Claim Missing Document
Check
Articles

Perawatan Mesin SNS Cutter di PT.XYZ Daniel, Irfan; Suhendra, Bobie; Anjani, Ratna Dewi
Patria Artha Technological Journal Vol 7, No 2 (2023): Patria Artha Technological Journal
Publisher : Department of Electrical Engineering, University of Patria Artha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33857/patj.v7i2.706

Abstract

Penggunaan produk dari kaca di sektor industri mengalami peningkatan dikarenakan kaca banyak digunakan pada bangunan,  dan  automotive. Produksi kaca pada PT. XYZ memiliki sistem yang baik dari segi sumber daya  manusia  dan produk.  Kaca  yang  mengalami  kecacatan   juga dapat  diolah  kembali  sehingga  mengurangi kerugian  pada  produksi  dalam  perusahaan   kaca ini. Produksi yang baik juga disebabkan oleh mesin yang baik pula, sehingga mesin yang ada pada perusahaan ini harus di rawat  dengan  baik  agar tidak  terjadi  hambatan  proses  produksi   oleh karena  mesin  rusak  dan   lain   sebagainya. Penelitian ini berfokus  pada  mesin  sns  cutter karena mesin ini memiliki peran penting dalam pemotongan kaca untuk memenuhi kepuasaan konsumen  dalam  berbagai  ukuran.  Mesin   sns cutter ini memiliki macam-macam cara perawatan, memiliki berbagai spare part yang ada pada mesin sehingga harus dilakukan  pengecekan  secara berkala. Jenis-jenis perawatan yang ada pada mesin sns cutter, proses produksi dari kaca terbentuk sampai dipotong sesuai dengan keinginan konsumen, penyebab kerusakan mesin. Berdasarkan penelitian ini diketahui penyebab seringnya mesin mengalami kerusakan jika minyak tidak optimal sehingga pisau pada mesin cutter mengalami tumpul dan menyebabkan potongan kaca tidak maksimal. Perawatan pada mesin ini dilakukan dalam harian, mingguan, dan bulanan.
Analisis Variasi Tipe Sambumgan pada Material Komposit dengan Serat Sintesis Bimantoro, Bagus; Anjani, Ratna Dewi; ., Kardiman
JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Kajian Teknik Mesin
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/jktm.v8i2.7089

Abstract

Scanning Electrone Microscope dilakukanpada salah satu spesimen sebelum dansesudah pengujian geser, guna melihatefektifitas sambungan dan kegagalan tiapsambungan yang digunakan. Terlihat padaspesimen yang disambungkanmenggunakan adhesive bonding dengantingkat kekasaran yang tinggi dapatmenyerab dengan baik pada keduaspesimen uji yang disambungkan,sehingga pada pengujian gesermendapatkan nilai beban maksimal yangpaling tinggi. Untuk kegagalan yangterjadi pada adhesive bonding adalahpengelupasan (peeling) yang disebabkanoleh sifat adhesive yang elastis dan tidakgetas, dan terlihat pada serat juga terjadikerusakan yang disebabkan olehpengelupasan adhesive di sekitar area yangdirekatkan menggunakan adhesivebonding.Sedangkan pada spesimen uji denganstandar ASTM D5961 yang disambungkanmenggunakan mur dan baut memilikitingkat kerapatan yang tinggi padaspesimen dengan tingkat kekasaran yangrendah. Namun memiliki beban maksimalyang dapat diterima pada spesimen ujidengan tingkat kekasaran yang cukuptinggi (kode spesimen B2) dengan nilaisebesar 3791,25 N.
ANALISIS PENGARUH PROSES VARIASI TEMPERATUR PACK CARBURIZING ARANG SEKAM PADI TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO & KOMPOSISI KIMIA BAJA ASTM A36 Fauzan, Farras Noor; Anjani, Ratna Dewi; Hanifi, Rizal
JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Kajian Teknik Mesin
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/jktm.v8i1.7000

