Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Kadar Senyawa Fenol dan Aktivitas Antioksidan pada Tiga Jenis Sargassum dari Pantai Jepara, Indonesia Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti; Chrisna Adhi Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.32127

Abstract

Radikal bebas merupakan senyawa yang bersifat reaktif dan berbahaya karena dapat merusak sel tubuh. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian senyawa antioksidan. Saat ini di pasaran telah beredar antioksidan sintetis, tetapi senyawa ini bersifat akumulatif dan toksik. Oleh karena itu perlu pencarian senyawa alami bersifat antioksidan alami dan salah satunya  salah satu sumbernya adalah rumput laut. Perairan Jepara memiliki sumber daya rumput laut yang tinggi dan salah satunya jenis Sargassum. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian evaluasi total senyawa fenol dan kapasitas antioksidan berbagai ekstrak Sargassum. Hasil penelitian ini sebagai dasar dalam penelitian suplemen antioksidan untuk tindakan preventif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2018 dengan tahapan pengambilan sampel, ekstraksi, penentuan total fenol dan aktivitas antioksidan. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposif dan penentuan kapasitas antioksidan dan total fenol menggunakan metode eksperimen laboratoris.  Hasil analisis menunjukkan perlakuan perbedaan jenis ekstrak memiliki nilai persen inhibisi (IC50) yang berbeda secara nyata (p < 0,05). Tiga ekstrak dengan persen inhibisi terbaik jika diurutkan dari terkecil ke terbesar adalah ekstrak dengan pelarut etil asetat pada S. polycystum, S. crassifolium dan S duplicatum. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka nilai persen inhibisi semakin tinggi juga (p < 0,05) demikian juga pada nilai total senyawa fenol. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan antara total fenol dan persen inhibisi adalah linier dengan persamaan regresi dan nilai besar hubungan berbeda signifikan (p < 0,05). Free radical are reactive and dangerous compound which have bad impact to human cell. Antioxidant is an effective compound to against free radical. Recently, synthesis antioxidant are easy to find in the market, however, this compound tends to toxic accumulation. The nature antioxidant can be a solution of negative effect from synthesis product. Seaweed is natural product which content an active compound as antioxidant. Sargassum is brown seaweed that abundant in Jepara seawater. This study are aiming to evaluate of phenol content and antioxidant capacity from several sargassum extract. The result of this study is a primarily research of antioxidant supplements for preventive measures. This study was conducted in June 2018 with the stages of sampling, extraction, determination of total phenol and antioxidant activity. Purposive method is used for sampling method and experimental laboratory is used for determination of antioxidant capacity and total phenol. The analysis result show that each sargassum extract has significant deferent of inhibition concentrations (IC50) (p < 0,05). Three extracts with the best percentage of inhibition sorted from the smallest to the largest were S. polycistum, S. crassifolium and S duplicatum which were extracted with ethyl acetate solvents. The percentage of inhibitions are increase with increasing of extract concentration and phenol compound. The conclusion of this study is that total phenol and percent inhibition are linear with regression equations and significant difference values (p <0.05).
Potensi Padang Lamun (Thalassia hemprichii) Sebagai Penyimpan dan Penyerap Karbon di Pantai Krakal, Gunungkidul, Yogyakarta Rini Pramesti; Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati; Titis Buana
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.36758

