Claim Missing Document
Check
Articles

MAKNA HUJAN SEBAGAI SARANA PENYEMBUHAN DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS TAFSIR AL-AZHAR TERHADAP QS. AL-ANFAL AYAT 11 Noni Melinda; Kusnadi; Kamaruddin; Raden Ayu Erika Septiana
Journal of Multidiscipline and Equality Vol. 3 No. 1 (2026): JME: Journal of Multidiscipline and Equality
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/jme.v3i1.856

Abstract

Hujan merupakan salah satu fenomena alam yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Selain sebagai sumber kehidupan, hujan dalam konteks tertentu juga digambarkan sebagai bagian dari pertolongan Allah kepada manusia. Salah satu ayat yang memperlihatkan fungsi tersebut adalah QS. Al-Anfal ayat 11. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menurunkan air hujan untuk menyucikan kaum Muslimin, menghilangkan gangguan setan, menguatkan hati, dan memperteguh kaki. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna hujan dalam QS. Al-Anfal ayat 11 berdasarkan penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar serta mengkaji relevansinya dengan konsep penyembuhan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber utama penelitian adalah Al-Qur’an dan Tafsir Al-Azhar karya Hamka, sedangkan sumber pendukung berasal dari buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tafsir, hujan, kesehatan, dan hubungan Al-Qur’an dengan kehidupan manusia. Analisis dilakukan dengan metode tafsir tahlili, yaitu mengkaji ayat berdasarkan konteks, makna kebahasaan, hubungan antarayat, dan kandungan penafsirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan dalam QS. Al-Anfal ayat 11 memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar fenomena alam. Dalam penafsiran Hamka, hujan merupakan bagian dari pertolongan Allah yang berfungsi dalam aspek kebersihan fisik, ketenangan batin, penguatan hati, serta penguatan kondisi fisik kaum Muslimin. Oleh karena itu, istilah “penyembuhan” dalam penelitian ini lebih tepat dipahami secara integratif, yaitu mencakup dimensi fisik, psikologis, dan spiritual, bukan sebagai klaim bahwa air hujan merupakan obat medis bagi penyakit tertentu.
Israf Revisited: A Gadamerian Fusion of Horizons in Tafsir Al-Azhar and Tafsir Al-Mishbah Ahmed Hafiz Al Fikri; Halimatussa'diyah Halimatussa'diyah; Raden Ayu Erika Septiana; Kusnadi Kusnadi; Ahmad Syarif Hidayatullah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2360

Abstract

This study examines the Qur'anic concept of israf (excess) through Hans-Georg Gadamer's fusion-of-horizons hermeneutics, comparing the interpretations found in Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Al-Mishbah by M. Quraish Shihab. Because israf spans personal, social, and structural domains, its contemporary significance cannot be captured through descriptive comparison alone. A Gadamerian reading of Tafsir Al-Azhar and Tafsir Al-Mishbah is important because the two works emerge from different Indonesian historical horizons, enabling a dialogical account of how Qur'anic meaning is rearticulated across changing contexts. This qualitative library research analyzes seven israf verses across six thematic clusters (QS. An-Nisa [4]: 6; Al-An'am [6]: 141; Al-A'raf [7]: 31 and 81; Al-Furqan [25]: 67; and Ash-Shu'ara [26]: 151–152) through four stages of Gadamerian hermeneutics: historical reading, pre-understanding, fusion of horizons, and contemporary application. The findings show that both exegetes agree that israf constitutes transgressing reasonable limits, extending from the personal-consumptive, moral-behavioral, and fiduciary domains to the structural-political domain, while differing in emphasis: Tafsir Al-Azhar foregrounds socio-agrarian responsibility and leadership legitimacy within mid-twentieth-century Indonesia, whereas Tafsir Al-Mishbah foregrounds spiritual motive, structural justice, and wasathiyyah, reflecting late-twentieth- to early-twenty-first-century discourse. The fusion of these two interpretive horizons is relevant to contemporary issues, particularly social-media flexing and frugal living, as well as accountability in the management of public and fiduciary resources, and contributes a multidimensional hermeneutic reading of israf that connects personal ethics, social responsibility, and structural accountability within contemporary Indonesia, thereby reaffirming the Qur'anic message as shalih li kulli zaman wa makan (valid for every time and place).
Co-Authors Abdul Kher Abdul Matin Abdul Matin Bin Salman Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah Ade Dwi Maria Ningsih Ali Yamin Agung Madya Putra Ahmad Harun Yahya Ahmad Soleh Sakni Ahmad Syarif Hidayatullah Ahmed Hafiz Al Fikri Anang Walian Anang Walian Anggi Fitri Yani Anggi Nurhidayah Anisa Cikal Rambu Basaey Anjelli Nur Aisyah Aristhopan Firdaus Aristopan Aristopan Aristopan Aristopan Aristopan Aristophan Firdaus Aristophan Firdaus Aristophan Firdaus Aurilia Mika Hasanah Ayu Puteri Anrie Ayu Wahyuni Bela Adil Pertiwi Bela Janare Putra Bukhori Abdul Shomad Bukhori Abdussomad Candra Darmawan Citra Mulyadi Citra Repsi Tri Rahayu Cylvia Syahpitri Darmawan Darmawan Deddy Ilyas Destiana Azzahra Eko Zulfikar Emi Puspita Dewi Eni Murdiati Fisronil Muntaha Fitriana Fitriana Futri Amalia Halimatussa'diyah Halimatussa'diyah Halimatussadyah Halimatussadyah Halimatussa’diyah Halimatussa’diyah Halimatussa’diyah Hartika Utami Fitri Hidayat Hidayat Hidayat HT Huzaimah Huzaimah Huzaimah Ida Lestari Putri Iffatul Bayyinah Imron Taslim Imron Taslim Intan Mayang Sawitri Intan Sri Ramadan Jeki Ariwibowo Kamaruddin Karerek Karerek Karina Sefia Ananda Kgs. M. Choirul Muchlis Khairul Atfal Lena Marianti Lira Tegar Riyadi Lukmanul Khakim Lusiana Lusiana Lutfia Auliatinnisa M Fadhli Aviv M Maskun Hadi Manah Rasmanah Manalullaili Manalullaili Manalullaili Manalullaili Mawaliya Mawaliya Mira . Mubaidi Sulaeman Muhajirin Muhajirin Muhammad Adhim Rajasyah Muhammad Ahsanul Aziz Muhammad Ghoust Muhammad Syukron Zun-Nurain Nabillah Adhistia Neni Noviza Nofria Rahmadani Noni Melinda Nur Fitriyana Nurjannah Nurjannah Nuruz Zhafirah Pandu Wijaya Pandu Wijaya Pathur Rahman Putri Fersikasari Raden Ayu Erika Septiana Raden Ayu Erika Septiana Ragil Lutfiani rahman, pathur Rahmat Febrian Rara Regita Niosa Regina Januarti Risa Pitria Riska Amelia Riza Syahsia Hermawanti Rohimah Rohimah Salma Khoerotu Syarifah Salsabil Nasha Sara Yulita Sela Ayu Puspita Selly Tria Agustin Selvia Assoboru Sri Hertimi Suci Ayu Andini Tanti Indawati Thomas Alfajar Trisa Okfarianti Walian, anang Yati Oktavia Yusuf Baihaqi Zhila Jannati Zulhilmi Zulkarnain