Claim Missing Document
Check
Articles

PRESCRIBING IN GERIATRIC HYPERTENSIVE PATIENTS IN THE INPATIENT INSTALLATION OF RSUD R. SYAMSUDIN, S.H. SUKABUMI CITY Levina Geby Dwi Putri Alamsyah; Umi Yuniarni; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8407

Abstract

Abstract. Geriatric patients are elderly patients with various diseases and / or diseases caused by physical, psychological, social, economic disorders and also experience a decrease in physiological function due to the degeneration process so that the body is susceptible to diseases and infectious diseases. One of the degenerative diseases that are commonly found in the elderly is hypertension. This study aims to determine the pattern of prescribing in geriatric hypertension patients at the Inpatient Installation of RSUD R. Syamsudin, S.H. including types of drugs, drugs for comorbidities, doses, and routes of administration. This research is a non-experimental research with a retrospective descriptive design. The results showed that the most widely prescribed antihypertensive drug was a single therapy class of Calcium Channel Blocker (CCB), the type of drug used was amlodipine. The composition of hypertensive patients without comorbidities was 75%, with comorbid heart disease by 15.69%, with comorbid diabetes mellitus and gout by 4%, with comorbid asthma by 2%. The most widespread use of antihypertensive drugs is given by monotherapy by 66%, a combination of 2 drugs by 22%, a combination of 3 drugs by 6%, and a combination of 4 drugs by 2%. Abstrak. Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan berbagai penyakit dan/atau penyakit yang diakibatkan oleh gangguan fisik, psikologis, sosial, ekonomi dan juga mengalami penurunan fungsi fisiologis akibat proses degenerasi sehingga tubuh rentan terhadap penyakit dan infeksi penyakit menular. Salah satu penyakit degeneratif yang banyak dijumpai pada lansia yaitu hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan pada pasien hipertensi geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD R. Syamsudin, S.H. meliputi jenis obat, obat untuk penyakit penyerta, dosis, dan rute pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriftif yang bersifat retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan yaitu terapi tunggal golongan Calcium Channel Blocker (CCB) jenis obat yang digunakan adalah amlodipine. Komposisi pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta sebesar 75%, dengan komorbid penyakit jantung sebesar 15,69%, dengan komorbid diabetes melitus dan asam urat sebesar 4%, dengan komorbid asma sebesar 2%. Penggunaan obat antihipertensi paling banyak digunakan yaitu dengan monoterapi sebesar 66%, kombinasi 2 obat sebesar 22%, kombinasi 3 obat sebesar 6%, dan kombinasi 4 obat sebesar 2%.
Studi Literatur Kasus Adverse Drug Reactions Dari Pengaruh Bahan Eksipien Obat Ina Willona Rudi; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8449

