Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Keefektifan Bakteri dan Khamir Asal Air Rendaman Kompos dalam Menekan Perkembangan Penyakit Bercak Coklat (Alternaria solani Sorr.) pada Tomat Noor Istifadah; Putu Ghita Novilaressa; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.383 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.26876

Abstract

Penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh jamur Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Cara pengendalian penyakit bercak coklat yang biasa dilakukan adalah dengan penyemprotan fungisida sintetik. Mengingat berbagai dampak negatif dari penggunaan pestisida yang terus-menerus, maka perlu dikembangakan cara pengendalian ramah lingkungan seperti pengendalian secara biologi. Bakteri dan jamur merupakan mikrob yang berpotensi sebagai agens biokontrol penyakit tanaman. Salah satu sumber dari agens antagonis patogen tanaman adalah air rendaman kompos. Paper ini mendiskusikan hasil penelitian yang mengevaluasi kemampuan bakteri mikrob yang diisolasi dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba untuk menghambat pertumbuhan A. solani in vitro dan menekan penyakit yang disebabkan patogen tersebut pada buah dan tanaman tomat. Percobaan secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap, sementara pengujian pada buah dan tanaman tomat menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Isolasi mikrob dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba menghasilkan 35 isolat, yang mana 11 isolat (enam isolat bakteri dan lima isolat khamir) dapat menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro sebesar 79,3%-84,2% dengan zona hambat sebesar 0,0-28,3 mm. Pada pengujian secara in vivo, lima isolat non-patogenik (dua isolat bakteri dan tiga isolat khamir) dapat menekan penyakit bercak coklat pada buah tomat sebesar 100% dan pada daun tomat sebesar 77,5%-98,1%. Isolat-isolat ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agens biokontrol penyakit bercak coklat pada tanaman tomat.
Kemampuan Kompos dan Kompos Plus untuk Meningkatkan Ketahanan Tanaman Tomat terhadap Penyakit Bercak Coklat (Alternaria solani Sor.) Noor Istifadah; Nasrul Hakim
Agrikultura Vol 28, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.425 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i3.15742

Abstract

ABSTRACTAbilities of compost and compost plus to enhance tomato resistance to early blight (Alternaria solani Sor.)Compost can be used for organic fertilizer and also for disease control. To enhance its effectiveness, compost was fortified with antagonistic microbes and called compost plus. The aims of this study were to examine the potential of compost plus and its component, compost and antagonistic fungi (Trichoderma harzianum, Papulaspora sp. and Paecylomyces sp.) to enhance tomato resistance to early blight disease (Alternaria solani) and also to obtain the effective and efficient application methods of compost plus for enhancing the plant resistance. The results showed that compos, compost plus and T. harzianum enhanced the tomato resistance so that suppressed early blight disease by 39.2%-40.1%. The application methods were not significantly influenced the effectiveness of compost plus in enhancing the plant resistance. The application of compost plus as seed dressing, in the planting site or spraying water extract onto leaves solely or in combination suppress early blight disease by 31.96%-42.08%. The separation between the treatments and pathogen inoculation indicated the increase or induction of tomato resistance to the disease.Keywords: Antagonistic microbes, Trichoderma harzianum, Application method, Induced resistanceABSTRAKKompos selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit. Guna meningkatkan keefektifannya, kompos ditambah dengan jamur antagonis dan disebut ‘kompos plus’. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan kompos plus dan komponen penyusunnya yaitu kompos dan jamur antagonis (Trichoderma harzianum, Papulaspora sp. dan Paecylomyces sp.) untuk meningkatkan ketahanan tanaman tomat terhadap penyakit bercak coklat dan mendapatkan cara aplikasi kompos plus yang efektif dan efisien untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kompos plus, kompos, dan T. harzianum dapat meningkatkan ketahanan tanaman tomat sehingga menekan penyakit bercak coklat sebesar 39,2%-40,1%. Cara aplikasi kompos plus tidak berpengaruh secara nyata terhadap kemampuannya dalam meningkatkan ketahanan tanaman. Aplikasi kompos plus dengan cara perendaman benih dalam air rendaman kompos plus, aplikasi pada lubang tanam atau penyemprotan dengan air rendaman kompos baik secara tunggal maupun dengan cara gabungan dapat menekan penyakit bercak coklat sebesar 31,96%-42,08%. Pemisahan tempat antara perlakuan dengan inokulasi patogen mengindikasikan adanya peningkatan atau induksi ketahanan tanaman terhadap penyakit.Kata Kunci: Mikroba antagonis, Trichoderma harzianum, Cara aplikasi, Induksi ketahanan
Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Jamur Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki dan Penekanan Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet Endah Yulia Yulia; Noor Istifadah; Fitri Widiantini; Hilda Sandra Utami
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.243 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.13226