Abstract

AbstrakPada proses perlakuan panas, terdapat beberapa metode perlakuan panas pada baja karbon yaitu pack carburizing, carbonitriding, cyaniding, dan nitriding. pack carburizing merupakan proses perlakuan panas (heat treatment) yang dilakukan dengan cara mendifusikan unsur karbon pada permukaan logam yang kemudian dipanaskan pada suhu austenitnya. Tujuan pack carburizing yaitu untuk menaikkan kadar karbon pada lapisan permukaan baja sehingga didapatkan material baja yang memiliki permukaan keras dan sifat mekanik lain-nya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif eksperimental, yaitu metode uji coba dan analisis terhadap nilai kekerasan dan struktur mikro pada proses pack carburizing dengan variasi temperatur yang berbeda. Pada pengujian komposisi kimia terhadap sampel baja karbon rendah ASTM A36 sebelum dan sesudah proses pack carburizing terjadi kenaikan kadar karbon sebesar 94,4%. 2. Pada pengujian kekerasan Rockwell setelah proses pack carburizing 870°C dengan arang sekam padi 90% dan BaCO3 10% didapat nilai kekerasan rata-rata sebesar 22,41 HRC dan case depth 179.64 µm. 3. Pada pengujian kekerasan Rockwell t setelah proses pack carburizing 910°C dengan arang sekam padi 90% dan BaCO3 10% didapat nilai kekerasan rata-rata sebesar 41,93 HRC dan case depth186,54 µm. 4. Berdasarkan perbandingan variasi temperatur 870°C dan 910°C terhadap nilai persentase kenaikan karbon terjadi kenaikan sebesar 87,10%. 5. Berdasarkan struktur mikro pada temperatur 870°C didapatkan struktur fasa 6. Berdasarkan struktur mikro pada temperatur 910°C didapatkan struktur fasa.Kata kunci: carburizing, struktur mikro, kekerasan, rockwellAbstractIn the heat treatment process, there are several heat treatment methods for carbon steel, namely pack carburizing, carbonitriding, cyaniding, and nitriding. pack carburizing is a heat treatment process that is carried out by diffusing carbon elements on a metal surface which is then heated to its austenite temperature. The purpose of pack carburizing is to increase the carbon content in the steel surface layer so that a steel material that has a hard surface and other mechanical properties is obtained. In this study the method used was quantitative experimental research method, namely the method of testing and analysis of hardness values and microstructures in the pack carburizing process with different temperature variations. In testing the chemical composition of ASTM A36 low carbon steel samples before and after the pack carburizing process, there was an increase in carbon content of 94.4%. 2. In the Rockwell hardness test after the pack carburizing process at 870°C with 90% rice husk charcoal and 10% BaCO3, the average hardness value was 22.41 HRC and a case depth of 179.64 µm. 3. In the Rockwell t hardness test after the pack carburizing process at 910°C with 90% rice husk charcoal and 10% BaCO3, the average hardness value was 41.93 HRC and a case depth of 186.54 µm. 4. Based on a comparison of temperature variations of 870°C and 910°C to the percentage increase in carbon, there was an increase of 87.10%. 5. Based on the microstructure at 870°C, the phase structure is obtained. 6. Based on the microstructure, at 910°C, the phase structure is obtained.Keywords: carburizing, microstructure, hardness, rockwell
Analisis Sifat Mekanik Pada Komposit Serat Daun Nanas Dengan Filler Talc Mg₃Si₄O₁(Oh)₂ : Analysis of Mechanical Properties of Pineapple Leaf Fiber Composites With Filler Talc Mg₃Si₄O₁₀(Oh)₂ Dadan Ma'arif; Ratna Dewi Anjani; Deri Teguh Santoso
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v11i2.65803