Abstract

Abstract. Adverse Drug Reactions (ADRs) are generally triggered by active substances contained in the drugs used, but it is possible that these ADR events are caused and triggered by the role of excipients contained in the drugs. Excipients play a role in the design or improvement of a dosage form of a drug. In Indonesia, a case was found that the drug excipients in one of the children's syrup drugs could cause acute kidney failure due to the contaminants contained therein which came from the excipients used. The aim of this research is to conduct an assessment of cases of adverse drug reactions caused by excipients. any drugs that cause reactions and the resulting effects and ways of handling from various research literature. The method used is a Literature Review Study by conducting studies on several journals and collecting data according to the inclusion and exclusion criteria. The results obtained were 8 articles with 8 cases that occurred in 8 patients who were affected in cases of Adverse Drug Reactions which were influenced by drug excipients. Influential drug excipients are: Polyethylene glycol, propylene glycol, carboxymethylcellulose, mannitol, polysorbate 80, and povidone. The impact caused is an allergic reaction. Treatment is carried out by stopping the use of drugs containing excipients that trigger Adverse Drug Reactions in patients, besides that drugs are also administered to treat Adverse Drug Reactions that arise. Abstrak. Adverse Drug Reactions (ADRs) pada umumnya dipicu oleh zat aktif yang terkandung dalam obat yang digunakan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kejadian-kejadian ADR ini disebabkan dan dipicu oleh adanya peran bahan eksipien yang terkandung dalam obat-obatan. Eksipien memegang peran dalam rancangan atau peningkatan dari bentuk suatu sediaan obat. Di Indonesia ditemukan kasus bahwa bahan eksipien obat pada salah satu obat sirup anak dapat menimbulkan penyakit gagal ginjal akut akibat adanya cemaran yang terkandung didalamnya yang berasal dari eksipien yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pengkajian pada kasus Adverse Drug Reactions yang disebabkan oleh eksipien obat apa saja yang menimbulkan reaksi serta dampak yang dihasilkan dan cara penanganan dari berbagai literatur penelitian. Metode yang digunakan adalah Studi Literature Review dengan dilakukannya pengkajian pada beberapa jurnal dan diambil data sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil yang didapat sebanyak 8 artikel dengan 8 kasus yang terjadi terhadap 8 pasien yang terdampak pada kasus Adverse Drug Reactions yang dipengaruhi oleh bahan eksipien obat. Eksipien obat yang berpengaruh yaitu: Polyethylene glycol, propylene glycol, carboxymethylcellulose, mannitol, polysorbate 80, dan povidone. Dampak yang ditimbulkan adalah reaksi alergi. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan penghentian penggunaan obat yang mengandung eksipien yang memicu terjadinya reaksi Adverse Drug Reactions terhadap pasien, selain itu juga dilakukan pemberian obat untuk menangani reaksi Adverse Drug Reactions yang timbul.
Pewarnaan Gram Bakteri Isolat Klinis pada Pasien ISK di RSUD Karawang Zalfa Neysa Salsabila; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8468

Abstract

Infeksi merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, salah satunya yaitu infeksi saluran kemih (ISK). Kasus ISK paling banyak disebabkan oleh mikroba berupa bakteri. Bakteri penyebab ISK dapat berupa bakteri gram negatif dan gram positif dengan frekuensi kejadian lebih banyak diakibatkan oleh bakteri gram negatif. Salah satu upaya dalam penatalaksanaan ISK agar terapi dapat tepat sasaran yaitu dengan mengetahui bakteri penyebab infeksi. Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu identifikasi berdasarkan pewarnaan Gram dan interpretasi hasilnya berupa perbedaan warna antara bakteri gram negatif dan gram positif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis gram bakteri berdasarkan pewarnaan Gram yang menyebabkan ISK pada sampel pasien terdiagnosis ISK di Poli Urologi RSUD Karawang serta mengetahui persentase masing-masing bakteri isolat klinis dari total kelima sampel pasien terdiagnosis ISK di Poli Urologi RSUD Karawang. Metode pewarnaan gram dilakukan dengan menggunakan reagen merek Aim Gram Stain. Hasil penelitian menunjukkan dari total kelima sampel pasien terdiagnosis ISK di RSUD Karawang berdasarkan pewarnaan Gram memberikan hasil pewarnaan positif terhadap bakteri gram negatif dan gram positif, yang ditandai dengan preparat yang berwarna merah pada bakteri gram negatif, dan berwana ungu pada bakteri gram positif saat diamati dengan mikroskop perbesaran 100x, dengan persentase sebesar 80% disebabkan oleh bakteri gram negatif, sedangkan 20% lainnya diakibatkan oleh bakteri gram positif. Infection is one of the diseases with a high prevalence in Indonesia, one of which is urinary tract infection (UTI). Most UTI cases are caused by microbes in the form of bacteria. The bacteria that cause UTIs can be gram-negative and gram-positive bacteria with a higher frequency of occurrence caused by gram-negative bacteria. One of the efforts in UTI management so that therapy can be right on target is to find out the bacteria that cause infection. Bacterial identification can be done in several ways, one of which is identification based on Gram staining and interpretation of the results in the form of color differences between gram negative and gram positive bacteria. This study aims to identify the type of gram bacteria based on Gram staining that causes UTI in samples of patients diagnosed with UTI in the Dept. Urology of Karawang Hospital and determine the percentage of each clinical isolate bacteria from a total of five samples of patients diagnosed with UTI in the Dept. Urology of Karawang Hospital. Gram staining method was performed using Aim Gram Stain reagent. The results showed that from a total of five samples of patients diagnosed with UTI at Karawang Hospital based on Gram staining gave positive staining results for gram-negative and gram-positive bacteria, characterized by preparations that were red in gram-negative bacteria, and purple in gram-positive bacteria when observed with a 100x magnification microscope, with a percentage of 80% caused by gram-negative bacteria, while the other 20% were caused by gram-positive bacteria.
Uji Efek Antiseptik Ekstrak Etanol Daun Benalu Teh Terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi (Streptococcus mutans) Muhammad Rafii Akbar; Bertha Rusdi; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8679

