Claim Missing Document
Check
Articles

Pemeriksaan Karakteristik Simplisia dan Penapisan Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Suji (Draceana angustifolia (Medik.) Roxb.) Ega Nirmala; Umi Yuniarni; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.203 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4329

Abstract

Abstract. Suji leaf (Draceana angustifolia) is one of the natural materials that has been widely used by people, one of them is used as a medicinal plant. Its manufacture as a medicinal plant can’t be separated from manufacture into the form of Simplicia. Each simplicia must be guaranteed in terms of quality, efficacy, and safety. Based on this, the problem in this research is formulated as follows: (1) What are the characteristics of suji leaf simplicia based on specific and non-specific parameters? (2) What are the groups of secondary compounds/metabolites contained in simplicia and ethanol extract of suji leaves? Determination of specific parameters including the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content. Then for non-specific parameters including the determination of water content, determination of drying shrinkage, determination of total ash content, and determination of acid insoluble ash content. For phytochemical screening, the test is carried out by the color test method using specific reagents. The results of this research were: For the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content were 12.67% and 5.84%, respectively. The results for the determination of the water content of 7.99%, the determination of drying shrinkage of 9.69%, the determination of the total ash content of 6.39%, and the determination of the acid insoluble ash content of 0.45%. The simplicia and ethanol extract of suji leaves contain several classes of chemical compounds/secondary metabolites including phenolic compounds and terpenoids. Abstrak. Daun suji (Draceana angustifolia) merupakan salah satu bahan alam yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan daun suji juga sudah berkembang untuk digunakan sebagai tanaman obat. Dalam pembuatannya sebagai tanaman obat tidak lepas dari pembuatannya ke dalam bentuk simplisia. Setiap simplisia haruslah terjamin dalam hal mutu, khasiat dan keamanannya. Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian kali ini yaitu: (1) Bagaimanakah karakteristik simplisia daun suji berdasarkan parameter spesifik dan parameter non spesifik? (2) Apa sajakah golongan senyawa/metabolit sekunder yang terkandung pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji?. Penetapan parameter spesifik yang dilakukan meliputi penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol. Kemudian untuk parameter non spesifik yang dilakukan yaitu penetapan kadar air, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam. Untuk penapisan fitokimia pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji dilakukan dengan metode uji warna dengan menggunakan pereaksi spesifik. Hasil dari penelitian ini adalah: Hasil penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol berturut-turut adalah 12,67% dan 5,84%. Hasil untuk penetapan kadar air 7,99%, penetapan susut pengeringan 9,69%, penetapan kadar abu total 6,39% dan penetapan kadar abu tidak larut asam 0,45%. Pada simplisia dan ekstrak etanol daun suji mengandung beberapa golongan senyawa kimia/metabolit sekunder diantaranya adalah senyawa fenolik dan terpenoid.
Evaluasi Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Rancabali Syifa Egidia Delani; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.717 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4334

