Claim Missing Document
Check
Articles

Amankah Mengkonsumsi Kerang Hijau Perna viridis L nnaeus, 1758 (Bivalvia: Mytilidae) yang ditangkap di Perairan Morosari Demak? Arifin, Alvi Akhmad; Suryono, Chrisna Adhi; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31650

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan komoditas perikanan yang sering dikonsumsi sebagai bahan pangan. Sampel yang diambil berasal dari perairan Morosari Demak pada bulan Juni, Juli dan Agustus 2020. Tujuan dari penelitian ini untuk menduga kandungan logam berat Pb dan Cu yang terdapat pada air, sedimen dan kerang hijau serta menentukan batas toleransi untuk mengkonsumsi kerang hijau yang mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan juga untuk menentukan Faktor biokonsentrasi (BCF) yang merupakan nilai akumulasi bahan kimia (polutan) dalam tubuh kerang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kerang hijau, air dan sedimen. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai kandungan logam berat dalam daging kerang hijau berkisar 0,140-0,617 mg/kg (Pb) dan 0,035-0,851 mg/kg (Cu). Kandungan Pb dan Cu pada kerang hijau di semua stasiun dan bulan pengambilan sampel masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (2009) untuk logam berat Pb sebesar 1,5 mg/kg dan FAO (1972) untuk logam berat Cu sebesar 1 mg/kg. Kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi logam berat Pb dan Cu pada setiap bulan bervariasi, sebagian besar memiliki kemampuan akumulasi organisme rendah dengan nilai FBK < 1, sebagian memiliki kemampuan akumulasi organisme sedang dengan nilai FBK >1 dan ≤2 dan beberapa memiliki kemampuan akumulasi organisme tinggi dengan nlai FBK >2. Analisis batas aman konsumsi kerang hijau yang tercemar logam berat pada lokasi penilitian menunjukan kerang hijau masih aman dikonsumsi hingga 2,43 kg/minggu pada orang dewasa dengan berat badan rata-rata 60 kg Green mussels, Perna viridis is a fishery commodity that is often consumed as a food. The purpose of this study is to evaluate the concentration of pb and cu heavy metals contained in water, sediment and green mussels. The sample was collected in Morosari coastal waters Demak in June, July and August 2020 and determine the tolerance limit for consuming green mussels containing heavy metals. This research aims to determine the bioconcentration factor (BCF) which is the value of accumulation of chemicals (pollutants) in the body of shellfish. Samples of green mussels were taken from three stations which are ponds of green mussels belonging to Morosari fishermen. This study uses descriptive method, while location determination method using purposive sampling method. The materials used in this study were samples of green mussels, water and sediment. Environmental parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen, brightness, pH are measured in situ. The results showed the value of heavy metals in green shellfish ranging from 0.140-0.617 mg/kg (Pb) and 0.035-0.851 mg/kg (Cu). The content of Pb and Cu in green mussels in all stations and months of sampling is still below the threshold set by the National Standardization Body (2009) for pb heavy metals of 1.5 mg/kg and FAO (1972) for Cu heavy metals of 1 mg/kg. The ability of green shells in accumulating heavy metals Pb and Cu on a monthly vary, most have low organism accumulation ability with BCF value < 1, some have the ability to accumulate medium organisms with BCF values >1 and ≤2 and some have high organism accumulation ability with BCF >2. Analysis of the safe limit of consumption of green mussels contaminated with heavy metals at the research site showed green mussels were still safe to consume up to 2.43 kg/week in adults with an average body weight of 60 kg.
Selection, Identification and Optimization of the Growth Water Probiotic Consortium of Mangrove Ecosystems as Bioremediation and Biocontrol in Shrimp Ponds Wilis Ari Setyati; Erni - Martani; Triyanto - -; Subagiyo - -; Muhammad - Zainuddin
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17 No 3 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4379.25 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v17i3.8913

