Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Penerapan Konsep Sustainable Architecture Terhadap Perancangan Perumahan Menengah di Banda Aceh zilla nisrina; Mirza Irwansyah; Muhammad Heru Arie Edytia
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 6, No 3 (2022): Volume 6, No.3, Agustus 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.709 KB)

Abstract

Kebutuhan akan tempat tinggal terus berkembang dan menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal ini dikarenakan rumah memiliki fungsi dan makna dalam menunjang keberlangsungan hidup manusia. Pembangunan rumah tinggal di Indinesia adalah salah satu kegiatan yang terus berkembang dan menjadi salah satu penyumbang kerusakan pada lingkungan. Pembangunan perumahan terjadi dikarenakan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang meningkat dari tahun ke tahun. Konstruksi pembangunan perumahan memiliki kecenderungan dengan sifat menyebar di area perkotaan (Yunus HS, 2008; Saratri W,2011). Akibatnya membuat tata kota menjadi tidak teratur dan berantakan sehingga memberikan kesan kumuh untuk permukiman tersebut. Perumahan ikut menyumbang emisi gas CO2. Emisi karbon paling besar berasal dari energi listrik yang digunakan untuk kegiatan kosmetik. Hal ini akan memberikan dampak negatif pada lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan berkelanjutan untuk dapat menerima perkembangan suatu kawasan yang akan terjadi di masa mendatang dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi sehingga tidak menimbulkan danpak negatif di masa yang akan datang. Perancangan ini membahas penerapan konsep sustainable pada perumahan. Metode perancangan yang digunakan adalah metode pengumpulan data dan analisis data. Hasil akhir perumahan menengah di Banda Aceh telah menerapkan tema sustainable arcrchitecture pada rancangan desain yaitu dalam penataan zona kawasan, penggunaan air, penggunaan energi, pengelolaan limbah, dan pemilihan material.
Penerapan Konsep Extending Tradition pada Perancangan Taman Wisata Budaya Dan Seni di Banda Aceh Safiatuddin Syah; Mirza Irwansyah; Burhan Nasution
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 6, No 4 (2022): Volume 6, No.4, November 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.061 KB) | DOI: 10.24815/jimap.v6i4.21798

Abstract

Banda Aceh merupakan ibu kota Provinsi Aceh dan salah satu daerah dengan tempat wisata yang indah. Meskipun kota Banda Aceh dilanda tsunami dahsyat pada tahun 2004, namun kota Banda Aceh kembali berkembang sebagai destinasi wisata dengan bertumpu pada destinasi wisata, adat dan budaya. Kota Banda Aceh saat ini sedang mengalami  banyak perubahan dan situasi di lapangan berubah dengan cepat dalam banyak aspek  ekonomi, pendidikan, administrasi dan terutama pariwisata. Seiring berjalannya waktu, tradisi dan budaya daerah yang selama ini dilestarikan dan dibina  oleh setiap daerah dan masyarakat Aceh seakan hampir hilang  di Aceh saat ini. Oleh karena itu, perancangan taman wisata budaya dan seni ini merupakan solusi yang tepat untuk melestarikan budaya dan seni dan dapat menjadi destinasi wisata yang lebih berkembang di Banda Aceh. Berdasarkan potensi dan permasalahan tersebut perancangan taman wisata budaya seni dengan pendekatan konsep Extending Tradition dapat mengeksplorasi keberlanjutan tradisi lokal  di Banda Aceh.
Penerapan Tema Healing Architecture pada Perancangan Rumah Sakit Rehabilitasi Medik di Banda Aceh Dira Alhumaira; Mirza Irwansyah; Riza Priandi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 6, No 4 (2022): Volume 6, No.4, November 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.268 KB) | DOI: 10.24815/jimap.v6i4.21107

