Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

The Effect of Website-Based Education on Knowledge, Attitude and Compliance with Consumption of Blood Supplement Tablets in Adolescent Girls: Systematic Review Hafidz Al Qodri; Tri Hartiti; Siti Aisah
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 2 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i2.5723

Abstract

Anemia is a significant global health issue, especially among adolescent girls, caused by insufficient iron intake needed for hemoglobin synthesis. This study aims to explore the impact of ePuskesmas-based detection methods and website-based EDUMA on knowledge and adherence to iron tablet consumption among adolescent girls in Indonesia, as an effort to reduce the prevalence of anemia. Method: This study employs a literature review methodology by searching scientific articles through Google Scholar, Proquest, and PubMed platforms. Inclusion criteria encompass quantitative and qualitative articles published between 2019-2024, focusing on the use of ePuskesmas and EDUMA to enhance knowledge and adherence to iron tablet consumption among adolescent girls. Results: Initial identification yielded 622 potential articles, from which 18 articles were selected after inclusion and exclusion criteria. These articles indicate that technology-based approaches, such as Android applications, web platforms, and adherence monitoring systems, are effective in improving knowledge and adherence of adolescent girls to iron tablet consumption. Conclusion: These findings affirm that the integration of information technology in healthcare systems, such as ePuskesmas and website-based EDUMA, can be an effective strategy to enhance understanding and adherence of adolescent girls to iron tablet consumption to address anemia.
The Influence of Whatsapp, Teacher Support and Attitude of Adolescent Girls Towards Compliance In Taking Iron Supplement Tablets: Systematic Review Rika Viyanti; Siti Aisah; Satriya Pranata
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 2 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i2.5724

Abstract

Anemia is a significant health issue among adolescent girls, often caused by iron deficiency. Compliance in consuming Iron Tablets (Tablet Tambah Darah, TTD) is crucial to address this condition. This study aims to systematically review the influence of WhatsApp, teacher support, and attitudes of adolescent girls on TTD compliance. The method used is a systematic review with the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) approach. A search conducted on journals indexed by SINTA and Scopus resulted in a total of 860 journals using the keywords anemia, iron supplement compliance, adolescents, technology WhatsApp, teacher support, and attitudes. Of these, 15 journals met the inclusion criteria and were further analyzed. The results of the study indicate that the use of WhatsApp can enhance awareness and knowledge of adolescent girls about the importance of consuming TTD, although the outcomes vary. Teacher support has also been shown to play an important role in improving compliance, as teachers can provide the necessary encouragement and supervision. Positive attitudes of adolescent girls towards TTD consumption significantly contribute to compliance. In conclusion, the combination of communication technology, teacher support, and fostering positive attitudes can enhance TTD compliance among adolescent girls. This multidimensional approach can be an effective strategy to reduce the prevalence of anemia among adolescent girls.
Analisis Konsep Kurang Tidur sebagai Pemicu Hipertensi dan Microsleep: Pendekatan Concept Analysis Gladys Maristela Rawung; Nurul Auliyah; Siti Aisah; Satriya Pranata; Mohammad Fatkhul Mubin; Aric Vranada
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.908

Abstract

Kurang tidur merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang berdampak signifikan terhadap fungsi kardiovaskular dan neurologis. Durasi tidur yang tidak adekuat (<7 jam/malam) terbukti meningkatkan risiko hipertensi dan microsleep, dua kondisi yang berimplikasi serius terhadap keselamatan dan kesejahteraan. Pemahaman konseptual yang komprehensif diperlukan untuk mengklarifikasi atribut, anteseden, serta konsekuensi kurang tidur dalam konteks praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan concept analysis berdasarkan kerangka Walker dan Avant. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui tiga basis data utama—PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar—pada periode September hingga November 2024, dengan kombinasi kata kunci “sleep deprivation”, “short sleep duration”, “hypertension”, dan “microsleep”. Dari 287 artikel yang ditemukan (95 PubMed, 112 ScienceDirect, 80 Google Scholar), sebanyak 45 artikel memenuhi kriteria inklusi setelah proses skrining bertahap (title/abstract, full-text), eliminasi duplikasi, dan penilaian kualitas menggunakan Newcastle–Ottawa Scale serta AMSTAR 2. Analisis mengidentifikasi empat atribut utama kurang tidur, yaitu durasi tidur inadekuat, ketidaksesuaian fisiologis, pola temporal akut atau kronis, dan akumulasi sleep debt. Anteseden utama mencakup faktor okupasional, perilaku, dan lingkungan. Kurang tidur berkontribusi terhadap peningkatan risiko hipertensi sebesar 20–32% melalui aktivasi simpatis dan disregulasi aksis HPA, serta meningkatkan frekuensi microsleep setelah 17–19 jam terjaga. Kurang tidur merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan implikasi klinis signifikan pada kesehatan kardiovaskular dan keselamatan. Temuan ini menegaskan pentingnya peran perawat dalam deteksi dini, edukasi higiene tidur, dan pengembangan intervensi multi-level berbasis bukti untuk pencegahan dan pengelolaan risiko.
Analisis Konsep Discharge Planning pada Pasien Post URS Isnaeni Nurhayati; Irma Liana Putri; Siti Aisah; Aric Vranada
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.1036