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang mampu menyimpan dan menyerap karbon melalui proses fotosintesis yang disimpan dalam bentuk biomassa dan disimpan di akar, rhizome dan daun sehingga dapat mengurangi gas CO2 di udara. Ekosistem ini belum banyak diperhatikan fungsinya dibandingkan dengan ekosistem darat. Penelitian ini bertujuan  mengetahui  kerapatan, tutupan  lamun dan serapan karbon dalam biomassa berupa jaringan atas substrat dan bawah substrat. Penelitian dilakukan pada bulan November 2018 di Pantai Krakal - Yogyakarta. Identifikasi  jenis  lamun  dengan buku panduan  seagrasswatch,  kerapatan  dan  tutupan dengan metode line transect quadrant. Analisis kandungan karbon menggunakan metode pengabuan. Hasil penelitian menunjukkan lokasi ini memiliki biomassa di bagian atas 7,36 – 9,92 gbk/m2 dan bagian bawah 39,36 – 95,68 gbk/m2. Kedua bagian ini mampu menyimpan dan menyerap karbon rata-rata sebesar 30,42 ± 13,85 gC/m2 dan 0,2 ± 0,06 gC/d/m2. Hasil penelitian menunjukkan padang lamun di lokasi ini mampu menyimpan dan menyerap karbon meskipun dalam jumlah yang kecil. Seagrass beds are coastal ecosystems capable of absorbing and storing carbon through photosynthesis and stored of roots, rhizomes and leaves that it can reduce CO2 gas in the air. The function of this ecosystem has not been given much attention compared to the terrestrial ecosystem. The research was studied to determine density, cover of seagrass  and carbon uptake in biomass of the upper and lower substrate. The research was carried in November 2018 at Krakal Beach - Yogyakarta. Identification of the type seagrass was carried by seagrasswatch manual, the density and cover was carried by the line transect quadrant method. The carbon content was analysis by the ashing method. The results was showed that this location has a biomass at the top of 7.36 - 9.92 gbk/m2 and the bottom of 39.36 - 95.68 gbk/m2. Both of these parts are able to store and absorb carbon are average of 30.42 ± 13.85 gC/m2 and 0.2 ± 0.06 gC/d/m2. The results showed that the seagrass beds on this beach were able to store and absorb of carbon with small amounts.
Tingkat Herbivori Daun Mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina Di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah Winda Ariesta Nur Fadilla; Nirwani Soenardjo; Wilis Ari Setyati
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.734 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v0i0.24965

Abstract

Hutan mangrove memiliki fungsi ekologi sebagai daerah pemijahan, daerah asuhan dan daerah mencari makan. Fauna yang tinggal di hutan mangrove akan menciptakan simbiosis antara flora dan fauna mangrove, misalnya aktivitas herbivori daun. Herbivori daun mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies tanaman, tinggi tanaman dan umur daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat herbivori daun mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina berdasarkan tinggi tanaman dan umur daun pada ekosistem mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode survei dan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive. Sampel daun diambil dari 2 spesies mangrove dominan pada ekosistem Desa Pasar Banggi yaitu Rhizophora stylosa dan Avicennia marina. Daun diambil dari 3 kategori tinggi tanaman yaitu <1 m, 1-< 3 m dan 3–5 m, masing-masing diambil 10 pohon sebagai ulangan. Daun diambil sebanyak 10 %, dipisahkan berdasarkan umur daun (muda dan tua) dan kondisi daun (utuh dan rusak). Sampel daun diolah menggunakan software ImageJ dan Measure Picture. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 3–5 m dan tertinggi pada daun tua Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m, sedangkan  rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m dan tertinggi pada daun tua Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m. Mangrove forests have ecological functions a spawning ground, nursery ground and feeding ground. Fauna living in mangrove forests will create a symbiosis between mangrove flora and fauna, for example herbivory leaf activity. Herbivory of mangrove leaves is influenced by several factors such as plant species, plant height and leaf age. This study aims to determine the herbivory level of mangrove Rhizophora stylosa and Avicennia marina leaves based on plant height and leaf age in the mangrove ecosystem in Pasar Banggi Village, Rembang, Central Java. The research method used in this study was descriptive. The data collection method used in this study is the survey method and the determination of the location of the study using a purposive method. Leaf samples were taken from 2 dominant mangrove species in the Pasar Banggi Village ecosystem, Rhizophora stylosa and Avicennia marina. The leaves are taken from 3 plant height categories, namely <1 m, 1-<3 m and 3-5 m, each of which is taken as 10 replicates. The leaves are taken as much as 10%, then separated according to the age of the leaves (young or old) and the condition of the leaves (whole or damaged). Leaf samples were processed using ImageJ and Measure Picture software. The results showed the highest average herbivory level in young leaves of Rhizophora stylosa at plant height 3-5 m (10.11%) and highest on old leaves of Rhizophora stylosa at plant height 1-<3 m (10.67%), while the highest average herbivory level in Avicennia marina young leaves at plant height 1-<3 m (12.54%) and the highest on the old leaves of Avicennia marina at plant height 1-<3 m (11.73%).
Potensi Bakteri Asam Laktat Sebagai Kultur Protektif Pada Industri Perikanan Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.824 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i4.11170