Abstract

Streptococcus mutans adalah bakteri penyebab utama karies gigi. Bakteri tersebut menempel di pelikel gigi dan memecah gula sebagai energi untuk menghasilkan asam laktat, dan menyebabkan kondisi asam di sekitar gigi dan berakibat terjadinya demineralisasi email. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol benalu teh terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan metode kontak. Proses penelitian diawali dengan mengumpulkan daun benalu teh yang terdapat di kebun teh, Ciater, Kabupaten Bandung Barat dan dilanjutkan dengan pengeringan daun benalu teh dalam pengering simplisia. Setelahnya, dilakukan proses maserasi menggunakan etanol 96% selama 3 hari dan pemekatan ekstrak dengan evaporator hingga dihasilkan ekstrak kental etanol daun benalu teh. Ekstrak kental tersebut digunakan untuk pengujian. Selain itu, dilakukan pengujian antibakteri menggunakan metode kontak agar dapat diketahui potensi antiseptik ekstrak etanol daun benalu teh serta dibandingkan dengan obat kumur yang mengandung povidon iodine 1%. Karakteristik yang terdapat pada ekstrak etanol daun benalu teh meliputi, kadar sari larut etanol kadar sari larut air, kadar abu total, kadar air dan susut pengeringan. Metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol daun benalu teh meliputi, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin-polifenol, antrakuinon, steroid dan monoterpenoid-triterpenoid.
Uji Efektivitas Antihiperglikemia Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper betla L.) Pada Mencit Jantan (Mus musculus) Dengan Metode Test Toleransi Sukrosa Jasmine Ayu Diningrum; Ratu Choesrina; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8720