Abstract

Pembangunan dalam bidang kesehatan menjadi salah satu indikator keberhasilan daerah dalam melakukan pembangunan. Pembangunan rumah sakit dengan bentuk pelayanan yang lebih spesifik merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan data yang berkembang di Aceh, jumlah masyarakat yang mengalami kecacatan atau disfungsi anggota tubuh semakin meningkat. Kondisi ini tidak sebanding dengan pelayanan yang ada di rumah sakit umum sehingga dibutuhkan rumah sakit spesifik dibidang rehabilitasi medik. Rumah sakit khusus rehabilitasi medik juga masih sangat jarang di Indonesia terutama di daerah Aceh. Perancangan rumah sakit ini merupakan perancangan rumah sakit kelas B dengan pendekatan tema healing architecture, sehingga diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan kesehatan yang ada di Aceh. Perancangan rumah sakit ini berlandaskan pada sebuah konsep healing architecture dimana proses penyembuhan pasien didapatkan dari bangunan yang digunakan oleh pasien selain dari pihak medis. Penerapan tema rancangan pada bangunan diaplikasikan pada inner garden dan koridor dengan penambahan unsur alam, penglihatan, penciuman/aroma, pendengaran dan psikologis. Perancangan ini diharapkan dapat menghadirkan kenyamanan bagi pasien dengan mengoptimalkan unsur-unsur yang harus dipenuhi dan membantu penyembuhan pasien selama berada di rumah sakit rehabilitasi medik ini.
Penerapan Arsitektur Organik pada Perancangan Pusat Penelitian dan Rekreasi Edukatif Kurma di Aceh Besar Putroe Balkis Taufik; Mirza Irwansyah; Zulhadi Saputra
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 5, No 4 (2021): Volume 5, No.4, November 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.264 KB)

Abstract

Tingginya peminat kurma di Indonesia serta kondisi iklim dan tanah yang mendukung seharusnya menjadi potensi bagi Indonesia untuk memulai produksi kurmanya sendiri. Namun kurangnya penelitian serta pemahaman penduduk tentang kurma menjadi hambatan untuk tanaman ini dapat terus berkembang hingga tahap industri. Pemerintah seharusnya menyediakan wadah bagi peneliti untuk terus membudidayakan pembibitan kurma yang dapat tumbuh dengan baik di Indonesia.Dalam hal ini, Pusat Penelitian dan Rekreasi Edukatif Kurma hadir dengan desain bertemakan Arsitektur Organik yang membuat rancangan menyatu dengan lingkungan sekitar lahan, membuat kegiatan penelitian mengenai kurma lebih efektif sehingga dapat terus mengembangkan pengetahuan tentang kurma yang lebih baik lagi ke depannya dan kegiatan rekreasi edukatif dapat terasa lebih menyenangkan sehingga masyarakat menjadi lebih familiar dengan adanya tanaman kurma di Indonesia, khususnya Aceh Besar.
PEMBINAAN STASIUN KERJA YANG ERGONOMIS BAGI PEKERJA KERAJINAN SOUVENIR ACEH DI KOTA BANDA ACEH Anita Rauzana; Wira Dharma; Mirza Irwansyah
Jurnal Abdimas Vol 21, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v21i2.11231