Abstract

Kultur protektif merupakan salah satu bentuk biopreservasi yang dikembangkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merusak produk pangan. Pada penelitian ini diisolasi jenis-jenis bacteri asam laktat dari Ikan Beronang dan Ikan Kakap yang telah disimpan dalam suhu rendah, serta melakukan skrining berdasarkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang umum mengkontaminasi bahan makanan yang disimpan pada suhu rendah. Isolasi bakteri asam laktat dilakukan dengan metode taburan dalam medium MRS (de Man, Rogosa and Sharpe) Ada dua kelompok bakteri asam laktat yang diisolasi yaitu yang bersifat halofilik dan non-halofilik. Inkubasi kultur bakteri dilakukan pada suhu<20 oC. Isolat-isolat Bakteri asam laktat (BAL) yang diperoleh selanjutnya diskrining untuk mendapatkan strain yang aktif terhadap bakteri dan bakteri pembusuk dengan meto dedifusi agar menggunakan paper disc. Bakteri uji yang digunakan untuk skrining adalah bakteri Escherichia coli, Staphylococcusaureus, Pseudomonas fluorescens dan Pediococcus lb 42. Indikator adanya aktivitas antibakteri ditunjukkan oleh terbentuknya zona penghambatan.  Hasil isolasi diperoleh total 68 isolat BAL dengan rincian 25 isolat aktif terhadap 4 jenis bakteri uji, 13 isolat aktif terhadap 3 jenis bakteri uji , 7 isolat aktif terhadap 2 isolat uji, 11 isolat aktif terhadap 1 jenis bakteri uji dan hanya 2 isolat yang tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Hal ini menunjukkan bahwa BAL yang berasal dari produk perikanan lautmemilikipotensiuntuk dikembangkan sebagai kultur protektif pada industri perikanan.   Kata kunci :BakteriAsamLaktat, KulturProtektif,  Biopreservasi, AktivitasAntibakteri  
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Jeruju Acanthus ilicifolius terhadap Bakteri Multi Drug Resistant Delianis Pringgenies; Wilis Ari Setyati; Dwicahyo Setiyo Wibowo; Ali Djunaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 2 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i2.5398