Abstract

Abstract. Hyperglycemia is a condition of high blood glucose levels that describes the disease of diabetes mellitus. The bioactive components of phenolic compounds found in green betel leaves are considered to have the potential to reduce blood glucose levels. This study aims to determine the effectiveness of ethanol extract of green betel leaf (Piper betle L.) in reducing blood glucose levels in male mice with sucrose tolerance method, and to determine the most effective dose in reducing blood glucose levels. The research was conducted with an experimental approach through in vivo tests with the sucrose tolerance test method. Mice were divided into 7 groups, consisting of a negative control group, positive control group, test group of ethanol extract of green betel leaves in doses of 150 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, 350 mg/kgBB, and 450 mg/kgBB and a comparison group. Data obtained in the form of blood glucose levels at minutes 0, 60, 90, 120, 150, 180, 210 and 240, then performed statistical analysis using One Away Anova test and Tukey test. The results of statistical analysis showed a decrease in blood glucose levels with a significant difference between the four doses of green betel leaf ethanol extract when compared to positive control (P < 0.05). The higher the dose, the more effective it is in reducing blood glucose levels. A dose of 450 mg/kgBB of ethanol extract of green betel leaf is the most effective dose. In this case, it is necessary to further study the side effects through the toxicity test of the preparation to assess the safety of the use of ethanol extract of green betel leaf (Piper betle L.). to assess the safety of using green betel leaf ethanol extract preparations (Piper betle L.). Keywords: Green Betel Leaf (Piper betle L.), Antihyperglycemia, Antidiabetes Abstrak. Hiperglikemia merupakan kondisi tinggnya kadar glukosa darah yang menggambarkan penyakit dari diabetes melitus. Komponen bioaktif senyawa fenolik yang terdapat pada daun sirih hijau dinilai berpotensi dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.) dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit jantan dengan metode toleransi sukrosa, dan mengetahui dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan eksperimental melalui uji in vivo dengan metode test toleransi sukrosa. Mencit dibagi menjadi 7 kelompok, terdiri dari kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok uji ekstrak etanol daun sirih hijau dosis 150 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, 350 mg/kgBB, dan 450 mg/kgBB serta kelompok pembanding. Data yang diperoleh berupa kadar glukosa darah pada menit ke-0, 60, 90, 120, 150, 180, 210 dan 240, kemudian dilakukan analisis statistik menggunakan uji One Away Anova dan uji Tukey. Hasil analisis statistik menunjukan penurunan kadar glukosa darah dengan adanya perbedaan yang signifikan antara empat dosis ekstrak etanol daun sirih hijau jika dibandingkan dengan kontrol positif (P<0,05). Semakin tinggi dosis, semakin efektif bekerja menurunkan kadar glukosa darah. Dosis 450 mg/kgBB ekstrak etanol daun sirih hijau merupakan dosis paling efektif. Dalam hal ini, perlu dikaji lebih lanjut mengenai efek samping melalui uji toksisitas sediaan untuk menilai keamanan penggunaan sediaan ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.). Kata Kunci: Daun Sirih Hijau (Piper betle L.), Antihiperglikemia, Antidiabetes
Pola Penggunaan dan Interaksi Obat Antidiabetes dan Antihipertensi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi Hipertensi di RSUD Subang Muhammad Fajar; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8753

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020 Indonesia menempati urutan ke 3 di Asia Tenggara. DM adalah penyakit hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit DM terdapat 3 jenis yaitu DM tipe 1, DM tipe 2 dan DM gestasional. DM dapat terjadi komplikasi salah satunya yaitu hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antidiabetes dengan antihipertensi dan terdapat interaksi obat untuk antidiabetes dengan antihipertensi di RSUD Kabupaten Subang. Penelitian ini merupakan analisis secara deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan mencatat rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Terdapat 70 rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik pasien didominasi oleh perempuan (68,6%) dan laki-laki (31,4%) dengan usia 60-74 tahun (50%). Obat antidiabetes dan antihipertensi yang paling banyak digunakan yaitu metformin (biguanide) 41% dan amlodipin (calcium channel blocker) 70,6%. Interaksi obat paling banyak yaitu metformin dengan amlodipin sebanyak 33 resep (57,7), mekanisme terbanyak yaitu farmakodinamika tingkat keparahan yaitu moderate. Diabetes mellitus (DM) is one of the diseases that always increases from year to year. In 2020 Indonesia ranks 3rd in Southeast Asia. DM is a hyperglycemia disease that occurs due to abnormalities in insulin secretion, insulin action, or both. There are 3 types of DM disease, namely type 1, type 2 DM and DM gestasional. DM can have complications, one of which is hypertension. This study aims to determine the pattern of use of antidiabetic drugs with antihypertensives and drug interactions for antidiabetics with antihypertensives at the RSUD Subang. This research is an observational descriptive analysis. Data were collected using purposive sampling technique by recording medical records that met the inclusion criteria. There were 70 medical records that met the inclusion criteria. Patient characteristics were dominated by women (68.6%) and men (31.4%) with ages 60-74 years (50%). The most commonly used antidiabetic and antihypertensive drugs were metformin (biguanide) 41% and amlodipine (calcium channel blocker) 70.6%. The most common drug interaction was metformin with amlodipine as many as 33 prescriptions (57.7), the most mechanism was pharmacodynamics, the severity level was moderate.
Kajian Interaksi Obat pada Terapi Penyakit Gagal Jantung di Rumah Sakit Al Islam Bandung Aryuqo Ardha Syaqa; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9010

