as food ingredients 54%, and as traditional medicine 46%. The ginger plant parts that are used are 38% leaves, 50% rhizomes, 12% stems. The number of ginger found was 7 clusters in Sabungan Hamlet and 6 clumps in Lenden Hamlet
Distribusi Temporal Populasi Serangga pada Tanaman Padi (Oryza sativa) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Malang alfira khullatun ni'am; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.267 KB)

Abstract

The rice plant (Oryza sativa.) is an important food crop which is a staple food for more than half of the world's population because it contains nutrients that the body needs. Rice production in East Java in 2011 experienced a significant decline in production i.e. 9.2% and declined again in 2013 (1.2%) with an average productivity (5.9) 1. Problems in agriculture are inseparable from the role of insects as pests. Decrease in production can occur due to insect pests. The purpose of this study was to identify the types of insects on rice fields, to find out the number of insects found based on the temporal distribution of rice fields in Technical implementation unit of Palawija Seed Development of Singosari, Malang, Research has been conducted on the temporal distribution of insect populations on rice plants by using temporal replication or time in three time periods, namely morning period (06.00-09.00), morning-noon (09.00-12.00), and afternoon (13.00-16.00). The observation parameters were done to measure abiotic factors including: temperature, humidity, wind speed, and light intensity and biotic factor measurements; insect identification, insect status determination, and insect distribution. The results of the identification of insects found there were nine species, seven kinds of families, and five orders of insects that had different statuses including predators and pests. The nine insects species include Agriocnemis pygmae, Diplacodes trivialis, Crocothermis servilia, Menochilus sexmaculata, Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Schirpophaga innotata, Junonia almana, Zelus luridus. There are the effect of abiotic factors on the number of insects. Keywords: rice (Oryza sativa), insect population, insect status. ABSTRAK Tanaman padi (Oryza sativa) merupakan tanaman penting yang menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia karena mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Produksi padi di Jawa Timur pada tahun 2011 terjadi penurunan produksi yang cukup signifikan yaitu 9,2% dan kembali menurun pada tahun 2013 (1,2%) dengan rata-rata produktivitas (5,9)-1. Permasalahan di bidang pertanian tidak terlepas dari peran serangga sebagai hama. Penurunan produksi dapat terjadi karena serangga hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi macam-macam serangga pada lahan tanaman padi, mengetahui jumlah serangga yang ditemukan berdasarkan distribusi temporal pada lahan tanaman padi di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Benih Palawija Singosari Malang. Ulangan waktu pada tiga periode waktu yaitu Periode pagi (06.00-09.00), Siang (09.00-12.00), dan sore (13.00-16.00). Parameter pengamatan dilakukan pengukuran factor abiotik meliputi suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan intensitas cahaya dan pengukuran factor biotik meliputi identifikasi serangga, penentuan status serangga, dan distribusi serangga. Hasil identifikasi serangga ditemukan ada sembilan macam spesies serangga, tujuh macam familia, dan lima ordo serangga yang memiliki status yang berbeda meliputi predator dan hama. Sembilan species serangga tersebut meliputi Agriocnemis pygmae, Diplocodes trivialis, Crocothermis servilia, Menochilus sexmaculata, Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Schirpophaga innotata, Junonia almana, Zelus luridus. Terdapat hubungan antara factor abiotik kecepatan angin terhadap jumlah serangga. Kata Kunci: padi (Oryza sativa), populasi serangga, status serangga.
Studi Persepsi Masyarakat Tentang Agroforestri Tanaman Kopi di Desa Patokpicis Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Afrian syarif Hidayat; Saimul Laili; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6: Edisi Khusus Tafsir I tentang Masyarakat-Lingkungan-Hayati
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.689 KB)