Abstract

This study aims to determine the antibacterial activity of the Jeruju fraction extract (roots, stems and leaves) against Multi Drug Resistant (MDR) bacteria. Extraction uses the solid-liquid extraction method. Fractionation was done by Thin Layer Chromatography (TLC) and Open Column Chromatography (OCC). The antibacterial activity was tested by the diffusion method for different concentrations. The test bacteria were MDR bacteria: Klebsiella sp, Coagulant negative stapylococi (CNS), Enterobacter 5, Enterobacter 10, E. Coli and Pseudomonas sp. The activity test results showed the crude extract of the root with ethyl acetate solvent had the highest antibacterial activity. The results of the Open Column Chromatography activity test showed that the fraction I, II and III of the root extracts had antibacterial activity against the test bacteria. Fraction I was active against Enterobacter 5 with inhibition zones of 10.0 ± 0.34 mm. Fraction II was active against Coagulant negative stapylococi with inhibition zone diameters of 11.80 ± 0.16 mm. Fraction III has the highest antibacterial activity against Enterobacter 10, Klebsiella sp, Pseudomonas sp. danE. Coli successively produce inhibition zones (13.98mm ± 0.58), (13.22mm ± 0.50), (13.15mm ± 1.15) and (13.10mm ± 0.04) and the highest in and Results the study concluded that root extracts had the highest antibacterial bioactivity compounds compared to stem and leaf extract samples. Furthermore, the MDR antibacterial activity test showed that the sample III fraction had the best inhibitory zone on the best bacteria as an anti-bacterial MDR: Klebsiella sp, Enterobacter 10, E. Coli and Pseudomonas sp  Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri fraksi ekstrak Jeruju, (akar, batang dan daun) terhadap bakteri Multi Drug Resistant (MDR). Ekstraksi menggunakan metode ekstraksi padat-cair. Fraksinasi dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Kolom Terbuka (KKT). Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar konsentrasi yang berbeda. Bakteri uji adalah bakteri MDR: Klebsiella sp, Coagulant negative stapylococi (CNS), Enterobacter 5, Enterobacter 10, E. Coli dan Pseudomonas sp. Hasil uji aktifitas antibakteri menunjukan ekstrak kasar akar dengan pelarut etil asetat memiliki aktifitas antibakteri tertinggi pada semua bakteri uji. Hasil uji aktivitas fraksi Kromatografi Kolom Terbuka memperlihatkan fraksi I, II dan III ekstrak akar memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Fraksi I aktif terhadap Enterobacter 5 dengan zona hambat 10,0±0,34 mm. Fraksi II aktif terhadap Coagulant negative stapylococi dengan diameter zona hambat 11,80±0,16 mm. Fraksi III memiliki aktivitas antibakteri yang paling tinggi terhadap Enterobacter 10, Klebsiella sp, Pseudomonas sp. dan E. Coli. berturut – turut menghasilkan zona hambat (13,98mm ±0,58), (13,22mm ±0,50), (13,15mm ±1,15) dan (13,10mm ±0,04) serta tertinggi pada dan Hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak akar memiliki senyawa bioaktifitas antibakteri tertinggi dibandingkan sampel ekstrak batang dan daun. Selanjutnya uji aktifitas antibakteri MDR memperlihatkan bahwa sampel fraksi III memiliki zona hambat terbaik pada bakteri terbaik sebagai anti bakteri MDR: Klebsiella sp, Enterobacter 10, E. Coli dan Pseudomonas sp
Aktivitas Antibakteri Isolat Bakteri Asam Laktat Intestinal Udang Penaeid Tipe Liar Terhadap Bakteri Vibrio Subagiyo Subagiyo; Triyanto Triyanto; Sebastian Margino; Feri Setiawan; Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.386 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1348

Abstract

Lactic acid bacteria are groups of bacteria that have been commonly used as probiotics with functional targets controlling pathogens. In this study, BAL were isolated from penaeid shrimp intestinum was captured in natural waters and were tested of antibacterial activity against 3 types of pathogenic vibrio bacteria in shrimp. The shrimp samples were taken from the North Coast of Java (Situbondo and Semarang) and the South coast of Java (Cilacap). BAL isolation was done by pour plate method using MRS medium enriched with CaCO3. The antibacterial activity test was performed by using paper diffusion method using V. harveyi, V. anguilarum and V. parahaemolyticus as bacteria indicator. The isolation result obtained 224 isolates of BAL intestinal of penaeid shrimp. The active BAL isolates against V. Harveyi, V. anguilarum and V. parahaemolyticus were 59, 83 and 66 isolates, respectively. Isolates are active against 3 types, 2 types and 1 type of Vibrio were 51, 25 and 11 isolates respectively.  Bakteri asam laktat merupakan kelompok bakteri yang telah banyak digunakan sebagai probiotik dengan target fungsional mengendalikan pathogen. Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi BAL dari intestinum udang penaeid yang ditangkap di perairan alam dan pengujian aktivitas antibakteri terhadap 3 jenis bakteri vibrio pathogenik pada udang. Sampel udang diambil dari Pantai Utara Jawa (Situbondo dan Semarang) dan pantai Selatan Jawa (Cilacap). Isolasi BAL dilakukan dengan metode taburan menggunakan medium MRS yang diperkaya dengan CaCO3. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan paper diffusion method menggunakan bakteri uji V. harveyi, V. anguilarum dan V. parahaemolyticus. Hasil isolasi diperoleh 224 isolat BAL intestinal udang penaeid. Isolat BAL yang aktif terhadap V. Harveyi, V. anguilarum dan V. parahaemolyticus berturut-turut 59, 83 dan 66 isolat. Isolat yang aktif terhadap 3 jenis, 2 jenis dan 1 jenis Vibrio uji berurut-turut 51, 25 dan 11 isolat.
Optimasi Suhu Dan Ph Pertumbuhan Lactococus Lactic Isolat Ikan Kerapu Subagiyo Subagiyo; Ria Azizazh Tri Nuraeni; Wilis Ari Setyati; Adi Santoso
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.184 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.844