Abstract

ABSTRACTAntagonisms of Trichoderma spp. against Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki and Supression of White Root Disease on Rubber PlantWhite root disease caused by the infection of fungal pathogen Rigidoporus lignosus is an important disease on rubber plants. The pathogen infects the rubber roots but then might cause leaf drop or even kill the plants. Common control method used in controlling the disease is the application of synthetic fungicides besides increasing application of biological control agents (BCA) as an alternative control method. Trichoderma spp. is frequently used as BCA to control diseases in many plants. The aims of this study were to test the antagonism of Trichoderma spp. against R. lignosus and to assess the effectiveness of Trichoderma spp. corn starter in white root disease suppression on rubber seedlings. Trichoderma spp. The antagonism test was conducted using dual culture method in in vitro test. A randomized block design (RBD) experimental design was used in the glass house trial consisted of five treatments and five replications. Application of the Trichoderma spp. corn starter was combined with the application of compost in the treatments of 25 g BCA + 100 g of compost, 50 g BCA + 200 g of compost, 75 g BCA + 300 g of compost, 100 g of BCA + 400 g of compost, and a control treatment without BCA. The BCA Trichoderma spp. was applied in the same time with the inoculation of 20 g of corn mass culture of R. lignosus. The result of antagonism test showed that Trichoderma spp. isolate was effectively suppressed micelial growth of R. lignosus with the supperession percentage reached 90.82%. Meanwhile, the Trichoderma spp. BCA in corn starter was also suppressed the disease development on rubber seedlings with the highest disease suppression of 100% at the dose of 100 g BCA/seedling.Keywords: Trichoderma spp., biocontrol agents, white root disease, rubberABSTRAKPenyakit jamur akar putih (JAP) merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi patogen Rigidoporus lignosus pada akar tanaman karet yang dapat mengakibatkan daun gugur atau bahkan matinya tanaman. Pengendalian yang umum dilakukan adalah pengendalian kimia dengan menggunakan pestisida sintetik tetapi penggunaan agens biokontrol (ABK) juga telah mulai banyak dilakukan. Penggunaan Trichoderma spp. sebagai ABK telah banyak dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada beberapa tanaman dengan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji antagonisme Trichoderma spp. terhadap jamur R. lignosus dan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet yang diberi perlakuan starter jagung pecah Trichoderma spp. Pengujian antagonisme dilakukan secara in vitro melalui metode dual culture. Percobaan rumah kaca dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan. Aplikasi starter Trichoderma spp. dilakukan dengan tambahan kompos pada perlakuan 25 g ABK + 100 g kompos, 50 g ABK + 200 g kompos, 75 g ABK + 300 g kompos, 100 g ABK + 400 g kompos, dan perlakuan kontrol atau tanpa aplikasi ABK Trichoderma spp. Aplikasi ABK dilakukan bersamaan dengan inokulasi biakan massal jagung pecah jamur R. lignosus sebanyak 20 g/bibit. Hasil uji antagonisme menunjukkan isolatTrichoderma spp. efektif menekan pertumbuhan R. lignosus dengan penekanan mencapai 90,82%. Demikian juga dengan aplikasi starter jagung pecah Trichoderma spp. menunjukkan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet dengan penekanan penyakit mencapai 100% pada dosis 100 g ABK/bibit tanaman karet.Kata Kunci: Trichoderma spp., agens biokontrol, jamur akar putih, karet
Kemampuan Bakteri Endofit Akar dan Ubi Kentang untuk Menekan Penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora pv. carotovora) pada Ubi Noor Istifadah; Muhamad Salman Umar; Sudarjat Sudarjat; Luciana Djaya
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.23 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10880