Abstract

Coffee crop agroforestry is a forest plantation system (mixed) with a coffee plant base that is in accordance with the plantation system in Indonesia, which has good ecological service value. Patokpicis village has long time used coffee agroforestry systems. The two types of coffee planted, namely Robusta (Coffea canephora) and Arabica coffee (Coffea arabica). The agroforestry namely simple and complex which has 27 species of shade and intercropping plants dominated by Sengon (Paraserianthes falcataria), Mahogany (Swietenia macrophylla) and Pinus (Pinus merkusii), for intercropping plants dominated by Elephant Grass (Pennisetum purpureum schaum), Talas (Colocasia esculenta Scho) and Chili (Capsicum annuum). The community perceptions value of coffee plant agroforestry with parameters measuring aspects of knowing, accepting, and liking high value and aspects of trusting the value is very high. The percentage value of the concencus index is the use of coffee plant parts on seeds (100%), fruit (100%), leaves (64.5%), stems (71.8%), with significant reliability tests at the levels of 0.001 and 0.005. Value r count> r tabel (0.088). Key words: Public perception, coffee plants, agroforestry the coffee plants ABSTRAK Agroforestri tanaman kopi merupakan sistem kebun hutan (campur) dengan basis tanaman kopi yang sesuai dengan sistem perkebunan di Indonesia yang memiliki nilai layanan ekologis yang baik. Desa Patokpicis sejak lama menggunakan sistem agroforestri kopi. terdapat 2 jenis kopi yang ditanaman yaitu kopi Robusta (Coffea canephora) dan kopi arabika (Coffea arabica) dengan 2 jenis agroforestri yaitu kompelks dan sederhana yang memiliki 27 jenis tanaman penaung dan tumpangsari yang didominansi oleh Sengon (Paraserianthes falcataria), Mahoni (Swietenia macrophylla) dan Pinus (Pinus merkusii ), untuk tanaman tumpang sari didominansi oleh Rumput Gajah (Pennisetum purpureum schaum), Talas (Colocasia esculenta Scho) dan Cabai (Capsicum annuum). Nilai persepsi masyarakat terhadap agroforestri tanaman kopi dengan parameter pengukuran aspek mengenal, menerima, dan menyukai yang bernilai tinggi dan pada aspek mempercayai nilai sangat tinggi. Nilai persentase Indeks concencus pemanfaatan bagian tanaman kopi pada Biji (100%), Buah (100%), Daun (64.5%), Batang (71.8%), dengan uji reabilitas signifikan pada taraf 0,001 dan 0,005. Nilai r_hitung > r_tabel (0,088). Kata kunci: Persepsi masyarakat, tanaman kopi, agroforestri kopi
Isolasi, Keanekaragaman Koloni dan Karakterisasi Bakteri Metanogenik pada Sedimen Kolam Ikan Lele (Clarias sp.) Badi'ah Lailun Nahdhlia; Ahmad Syauqi; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6 No 1 (2020): Kondisi Habitat
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.448 KB)