Abstract

Temperature and pH is one of the environmental factors that influence microbial growth, so it needs to be optimized in order to obtain optimum values for cell production. The experiments were performed using the medium of   ROGOSA and Sharpe (MRS). The pH value is set with the addition of 1 N NaOH and 1N HCl to obtain a pH value of 4, 5, 6, 7, and 8. Optimization of temperature performed by incubation at 25, 30, 35 and 40 oC. Bacterial growth was measured by changes in optical density at 600 nm wave-lengh. The results showed that the initial pH of 7 is the initial pH value which produces the most rapid growth, while the initial pH 4 provides the slowest growth. Temperature that produces the most rapid growth is 30 and 35 ° C while the temperature 40oC produce the slowest growth.  Suhu dan pH merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikrobia, sehingga perlu untuk dilakukan optimasi guna mendapatkan nilai-nilai yang optimum untuk produksi sel. Percobaan dilakukan menggunakan medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS). Nilai pH  diatur dengan penambahan NaOH 1 N dan HCL 1N hingga diperoleh nilai pH 4, 5, 6, 7, dan 8.. Optimasi suhu dilakukan dengan inkubasi pada suhu 25, 30, 35 dan 40 oC . Pertumbuhan bakteri diukur berdasarkan perubahan optical density pada panjang geliombang 600 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH awal 7 merupakan nilai pH awal yang menghasilkan pertumbuhan yang paling cepat sedangkan pH awal 4 memberikan pertumbuhan yang paling lambat. Suhu yang menghasilkan pertumbuhan paling cepat adalah 30 dan 35 oC sedangkan suhu 40oC menghasilkan pertumbuhan yang paling lambat. Kecepatan agitasi yang menghasilkan pertumbuhan paling cepat adalah 100 rpm dan paling lambat 150 rpm.  
Kontaminasi Tembaga pada Mugil dussumieri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) yang Ditangkap di Perairan Semarang, Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Endang Sri Susilo; Aldo Rizqi Arinianzah; Wilis Ari Setyati; Irwani Irwani; Suryono Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.214 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.2402

Abstract

Contamination of Copper in Mugil dussumeri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) which was caught in Semarang waters, Indonesia The marine environment in Semarang waters are highly polluted by heavy metals such as copper (Cu).  On the other side, these areas have become producers of fishery commodities such as mullet fish Mugil dussumieri. The aims of this study was to determine the heavy metal content of Cu in mullet fish during wet monsoon (December 2017 and February 2018). Atomic Absorption Spectrophotometer were used to analysis of Cu concentration in marine water and fish meat.  The results show that the Cu content in marine water was not detected while in the meat of mullet fish during December 2017 and February 2018 were 0.66 ± 0.07 mg/kg and 0,604 ± 0.217 mg/kg, respectively. The results were still within the quality standard for maximum limit of Cu content allowed in seafood by FAO/WHO. Lingkungan perairan laut di sekitar Semarang berpeluang sangat tinggi untuk terpolusi logam berat tembaga.  Di lain sisi perairan ini menjadi daerah produksi perikanan seperti ikan belanak Mugil dussumieri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam Cu dalam daging ikan belanak yang ditangkap selama musim penghujan (Desember 2017 dan Februari 2018). Untuk mengetahui konsentrasi Cu dalam air laut dan ikan belanak digunakan Atomic Absorption Spectrophotometer.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam Cu selama bulan Desember 2017 adalah 0.66 ± 0.07/kg dan selama bulan Februari 0,604 ± 0.217 mg/kg, sedangkan konsentrasi Cu dalam air laut tidak terdeteksi.  Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan Cu dalam ikan belanak masih berada pada konsentrasi yang diperbolehkan oleh FAO/WHO.
Efek Panjang Gelombang Terhadap Pertumbuhan Propagul Pada Kultur Jaringan Eucheuma cottonii Doty, 1885 (Rhodophyceae; Solieracea) Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti; Delianis Pringgenies; Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Muhammad Zainuddin
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.7075