Abstract

Pemanfaatan material komposit sebagai bahan alternatif dari fiber glass dalam bidang otomotif khususnya pada body kendaraan kini semakin banyak dikenal orang. Hal ini dikarenakan keuntungan bahan dari material komposit berpenguat serat alam ini yaitu ramah lingkungan, beban lebih ringan, harga relatif murah, sifat mekanik yang sangat baik, dan mudah didapat. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sifat mekanik pada komposit serat daun nanas untuk material body mobil listrik Anobrain dengan bermaksud untuk mengetahui karakteristik serat daun nanas dengan filler talk Mg₃Si₄O₁₀(Oh)₂ serta pengaruh serat daun nanas terhadap perbandingan matriks fraksi volume 50:50, 60:40, dan 70:30 pada pengujian tarik dan impak. Hasil pengujian tarik tertinggi pada perbandingan fraksi 50:50 yaitu sebesar 34,2 MPa. Sedangkan untuk nilai kekuatan tarik terendah terjadi pada perbandingan fraksi 70:30 sebesar 21,5 MPa. Nilai modulus elastisitas pada pengujian tarik tanpa serat memiliki nilai sebesar 778 MPa dan nilai modulus elastisitas untuk perbandingan fraksi 50:50 sebesar 171 MPa. Dari hasil pengujian impact yang telah dilakukan bahwa energi impact paling tinggi yaitu sebesar 68,33 joule pada perbandingan fraksi 50:50 dan nilai energi impact terendah yaitu sebesar 40 joule pada fraksi tanpa serat (resin dengan katalis). Kata kunci: Komposit, serat daun nanas, uji tarik, uji impak
Analisis Pengaruh Media Pendingin Terhadap Sifat Mekanik Sambungan Las TIG (Tungsten Inert Gas) Pada Baja St 42 : Analysis Of The Effect Of Cooling Media On The Mechanical Properties Of TIG (Tungsten Inert Gas) Welded Joints In St 42 Steel Disya Haeriati Ariwiana Putri; Ratna Dewi Anjani; Iwan Nugraha Gusniar
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v11i2.65816

Abstract

Proses pengelasan yaitu proses penyambungan dua material atau lebih dengan karakteristik material logam induk yang sama ataupun material logam induk yang berbeda. Pada proses pengelasan terdapat banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Dalam penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh media pendingin terhadap sifat mekanik sambungan las Tungsten Inert Gas pada baja St 42. Dengan menggunakan variasi media pendingin yaitu air tawar, air coolant, dan oli bekas dengan interval waktu perendaman selama 15 menit. Uji sifat mekanik yang dilakukan meliputi uji kekerasan rockwell yang menggunakan standar ASTM E18 dan uji tarik yang menggunakan standar ASTM E8 dan dilakukan pengujian struktur mikro. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi ada pada media pendingin air coolant dengan nilai kekerasan pada daerah lasan sebesar 29,7 HRC. Dan untuk hasil uji tarik yang diambil dari hasil konversi nilai kekerasan dimana nilai tertinggi pada penggunaan media pendingin air coolant dengan nilai sebesar 965 N/mm2. Hasil pengujian struktur mikro dengan media pendingin air coolant yang terbentuk adalah fasa ferit, perlit, dan martensit. Pendinginan secara cepat sehingga ferit yang bertranformasi menjadi martensit. hal ini menyebabkan tingkat kekerasan pada spesimen dengan media pendingin air coolant cukup tinggi dan bersifat getas. Untuk struktur mikro pada sepesimen tanpa media pendingin, oli bekas, dan air tawar yang terbentuk adalah perlit dan ferit.   Kata kunci: Pengelasan, Variasi Pendingin, Baja St 42, Sifat Mekanik.   The welding process is the process of joining two or more materials with the same parent metal material characteristics or different parent metal materials. In the welding process there are many factors that must be considered. This study aims to determine the effect of cooling media on the mechanical properties of Tungsten Inert Gas welding joints on St 42 steel. By using a variety of cooling media, namely fresh water, coolant water, and used oil with an immersion time interval of 15 minutes. The mechanical properties tests carried out include rockwell hardness tests using ASTM E18 standards and tensile tests using ASTM E8 standards and microstructure testing. The results of this study indicate that the highest hardness value is in air coolant cooling media with a hardness value in the weld area of 29.7 HRC. And for the tensile test results taken from the conversion of hardness values where the highest value is in the use of water coolant cooling media with a value of 965 N/mm2. The results of microstructure testing with water coolant cooling media formed are ferrite, pearlite and martensite phases. Cooling quickly so that ferrite is transformed into martensite. this causes the level of hardness in specimens with water coolant cooling media is quite high and brittle. For the microstructure of the specimens without cooling media, used oil, and fresh water formed are pearlite and ferrite.   Keywords : Welding, Cooling Media Variation, St 42 Steel,Mechanical Properties.
Pengaruh Fraksi Volume Komposit Serat Pelepah Pisang Kepok Dengan Polyester Dan Filler Terhadap Sifat Mekanik: Effect of Volume Fraction of Kepok Banana Leaf Fiber Composite with Polyester and Filler on Mechanical Properties Rinto Fuazzidin; Ratna Dewi Anjani; Viktor Naubnome
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v11i2.66002