Abstract

Shrimp aquaculture is an activity that potentially generates organic waste. The accumulation of organic matter is becoming one of the main factors causing the emergence of disease. Problem-solving approach that is most effective is through bioremediation. The aims of this study were to select, identify and cultivate bacteria from mangrove sediments from Cilacap, Rembang and Banyuwangi which potentially as probiotic consortium of bioremediation activity and biocontrol. The results showed that total of 45 isolates (proteolytic), 35 isolates (amylolytic), 35 isolates (lipolytic), and 18 isolates (cellulolytic). There were 59 bacterial isolates had antibacterial activity of vibrio (V. harveyi, V. alginolyticus, V. vulnificus and V. anguilarum). Based on the identification of 16 S-rRNA genes, 4 isolates showed that the C2 isolate was identified as Bacillus subtilis, C11 isolate was identified as Bacillus firmus, C13 and C14 isolates were identified as B. Flexus. This study concluded that cultivation of Bacillus subtilis C2 optimum at 2% molase and yeast extract 0.5% at pH 8 and 30 0C. Bacillus firmus C11 optimum at 2% molase and yeast extract 0.5% at pH 8 and 30 0C. Bacillus flexus C13 optimum at 2% glucose and yeast extract 0.5% at pH 8 and 30 0C. Bacillus flexus C14 optimum at 4% molase and yeast extract 0.25% at pH 8 and 30 0C. The result of culture applications of 4 isolates showed an effect of increasing shrimp weight by 141, 9% compared by the control.Keywords: sediment, mangrove, bioremediation, biocontrol
Pathogenic Assay of Probiotic Bacteria Producing Proteolytic Enzymes as Bioremediation Bacteria Against Vannamei Shrimp Larvae (Litopenaeus vannamei) Wilis Ari Setyati; Muhammad Zainuddin; Person Pesona Renta
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.161 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.22.2.93-98

Abstract

Application of bacteria in bioremediation of shrimp culture ponds is one of the methods used to clean internal pollutants. This study aimed to evaluate the pathogenicity of extracellular proteolytic enzyme produced by the probiotic bacteria as bioremediation bacteria on vannamei shrimp larvae culture. There were five probiotic bacteria, which were successfully isolated from the sediments served as substrate in mangrove area. The isolated bacteria were coded in number as 13, 19, 30, 33, and 36. Pathogenic bacteria Vibrio harveyi was used as positive control. Pathogenic assay was carried out in two different bacterial concentrations, i.e. 10⁸ and 10⁶ cells.mL-1. The results showed that the lowest survival rate (SR) of shrimp larvae in positive control V. harveyi was 53 and 65%. Whereas isolates with the highest SR value (100%) were obtained from bacteria coded as 13 and 30. Isolates no. 19, 33 and 36 had SR of more than 90%. Total plate count (TPC) data showed that the bacteria increased significantly at the end of the study with an average increase value of 24%. The smallest TPC value was shown by bacterial isolate no. 19, while the largest was obtained from the isolate no. 13. These results suggest that all probiotic bacteria were not pathogenic to the vannamei shrimp larvae. Keywords: aquaculture, shrimp, bioremediation, pathogenesis, vibrio.
Bioaktivitas Ekstrak dan Serbuk Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada Vibrio alginolyticus dan Vibrio harveyii Ita Riniatsih; Wilis Ari Setyati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.41 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.3.138-141