Abstract

ABSTRACTThe abilities of endophytic bacteria from potato roots and tubers to suppress soft rot disease (Erwinia carotovora pv. carotovora) in potato tuberSoft rot disease caused by Erwinia carotovora pv. carotovora is one of limiting factors in cultivation and post harvest of potato. The eco-friendly control measure that can be developed for controlling the diseases is biological control. Microbes that are potential as biological control agents include endophytic bacteria. This paper discussed the results of study examining the potential of endophytic bacteria isolated from roots and tubers of potato to inhibit the growth of E. carotovora pv. carotovora in vitro and suppress soft rot disease in potato tuber. The results showed that among 24 isolates examined, four isolates of endophytic bacteria (one isolate from potato tuber and three isolates from potato roots) inhibited the growth of E. carotovora pv. carotovora in vitro with inhibition zone 3.5-6.8 mm. In the in vivo test, the isolates inhibited the soft rot disease in potato tuber by 71.5-86.4%. The isolate that tended to show relatively better inhibition in vitro and in vivo was isolate from potato tuber which is CK U3 (Lysinibacillus sp.)Keywords: Biological control, Endophytic bacteria, Post-harvest, Potato, Soft rot diseaseABSTRAKPenyakit busuk lunak yang disebabkan bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora, merupakan salah satu kendala dalam budidaya dan pascapanen kentang. Cara pengendalian ramah lingkungan yang dapat dikembangkan untuk menekan penyakit tersebut adalah pengendalian biologi. Kelompok mikroba yang berpotensi sebagi agens pengendali biologi adalah bakteri endofit. Artikel ini mendiskusikan potensi isolat bakteri endofit yang berasal dari ubi dan akar kentang untuk menghambat pertumbuhan bakteri E. carotovora pv. carotovora secara in vitro dan menekan perkembangan penyakit busuk lunak pada ubi kentang. Hasil percobaan menunjukkan bahwa diantara 24 isolat bakteri yang diuji, terdapat empat isolat bakteri endofit (satu isolat dari ubi kentang dan tiga isolat dari akar kentang) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. carotovora pv. carotovora secara in vitro dengan zona penghambatan sebesar 3,5-6,8 mm. Pada pengujian secara in vivo, isolat-isolat tersebut dapat menekan perkembangan penyakit busuk lunak pada ubi kentang sebesar 71,5-86,4%. Isolat yang cenderung menunjukkan penghambatan relatif lebih baik secara in vitro dan in vivo adalah isolat bakteri endofit asal ubi kentang yaitu isolat CK U3 (Lysinibacillus sp.).Kata Kunci: Pengendalian biologi, Bakteri endofit, Pascapanen, Kentang, Penyakit busuk basah
Potensi Limbah Media Jamur Konsumsi untuk Menekan Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) pada Tanaman Kentang Noor Istifadah; P. Rizky D. Sianipar
Agrikultura Vol 26, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.502 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i2.8465

Abstract

ABSTRACTThe Potential of Spent Mushroom Substrate to Control Bacterial Wilt Disease (Ralstoniasolanacearum) in PotatoBacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum is one of important diseases in potato. One ofecofriendly-control measures is the use of organic matters including spent mushroom substrate.This paper discussed the study that examined the potential of spent substrates of oyster mushroom(Pleurotus sp.), shiitake (Lentinus edodes), Auricularia auricula and composted spent mushroomsubstrate to inhibit the growth of Ralstonia solanacearum in vitro and to suppress the diseaseincidence of bacterial wilt disease in potato. The results showed that spent substrate of shiitakemushroom slightly inhibited the growth of R. solanacearum in vitro with inhibition zone 1.5 mm.The spent mushroom substrate applied in the growth medium and drenching its water extractevery week significantly reduced the disease incidence of bacterial wilt disease, however thesuppression level was only 26.1%. The spent substrates of oyster mushroom (Pleurotus sp)., A.auricula and composted spent mushroom substrate did not suppress the disease incidence.Keywords : Lentinus edodes, Pleurotus, Auricularia auricula, organic matters, spent mushroomwater extractABSTRAKLayu bakteri yang disebabkan Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit penting padapertanaman kentang. Salah satu cara pengendalian penyakit yang ramah lingkungan adalahdengan menggunakan bahan organik, termasuk limbah media jamur konsumsi. Artikel inimendiskusikan penelitian yang mengkaji potensi limbah media tanam jamur tiram (Pleurotus sp.),jamur shiitake (Lentinus edodes), jamur kuping (Auricularia auricula) dan kompos limbah mediajamur konsumsi untuk menghambat R. solanacearum in vitro serta menekan penyakit layu bakteripada tanaman kentang. Hasil percobaan menunjukkan air rendaman limbah media jamur shiitakerelatif menekan R. solanacearum secara in vitro dengan zona penghambatan 1,5 mm. Limbahmedia jamur shiitake yang diaplikasikan pada medium tanam dan air rendamannya disiramkan ketanaman kentang setiap minggu sekali dapat menurunkan persentase tanaman layu secara nyatadibandingkan dengan kontrol, namun tingkat penekanannya hanya sebesar 26,1%. Limbah mediajamur tiram (Pleurotus sp.), jamur kuping (A. auricula) serta kompos limbah media jamur tidakmenghambat R. solanacearum secara in vitro dan tidak dapat menekan penyakit layu bakteri padatanaman kentang.Kata kunci : Lentinus edodes , Pleurotus, Auricularia auricula, bahan organik, air rendamanlimbah jamur
Penambahan Gula untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Antagonisme Khamir Rhodotorula minuta terhadap Colletotrichum acutatum Penyebab Antraknosa Cabai secara In-vitro Sri Hartati; Wahyu Daradjat Natawigena; Noor Istifadah; Sri Rosmala Dewi
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.875 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.19251