Abstract

Bakteri metanogenik adalah bakteri penghasil gas metan. Bakteri ini digolongkan sebagai Archaebacteria yang secara alami hidup di rawa-rawa, tanah becek, kolam dan dalam alat pencernaan hewan besar. Sedimen pada kolam ikan mengandung elemen nutrien yang terbentuk dari aktivitas makhluk hidup seperti sisa pakan dan kotoran ikan sehingga menjadi habitat yang sangat mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri metanogenik dan nilai indeks keanekaragaman pada sedimen kolam ikan lele (Clarias sp.) serta karakter bakteri metanogenik. Pengambilan sampel berasal dari kolam ikan lele (Clarias sp.) di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan yaitu teknik isolasi anaerobik menggunakan media thioglikolat, morfologi sel dengan pewarnaan gram dan fisiologi dengan MR-VP. Hasil yang didapatkan adalah dalam sedimen kolam ikan lele (Clarias sp.) terdapat bakteri metanogenik dengan nilai indeks keanekaragaman koloni kolam A lebih tinggi dibanding kolam B. Keduanya menunjukkan keanekaragaman rendah. Kata kunci : bakteri, metanogenik, sedimen. ABSTRACT Methanogenic bacteria are methane gas producing methane. This bacteria are classified as Archaebacteria which naturally live in swamps, muddy soil, ponds and in the digestive organs of large animals. Sediments in fish ponds contain nutrient elements which are formed from the activity of living things such as food waste and fish feces making it a habitat that strongly supports the growth of microorganisms. The study aimed to determine the presence of methanogenic bacteria and the diversity index value in catfish (Clarias sp.) pond sediments and the characteristics of methanogenic bacteria. Sampling came from catfish (Clarias sp.) ponds in Bendosewu village, Talun sub-district, Blitar district. The method used is anaerobic isolation technique using thioglycolate medium, cell morphology with gram staining and physiology with MR-VP. The result obtained were in catfish (Clarias sp.) pond sediments there were methanogenic bacteria with a diversity index of pond A colonies higher than pond B colonies. Both are showing low diversity. Keywords :bacteria, methanogenic, sediment.
Co-Authors Ach Jailani Adi Suryo Purnomo Adifatul Ismy Adimas, Lastya Affan, Muhammad Afrian syarif Hidayat Ahmad Mijwad Rajab Ahmad Syauqi ahmad syauqi, ahmad alfira khullatun ni'am Amalia Kamelia Amin Setyo Leksono Amin Setyo Leksono Andaresta, Olivia Anindyta Robiatul Adawiyah Annisa, Silvia Apria Ningsih Ari Hayati Ari Hayati Arifianti, Eka Nur Ayu Naila Nahdiyah Badi'ah Lailun Nahdhlia Baihaqi Musytawan Basyariyah, Iflahatul Devi Qurroti A'yun Dewi Vebriyanti Eka Nur Arifianti Elmi Zakiah Fairuz Qory Amalia Faizah Shodirun Faizah Shodirun, Faizah Fauzilah, Isma Febrian Priska Amalia Putri Fitria Fitria Hamdani Dwi Prasetyo Hari Santoso Hari Santoso Hari Santoso Hari Santoso Hayat Hidayatul, Romdiyah Hildasari, Nourma Hotimah, Sitti Norul Husain Latuconsina Husnul Hotimah Ifadotul Lailatussholiha Iflahatul Basyariyah illah, Muhamad Atho' Isma Fauzilah Istipsaroh Saroh Istipsaroh Saroh, Istipsaroh Istiqomah ISTIQOMAH, LAILATUL Izzatul Bahriyah Izzatul Bahriyah, Izzatul Jailani, Ach Jauhari, Nasrul Kamiliatul Mufidah Khamidatul Ula Khoiratul Hasanah lailatul istiqomah Luchman Hakim Luthfiana, Mauludiya Maghfiroh, Faldha Laili Maimunah, Maimunah Mariyana Mariyana Mariyana Mariyana Mas Ajeng Wahyu Hidayah Masitoh, Liza Khoidiyah Miftahul Mukarromah Miftahussurur, Mohammad Moh. Agus Zakaria Mohammad Miftahussurur Mohammad Mualif Zarkasyi Mohammad Mualif Zarkasyi, Mohammad Mualif Mufidah, Kamiliatul Muhamad Atho' illah Muhamad Atho' illah Muhammad Bachri Musaffak, Taufik Ridwan Musytawan, Baihaqi Nasrul Jauhari Niqrisatut Thibab Nour Athiroh Abdoes Sjakoer Noviza, Evi Noris Nubdatul Fikroh Nur Aini Nur Aliyah, Shofi Nur Asbani Nur Asbani Nur ismalasari Nur Istiqomatu Rosidah Nur Malichatin Nurul Jadid Mubarokati Nurul Qomariyah Nurus Sa'adah Prasetya, Hamdani Dwi Putri, Febrian Priska Amalia Qudrati Rohmah Rajab, Ahmad Mijwad Ratna Djuniwati Lisminingsih Retno wulandari Rita Purwanti Riyan Riyadlun Najih Rohmah, Qudrati Rohmawati, Vivi Dwi Rokha Illiyyin Saimul Laili Sama’ Iradat Tito Saputri, Rizki Dwi Shalehah, Nikmatus Silvia Annisa Siti Imama Khoiriyah Siti Marirotuz Zahro' Siti Rahmawati Wahyuningsih Siti Salma Nur Fahima Sitti Nor Fajariyah Sitti Norul Hotimah Solechah, Imah Subhan Maulidi K.B.F Tika Anggraini umam, M. azkal Vivi Dwi Rohmawati Warida, Mutha Yulia Pambayuning Tyas Yuliana Musrifatul Maula