Abstract

Vibriosis merupakan penyakit bakterial yang menyerang udang antara lain disebabkan oleh Vibrio alginolyticus dan Vibrio harveyii.  Salah satu upaya perlindungan udang terhadap infeksi vibriosis adalah melalui reduksi jumlah bakteri vibrio di media budidaya dan saluran pencernaan udang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan justifikasi pemanfaatan ekstrak dan serbuk simplisia lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii sebagai agensia pengendali bakteri vibrio. Beberapa penelitian membuktikan  bahwa lamun mempunyai aktivitas antibakteri. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian  jenis lamun lain dan terhadap strain strain bakteri vibrio pathogenik pada udang. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Sampel E. acoroides dan T. hemprichii diekstraksi dengan air panas. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara  in vitro menggunakan  agar disc diffusion method. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak dan serbuk simplisia E. acoroides tidak menunjukan bioaktivitas terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii. Ekstrak T. hemprichii menunjukan bioaktivitas terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii. Sedangkan serbuk simplisia T. hemprichii menunjukan aktivitas antibakteri terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii setelah 48 jam inkubasi Kata kunci : antibakteri, ektrak panas, serbuk, lamun, vibriosis Vibriosis is  a bacterial diseases in prawn which caused by  Vibrio including Vibrio alginolyticus and Vibrio harveyii. An effort to protect the prawn of vibrio infection is by  reducing the number of vibrio bacteria either in the culture media and/or in the gastrointestinal system of the cultured species. The research aimed to find justification for the use of seagrasess Enhalus acoroides and Thalassis hemprichii as vibrio bacteria control agensia. The research was conducted by experimental method. The initial phase of the study was testing the antibacterial activity in vitro using agar disc diffusion method. The result shows that neither extract nor simplicia of E. acoroides have an effect against the growth of V. alginolyticus and V. Extract of however, significantly shows bioactivity respond against those bacteria and its simplicia powder also showing a similar effect but after 48 hours of incubation. Key words : antibacterial, hot water extract, powder, seagrass, vibriosis
Respon Bakteri Nitrifikasi Terhadap Penggunaan Jerami Dan Katul Sebagai Priming Agent Untuk Meningkatkan Laju Respirasi Tanah Tambak Udang Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.89 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.147-151

Abstract

Penelitian tentang respon bakteri nitrifikasi terhadap penggunaan jerami dan katul sebagai priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang telah dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Ada 2 perlakuan yang dibandingkan yaitu pemberian jerami dan pemberian katul, masing-masing dengan 4 sub perlakuan yaitu pemberian jerami atau katul dengan dosis masing-masing 0 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2, dan 0,4 kg/m2. Penelitian dilakukan menggunakan bejana respirasi yang diisi dengan tanah dasar tambak udang pasca panen. Jumlah bakteri nitrifikasi dihitung dengan metode MPN menggunakan medium mineral untuk bakteri nitrifikasi. Hasil penelitian menunjukan adanya respon peningkatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi tanah tambak udang akibat perlakuan penggunaan jerami dan katul sebagai agensia priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang. Respon ini ditunjukan dengan adanya kecenderungan jumlah bakteri nitrifikasi pada perlakuan pemberiaan jerami dan katul yang lebih tinggi dibandingkan tanah yang tidak mendapat perlakuan pemberian jerami dan katul. Pada kondisi penelitian ini respon bakteri nitrifikasi tertinggi terjadl pada perlakuan pemberian jerami atau katul pada dosis 0,2 kg/m2. Hal ini ditunjukan dengan kecenderungan jumlah bekteri nitritikasi yang paling tinggi pada perlakuan pemberian jerami atau katul.Kata kunci: bakteri nitrifikasi; tanah tambak; priming agent; katul; jerami  An experiment was done to assay nitrifier responses on straw and bran application as priming agent to increase pond soil respiration rate. The experiment was done by using complete randomized design. Straw and bran as treatment was applied on sample soil at 0,1 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2. Soil were placed in respiration chambers (500 ml becker glass) was respended above soil surface, and 50 ml of 1.00 N NaOH was pipetted into the backer glass. Respiration chambers were sealed. Nitrifier enumeration was done by MPN method. The experiment showed that increased of number of nitrifier as responds on application of straw and bran. In experiment condition the highest number of nitrifier along time of experiment was happened in application of straw or bran on 0,2 kg/m2 in dosage.Keywords: Nitrifier; straw; bran; pond soil; priming agent
Growth kinetics and Protease Activity 36K Isolates Derived from Mangrove Ecosystem Sediment, Karimunjawa, Jepara (Kinetika Pertumbuhan dan Aktivitas Protease Isolat 36k Berasal dari Sedimen Ekosistem Mangrove, Karimunjawa, Jepara) Wilis Ari Setyati; Erni Martani; Triyanto Triyanto; Muhammad Zainuddin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.88 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.163-169