Abstract

Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui pendekatan pemberdayaan usaha, perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya di masing-masing daerah, mengingat usaha kecil dan menengah pada umumnya tumbuh dari masyarakat secara langsung. Provinsi Aceh merupakan provinsi yang kaya dengan kerajinan tradisional seperti tas bordir Aceh, dompet, baju bordir khas Aceh, mukena, jilbab, peci, dan lain-lain.  Unit usaha mitra yang dipilih dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah Aceh Galeri Souvenir dan Pusaka Souvenir. .Keduanya merupakan perusahaan bidang kerajinan Aceh yang berkedudukan di Kota Banda Aceh. UKM tersebut mampu menghasilkan produk yang berpeluang ekspor atau yang secara tidak langsung dibawa keluar negeri yaitu negara Malaysia. Thailand, Amerika, Australia, Dubai, London, Afrika Selatan dan Singapura. Pembinaan dan Pengembangan yang dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan/pembimbingan terhadap proses dan metode produksi agar lebih efektif melalui perencanaan stasiun kerja agar sesuai dengan karakter pekerja, kapasitas, alat dan ruang serta lingkungan kerja. Dalam kaitan dengan faktor ergonomi, dilakukan penataan ruang kerja. 
ANALISIS DAMPAK LALU - LINTAS (ANDALALIN) PADA JALAN T.UMAR DITINJAU DARI TATA RUANG KOTA BANDA ACEH Ayuza Jria Puspita; Mirza Irwansyah; Noer Fadhly
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 2, No 1 (2012): Volume 2, Nomor 1, September 2012
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Government regulation of Banda Aceh city the Urban Spatial Planning year  2009-2029 in which the site T.Umar road is earmarked for trade and services regional. T.Umar road area is the center of the Banda Aceh urban which have the heavy traffic condition especially in  the morning and late afternoon, this is due to the limited road capacity, limitations of the road network, intersection arrangements, and limited parking provision. Divided into four zones of the study area and 10 points (A - I). On recapitulation and the  calculations of the rise and the biggest drag on the business day is CD 1692 Smp/hour point and F-G 2511 smp/h, on a Sunday There is also C-D 2901 smp / hour point. While the largest traffic percentage result is 23% on F-G point and I-J point, and Sunday C-D 30% point. On working day, F-G roads a critical degree of saturation at 1,16 Monday morning, it is because of the activities in the morning. Meanwhile, on Monday afternoon at C point to E point  the degree of saturationhas already saturated, that is characterized by the value of DS of 1,09. Troubled zones in C-E point is an area that has a function instead of the trade and services as outlined in the city of Banda Aceh RTRW 2009-2029. The troubled zone due to the occurrence of a mixed land use (mixed use). this is what makes the imbalance development region so that the land use. In this case Spatial planning should follow what is already regulated by Government that do not alter the function of which is included in the Spatial Plan of the City. Active role of the public who pass through T.Umar road is necessary not only to limit and regulate space and community activities, but also provide encouragement and opportunities to community and participate in spatial activities by observing regulations.Keywords : Rise and drag, Spatial, the Spatial City.Abstrak: Peraturan pemerintah Kota Banda Aceh pada Rencana Tata Ruang Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 dimana lokasi Jalan T.Umar ini diperuntukkan untuk kawasan perdagangan dan jasa. Kawasan Jalan T.Umar merupakan pusat Kota Banda Aceh yang memiliki kondisi lalu - lintas yang padat terutama pada pagi sore hari, hal ini disebabkan oleh kapasitas jalan yang terbatas, keterbatasan jaringan jalan, pengaturan persimpangan, serta keterbatasan penyediaan parkir. Daerah penelitian dibagi 4 zona dan 10 titik (A-I). Pada perhitungan rekapitulasi bangkitan dan tarikan terbesar pada hari kerja adalah titik  C-D 1.692 smp/jam dan  F-G 2.511 smp/jam, pada hari Minggu juga terdapat pada titik C-D 2.901 smp/jam. Sedangkan hasil persentase lalu lintas terbesar 23 % pada titik F-G dan titk I-J, pada hari Minggu titik C-D 30%. Pada hari kerja  ruas jalan F-G derajat kejenuhan kritis pada Senin pagi hari 1,16, hal ini di karenakan aktifitas di pagi hari. Sedangkan pada Senin sore pada titik C ke titik E derajat kejenuhan sudah jenuh ditandai dengan nilai D/S  sebesar 1,09. Zona yang bermasalah pada titik C-E merupakan kawasan yang memiliki fungsi bukan kawasan perdagangan dan jasa seperti yang tertera pada RTRW Kota Banda Aceh 2009-2029. Zona yang bermasalah diakibatkan terjadinya penggunaan lahan yang bercampur (mixed use). Hai ini yang membuat terjadinya ketidakseimbangan perkembangan kawasan tersebut sehingga terjadinya alih fungsi lahan. Dalam hal ini Perencanaan Tata Ruang sebaiknya mengikuti apa yang sudah diatur oleh Pemerintah agar tidak merubah fungsi kawasan yang sudah dicantumkan pada Rencana Tata Ruang Kota. Peran aktif masyarakat yang melewati Jalan T.Umar diperlukan tidak semata-mata membatasi dan mengatur ruang gerak dan kegiatan masyarakat, akan tetapi juga memberi dorongan dan peluang agar masyarakat berpartisipasi pula dalam kegiatan penataan ruang dengan menaati peraturan yang ada.Kata kunci Bangkitan dan tarikan, RTRW, Tata Ruang Kota.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP RENCANA RELOKASI PERMUKIMAN BANTARAN REL KERETA API DI BANDAR BARU Bahron Bakti; Mirza Irwansyah; Muhammad Isya
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 1, No 2 (2017): Volume 1 Special Issue, Nomor 2, Desember 2017