Abstract

Di era yang sekarang ini perkembangan zaman dalam bidang teknologi maupun industri kini semakin meningkat pesat. Dengan semakin banyaknya pabrik-pabrik didirikan dan beroperasi maka kebutuhan akan material dan bahan akan semakin meningkat terutama material yang nantinya akan dijadikan sebuah produk jadi. Komposit adalah suatu struktur material yang terdiri dari perpaduan dua material atau lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fraksi volume komposit serat pelepah pisang kapok dengan polyester dan filler terhadap sifat mekanik. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode eksperimental dan dalam pembuatan komposit menggunakan metode hand lay-up dengan perbedaan fraksi volume disetiap spesimennya adalah 0%, 5%, 10%, dan 15%. Bubuk talk digunakan sebagai filler dengan perbandingan antara resin dan talk 2:1. Perendaman serat pelepah pisang kepok menggunakan etanol (C₂H₅OH) selama 2 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa fraksi volume serat pelepah pisang kepok sangat berpengaruh terhadap sifat mekanik, karna semakin besar fraksi volume yang digunakan maka akan semakin besar pula kekuatannya. Nilai pada pengujian tarik yang paling optimum terdapat pada fraksi volume serat 15% dengan nilai tegangan tarik sebesar 33,27 MPa, nilai regangan tarik sebesar 2,03%, nilai modulus elastisitas 0,166 GPa. Nilai pada pengujian impak yang paling optimum terdapat pada fraksi volume 15% dengan nilai energi serap sebesar 1,62832 J, nilai kekuatan impak sebesar 11,80 KJ/m², dan nilai harga impak sebesar 0,0118 J/mm². Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan fraksi volume serat pelepah pisang kepok dapat mempengaruhi sifat mekaniknya, semakin besar fraksi volume serat maka semakin besar pula sifat mekaniknya. Kata kunci: Bubuk talk, Etanol, Komposit, Serat pelepah pisang kapok.
Pengaruh Paduan Serbuk Bambu Dan Matriks Polyethylene Terhadap Sifat Mekanik Wpc: Effect of Bamboo Powder Alloy and Polyethylene Matrix on The Mechanical Properties of Wpc Arfansyah Ramdhani; Ratna Dewi Anjani; Iman Dirja
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v11i2.66005