Abstract

Budidaya perikanan laut dan payau menghasilkan sejumlah besar limbah organik yang dibuang ke lingkungan sekitarnya. Sebagian besar limbah organik ini berasal dari sisa pakan, dan feses. Faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi budidaya udang adalah munculnya penyakit dan penurunan kualitas air yang dikarenakan adanya akumulasi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika pertumbuhan dan aktivitas protease bakteri sedimen mangrove dari Karimunjawa - Jepara yang berpotensi sebagai kandidat konsursium probiotik dengan kemampuan aktifitas bioremediasi. Pertumbuhan bakteri isolat 36K memiliki Fase lag (adaptasi) pada waktu kultivasi jam ke-0 hingga jam ke-4. Sedangkan pada jam ke-6 hingga jam ke-30,  isolat 36K  telah  memasuki fase logaritmik (eksponensial) yang dicirikan dengan adanya pertumbuhan yang siknifikan. Pada waktu pertumbuhan jam ke-30 diperoleh nilai OD sebesar 1,939±0,0125 dengan berat kering biomassa bakteri sebesar 1,325±0,043 mg.ml-1, laju pertumbuhan  spesifik (µ) sebesar 0,1446 jam-1, jumlah generasi 8,7609 dan waktu generasi 4,794 jam. Selanjutnya waktu pertumbuhan jam ke-36 hingga jam ke-42, sel isolat 36K  mengalami fase pertumbuhan yang relatif tetap yaitu memasuki fase stasioner. Berikutnya adalah fase kematin pada jam ke-42 hingga jam ke-48, terjadi penurunan laju pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan materi pertumbuhan seperti vitamin dan unsur mineral. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar protein diawal sampai akhir penelitian mengalami penurunan sebesar  97,365%. Nilai laju penurunan kadar protein di media kultur bakteri adalah 0,255±0,005 mg.ml-1jam-1. Produksi enzim protease isolat 36K  dilakukan  ketika  biakan berumur 2 jam hingga 6 jam dengan aktivitas optimum dicapai pada 6 jam masa inkubasi fase eksponensial pertumbuhan bakteri. Kata kunci: sedimen, mangrove, bioremediasi, pertumbuhan, protease  Marine and brackishwater culture produced large number of organic waste, mostly from leftover feed and faeces, which normally released to the nearby water system and becoming source of deseases and reducing water quality.  The study was aimed to determine the growth kinetics and protease activity of 36k isolate from mangrove sediment of Karimunjawa, Jepara which possibly developed into probiotic consortium candidate with bioremediation activity capability. The study was able to describe the growth kinetics and protease activity of 36k isolate which has lag phase (adaptation) on the 0 to the first 4 hours. Meanwhile from 6th to 30th hours isolate 36k entering logarithmic phase (exponential) characterized by significant growth. At the 30th hours period the OD value was 1,939±0,0125, bacterial biomass dry weight of   1,325±0,043 mg.ml-1, specific growth rate (µ) was 0,1446 hours, number of generation 8,7609 dan regeneration time of  4,794 hour. Between 36 to 42 hours the growth of  36k isolate cell was relatively no difference indicating the stationer phase has reached followed by mortality phase between the 42–48 hours where the growth rate was decline due to the limitation of growth material such as vitamins and minerals.  The result also show that protein consentration was significantly decline up to   97,365%. The reduction of of protein content was 0,255±0,005 mg.ml-1.hour-1. The production of enzyme in cultured bacteria was conducted between first 2–6 hours and reach the optimum activity by 6 hours incubation i.e. at the exponential growth phase. The substrate consumption by 36K bacteria isolate was indicated by the decline of reduced sugar with average rate of substrate consumption of 2,0557 g.g-1. Keywords: sediment, mangrove, bioremediasion, growth, protease
Bioecology of Sargassum sp. and its Extract Bioactivity as Anti-MDR Bacteria Rini Pramesti; Wilis Ari Setyati; Muhammad Zainuddin; Maya Puspita
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.819 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.22.4.185-192