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The settlement along the railway line in Keude Lueng Putu area of Pidie Jaya Regency is one of slum settlements, that is the irregular, unkempt, density and densely populated building condition compared to the area as well as violation of public order, Urban strategic. This study aims: 1). Know how community participation in relocation of Gampong railway railway area Keude Lueng Putu. 2). Knowing whether the level of insight (X1) and trust level (X2) has significant effect on the community participation (Y) on relocation of Gampong railway area of Keude Lueng Putu. The research used combination method that is descriptive analysis with quantitative data processing with Likert scale. Results from 42 respondents who answered 14 questions revealed that the level of public participation on the relocation of the railway area of Gampong Keude Lueng Putu railway is positive. The result of regression analysis shows that the level of community participation increased by Y = -0,535 + 0,498 X1 + 0,603 X2 .. Insight value value obtained by positive value equal to 0,498 means if society insight level increase 1 point one can increase participation equal to 0,498 point. Similarly, the level of confidence obtained a positive value of 0.603 which means that if the level of confidence increased 1 (one) point will be able to increase participation by 0.603 points. The result of this research with partial test shows that insight level has significant influence to participation because T (hit X1 = 2,868) Ttable (2,023). The level of trust also has a significant effect on the participation in which the Thit (X2 = 4.813) Ttable (2.023) .. While the simultaneous calculation, the level of insight and trust together affects participation where F (hit X1 and X2 = 33,851) F (table 3.23). For coefficient of determination (R2) equal to 0,634. That is, the relative contribution of the coefficient of the combination of insight and trust level variables on community participation is 63.40% while the remaining 36.60% is influenced by other variables not examined in this study.Abstrak: Permukiman sepanjang rel Kereta Api  di kawasan Keude Lueng Putu Kabupaten Pidie Jaya adalah salah satu bentuk permukiman kumuh, yaitu kondisi fisik bangunan yang tidak teratur, tidak terawat, kerapatan bangunan dan berpenduduk padat dibandingkan dengan wilayah serta melanggar ketertiban umum, mengalihkan fungsi rencana kawasan strategis perkotaan. Penelitian ini bertujuan: 1). Mengetahui bagaimana partispasi masyarakat terhadap relokasi permukiman  kawasan  rel Kereta Api  Gampong Keude Lueng Putu. 2). Mengetahui apakah faktor tingkat wawasan (X1)  dan tingkat kepercayaan (X2) berpengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat (Y) pada relokasi permukiman kawasan rel Kereta Api Gampong Keude Lueng Putu. Penelitian menggunakan metoda kombinasi yaitu analisa deskriptif  dengan pengolahan data kuantitatif dengan skala Likert. Hasil dari 42 orang responden yang menjawab 14 pertanyaan mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat terhadap relokasi permukiman kawasan rel Kereta Api  Gampong Keude Lueng Putu bernilai positif. Hasil Analisis Regresi menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat meningkat sebesar Y= -0,535 + 0,498 X1  + 0,603 X2.. Nilai tingkat wawasan diperoleh nilai positif sebesar 0,498 berarti jika tingkat wawasan masyarakat meningkat sebesar 1 (satu) poin maka dapat meningkatkan partisipasi sebesar 0,498 poin. Demikian juga dengan tingkat kepercayaan diperoleh nilai positif sebesar 0,603 yang bermakna bahwa jika tingkat kepercayaan meningkat 1(satu) poin akan dapat meningkatkan partisipasi sebesar 0,603 poin. Adapun hasil penelitian dengan pengujian secara parsial menunjukkan Tingkat Wawasan berpengaruh signifikan terhadap Partisipasi karena T(hit X1 = 2,868) Ttabel (2,023). Tingkat Kepercayaan juga berpengaruh signifikan terhadap Partisipasi dimana Thit (X2=4,813) Ttabel (2,023)..  Sedangkan perhitungan secara simultan, tingkat wawasan dan kepercayaan secara bersama-sama mempengaruhi partisipasi dimana  F(hit X1 dan X2 = 33,851)    F (table 3,23).  Untuk koefisien determinasi (R2) sebesar 0,634. Artinya, sumbangan relatif koefisien dari kombinasi variabel tingkat wawasan dan kepercayaan terhadap partisipasi masyarakat adalah sebesar 63,40 % sedangkan sisanya 36,60%  dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS SEKTOR PERDAGANGAN DAN JASA KOTA BANDA ACEH (STUDI KASUS KECAMATAN LUENG BATA) Ridhia Maisarina; Mirza Irwansyah; Izziah Izziah
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 1, No 2 (2017): Volume 1 Special Issue, Nomor 2, Desember 2017
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: As the capital city of Aceh province, Banda Aceh was selected as one of the strategic areas based on its potential, accessibilty and sectoral distribution activities for the city itself and for the sorrounding areas (hinterlands). Qanun (Local regulation) of spatial planning of Banda Aceh city number 04 in 2009 stated that one of Banda Aceh city’s strategic planning area is at Lueng Bata district and sorrounds. Lueng Bata district condition currently to growth as roads development and so that the population continues to growth 0.40 % from last year (yr. 2015), with a population density of 4,965 inhabitants per km2. If Lueng Bata district was developed as a strategic area of the city, it is necesessary to study in spatial and region development in term of demographic aspects, economic aspects and aspects of public services. The scope of the research is the study on the infrastructure of Banda Aceh city, which are urban system or central urban services, and infrastructure in particular regions transport network. The research methods used are the combination of qualitative and quantitative descriptive with case study approach. Data collected by doing the observation, interviews, and questionnaires. Variabels used are numbers of pupulation, number of public facilities and the accessibilty to surrounds area (hinterland). It’s analized by urban order, gravity (the attractiveness of the region), and AHP. The results study showed that strategic area of Lueng Bata district can be developed into mixed trade and sevices area, but need to be equipped with the public service facilities and infrastructure like traditional and modern markets, and it has the opportunity to undertake regional cooperation in trade and services sector with Aceh Besar district as hinterland for economic development in Aceh Province.Abstrak: Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh merupakan salah satu kawasan strategis berdasarkan potensi, aksesibilitas dan sebaran kegiatan sektoral untuk wilayah kota dan sekitarnya (hinterland). Qanun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nomor 4 Tahun 2009 menetapkan salah satu pengembangan kawasan strategis kota berada di Kecamatan Lueng Bata dan sekitarnya.  