Abstract

Wood Plastic Composite Merupakan sebuah material bahan yang sangat ramah lingkungan dikarenakan sumber bahan bakunya adalah bahan mentah daur ulang. Tujuan dari penelitian pembuatan WPC ini adalah untuk meminimalisir penumpukan limbah kayu dan juga penumpukan limbah plastik yang nantinya hasil dari penelitian akan diklasifikasikan kembali dengan klasifikasi mutu kayu. WPC ini menggunakan metode Hot-press dalam pembuatannya dan mengikuti 2 pengujian yaitu pengujian sifat fisika dan juga pengujian sifat mekanik. Penelitian ini juga meliputi 2 variasi yang nantinya akan dibandingkan yaitu matrix-filler 70%-30% dan 80%-20%. Hasil pengujian dalam mencari nilai sifat fisika mendapatkan nilai rata-rata pada variasi matrix-filler 80%-20% 0,133% adalah pada kadar air. Pada percobaan variasi matrix-filler 70%-30% mendapatkan rata-rata nilai kadar air yaitu 0.156%. Untuk pengujian serap air variasi matrix-filler 70%-30% nilai rata-rata yang dihasilkan adalah 0,32% dalam perendaman 24jam. Dan untuk variasi 80%-20% nilai rata-rata yang dihasilkan adalah 0,25% dalam perendaman 24jam. Untuk pengujian kembang susut variasi matrix-filler 80%-20% didapatkan nilai rata-rata adalah 0,0085% untuk 24jam. Dan untuk variasi 70%-30% mendapatkan nilai rata-rata 0,022% dalam perendaman 24jam. Untuk pengujian mencari nilai mekanik meliputi pengujian tarik dan pengujian tekuk (bending). Untuk variasi matrix-filler 70%-30% didapatkan nilai tertinggi 8,48MPa dan terendah 4,10MPa untuk nilai kekuatan tarik dan untuk kekuatan tekuk (bending) yang tertinggi adalah 23,4 MPa dan terendah adalah 9,43 MPa. Untuk variasi matrix-filler 80%-20% didapatkan nilai tertinggi adalah 8,81 MPa dan untuk terendah adalah 4,31 sedangkan untuk kekuatan tekuk (bending) yang tertinggi adalah 20,8 MPa dan untuk yang terendah adalah 8,05 MPa. Kesimpulan yang bisa diambil penelitian WPC ini bisa diklasifikasikan dengan kayu balsa dalam kekuatan bending dan masih bisa disebut kayu dikarenakan memiliki sifat serat air dan kembang susut. Kata kunci: Filler, Pengujian tarik, Pengujian tekuk, WPC Wood Plastic Composite is a material that is very environmentally friendly because the source of its raw materials is recycled raw materials. The purpose of this WPC manufacturing research is to minimize the accumulation of wood waste and also the accumulation of plastic waste which later results from the research will be reclassified with wood quality classification. This WPC uses the Hot-press method in its manufacture and follows 2 tests, namely testing the physical properties and also testing the mechanical properties. This study also includes 2 variations that will be compared later, namely matrix-filler 70%-30% and 80%-20%. The test results in finding the value of physical properties get an average value on matrix-filler variations of 80% -20% 0.133% is on water content. In the 70%-30% matrix-filler variation experiment, the average moisture content was 0.156%. For water absorption testing matrix-filler variations of 70% -30% the resulting average value is 0.32% in 24 hour immersion. And for variations of 80% -20% the resulting average value is 0.25% in 24 hour immersion. For testing swelling and shrinkage matrix-filler variation 80% -20%, the average value is 0.0085% for 24 hours. And for variations of 70% -30% get an average value of 0.022% in 24 hour immersion. For testing to find mechanical values ​​including tensile testing and bending testing. For the 70% -30% matrix-filler variation, the highest value was 8.48MPa and the lowest was 4.10MPa for the tensile strength value and for the bending strength the highest was 23.4 MPa and the lowest was 9.43 MPa. For the 80% -20% matrix-filler variation, the highest value was 8.81 MPa and the lowest was 4.31 while for the highest bending strength was 20.8 MPa and the lowest was 8.05 MPa. The conclusion that can be drawn from this WPC study can be classified with balsa wood in bending strength and can still be called wood because it has the properties of water fiber and shrinkage. Keywords : Bending testing, Filler, Tensile testing, WPC
Studi Pengaruh Kedalaman Pemakanan Terhadap Kekasaran Permukaan dan Kekuatan Tarik Baja S45C Pada Proses Bubut Mesin CNC : Study of the Effect of Infeed Depth on the Surface Roughness and Tensile Strength of S45C Steel in the CNC Machine Lathe Process Stefhant Haryanto, Stefhant; Ratna Dewi Anjani; Aripin
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v12i1.67428