Abstract

ABSTRACTThe addition of sugar to increase the growth and antagonism of Rhodotorula minuta against Colletotrichum acutatum, the causal agent of anthracnose on chilli in-vitroBiocontrol can be used as an alternative in controlling anthracnose disease on chilli caused by Colletotrichum acutatum. One of the antagonistic agents that reported to be able to control anthracnose on chilli is Rhodotorula minuta. Some sugars can be utilized by R. minuta for its growth and antagonism. This research was objected to study the effect of addition of some sugars to increase the growth and antagonism of R. minuta. The experiment was arranged in the completely randomized design with 16 treatments and 3 replications. The treatments were addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose at 1%, 2.5% and 5% each. The results showed that the addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose were able to increase the growth of R. minuta. The addition of glucose, sucrose, trehalose, and D-mannitol increased antagonism of R. minuta. The addition of 1% sucrose was able to stimulate the highest growth rate of R. minuta at the cell density of 3.87 x 107 cells/ml. The addition of trehalosa 2.5% increased the colony growth at 3 and 6 days after treatment. Sucrose 2.5%, D-manitol 5%, and glukosa 2,5% caused the highest relative inhibition of R. minuta against C. acutatum.Key words: antagonistic yeast, glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, D-xyloseABSTRAKPengendalian hayati dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai. Salah satu agens antagonis yang telah dilaporkan mampu mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum adalah khamir Rhodotorula minuta. Beberapa gula dapat dimanfaatkan oleh R. minuta untuk pertumbuhan dan antagonismenya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa gula untuk meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme R. minuta. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 16 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari penambahan gula glukosa, sukroa, trehalosa, D-mannitol dan D-xylose dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5% dan 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, dan D-xylose dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta. Penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, dan D-mannitol dapat meningkatkan antagonisme R. minuta. Perlakuan penambahan gula sukrosa 1% merupakan perlakuan yang dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta dengan kerapatan sel tertinggi yaitu sebesar 3,87 x 107 sel/ml. Penambahan trehalosa 2,5% dapat meningkatkan pertumbuhan koloni pada 3 HSP dan 6 HSP. Sukrosa 2,5%, D-manitol 5% dan glukosa 2,5% menyebabkan tingkat hambatan relatif R. minuta tertinggi terhadap C. acutatum.Kata kunci : Khamir antagonis, glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, D-xylosa
Kemampuan Kompos Plus dalam Menekan Penyakit layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici) pada Tanaman Tomat Noor Istifadah; Toto Sunarto; Dian E. Kkartiwa; Diyan Herdiyantoro
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1422.139 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.639

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala dalam budidaya tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian penyakit ramah lingkungan yang banyak dikembangkan adalah pengendalian secara biologi (biokontrol). Artikel ini membahas penelitian yang menguji waktu aplikasi dan dosis kompos plus (formulasi campuran jamur antagonis Trychoderma sp., paecilomyces fumosoroseus, dan jamur endofit Papulaspora sp. dalam kompos) yang efektif menekan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos plus yang diaplikasikan pada medium persemaian (1:2, v/v) dan pindah tanam sebanyak 30 g atau 40 g per lubang tanam atau diaplikasikan pada saat pindah tanam saja sebanyak 40 g per lubang tanam, dapat menekan gejala internal penyakit layu fusarium sebesar 77,3 — 87,9%.
Potensi Mikrob Asal Air Rendaman Limbah Jamur Tiram untuk Menghambat Alternaria solani Sorr. in Vitro dan Penyakit Bercak Cokelat pada Tomat Noor Istifadah; Santa Monica; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29198