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a major health problem in Indonesia because it has a major impact on the decline in work productivity. The purpose of this study was to determine the effect of the level of patient compliance on the success of pulmonary tuberculosis therapy. This study used descriptive survey method, and the data was collected by prospective method. In this study, there are 3 (three) forms of questionnaire, which are demographic data, the level of knowledge, and the level of adherence. This study has been done from April-May 2022. The subject who involved in this study are patients with pulmonary tuberculosis at Pulmonary Polyclinic General Puskesmas Rancabali. The assessments of the adherence level was done using MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaire and knowledge level assessment using a general knowledge questionnaire about pulmonary TB. The result of 50 patients which fulfilled in inclusion criteria showed that the majority of patient’s age was 26-35 years which was 21 people (42%), the majority of gender was men which was 26 people (61%), the majority of high school student which was 20 people (40%), the majority of government officers which was 21 people (42%). The result shows mayoity the compliance of pulmonary tuberculosis treatment is good (46%). The level of knowledge about the complience therapy in the patients are in good category 30 people (60%). The result of statistical analysis showed that there was a relationship between patient knowledge and compliance in carrying out pulmonary TB treatment at Puskesmas Rancabali (p = 0.007) Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia karena berpengaruh besar terhadap penurunan produksitivitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh tingkat kepatuhan pasien terhadap keberhasilan terapi Tuberkulosis Paru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospective. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) bentuk kuisioner yaitu data demografi, tingkat pengetahuan, dan tingkat kepatuhan. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2022. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien tuberkulosis paru di Poli TB Puskesmas Rancabali. Penilaian tingkat kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) dan penilaian tingkat pengetahuan menggunakan kuisioner pengetahuan umum tentang TB Paru. Hasil dari 50 pasien yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB Paru adalah berusia 26-35 tahun sebanyak 21 orang (42%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang (52%), pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 20 orang (40%), pekerjaan pegawai swasta sebanyak 21 orang (42%). Berdasarkan hasil kepatuhan menunjukkan bahwa mayoritas tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru adalah baik (46%). Penilaian tingkat pengetahuan pasien dengan kategori baik sebanyak 30 orang (60%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan pasien dengan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan TB Paru di Puskesmas Rancabali (p=0,007).
Profil Tingkat Pengetahuan Bahaya Penggunaan Kosmetik Pemutih pada Ibu Hamil di Puskesmas Talaga Kabupaten Majalengka Dinda Hana; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.739 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4404

Abstract

Abstract. Cosmetics are one of the preparations that are widely used by society, especially by women. The existence of figures that show that there are still very many cases of cosmetics side effect in Indonesia and many women, especially pregnant women, always use cosmetics product but few which is known about the dangers of whitening comsetics for pregnant women, because pregnant women rarely consult a dermatologist about the whitening cosmetics they use. The purpose of this study is to determine the relationship between the level of knowledge and include maternal age, gestational age, education and occupation in the use of whitening cosmetics for pregnant women. This study used a descriptive analysis method, data collection was carried out by purposive sampling. The study conducted in February-April 2022. The subject involved in this study were pregnant women patients at the Talaga Health Center. The sample of this study was 63 pregnant women, by filling out a questionnaire containing knowledge and then the data on the result were processed using the SPSS program. The results of this study show that the older the pregnant women, the better the level of knowledge of pregnant women in the category of good knowledge (71.4%); the higher the level of education of pregnant women, the better the level of knowledge of pregnant women with the category of good knowledge in junior high school education (75%) and the more diverse the work of pregnant women then in civil servant, traders and honorees have a good level of knowledge or a higher percentage (100%) when compared to IRT (74.5%) and Entrepreneurship (50%). Abstrak. Kosmetik salah satu sediaan yang banyak digunakan oleh masyarakat terutama oleh wanita. Adanya fakta angka yang menunjukkan kasus efek samping kosmetik di Indonesia masih sangat banyak dan banyak wanita terutama ibu hamil, yang selalu menggunakan produk kosmetik tetapi sedikit yang diketahui tentang bahaya kosmetik pemutih bagi ibu hamil, karena ibu hamil jarang berkonsultasi dengan dokter kulit tentang kosmetik pemutih yang mereka gunakan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan meliputi usia ibu, usia kehamilan, pendidikan dan pekerjaan dalam penggunaan kosmetik pemutih bagi ibu hamil. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, pengambilan data dilakukan secara purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-April 2022. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien Ibu Hamil di Puskesmas Talaga. Sampel penelitian ini adalah sebanyak 63 orang ibu hamil, dengan mengisi kuesioner yang berisi pengetahuan kemudian data hasil dilah data dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan semakin bertambah usia ibu hamil maka semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kategori baik (71,4%); semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil maka semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kategori baik pada tingkat SMP (75%) dan semakin beragam pekerjaan ibu hamil maka pada PNS, Pedagang dan Honorer memiliki tingkat pengetahuan yang baik atau lebih tinggi persentase nya (100%) bila dibandingkan dengan IRT (74.5%) dan Wirausaha (50%).
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes pada Tanaman Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dan Belimbing Manis (Averrhoa carambola) Yuan Vani Puspita Rachma; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.405 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4547