Abstract

Abstract. Drug interaction is one of the categories of drug related problems that can affect the clinical outcome of patients. Heart failure therapy has the potential for drug interactions, because patients are often prescribed more than two drugs. This study aimed to determined the percentage of drug prescriptions that have the potential to cause drug interactions, the mechanism of drug interactions that can occur, and the severity of the impact of drug interactions that can occur. The type of research conducted was non-experimental with an analytic observational design. Data collection was carried out retrospectively using medical record data and drug prescriptions of patients who received therapy for heart failure in the Inpatient Installation of Al Islam Hospital Bandung. The sampling technique was using purposive sampling technique and obtained a sample size of 80 prescriptions. The results of the study showed that 69 prescriptions had the potential for drug interactions based on literature data. There were 195 potential drug interaction events from the 69 prescriptions. The severity of drug interactions that can occur is 31 (15.9%) major interactions, 140 (71.8%) moderate interactions and 24 (12.3%) minor interactions. The mechanisms of drug interactions that can occur is 106 (54.08%) pharmacodynamic interactions and 89 (45.92%) pharmacokinetic interactions. Abstrak. Interaksi obat merupakan salah satu kategori masalah terkait obat (drug related problem) yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Terapi gagal jantung berpotensi terjadi interaksi obat, karena pasien yang sering sekali diresepkan lebih dari dua obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase peresepan obat yang berpotensi menimbulkan interaksi obat, mekanisme interaksi obat yang dapat terjadi, dan tingkat keparahan dampak interaksi obat yang dapat terjadi. Jenis penelitian yang dilakukan adalah non eksperimental dengan rancangan observasional analitik. Pengambilan data dilakukan dengan cara retrospektif menggunakan data rekam medik dan resep obat pasien yang mendapat terapi penyakit gagal jantung di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Al Islam Bandung. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik purposive sampling dan didapat jumlah sampel 80 resep. Hasil dari penelitian menunjukan sebanyak 69 resep memiliki potensi terjadinya interaksi obat berdasarkan data literatur. Terdapat 195 potensi kejadian interaksi obat dari 69 resep tersebut. Tingkat keparahan interaksi obat yang dapat terjadi yaitu 31 (15,9%) interaksi major, 140 (71,8%) interaksi moderate dan 24 (12,3%) interaksi minor. Mekanisme interaksi obat yang dapat terjadi yaitu 106 (54,08%) interaksi secara farmakodinamik dan 89 (45,92%) interaksi secara farmakokinetika.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Benalu Teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat (Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis) Ayu Suci Dewi; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9015

Abstract

Abstract. Acne is a skin disease, one of which is caused by the bacteria Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Mistletoe tea (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) is a plant that has the potential as an antibacterial. This study aims to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of mistletoe tea leaves (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis as well as to compare its effectiveness against both bacteria. Extraction was carried out using the maceration method using 96% ethanol solvent. Antibacterial activity test was carried out by the agar diffusion method using wells. The results showed that the ethanol extract of mistletoe tea leaves had antibacterial activity against both test bacteria at concentrations of 20%, 30%, 40%, and 50% with the resulting inhibition diameter against Propionibacterium acnes bacteria being 12,67 mm, 14,83 mm, 17,40 mm and 17,60 mm. Whereas for Staphylococcus epidermidis bacteria, respectively were 21,80 mm, 23,90 mm, 25,67 mm and 26,50 mm. Based on the resulting inhibition zone, the ethanol extract of tea parasite leaves (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) has strong activity in inhibiting the growth of Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis bacteria at concentrations above 20%. Abstrak. Jerawat merupakan penyakit kulit yang salah satunya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis serta perbandingan efektivitas terhadap kedua bakeri. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu teh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan 50% dengan diameter hambat yang dihasilkan terhadap bakteri Propionibacterium acnes berturut-turut adalah 12,67 mm, 14,83 mm, 17,40 mm, dan 17,60 mm. Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis berturut-turut adalah 21,80 mm, 23,90 mm, 25,67 mm, dan 26,50 mm. Berdasarkan zona hambat yang dihasilkan, ekstrak etanol daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) memiliki aktivitas kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi diatas 20%.
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes dari Kulit Buah Pisang Kepok (Musa acuminata) Abdul Aziz Akmal; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9100