Abstract

The problem in cultivating Eucheuma cottonii is the procurement of seeds and techniques currently developed through tissue culture. The limiting factor in this technique is the use of optimal light for the growth of the seaweed. The aims of study was to optimize the wavelength of light on the growth of E cottonii propagules. The research method is laboratory experimental with the treatment of different wavelengths of light: red light wavelength (λ = 633.8 nm), green (λ = 515.8 nm), blue (λ = 455.7 nm), combined light on the lamp LED (λ = 456.6 nm, 515.8 nm and 632.9 nm), and fluorescent light in TL lamps (λ = 407 nm, 443 nm, 557 nm and 592 nm). The results showed that the wavelength had a significant effect (p ≤0.05) on the growth of E cottonii. The best treatment for blue light with absolute, relative and specific growth values of propagule weight of 155 ± 11.910 mg, 419 ± 70.849%, and 5.860 ± 0.501% / day. The absolute, relative and specific growth values for propagule diameter were 701 ± 123.1 mm, 63 ± 12% and 1.73 ± 0.27% / day. The percentage of branching growth and the branching index were 60.85 ± 9.16% and 27.77 ± 1.23. Blue light treatment is optimal radiation in the E. cottonii tissue culture  Permasalahan dalam budidaya Eucheuma cottonii adalah pengadaan bibit dan teknik yang berkembang saat ini melalui kultur jaringan. Faktor pembatas dalam teknik ini adalah penggunaan cahaya yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut. Penelitian bertujuan untuk melakukan optimasi panjang gelombang cahaya terhadap pertumbuhan propagul E cottonii. Metode penelitian secara experimental laboratoris dengan perlakuan perbedaan panjang gelombang cahaya : panjang gelombang lampu cahaya merah (λ = 633,8 nm), hijau (λ = 515,8 nm), biru (λ = 455,7 nm), cahaya gabungan pada lampu LED (λ = 456,6 nm, 515,8 nm dan 632,9 nm), dan cahaya flourescent pada lampu TL (λ = 407 nm, 443 nm, 557 nm dan 592 nm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang gelombang berpengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap pertumbuhan E cottonii. Perlakuan terbaik pada cahaya biru dengan nilai pertumbuhan mutlak, relatif dan spesifik bobot propagul sebesar 155±11,910 mg, 419 ± 70,849 %, dan 5,860 ± 0,501 %/hari. Nilai pertumbuhan mutlak, relatif dan spesifik diameter propagul sebesar 701±123,1 mm, 63±12 % dan 1,73±0,27 %/hari. Persentase pertumbuhan percabangan dan indeks percabangan sebesar 60,85±9,16 % dan  27,77±1,23. Perlakuan sinar biru merupakan penyinaran optimal dalam kultur jaringan E. cottonii.
Kontaminasi Kerang Filter Feeder Perna viridis Linnaeus, 1758 (Bivalvia: Mytilidae) oleh Pestisida Organofosfat di Perairan Laut Brebes Jawa Tengah Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Baskoro Rochaddi; Wilis Ari Setyati; Agus Indardjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 2 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i2.11013