Abstract

This study was done to investigate the bioecology and extract bioactivity of Sargassum sp from Jepara district. Seaweed was collected from Teluk Awur, Panjang Island, Bandengan, Ujung Piring and Bondo. There were seven species of Sargassum identified i.e. S. duplicatum, S. polycystum, S. echinocarpum, S. cinerium, S. crassifolium, S. plagyophillum and S. binderi. Community structure indices were calculated based on data collected by survey. Antibacterial activity of Sargassum extract was done on MDR bacteria. The results showed that diversity index at Panjang Island, Bandengan, and Ujung Piring were categorized as medium, while Teluk Awur and Bondo were categorized as low. Evenness index was high at Teluk Awur, Panjang Island, Bandengan and Ujung Piring and Bondo was low. There was no dominant species found in most of the locations. The principal component analysis exhibited the main variable that affected the Sargassum at Teluk Awur was phosphate, Panjang Island was depth, Ujung Piring was salinity and Bondo was temperature, dissolved oxygen and pH, respectively. There was character similarity between Panjang Island and Bandengan (99.73%), meanwhile, at Teluk Awur, Ujung Piring, and Bondo, the similarity was 99.62%, 99.60%, and 99.52%, respectively. Antibacterial activity of Sargassum sp. demonstrated a positive activity against the MDR bacteria, Staphylococcus aureus (6.28±0.04 mm), Escherichia coli (6.96±0.19 mm), and S. epidermidis (12.65±0.23 mm). Clustering analysis of extracts with bactericidal characteristic found three classes with similarity of class 1, 2 and 3 at 72.33%, 76.80% and 58.50%, respectively. Sargassum sp. was categorized in class 1 had the best antibacterial activity and the highest abundance value. Keywords: ecology, community, Sargassum sp., extracts, antibacterial
Effects Of pH, Temperature And Salinity In Growth And Organic Acid Production Of Lactic Acid Bacteria Isolated From Penaeid Shrimp Intestine Subagiyo Subagiyo; Sebastian Margino; Triyanto Triyanto; Wilis Ari Ari Setyati1,2
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.377 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.187-194