Abstract

Discharge planning merupakan komponen krusial dalam transisi perawatan pasien dari rumah sakit menuju rumah, terutama pada pasien post-Ureterorenoscopy (URS) yang memiliki risiko komplikasi seperti nyeri, hematuria, infeksi, dan keluhan terkait ureteral stent. Namun, berbagai penelitian internasional maupun nasional menunjukkan bahwa implementasi discharge planning masih belum optimal, dipengaruhi oleh rendahnya kepatuhan tenaga kesehatan, kurangnya komunikasi, keterbatasan tenaga, serta minimnya edukasi spesifik prosedur yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep discharge planning pada pasien post-URS. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, CINAHL, ScienceDirect, Google Scholar, serta pedoman EAU dan AUA periode 2022–2025. Dari 156 artikel yang diidentifikasi, 128 artikel diseleksi berdasarkan judul dan abstrak, dan 49 artikel ditelaah secara penuh. Sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara konseptual menggunakan kerangka Walker & Avant dengan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi definisi konsep, atribut karakteristik, antecedents, dan consequences discharge planning pasca-ureteroskopi (URS). Hasil analisis mengidentifikasi definisi konsep, atribut karakteristik, antecedents, dan konsekuensi klinis discharge planning pada konteks URS. Atribut utama meliputi asesmen individual, edukasi terarah sesuai prosedur, koordinasi multidisiplin, perencanaan tindak lanjut, dokumentasi komprehensif, serta keterlibatan pasien dan keluarga. Discharge planning yang efektif terbukti meningkatkan keselamatan pasien, mengurangi risiko readmisi, menurunkan kejadian komplikasi, serta memperkuat kontinuitas asuhan pasca-operasi. Penelitian ini menegaskan bahwa discharge planning pada pasien post-URS harus dilakukan secara terstruktur sejak hari pertama perawatan untuk mendukung pemulihan optimal dan mencegah dampak klinis yang tidak diinginkan.
The Nutritional Status And The Role Of Supervisor In Swallowing Drugs In Pulmonary Tuberculosis Patients Dewi Wijayanti Wijayanti; Siti Aisah; Much Nurkharistna Al Jihad; Vivi Yosafianti Pohan
South East Asia Nursing Research Vol 7, No 4 (2025)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang banyak ditemukan di masyarakat. Pasien tuberkulosis paru dapat mengalami perburukan kondisi dikarenakan adanya faktor risiko yang dapat mempengaruhi kondisi pasien yaitu status gizi dan peran pengawas menelan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi dan peran pengawas menelan obat pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 43 pasien tuberkulosis paru dan 43 orang pengawas menelan obat. Hasil penelitian menunjukkan status gizi pasien tuberkulosis paru pada kelompok toddler berada pada kategori seimbang antara gizi baik dan gizi buruk yaitu masing-masing 50%, status gizi tertinggi pada kelompok anak usia sekolah dan remaja berada pada kategori gizi baik dan gizi buruk masing-masing 40%. Status gizi pasien tuberkulosis paru dewasa sebagian besar berada pada kategori gizi normal sebanyak 53,3%. Status gizi pasien tuberkulosis paru pra lansia berada pada kategori tertinggi yaitu 66,7%. Status gizi pasien tuberkulosis paru lansia sebagian besar berada pada kategori normal 66,7%. Pengawas menelan obat sebagian besar memiliki peran baik 53,5%. Peran baik meliputi peran pelaksanaan strategi pengobatan jangka pendek DOTS dan peran pemberian semangat. Peran yang masih kurang meliputi peran menjamin ketersediaan obat sesuai kebutuhan dan peran menjamin ketepatan pemeriksaan dahak.
Intervensi Suportif Untuk Mempertahankan Kadar Hemoglobin dan Meningkatkan Luaran Klinis Pada Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi Andy Setiawan; Siti Aisah; Satriya Pranata
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60554