Abstract

Proses pemesinan pada mesin CNC adalah dengan cara menyayat dan memotong benda kerja menggunakan pahat insert. Proses pemesinan CNC memiliki banyak keunggulan dalam segi produksi dalam jumlah besar. Program pada mesin bubut CNC memiliki akurasi yang presisi dalam membubut benda kerja. Untuk produksi dalam jumlah banyak diperlukan kualitas hasil pemesinan yang baik seperti hasil kekasaran permukaan. Salah satu faktor penyebab kekasaran permukaan adalah kedalaman pemakanan. Tujuan dari penelitian ini membandingkan kedalaman pemakanan 0,5 mm, 0,75 mm dan 1 mm terhadap hasil kekasaran permukaan dan mencari tahu kekuatan tarik terhadap kekasarannya. Dari hasil penelitian ini diketahui kekasaran permukaan terendah terdapat pada spesimen dengan kedalaman pemakanan 0,4 yaitu sebesar 2,590 µm, tegangan tarik nya memperoleh  hasil sebesar 796,27 x 106 N/m2. Dan kekasaran permukaan tertinggi ada pada kedalaman pemakanan 4,263 µm. Tegangan tarik nya memperoleh  hasil sebesar 703,01 x 106 N/m2.   Kata kunci: Kedalaman Pemakanan, Kekasaran Permukaan, Kekuatan Tarik Machining process on CNC machines involves cutting and shaping the workpiece using insert tools. CNC machining offers numerous advantages, especially in mass production scenarios. CNC lathe programs exhibit high precision accuracy when machining workpieces. For large-scale production, achieving high-quality machining outcomes, such as surface roughness, is essential. One of the factors affecting surface roughness is the depth of cut. The objective of this research is to compare surface roughness outcomes with varying depths of cut, namely 0.5 mm, 0.75 mm, and 1 mm, and to investigate their tensile strength in relation to the surface roughness. The research findings reveal that the lowest surface roughness is observed in specimens machined with a depth of cut of 0.5 mm, measuring at 2.590 µm, and attaining a tensile strength of 796.27 x 106 N/m2. Conversely, the highest surface roughness is seen with a depth of cut of 4.263 µm, with a corresponding tensile strength of 703.01 x 106 N/m2.  Keywords : Depth of Cut, Surface Roughness, Tensile Strength
The Analisis Mesin Slitter Otomatis Menggunakan Metode DMAIC Untuk Menurunkan Untidy Roll Plastic Pada Proses Slitting Di PT. PKF: Analysis of Automatic Slitter Machines Using the DMAIC Method to Reduce Untidy Roll Plastic in the Slitting Process at PT. PKF Khoerudin Ferry Yusuf; Ratna Dewi Anjani; Deri Teguh Santoso; Bobie Suhendra
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jptm.v12i1.68968