Abstract

Bakteri asam laktat telah lama dikembangkan sebagai probiotik. Penentuan kondisi lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan sel serta asam organik memberikan gambaran aktivitas optimum untuk kinerja probiotik baik dalam sistem fisiologi inang maupun dalam sistem bioproses untuk produksi sel dan metabolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan (pH, suhu dan salinitas) terhadap pertumbuhan dan produksi total asam organik tiga isolat bakteri asam laktat yang telah diseleksi dari intestinum udang penaeid. Eksperimen menggunakan  medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS) cair. Perlakuan pH awal meliputi  nilai pH 4, 5 dan 6. Perlakuan suhu meliputi suhu 25, 30 dan 35OC serta perlakuan salinitas  meliputi salinitas 0,75 %, 1,5 % dan 3 %.  Setiap interval 6 jam dilakukan pengambilan sampel kultur bakteri dan penghitungan pertumbuhan berdasarkan perubahan optical density (pada panjang gelombang 600 nm) sedangkan produksi asam laktat dianalisis dengan metode titrimetrik menggunakan NaOH 1 N sebagai larutan titrasinya. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa suhu, pH awal dan salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi asam organik. Nilai kondisi lingkungan terbaik untuk pertumbuhan dapat berbeda dengan nilai terbaik untuk produksi asam organic. Hal ini ditunjukan oleh nilai laju pertumbuhan dan produksi asam laktat tertinggi dari tiga isolat uji terjadi pada suhu, pH awal dan salinitas yang berbeda.  Isolat L12 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 0,75%. Isolat L14 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Isolat L 21 tumbuh optimum pada suhu 30 oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Kata kunci: bakteri asam laktat, suhu, pH, salinitas, asamorganik, pertumbuhan, Lactic acid bacteria are widely distributed in intestinal tracts of various animals where they live as normal flora.Strains of lactic acid bacteria are the most common microbes employed as probiotics, The optimum condition for growth are important to mass production and to determined parameters most suitable for growth. The effects of  temperature, pH and salinity on the growth and production of lactic acid from the three shrimp intestinal lactic acid bacteria isolates were conducted using bacth culture in a flask. These variables for growth were determined based on the growth curves and lactic acid production. Data from the flask batch experiment demonstrated that the best initial pH and temperature  for growth of isolat L12 ,L14 and L21 were found to be pH 6 and 30 OC.  Salinity (NaCl concentration) 0,75% were the best for growth of isolat L12. Salnity  1,5 % were best for growth of isolat L14 and L21. Key words : growth, temperature, pH, salinity, lactic aid bacteria
Isolasi dan Seleksi Bakteri Penghasil Enzim Ekstraseluler (proteolitik, amilolitik, lipolitik dan selulolitik) yang Berasal dari Sedimen Kawasan Mangrove (Isolation and Selection of Extracellular Enzyme Producing Bacteria Originating from Mangrove Sedimen Wilis Ari Setyati; Subagiyo Subagiyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.341 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.3.164-169

Abstract