Kondisi Kecamatan Lueng Bata saat ini terus berkembang mengikuti pengembangan jalan (ribbons development) dan pertambahan penduduk yang terus meningkat 0,40 % (tahun 2015), dengan kepadatan penduduk Kecamatan Lueng Bata sebesar 4.965 jiwa per km2. Apabila Kecamatan Lueng Bata dikembangkan sebagai kawasan strategis kota, maka diperlukan kajian dalam penataan dan pembangunan wilayah yang ditinjau dari aspek kependudukan, aspek ekonomi dan aspek pelayanan publiknya. Lingkup penelitian adalah kajian pada infrastruktur Kota Banda Aceh yaitu sistem perkotaan atau pusat pelayanan perkotaan, dan sarana-prasarana wilayah khususnya jaringan transportasi. Penelitian menggunakan metode gabungan yaitu kualitatif, kuantitatif dan deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan kuesioner. Variabel yang digunakan adalah jumlah penduduk, jumlah fasilitas dan tingkat aksesibilitasnya dengan kawasan sekitar. Analisa data yang digunakan adalah orde perkotaan, gravitasi dan AHP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan strategis Kecamatan Lueng Bata dapat dikembangkan menjadi kawasan perdagangan dan jasa campuran namun perlu dilengkapi dengan sarana dan prasarana pelayanan publik yaitu pasar tradisional dan pasar modern, serta berpeluang untuk dilakukannya kerjasama regional sektor perdagangan dan jasa dengan wilayah Kabupaten Aceh besar sebagai hinterland untuk kemajuan ekonomi di Provinsi Aceh.
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK PERMUKIMAN KUMUH GAMPONG TELAGA TUJUH, KOTA LANGSA, ACEH Dini Solehati; Mirza Irwansyah; Irin Caisarina
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 1, No 2 (2017): Volume 1 Special Issue, Nomor 2, Desember 2017
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Rapid development of urban settlements is caused by urbanization and population growth resulting in the emergence of slums. One of slums in Kota Langsa located in Gampong Telaga Tujuh. The people who live in groups that build houses without thinking about space for residential supporting facilities. Residential building in the slums is permanent and semi permanent. Most of the houses are on stilts with very limited infrastructure such as lack of road facilities, local drainage, clean water, waste water, and garbage. The income level of the population is very low where most of the population works as fishermen, small traders, and handyman. The purpose of this study is to identify the characteristics of slums in Gampong Telaga Tujuh. The benefits of this research as input for local government and local communities for the preparation of slum-reducing policies, develop a slum settlement strategy by reviewing current conditions and alternative arrangements in the future. The method used in this research is mixed methods, quantitative and qualitative methods and the analysis used is Analytic Hierarchy Process (AHP). The results of the analysis indicate that the identification of slum settlement characteristics is 100% lack of building regularity, not serviced by 80% local road network, no 100% local drainage, no minimum drinking water requirement of 100%, the waste water system is not in accordance with the requirements technical level of 100%, not maintained 100% waste management facilities and infrastructure, and do not have 100% fire protection infrastructure.Abstrak: Pesatnya perkembangan permukiman perkotaan disebabkan oleh pertumbuhan penduduk maupun urbanisasi yang mengakibatkan timbulnya permukiman kumuh. Salah satu permukiman kumuh di Kota Langsa terletak di Gampong Telaga Tujuh.  Penduduk yang hidup berkelompok dan membangun rumah tanpa memikirkan ruang untuk fasilitas penunjang permukiman. Bangunan rumah di permukiman ini berbentuk semi permanen dan tidak permanen. Sebagian besar berbentuk rumah panggung dengan sarana prasarana yang sangat terbatas seperti kurangnya fasilitas jalan, drainase lingkungan, air bersih, air limbah, dan persampahan. Tingkat pendapatan penduduk sangat rendah dimana sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan, pedagang kecil, dan tukang. Tujuan penelitian ini adalah teridentifikasi karakteristik permukiman kumuh di Gampong Telaga Tujuh. Manfaat penelitian ini sebagai masukan bagi Pemerintah Daerah maupun komunitas lokal untuk penyusunan kebijakan pengurangan kumuh, menyusun strategi penataan permukiman kumuh dengan meninjau kondisi saat ini dan alternatif penataan di masa depan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi (mixed methods) antara metode kuantitatif dan metode kualitatif, dan analisis yang digunakan adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis menunjukkan identifikasi karakteristik permukiman kumuh adalah tidak memiliki keteraturan bangunan sebesar 100%, tidak terlayani oleh jaringan jalan lingkungan 80%, tidak tersedia drainase lingkungan sebesar 100%, tidak terpenuhi kebutuhan air minum minimalnya sebesar 100%, sistem air limbah tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebesar 100%, tidak terpelihara sarana dan prasarana pengelolaan persampahan sebesar 100%, dan tidak memiliki sarana prasarana proteksi kebakaran sebesar 100%.
Perancangan Taman Museum Kerajaan Aceh Aden, Muhammad Januar Jabbar; Irwansyah, Mirza; Sawab, Husnus
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 4 (2023): Volume 7, No.4, November 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i4.24851