Abstract

Kemoterapi merupakan salah satu terapi utama pada pasien kanker yang dapat menimbulkan efek samping hematologis berupa penurunan kadar hemoglobin sehingga berisiko menyebabkan anemia. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien serta menghambat keberhasilan pengobatan. Tujuan mengidentifikasi dan menganalisis perubahan kadar hemoglobin pada pasien kanker sebelum dan sesudah menjalani kemoterapi berdasarkan bukti ilmiah yang telah dipublikasikan. Metode penelitian menggunakan metode Literature Review  dengan penelusuran artikel ilmiah dari basis data PubMed, ScienceDirect, SINTA, dan Garuda menggunakan pendekatan PICO. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara deskriptif naratif. Hasil sebagian besar penelitian menunjukkan penurunan kadar hemoglobin setelah kemoterapi yang berkaitan dengan terjadinya anemia. Beberapa studi melaporkan peningkatan kadar hemoglobin melalui intervensi suportif seperti suplementasi zat besi oral maupun intravena. Intervensi keperawatan dan perawatan paliatif juga berkontribusi dalam mengurangi kelelahan serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Simpulan kemoterapi berpengaruh terhadap perubahan kadar hemoglobin pada pasien kanker. Pemantauan hemoglobin secara berkala serta pemberian intervensi suportif yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi anemia dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Peningkatan Kualitas Tidur Sebagai Strategi Pencegahan Hipertensi: Tinjauan Sistematis Intervensi Non-Farmakologi Nurul Auliyah; Siti Aisah; Yunie Armiyati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61213

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi, termasuk di Indonesia. Kualitas tidur yang buruk berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatik, peningkatan kadar kortisol, dan gangguan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Tujuan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas intervensi non-farmakologi dalam meningkatkan kualitas tidur sebagai strategi pencegahan hipertensi, dengan fokus pada aplikasi pengingat istirahat berbasis teknologi. Metode tinjauan sistematis dilakukan sesuai pedoman PRISMA melalui pencarian artikel pada PubMed, Scopus, CINAHL, dan Google Scholar periode Januari 2020–April 2025. Dari 427 artikel yang ditemukan, 25 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil lima intervensi efektif diidentifikasi, yaitu aplikasi pengingat istirahat, relaksasi otot progresif, latihan pernapasan dalam, terapi musik, dan pembatasan penggunaan layar sebelum tidur. Aplikasi pengingat istirahat memberikan hasil terbaik dengan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 8–12 mmHg, peningkatan durasi tidur rata-rata 1,6 jam per malam, serta penurunan skor PSQI dari 8,4 menjadi 4,1 (p<0,001). Kesimpulan intervensi non-farmakologi, terutama aplikasi pengingat istirahat, efektif, aman, dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kualitas tidur serta menurunkan risiko hipertensi. Perawat memiliki peran penting dalam mengintegrasikan intervensi ini ke dalam asuhan keperawatan holistik
Pengaruh Kapabilitas, Peluang, dan Motivasi terhadap Perilaku Tenaga Kesehatan dalam Perawatan HIV/AIDS: Berbasis Model Com-B di Rumah Sakit Umum Daerah Kajen Kabupaten Pekalongan Dwi Harto; Ernawati Ernawati; Siti Aisah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i4.21869