Bioremediasi tambak udang memegang peranan penting dalam upaya membersihkan tambak dari bahan pencemar internal yang dihasilkan selama proses budidaya itu sendiri. Proses budidaya udang merupakan kegiatan yang potensial menghasilkan limbah organik terutama berasal dari sisa pakan dan hasil ekskreta (feses). Bakteri heterotrofik memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim ekstraseluler yang diperlukan untuk bioremediasi limbah organik. Penelitian ini ditujukan untuk mengisolasi bakteri heterotrofik yang berasal dari ekosistem mangrove utuk dikembangkan sebagai agensia bioremediasi limbah organik pada tambak udang. Sedimen mangrove diperoleh dari kawasan mangrove Segara Anakan- Cilacap dan kawasan Mangrove Kaliuntu-Kabupaten Rembang. Isolasi dilakukan dengan metode agar tuang menggunakan media Zobell agar. Pengujian aktivitas proteolitik, amilolitik, lipolitik dan selulolitik dilakukan dengan metode diffusion agar menggunakan paper disk berturut-turut pada media Zobell agar yang diperkaya dengan 1% skim milk, 1% amilum, dan 1% tween 80 dan 1 % CMC. Diameter zone hidrolitik digunakan sebagai dasar untuk melakukan seleksi. Hasil penelitian diperoleh 35 isolat (16 isolat dari Kaliuntu – Rembang dan 19 isolat dari Segoro Anakan – Cilacap). Jumlah isolat yang mempunyai kemampuan menghasilkan enzim ekstraseluler berturut-turut 33 isolat dengan aktivitas proteolitik 25 isolat dengan aktivitas amilolitik, 29 isolat dengan aktivitas lipolitik, dan 12 isolat dengan aktivitas selulolitik. Hasil seleksi berdasarkan diameter zone hidrolitik diperoleh 10 isolat yang potensial untuk dikembangkan sebagai agensia bioremediasi.Kata kunci: proteolitik, amilolitik, lipolitik, selulolitik, mangrove, bioremediasi, tambak udangBioremediation of shrimp pond plays an important role in the effort to clean up the internal pollutants of pond produced during the cultivation process. Shrimp farming produces mainly organic waste from food remains and the excreta. Heterotrophic bacteria have the ability to produce extracellular enzymes required for the bioremediation of organic waste. This study aimed to isolate heterotrophic bacteria from mangrove ecosystem to be developed as agents of bioremediation of organic wastes in shrimp ponds. This was done by isolating and selecting bacteria producing extracellular enzymes of proteolytic, amylolitic, lipolytic and cellulolytic from mangrove sediments collected from the mangrove area of Segara Anakan at District of Cilacap and Kaliuntu, district of Rembang. Isolations were done by pour-plate method using a Zobell agar medium. Assays for proteolytic, amilolytic, lipolytic and cellulolytic activity were performed using paper disk on Zobell agar medium enriched respectively with 1% skim milk, 1% soluble starch, 1% tween 80 and 1% CMC. Hydrolytic zone diameter was used as the basis for selection of enzymatic activities. The results obtained was 35 isolates (16 isolates from Kaliuntu–Rembang dan 19 isolate froms Segara Anakan – Cilacap), consisting of 33 proteolytic enzyme, 25 amilolytic enzyme, 29 lipolytic enzyme and 12 isolates cellulolytic producing enzyme. Based on hydrolytic zone diameter were selected 9 isolates which potential to be developed as bioremediation agent.Key words: Bioremediation, proteolytic, amilolytic, lipolytic, selulolytic
Potensi Penyimpanan Karbon Pada Vegetasi Padang Lamun di Perairan Pulau Besar Utara, Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur Jan Ericson Wismar; Wilis Ari Setyati; Ita Riniatsih
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.27223