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by high blood glucose levels than normal values. Wuluh starfruit (Averrhoa bilimbi) and sweet starfruit (Averrhoa carambola) plants from the Averrhoa genus, Oxalidaceae tribe are known to have antidiabetic activity. The purpose of this literature study was to determine which parts of the wealth starfruit and sweet starfruit have antidiabetic activity as well as the active compounds that play a role in these activities and their mechanism of action. The method used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The results of the literature study showed that the leaves, fruit, and stems of the star fruit had antidiabetic activity. The mechanism of the wealth starfruit fraction etil asetat is by increasing insulin secretion in pancreatic cells which is thought to be due to the presence of quercetin compounds. The leaves and roots of the sweet star fruit have antidiabetic activity. The mechanism of the ethanolic extract of sweet star fruit root is to protect against the occurrence of cell damage in the pancreas which is thought to be due to the presence of compounds 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) and 2-dodecyl-6- methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). The active compound in sweet star fruit that can play a role in antidiabetic activity is apigenin-6-C-β-fucopyranoside in the leaves by increasing glucose absorption in the soleus muscle which works through the insulin signaling pathway. Another compound is DMDD in the roots by weakening the expression of AGEs that play a role in the occurrence of nephropathy. Abstrak. Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah dari nilai normal. Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan belimbing manis (Averrhoa carambola) yang berasal dari marga Averrhoa, suku oxalidaceae diketahui memiliki aktivitas antidiabetes. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui bagian tanaman dari belimbing wuluh dan belimbing manis yang memiliki aktivitas antidiabetes serta senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas tersebut dan mekanisme kerjanya. Metode yang digunakan yaitu dengan mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional dan Jurnal Internasional. Hasil dari studi literatur menunjukkan bahwa bagian daun, buah dan batang pada tanaman belimbing wuluh memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada fraksi etil asetat buah belimbing wuluh yaitu dengan meningkatkan sekresi insulin pada sel β pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa kuersetin. Daun dan akar pada tanaman belimbing manis memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada ekstrak etanol akar belimbing manis yaitu dengan melindungi terjadinya kerusakan sel di pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) dan 2-dodecyl-6-methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). Kandungan senyawa aktif pada belimbing manis yang dapat berperan dalam aktivitas antidiabetes yaitu apigenin-6-C-β-fucopyranoside pada bagian daun dengan meningkatkan penyerapan glukosa pada otot soleus yang bekerja melalui jalur pensinyalan insulin. Senyawa lain yaitu DMDD pada bagian akar dengan melemahkan ekspresi AGE yang berperan dalam terjadinya nefropati.
Kajian Pustaka Aktivitas Antidiabetes Kapuk Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) In Vivo vini nur alfaeni; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.099 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4671

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a chronic disease that occurs when the body is unable to produce enough insulin or cannot use insulin (insulin resistance). One of the plants that have anti-diabetic activity is kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). The purpose of this article review is to determine the plant parts of kapuk randu plant that have antidiabetic activity seen from the decrease in blood glucose levels in vivo and also to determine the class of compounds found in kapuk randu as antidiabetic. The method used is in the form of a systematic literature review with the stages of library research, filtering based on inclusion and exclusion criteria and data extraction. Based on the results of a literature review, the parts of the kapok plant that have antidiabetic activity are seeds, bark, root bark, stem bark and also leaves. The highest percent (%) decrease in blood glucose levels was found in the seed plant, which was 65.31%. The group of compounds found in kapok plant parts that have antidiabetic activity are alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Abstrak. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang timbul saat tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin). Salah satu tumbuhan yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah tumbuhan kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui bagian tanaman dari kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes dilihat dari penurunan kadar glukosa darah secara in vivo dan juga untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada tumbuhan kapuk randu sebagai antidiabetes. Metode yang digunakan yaitu berupa kajian pustaka secara sistematis dengan tahapan penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstrasi data. Berdasarkan hasil kajian pustaka bagian tanaman kapuk randu yang meiliki aktivitas antidiabetes yaitu biji, kulit kayu, kulit akar, kulit batang dan juga daun. Persen (%) penurunan kadar glukosa darah paling tinggi terdapat pada bagian tanaman biji yaitu 65,31%. Golongan senyawa yang terdapat pada bagian tanaman kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan terpenoid.
Prebiotic Activity of Pectin from Ambon Lumut Banana (Musa acuminata AAA) Peel Bertha Rusdi; Onoy Rohaeni; Miski A. Khairinisa; Umi Yuniarni
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/pcpr.v7i3.41598