Abstract

Penyakit bercak cokelat yang disebabkan oleh Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan adalah pengendalian biologi. Bahan organik termasuk limbah jamur tiram merupakan salah satu sumber yang potensial untuk mendapatkan mikrob yang bersifat antagonistik terhadap patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram yang dapat menghambat pertumbuhan Alternaria solani secara in vitro dan menekan penyakit bercak cokelat pada buah dan daun tomat. Percobaan terdiri dari beberapa tahap antara lain isolasi mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram, seleksi awal dan uji lanjutan kemampuan isolat mikrob untuk menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro dengan metode dual culture. Isolat hasil seleksi in vitro diuji kemungkinan patogensitasnya pada buah tomat dan isolat non patogenik yang dapat menghambat infeksi A. solani diuji lebih lanjut pada tanaman tomat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa di antara 23 isolat mikrob yang diperoleh dari air rendaman limbah jamur tiram terdapat delapan isolat yang dapat menghambat pertumbuhan A. solani  secara in vitro dengan tingkat penghambatan berkisar antara 70,1% sampai  81,2%.  Pada pengujian di buah tomat, dua isolat jamur berhifa (Rhizopus spp.) bersifat patogenik dan tiga isolat mikrob non patogenik dapat menghambat infeksi A solani pada buah tomat sebesar  78,4% dan 83,7%. Pada percobaan di tanaman tomat, hanya dua isolat (isolat jamur TJ4 dan isolat bakteri TB25) yang dapat menekan penyakit bercak cokelat masing-masing sebesar 54,8% dan 37,9%.
Penekanan Penyakit Busuk Pangkal (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) pada Bawang Merah oleh Beberapa Jenis Bahan Organik Yudhisa Hendri Prabowo; Fitri Widiantini; Noor Istifadah
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28876

Abstract

Busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah. Bahan organik berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan bahan organik (blotong, limbah jamur merang, kompos jerami, dan pupuk kotoran ayam) untuk menekan penyakit busuk pangkal serta pertumbuhan dan hasil pada bawang merah. Mekanisme yang terlibat dalam penekanan F. oxysporum f.sp. cepae secara in vitro juga dikaji. Percobaan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis bahan organik yang diaplikasikan pada media tanam dengan atau tanpa penyiraman air rendamannya dua minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua bahan organik yang diuji dapat menekan penyakit busuk pangkal pada bawang merah sebesar 50,5%-63,2% serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Mekanisme penekanan F. oxysporum f.sp. cepae oleh bahan organik sebagian besar karena adanya mikrob yang dapat menghambat pertumbuhan patogen tersebut. Mikrob yang menunjukkan penghambatan terhadap patogen yang terbaik (74,7%) adalah isolat MJ7 (Trichoderma sp.) yang berasal dari limbah jamur merang.
Kandungan Hormon dan Pertumbuhan Tanaman pada Bioassay Bibit Kentang yang Diberi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Mycorrhizal Helper Bacteria Nurbaity, Anne; Suminar, Erni; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.49851

Abstract

Produksi bibit tanaman kentang secara in vitro melalui kultur jaringan merupakan teknik yang sedang berkembang. Berbagai upaya peningkatan kualitas bibit tanaman kentang telah dilakukan dan salah satu alternatifnya adalah dengan aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan mycorrhizal helper bacteria (MHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan serta hormon yang dihasilkan FMA dan MHB pada bibit tanaman kentang yang dikulturkan secara in vitro. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat jenis media tumbuh dan sepuluh replikasi. Media tumbuh meliputi Murashige & Skoog (MS) kontrol, dengan FMA, MHB, dan kombinasi FMA dan MHB. Untuk melakukan inokulasi, 10 spora FMA (Glomus sp.) yang telah disterilisasi ditransfer ke zona akar tanaman, dan MHB (Pseudomonas diminuta) ditambahkan ke dalam media. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bibit, berat segar akar dan pupus, serta hormon auksin, giberelin dan sitokinin (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA dan MHB menghasilkan hormon auksin, giberelin dan sitokinin. Efek pupuk hayati terhadap hormon tumbuh yang dihasilkan dan pertumbuhan bibit kentang berbeda secara signifikan. Selanjutnya, inokulasi FMA tunggal memiliki pengaruh yang sama dengan media MSR yang diinokulasi kombinasi FMA dan MHB terhadap pertumbuhan bibit tanaman kentang. Sintesis hormon sangat signifikan pada media yang diinokulasi MHB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati FMA bersama MHB mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman sebesar 9,01 cm atau 19,6% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan bobot segar sebesar 12,72 g atau 60% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Peningkatan pertumbuhan tanaman ini terkait dengan tingkat hormon tumbuh yang dihasilkan oleh FMA dan MHB yang juga lebih tinggi yaitu 4,06, 8,62 dan 5,77 µmol/mol NTP berturut-turut untuk auksin, giberelin dan sitokinin.