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus (DM) occurs due to metabolic disorders by high blood sugar levels due to a lack of insulin secretion, a deficient body response to insulin, or both. Bananas are a plant that is widely consumed by society and is easily cultivated. In addition, bananas also have a pharmacological effect, one of which is as an antidiabetic. The aim of the research is to conduct a search of the library on antidiabetic activity and the mechanisms of action of compounds from banana plants. (Musa acuminata). The study was conducted using the method of Systematic Literature review (SLR). Library search results showed that bananas that have antidiabetic activity are kepok bananas (Musa acuminata). Part of the plant that has been studied to have antidiabetic activity is the banana skin. Banana plants have antidiabetic activity because they contain secondary metabolite compounds such as flavonoids, saponins, and tannins. The mechanism of action of such secondary metabolites is to increase insulin sensitivity, inhibit the enzyme alpha-glucosidase, increase insulin secretion, decrease blood sugar, and improve the use of glucose by body cells. Abstrak. Diabetes Melitus (DM) terjadi karena adanya gangguan metabolisme yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah akibat kurangnya sekresi insulin, kurangnya respons tubuh terhadap insulin, atau keduanya. Pisang merupakan tanaman yang banyak dikonsumsi masyarakat dan mudah dibudidayakan. Selain itu, pisang juga memiliki efek farmakologi salah satunya sebagai antidiabetes. Tujuan dari penelitian untuk melakukan penelusuran pustaka mengenai aktivitas antidiabetes dan mekanisme kerja senyawa dari tanaman pisang. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematic Literatur Review (SLR). Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa tanaman pisang yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah pisang kepok (Musa acuminata). Bagian tanaman yang telah diteliti memiliki aktivitas antidiabetes adalah kulit buah pisang. Tanaman pisang memiliki aktivitas antidiabetes diduga karena mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu golongan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan tannin. Mekanisme kerja metabolit sekunder tersebut yaitu dengan meningkatkan sensitivitas insulin, penghambatan enzim alfa-glukosidase, peningkatan sekresi insulin, penurunan gula darah, dan penggunaan glukosa yang lebih baik oleh sel-sel tubuh.
Uji Aktivitas Antibakteri Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King & H.Rob) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidids dan Escherichia coli serta Penetapan Kadar Fenol Total Novia Nur Islamiati; Yani Lukmayani; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9124