Abstract

Banana peel is an agricultural waste that contains pectin. Ambon lumut banana (Musa acuminata AAA) is often consumed in Indonesia, but its peel is rarely utilized thus the availability of Ambon lumut banana peel in Indonesia is high. Pectin selectively increases beneficial gut bacteria, and this is commonly known as prebiotic. This study aims to evaluate the prebiotic activity of Ambon lumut banana peel by observing the growth of a beneficial gut bacteria, Lactobacillus acidophilus, and pathogen enteric bacteria, Escherichia coli, in media (MRSB) enriched with the pectin. The result showed that 1% of Ambon lumut banana peel pectin significantly increased the number of L. acidophilus and decreased the number of E. coli compared to bacteria culture without carbon source (glucose-free MRSB) and bacteria culture with glucose as carbon source. The prebiotic index of Ambon lumut banana peel pectin was 0.53. In addition to that, the short chain fatty acid (SCFA) which is beneficial metabolite of L. acidophilus for human health was also measured using HPLC.  The HPLC analysis results showed that L. acidophilus culture enriched with pectin contains SCFA, including acetic acid, butyric acid, and propionic acid at the concentration of 10.22 µg/mL, 5.38 µg/mL and 0.55 µg/mL respectively.
AKTIVITAS PREBIOTIK PISANG SERTA EFEKNYA TERHADAP KESEHATAN DAN PENYAKIT Bertha Rusdi; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i2.11825

Abstract

Prebiotik dapat ditemukan dalam bentuk serat pangan pada sayuran dan buah-buahan. Prebiotik secara selektif mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan. Bakteri menguntungkan pada kolon akan mengubah prebiotik menjadi asam lemak rantai pendek yang memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan inangnya. Pisang (Musa spp.) merupakan salah satu buah yang telah banyak diteliti sebagai prebiotik. Berbagai varietas pisang telah diteliti dan menunjukkan efek pada pertumbuhan bakteri menguntungkan Bifidobacterium dan Lactobacilli. Tujuan tinjauan pustaka sistematis ini adalah untuk merangkum informasi ilmiah mengenai potensi pisang sebagai prebiotik. Artikel ini membahas mengenai jenis dan bagian-bagian tanaman yang digunakan, senyawa yang berperan dalam efek prebiotik serta efek pisang terhadap kesehatan dan pengendalian penyakit. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel melalui basis data Science Direct dan Google Scholar. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa varietas pisang yang banyak diteliti sebagian besar berasal dari persilangan Musa acuminata (genom A) dengan Musa balbisiana (genom B). Bagian buah, kulit buah, dan batang pisang terbukti memiliki efek sebagai prebiotik. Kandungan senyawa yang berperan dalam meningkatkan bakteri Bifidobacteria dan Lactobacilli diantaranya adalah pati, pektin, oligosakarida, fruktan serta selulosa larut air. Efek prebiotik pisang diketahui berkaitan dengan efeknya sebagai antiinflamasi, peningkat sistem imun dan antibakteri.
Kajian Kepatuhan Pengobatan Hipertensi Pada Puskesmas Tamansari Kota Bandung Hana Tulia Fazin; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8212