Abstract

In the last five years, organophosphate pesticides has been introduced in red onions fields in Brebes.  This will broadbly impact to the ecosystem, including the filter feeder marine organisms such as green mussel P. viridis. This article presents the occurrence level of organophosphate pesticides residues in marine waters and green mussel which has collected on Brebes marine areas. Some selected organophosphate pesticides compounds (Chlorpyrifos, Profenofos, Diazinon, Fenitrothion, Malation and Methidathion) of contaminant have been determined. The samples were then analyzed by using gas chromatography and followed by using the method of Standard Method Examination. The results showed that average of six residues (Chlorpyrifos, Profenofos, Diazinon, Fenitrothion, and Malation) in marine water were undetected (bd) (<0.0004 ppm). The merely concentration of PPOs detected was Chlorpyrifos 0.31 µg/L detected in green mussel. The concentration of organophosphate pesticides in these areas might contribute by the usage of organophosphate pesticide from red onion fields Dalam lima tahun terakhir, pestisida organofosfat mulai diperkenalkan di ladang bawang merah di Brebes.  Hal ini secara luas akan berdampak pada ekosistem, termasuk organisme laut filter feeder seperti kerang hijau P. viridis.  Artikel ini menyajikan tingkat residu pestisida organofosfat di perairan laut dan kerang hijau yang terkumpul di wilayah perairan Brebes. Beberapa senyawa pestisida organofosfat terpilih (Klorpirifos, Profenofos, Diazinon, Fenitrothion dan Malation) untuk dianilisa.  Sampel kemudian dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas dan dilanjutkan dengan metode Pemeriksaan Metode Standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata enam residu (Klorpirifos, Profenofos, Diazinon, Fenitrothion, dan Malation) di perairan laut tidak terdeteksi (bd) (<0,0004 ppm). Konsentrasi OPP yang terdeteksi hanyalah Klorpirifos 0,31 µg/L yang terdeteksi pada kerang hijau. Konsentrasi pestisida organofosfat di daerah tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan pestisida organofosfat dari ladang bawang merah.
Co-Authors Abel Kristanto Widodo Adi Santoso Adiyoga, Diaz Agus Indardjo Agus Indarjo Ahmad Fadhil Muzaki Ahmad Saddam Habibi Alburhana, Lathifatusy Syifa Aldo Rizqi Arinianzah Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Ananda Arifidyani Andri Cahyo Kumoro Anjani, Devi Oktavia Antonius Budi Susanto Aprilia Larasati Dewi Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arrico Fathur Yudha Bramasta Arya Rezagama Atika Siti Nuraisyah Baskoro Rochaddi Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Bramasta, Arrico Fathur Yudha Cannavaro, Syahrial Varrel Chrisna Adhi Suryono Christy, Yonanda Alodea Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Dewi, Septiyani Kusuma Diah Permata Wijayanti Diaz Adiyoga Dony Bayu Putra Pamungkas Dwi Haryanti Dwicahyo Setiyo Wibowo Dyah Ayu Wulandary Ega Saputra Eldita Amalia Endang Sri Susilo Erni - Martani Erni Martani Fadila Wahyu Putri Arimbi Fahmi Arifan Fahrizal Dwi Amri Feri Setiawan Firdaus, Syifa Shafira Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Hafizh Prihindrasto Hanif, Marwa Irfan Irwani Irwani Ita Riniatsih Ita Widowati Jan Ericson Wismar Joitry Silvia Sitompul Karina Dewiningsih Laraswati, Yuli Limbong, Maria Fransiska Lumban Gaol, Josua Gabriel M Faisal Alfa Yulianto Ma'ruf, Widodo Farid Mada Triandala Sibero Maya Puspita Monika, Rika Muhammad - Zainuddin Muhammad Salauddin Ramadhan Djarod Muhammad Taufiqur Rahman Muhammad Taufiqur Rahman, Muhammad Taufiqur Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Munasik Munasik Ni Nyoman Widya Triyaningsih Nirwani Soenardjo Novie Susanto Ony Ilham Pradiksa Patrea Nurcholis Afitri Person Pesona Renta Pola Risda Aswita Silitonga Prasetyana Ajeng Refamurty Putri, Angela Salsalina Rahma, Sayyidatur Rahmawati, Tiara Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizazh Tri Nuraeni Rico Adi Setyanto Rini Pramesti Risandhi, Danendra Aquila Azfa Rudhi Pribadi Sabrina Alisha Devi Sari, Intan Swastika Sean Dewa Ramadhan Sebastian Margino Sebastian Margino Septiyani Kusuma Dewi Sibero, Mada Triandala Siti Rudiyanti Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sunaryo Sunaryo Suryani, Askiya Intan Suryono Suryono Syahrial Varrel Cannavaro Sylvia Sari Indah Dongoran Titis Buana Triyaningsih, Ni Nyoman Widya Triyanto - - Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wahyu Bagio Leksono Widayat, Barra Muzaffar Widianingsih Widianingsih Winda Ariesta Nur Fadilla Wisnu Broto Yonanda Alodea Christy Yuli Laraswati