Abstract

ABSTRACTHIV/AIDS remains a public health burden globally. Health workers play a crucial role in care provision but often demonstrate discriminatory behaviors due to stigma, lack of training, or insufficient support. Objective to analyze the influence of capability, opportunity, and motivation on health workers’ behavior in providing HIV/AIDS care based on the COM-B model. A cross-sectional analytic study was conducted among 178 healthcare workers at a district general hospital in Pekalongan, Indonesia. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed with multiple linear regression to examine the effect of each component of the COM-B model on care behavior. capability opportunity, and motivation significantly influenced behavior (p 0.05). Motivation was the dominant factor (β = 0.398), followed by capability (β = 0.312) and opportunity (β = 0.257). Enhancing motivation through emotional support and professional reinforcement, along with strengthening capacity and institutional opportunities, is essential to improve HIV/AIDS care behavior. Implementation of the COM-B model provides a holistic framework to develop targeted interventions. Keywords: HIV/AIDS Care, COM-B Model, Health Worker Behavior, Motivation, Capability, Opportunity, Indonesia.  ABSTRAK HIV/AIDS masih menjadi beban kesehatan masyarakat secara global. Tenaga kesehatan memainkan peran krusial dalam penyediaan layanan kesehatan, tetapi seringkali menunjukkan perilaku diskriminatif akibat stigma, kurangnya pelatihan, atau dukungan yang tidak memadai. Tujuan untuk menganalisis pengaruh kapabilitas, peluang, dan motivasi terhadap perilaku tenaga kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan HIV/AIDS berdasarkan model COM-B. Sebuah studi analitik potong lintang dilakukan terhadap 135 tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit umum daerah di Pekalongan, Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh setiap komponen model COM-B terhadap perilaku perawatan HIV/AIDS. Kapabilitas, peluang dan motivasi secara signifikan memengaruhi perilaku (p 0,05). Motivasi merupakan faktor dominan (β = 0,398), diikuti oleh kapabilitas (β = 0,312) dan peluang (β = 0,257). Peningkatan motivasi melalui dukungan emosional dan penguatan profesional, serta penguatan kapasitas dan peluang kelembagaan, sangat penting untuk meningkatkan perilaku perawatan HIV/AIDS. Implementasi model COM-B menyediakan kerangka kerja holistik untuk mengembangkan intervensi yang terarah. Kata Kunci: Perawatan HIV/AIDS, Model COM-B, Perilaku Tenaga Kesehatan, Motivasi, Kapabilitas, Peluang, Indonesia.
Peningkatan Keterampilan Kader Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam Pemulasaran Jenazah Upaya Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Much Nurkharistna Al Jihad; Siti Aisah; Nur Dian Rakhmawati; Septia Ayu
SALUTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/sjpkm.v4i2.16073

Abstract

Pemulasaran jenazah merupakan serangkaian proses yang dilakukan setelah seseorang meninggal, mulai dari memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga menguburkan. Proses ini harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip kesehatan, terutama untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan kader Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Genuk Kota Semarang dalam pemulasaran jenazah, diharapkan dapat tercipta sistem yang efektif untuk menangani jenazah dengan cara yang aman dan sesuai dengan standar kesehatan, sehingga mencegah penyebaran penyakit menular di masyarakat. Tahapan kegiatan yang meliputi Perencanaan dan persiapan, tahap pelaksanaan pelatihan, tahap pengembangan modul pelatihan digital, tahap distribusi dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), tahap kolaborasi dengan Institusi kesehatan, tahap kampanye kesadaran masyarakat, tahap pemantauan dan evaluasi berkelanjutan dan tahapan terakhir dukungan psikososial. Tingkat pengetahuan dan keterampilan kader sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan pemulasaran jenazah dari rerata 69 meningkat menjadi 74,25. 
Analysis of the Concept of Patient Identification Noncompliance as a Risk Factor for Care Errors Pratiwi Ari Hendrawati; Siti Aisah; Aric Vranada
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i1.2147

Abstract

Accurate patient identification is a main goal of patient safety in health services, as it prevents mistreatment that can cause serious injury or death. Yet, nursing practice shows ongoing non-compliance by health workers with standard procedures, raising medical error risks. Thus, systematically studying non-compliance with patient identification as a mistreatment risk factor is essential. This study analyzes the concept of patient identification non-compliance via Walker and Avant's eight-stage approach. Data came from a systematic review of 60 peer-reviewed articles (2011–2025) from PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect. Results reveal characteristics like failure to follow standards, pre-intervention occurrence, health worker involvement, and intentional/unintentional nature. Antecedents include individual factors, service systems, and work environments. Consequences encompass heightened mistreatment risk, procedural errors, patient injuries, legal/psychological impacts on nurses, and institutional losses. In conclusion, non-compliance with patient identification is a key patient safety concept and triggers major mistreatment. Strengthening compliance requires continuous education, system support, and robust safety culture in facilities.