Abstract

Abstract. Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease with high mortality and morbidity rates in the world. In the process of treating hypertension, adherence is an important factor in controlling blood pressure in order to achieve therapeutic outcome, thereby reducing mortality and morbidity. The purpose of this study was to determined the level of adherence to hypertension drug treatment at the Tamansari Bandung Public Health Center and to find the dominant factors that influence non-adherence in hypertension drug treatment. This study used the MMAS-8 questionnaire to measured the level of adherence and used a list of interview questions regarding the dominant factors that could influence nonadherence to hypertension drug treatment. This study was conducted from february to march on 87 respondents who met the inclusion criteria set by the researchers. The results of the study showed that the respondents has a moderate level of adherence category. As well as the dominant factors that can affect non-adherence in patients with low adherence, namely, patients easily forget to take antihypertensive drugs, patients feel they have recovered so they do not need to use antihypertensive drugs again, patients experience side effects after taking antihypertensive drugs, and patients are not sure about the drugs prescribed by the doctor so they prefer traditional medicine. Abstrak. Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi di dunia. Dalam proses pengobatan hipertensi, kepatuhan menjadi faktor yang penting dalam mengontrol tekanan darah agar mencapai hasil terapi, sehingga dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan tingkat kepatuhan pengobatan hipertensi di Puskesmas Tamansari Bandung dan mencari faktor dominan yang mempengaruhi ketidakpatuhan dalam pengobatan hipertensi. Penelitian ini menggunakan kuesiner MMAS-8 untuk mengukur tingkat kepatuhan dan menggunakan daftar pertanyaan wawancara mengenai faktor dominan yang dapat mempengaruhi ketidakpatuhan pengobatan hipertensi. Penelitian ini dilakukan pada bulan februari hingga maret terhadap 87 responden yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat kepatuhan kategori sedang. Serta faktor dominan yang dapat mempengaruhi ketidakpatuhan pada pasien dengan kepatuhan rendah yaitu, pasien mudah lupa untuk meminum obat antihipertensi, pasien merasa sudah sembuh sehingga tidak perlu menggunakan obat antihipertensi kembali, pasien mengalami efek samping setelah meminum obat antihipertensi, dan pasien kurang yakin terhadap obat yang diresepkan dokter sehingga lebih memilih obat tradisional.
Analisis Interaksi Obat Pada Pasien Rawat Jalan Penderita Penyakit Jantung Koroner di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Muhammad Raja Fachri Buldan; Umi Yuniarni; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8249