Abstract

Plastik digunakan hampir oleh semua orang, plastik dapat digunakan untuk berbagai macam hal, ini membuat plastik menjadi salah satu pemeran penting dalam rantai pasok di Indonesia. Pertumbuhan manufaktur plastik di Indonesia sangat tinggi dan masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan terutama di sektor industri di Indonesia. Dengan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gulungan tidak rapih pada proses slitting, menganalisis langkah-langkah perbaikan dengan menggunakan metode DMAIC pada proses slitting, dan menjelaskan manfaat dari penggunaan metode DMAIC pada proses slitting. Dari hasil analisa penelitian pada PT. PKF didapatkan pada Bulan Maret total produksi 32.255 kg, jumlah defect 1680 kg, CTQ 4, DPMO 13.020, level sigma 3,7 dan pada Bulan April total produksi 25.249 kg, jumlah defect 940 kg, CTQ 4, DPMO 9.300, level sigma 3,8. Sehingga PT. PKF berada pada level 3,75 atau bisa dikatakan berada pada level 4 sigma dengan nilai rata-rata DPMO 11.160 setiap 1.000.000 produksi yang dilakukan oleh PT. PKF, maka perusahaan berada pada level 4 sigma dan sekelas dengan rata-rata industri di Indonesia. Kata kunci: Mesin Slitter; Metode DMAIC; Proses Slitting. Plastic is used by almost everyone, plastic can be used for various things, this makes plastic one of the important players in the supply chain in Indonesia. The growth of plastic manufacturing in Indonesia is very high and still has great potential to be developed, especially in the industrial sector in Indonesia. With this in mind, this study aims to determine the factors that cause untidy rolls in the slitting process, analyze corrective steps using the DMAIC method in the slitting process, and explain the benefits of using the DMAIC method in the slitting process. From the results of research analysis at PT. PKF obtained in March total production 32,255 kg, total defects 1680 kg, CTQ 4, DPMO 13,020, sigma level 3.7 and in April total production 25,249 kg, total defects 940 kg, CTQ 4, DPMO 9,300, sigma level 3, 8. So that PT. PKF is at level 3.75 or it can be said to be at level 4 sigma with an average DPMO value of 11,160 for every 1,000,000 production carried out by PT. PKF, the company is at the 4 sigma level and in the same class as the industry average in Indonesia. Keywords : Slitting Machines; DMAIC method; Slitting Process.
PELATIHAN UJI KEKUATAN LAS MENGGUNAKAN NON DESTRUCTIVE TEST (NDT) DI BENGKEL LAS RASYID Anjani, Ratna Dewi; Santoso, Deri Teguh; Sari, Rianita Puspa
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.8046

Abstract

Abstrak: UMKM merupakan salah satu pendukung ekonomi nasional yang perlu diberdayakan dalam menghadapi perkembangan zaman. Pemberdayaan dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas produk yang mengacu pada standarisasi kerja, karena kualitas merupakan jaminan bagi konsumen dalam menggunakan produk. Permasalahan yang dihadapi mitra sasaran UMKM bengkel las rasyid yaitu saat proses pengelasan produk yang masih terdapat patahan pada produk. Kegiatan pengabdian bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai metode dan cara mengetahui kualitas produk pengelasan melalui uji kekuatan las Non Destructive Test (NDT) sesuai prosedur. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing dengan produk lainnya. Metode pelaksanaan pada pengabdian ini adalah sosialisasi, edukasi, dan pelatihan. Hasil yang diperoleh dari pengabdian ini, pekerja mengetahui cara pengujian kekuatan las dan teknis keterampilan pengujian serta modul prosedur pemeriksaan kekuatan las. UMKM bengkel las perlu menyadari dan memperhatikan tiga hal dalam proses pengelasan yaitu kebersihan material, posisi material dan posisi pekerja, serta kerapatan agar produk yang dihasilkan memiliki kulitas baik.Abstract: MSMEs are one of the supporters of the national economy that need to be empowered in the face of the times. Empowerment can be done through improving product quality which refers to work standardization, because quality is a guarantee for consumers in using the product. The problem faced by the target partner of MSMEs in Rasyid's workshop is when the product welding process still has fractures in the product. The service activity aims to provide knowledge about methods and ways to determine the quality of welding products through the Non Destructive Test (NDT) welding strength test according to the procedure. This is done to improve product quality in order to be able to compete with other products. The implementation method for this service is socialization, education, and training. The results obtained from this service, workers know how to test weld strength and technical testing skills as well as the welding strength inspection procedure module. Welding workshop SMEs need to realize and pay attention to three things in the welding process, namely the cleanliness of the material, the position of the material and the position of the workers, and the density so that the resulting product has good quality.