Abstract

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik yang diatandai dengan meningkatnya kadar gula darah. Komplikasi kronis dari diabetes melitus salah satunya adalah ulkus diabetikum. Ulkus merupakan luka yang terjadi karena adanya kelainan pada saraf, pembuluh darah dan infeksi. Bakteri yang dapat menginfeksi ulkus diabetikum salah satunya adalah bakteri Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli. Salah satu tumbuhan yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri adalah tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata (L.) R.M. King & H.Rob). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kirinyuh terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan bakteri Escherichia coli serta kandungan senyawa fenol total yang terdapat pada ekstrak daun kirinyuh. Metode yang digunakan dalam pembuatan ekstrak yaitu dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian aktivitas antibakteri dengan metode sumuran dengan variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10%, 15% dan 20%. Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukan aktivitas antibakteri pada bakteri Staohylococcus epidermidis 1.083 mm zona hambat dikategorikan lemah karena kurang dari 5 mm namun tidak terdapat hambatan pada bakteri Escherichia coli. Kadar fenol total yang terkandung dalam ekstrak daun kirinyuh sebesar 1075 mgGAE/g. Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by in creased blood sugar levels. One of the chronic complications of diabetes melitus is diabetic uclers. Uclers are wound that occur due to abnormalities in the nerves, blood vessels and infection. One of the bacteria that can infect diabetic uclers is Staphylococcus epidermidis and Escherichia coli bacteria. One of the plants that has the potential to inhibit bacterial growth is the kirinyuh plant (Chromolaena odorata (L.) R.M King & H.Rob). This study aims to determine the antibacterial activity of kirinyuh leaf extract against Staphylococcus epidermidis and Escherichia coli bacteria as well as the total phenolic compounds contained in kirinyuh leaf extract. The method used in making the extract is by maceration method using 70% ethanol solvent. Testing the antibacterial activity with the well method with variations in extract concentrations of 5%, 10%, 15% and 20%. The results of the antibacterial activity test showed antibacterial activity on the Staohylococcus epidermidis 1,083 mm zone of inhibition which was categorized as weak because it was less than 5 mm but there were no barriers to Escherichia coli bacteria. The total phenol content contained in kirinyuh leaf extract was 1075 mgGAE/g
Co-Authors 10060321003, Dela Kurniasih 10060321017, Tarisa Perolin Abdul Aziz Akmal Afifah Chantika Sari Priasmara Ainah Alika Ismita Alya Fauziah Zahra Alya Fauziah Zahra Alyah Eka Putri Anggietha Zahra Khairunnisa Anindhita Nur Firdausya Annisa Dila Perwitasari Annisa Nur Hasna Fauziyah Arpilla Almanda Aryuqo Ardha Syaqa Ayu Suci Dewi Bambang Tri Laksono Berta Rusdi Bertha Rusdi Dadang Juanda Dendi Ardian Desi Anom Sari Diki Prayugo Wibowo Dina Mulyanti Dinda Hana Dinda Shafa Nabila Dini Farizah Diva Rachmadita Kusumawardani Ega Nirmala Ega Nirmala Ernita Fetri Lestari Fetri Lestari Haidir Syafrullah Hana Tulia Fazin Hanifah Hidayah Putri Hazar, Siti Hudari Aklinia Handadly Iis Rosita Ina Willona Rudi Irene Yuliani Trinita Isti Elvina Azzahra Jasmine Ayu Diningrum Kamilia Zahro Khalida Fitrah Qolbina Lailatul Taqbi Rahmatya Lanny Mulqie Levina Geby Dwi Putri Alamsyah Luthfika Khansha, Luthfika Khansha Marshanda Reiya Hanafiah Miski A. Khairinisa Muhammad Fajar Muhammad Rafii Akbar Muhammad Raja Fachri Buldan Nabila Khaerunnisa Nabilla, Qori Nadia Indah Sari Najwa Khalisha Putri Nanda Nurhaliza Z Nazwa Aqilah Nela Simanjuntak Nirmala, Ega Novia Nur Islamiati Onoy Rohaeni Puri Salsabila Arsyi Qori Nabilla Rani Pertiwi Ratih Aryani, Ratih Ratu Choesrina Shakira Rida Utami Shifa Fadillah Indreswari Puja Silviya Nur Hasanah Siti Alifa Dzulnadifa Siti Hazar Siti Umniyyah Nabilah Sri Peni Fitrianingsih Suwendar Suwendar Syahla Alpia Rachman Syifa Egidia Delani Tifana Indrafaina Al'munaf Trinita, Irene Yuliani Vidya Sulistiawati Dewi vini nur alfaeni Vira Apriliandani Yani Lukmayani Yuan Vani Puspita Rachma Zahra Aurelia Chendra Zalfa Neysa Salsabila