Abstract

AbstrakIndonesia adalah negara yang mayoritas agamanya adalah Islam. Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai agama) dan kerajaan Islam tertua di Indonesia yaitu Samudra Pasai dan berkembang menjadi kerajaan yang lebih besar yaitu Kerajaan Aceh. Namun sangat disayangkan belum adanya tempat yang dapat menuliskan sejarah Kerajaan Aceh tersebut. Persentase penduduk Muslim di Aceh adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi yang diatur sendiri karena alasan sejarah. Agar tempat penulisan ini memiliki unsur yang rekreatif, maka bentuk tempat dibuat dengan bentuk taman museum (museum outdoor). Sehingga tempat ini dapat memiliki 2 fungsi sekaligus yaitu tempat konservasi sejarah dan fungsi sebagai objek wisata edukatif. dengan hal ini pengunjung juga dapat melakukan 2 aktifitas sekaligus yaitu rekreasi dan belajar. Taman museum ini dibungkus dengan gaya islamic garden supaya dapat merefleksikan bagaimana bentuk Kerajaan Aceh terdahulu yang banyak terpengaruhi dengan gaya Kerajaan Turki. Taman ini diharapkan dapat menambah pemasukan daerah dari sektor pariwisata dan menambah nilai historis pada wilayah aceh itu sendiri.Design of the Aceh Kingdom Museum ParkAbstractIndonesia is a country where the majority religion is Islam. Aceh is considered as the starting place for the spread of Islam in Indonesia and played an important role in the spread of Islam in Southeast Asia. In the early 17th century, Aceh's history was marked by political freedom and strong resistance to the control of foreigners, including the former Dutch colonialists and the Indonesian government. When compared to other provinces, Aceh is a very conservative region (upholding religious values) and the oldest Islamic kingdom in Indonesia, namely Samudra Pasai, developed into a larger kingdom, namely the Kingdom of Aceh. But it is very unfortunate that there is no place that can write down the history of the Kingdom of Aceh. The percentage of Muslim population in Aceh is the highest in Indonesia and they live according to Islamic sharia. Unlike most other provinces in Indonesia, Aceh has self-governing autonomy for historical reasons. So that the place for writing has a recreational element, the shape of the place is made in the form of a museum park (outdoor museum). So that this place can have 2 functions at once, namely a place of historical conservation and a function as an educational tourist attraction. With this, visitors can also do 2 activities at once, namely recreation and study. The museum garden is wrapped in an Islamic garden style so that it can reflect how the former Aceh Kingdom was heavily influenced by the Turkish Empire style. This park is expected to increase regional income from the tourism sector and add historical value to the Aceh region itself.