Abstract

Konsep blue carbon adalah salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas karbon pemicu pemanasan global dengan cara memanfaatkan vegetasi pesisir sebagai penyerap karbon. Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang dapat menyerap  karbon dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lamun dan kandungan karbon pada lamun di Perairan Pulau Besar Utara, Maumere, Sikka.  Pengamatan lamun menggunakan transek kuadrat 50x50cm menurut panduan LIPI. Sampling lamun dilakukan acak menggunakan seagrass core berdiameter 15 cm di setiap lokasi. Perhitungan kandungan karbon menggunakan metode Loss On Ignition (LOI) yang kemudian dikonversikan dengan nilai biomassa pada setiap titiknya. Jenis lamun yang ditemukan sebanyak 4 spesies yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii,, Cymodocea rotundata,dan Syringodium isoetifolium. Lokasi pengamatan memiliki tutupan lamun sangat padat. Nilai biomassa dibawah  dan diatas substrat pada lokasi pengamatan didapat nilai 424,60 gbk/m2  dan 79,67 gbk/m2. Total kandungan karbon pada lokasi pengamatan  adalah 41,95 gC/m2. Kandungan karbon terbesar disimpan pada jaringan lamun (akar dan rhizoma) dengan spesies E. acoroides sebagai penyumbang nilai biomassa  dan kandungan karbon tertinggi. Lokasi perairan Pulau Besar Utara, Maumere memiliki kondisi perairan yang baik dengan kerapatan lamun yang tinggi, secara umum kandungan karbon yang terdapat pada perairan tersebut memiliki kandungan yang tinggi. Kondisi lamun yang baik akan memiliki simpanan karbon yang baik dan hal ini merupakan salah satu upaya dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus menjaga kelestarian laut.  The concept of blue carbon is one of the efforts to reduce carbon gas emissions that trigger global warming by utilizing coastal vegetation as a carbon sink. Seagrass ecosystems are one of the coastal ecosystems that can absorb large amounts of carbon. This study aims to find seagrass conditions and carbon content in seagrasses on the waters of Besar Utara Island, Maumere, Sikka. Seagrass observations used a 50x50cm quadrant transect according to the LIPI guideline, 2017. Seagrass sampling was using seagrass cores with 15cm diameter in each location. Calculation of carbon content using the Loss On Ignition (LOI) method which is then converted to biomass values at each point. Seagrass species found in location sampling were 4 species, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Syringodium isoetifolium. The Location  has very dense seagrass cover. Biomass values below and above the substrate at location sampling (424.60 gbk / m2 and 79.67 gbk / m2). The total carbon content in location sampling is 41.95 gC / m2. The largest carbon content is stored in seagrass tissues (roots and rhizomes) with E. acoroides as a contributor to the highest biomass and carbon content. The location of Besar North island, Maumere has good water conditions with high seagrass density, in general the carbon storage at the location of Besar North island is high condition. Seagrass with good condition will have good carbon storage and this is one of the efforts in mitigating climate change at once preserving the sea.
Co-Authors Abel Kristanto Widodo Adi Santoso Adiyoga, Diaz Agus Indardjo Agus Indarjo Ahmad Fadhil Muzaki Ahmad Saddam Habibi Alburhana, Lathifatusy Syifa Aldo Rizqi Arinianzah Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Ananda Arifidyani Andri Cahyo Kumoro Anjani, Devi Oktavia Antonius Budi Susanto Aprilia Larasati Dewi Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arrico Fathur Yudha Bramasta Arya Rezagama Atika Siti Nuraisyah Baskoro Rochaddi Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Bramasta, Arrico Fathur Yudha Cannavaro, Syahrial Varrel Chrisna Adhi Suryono Christy, Yonanda Alodea Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Dewi, Septiyani Kusuma Diah Permata Wijayanti Diaz Adiyoga Dony Bayu Putra Pamungkas Dwi Haryanti Dwicahyo Setiyo Wibowo Dyah Ayu Wulandary Ega Saputra Eldita Amalia Endang Sri Susilo Erni - Martani Erni Martani Fadila Wahyu Putri Arimbi Fahmi Arifan Fahrizal Dwi Amri Feri Setiawan Firdaus, Syifa Shafira Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Hafizh Prihindrasto Hanif, Marwa Irfan Irwani Irwani Ita Riniatsih Ita Widowati Jan Ericson Wismar Joitry Silvia Sitompul Karina Dewiningsih Laraswati, Yuli Limbong, Maria Fransiska Lumban Gaol, Josua Gabriel M Faisal Alfa Yulianto Ma'ruf, Widodo Farid Mada Triandala Sibero Maya Puspita Monika, Rika Muhammad - Zainuddin Muhammad Salauddin Ramadhan Djarod Muhammad Taufiqur Rahman Muhammad Taufiqur Rahman, Muhammad Taufiqur Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Munasik Munasik Ni Nyoman Widya Triyaningsih Nirwani Soenardjo Novie Susanto Ony Ilham Pradiksa Patrea Nurcholis Afitri Person Pesona Renta Pola Risda Aswita Silitonga Prasetyana Ajeng Refamurty Putri, Angela Salsalina Rahma, Sayyidatur Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizazh Tri Nuraeni Rico Adi Setyanto Rini Pramesti Risandhi, Danendra Aquila Azfa Rudhi Pribadi Sabrina Alisha Devi Sean Dewa Ramadhan Sebastian Margino Sebastian Margino Septiyani Kusuma Dewi Sibero, Mada Triandala Siti Rudiyanti Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sunaryo Sunaryo Suryani, Askiya Intan Suryono Suryono Syahrial Varrel Cannavaro Sylvia Sari Indah Dongoran Titis Buana Triyaningsih, Ni Nyoman Widya Triyanto - - Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wahyu Bagio Leksono Widayat, Barra Muzaffar Widianingsih Widianingsih Winda Ariesta Nur Fadilla Wisnu Broto Yonanda Alodea Christy Yuli Laraswati