Abstract

Abstrak. Penyakit jantung koroner (PJK) adalah suatu penyakit gangguan fungsi jantung akibat berkurangnya suplai oksigen ke otot jantung. Hal ini disebabkan oleh adanya penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah koroner. PJK merupakan penyakit kronis dan sering diderita oleh pasien dengan usia lanjut oleh karena itu PJK membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya interaksi obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kemungkinan adanya interaksi obat pada pasien rawat jalan penyakit jantung koroner di salah satu rumah sakit di kota Bandung meliputi jenis obat yang paling sering berpotensi berinteraksi, mekanisme interaksi obat, dan signifikansi interaksi obat. Penelitian yang dilakukan yaitu analitik observasional menggunakan data retrospektif dengan analisis data secara deskriptif dan pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Data diambil dari sampel rekam medik pasien rawat jalan penderita PJK di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode Januari – Desember 2022. Berdasarkan analisis interaksi obat yang telah dilakukan diketahui 73 resep (97,33%) dari total 75 resep pasien rawat jalan penderita PJK yang kemungkinan berpotensi mengalami interaksi obat dengan total 81 jenis interaksi. Mayoritas interaksi memiliki signifikansi moderate sebanyak 66 kasus (81,48%), lalu minor 8 kasus (9,88%) dan major 7 kasus (8,64%). Jenis obat yang paling sering berinteraksi yaitu aspirin-bisoprolol dengan jumlah 35 kasus (47,94%). Berdasarkan mekanisme interaksi obat mayoritas adalah interaksi dengan mekanisme farmakodinamika dengan jumlah 57 kasus (70,37%). Abstract. Coronary Heart Disease (CHD) is a disease of impaired heart function due to reduced oxygen supply to the heart muscle. This is caused by a narrowing or blockage of the coronary blood vessels. CHD is a chronic disease and is often suffered by patients with advanced age, therefore CHD requires a variety of drugs in its therapy, increasing the possibility of drug interactions. The purpose of this study was to determine the percentage of the possibility of drug interactions in outpatients with coronary heart disease in one of the hospitals in the city of Bandung including the types of drugs that most often have the potential to interact, the mechanism of drug interactions, and the significance of drug interactions. The research conducted was observational analytic using retrospective data with descriptive data analysis and sampling with consecutive sampling technique. Data were taken from a sample of medical records of outpatients with CHD in one of the hospitals in the city of Bandung for the period January - December 2022. Based on the analysis of drug interactions that have been carried out, 73 prescriptions (97.33%) of a total of 75 outpatient prescriptions for patients with CHD are known to have the potential to experience drug interactions with a total of 81 types of interactions. The majority of interactions had moderate significance as many as 66 cases (81.48%), then minor 8 cases (9.88%) and major 7 cases (8.64%). The most common type of drug interaction was aspirin-bisoprolol with 35 cases (47,94%). Based on the mechanism of drug interaction, the majority were pharmacodynamic interactions with 57 cases (70.37%).
PRESCRIBING IN GERIATRIC HYPERTENSIVE PATIENTS IN THE INPATIENT INSTALLATION OF RSUD R. SYAMSUDIN, S.H. SUKABUMI CITY Levina Geby Dwi Putri Alamsyah; Umi Yuniarni; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8407

Abstract

Abstract. Geriatric patients are elderly patients with various diseases and / or diseases caused by physical, psychological, social, economic disorders and also experience a decrease in physiological function due to the degeneration process so that the body is susceptible to diseases and infectious diseases. One of the degenerative diseases that are commonly found in the elderly is hypertension. This study aims to determine the pattern of prescribing in geriatric hypertension patients at the Inpatient Installation of RSUD R. Syamsudin, S.H. including types of drugs, drugs for comorbidities, doses, and routes of administration. This research is a non-experimental research with a retrospective descriptive design. The results showed that the most widely prescribed antihypertensive drug was a single therapy class of Calcium Channel Blocker (CCB), the type of drug used was amlodipine. The composition of hypertensive patients without comorbidities was 75%, with comorbid heart disease by 15.69%, with comorbid diabetes mellitus and gout by 4%, with comorbid asthma by 2%. The most widespread use of antihypertensive drugs is given by monotherapy by 66%, a combination of 2 drugs by 22%, a combination of 3 drugs by 6%, and a combination of 4 drugs by 2%. Abstrak. Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan berbagai penyakit dan/atau penyakit yang diakibatkan oleh gangguan fisik, psikologis, sosial, ekonomi dan juga mengalami penurunan fungsi fisiologis akibat proses degenerasi sehingga tubuh rentan terhadap penyakit dan infeksi penyakit menular. Salah satu penyakit degeneratif yang banyak dijumpai pada lansia yaitu hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan pada pasien hipertensi geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD R. Syamsudin, S.H. meliputi jenis obat, obat untuk penyakit penyerta, dosis, dan rute pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriftif yang bersifat retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan yaitu terapi tunggal golongan Calcium Channel Blocker (CCB) jenis obat yang digunakan adalah amlodipine. Komposisi pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta sebesar 75%, dengan komorbid penyakit jantung sebesar 15,69%, dengan komorbid diabetes melitus dan asam urat sebesar 4%, dengan komorbid asma sebesar 2%. Penggunaan obat antihipertensi paling banyak digunakan yaitu dengan monoterapi sebesar 66%, kombinasi 2 obat sebesar 22%, kombinasi 3 obat sebesar 6%, dan kombinasi 4 obat sebesar 2%.