Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INTERNALISASI ETIKA BERBICARA SANTRI KEPADA GURU (Penelitian pada Dayah Terpilih di Bireuen Aceh Utara) Suyanta, Sri
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.106 KB) | DOI: 10.37598/pjpp.v7i1.404

Abstract

Fokus kajian ini adalah etika berkomukasi komunitas dayah, yaitu santri kepada gurunya. Secara umum, pola komunikasi di dayah terikat dengan aturan etika dan nilai-nilai yang hidup pada masing-masing dayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan populasi seluruh dayah di Bireun Aceh Utara dan sampel yang terpilih adalah dayah terpadu Ummul Aiman dan dayah tradisional Darul Istiqamah. Data dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara yang selanjutnya dianalisis dengan cara editing, reduksi, dan penyajian data. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa dalam praktiknya, saat hendak mengikuti pendidikan baik di Dayah Ummul Aiman maupun Dayah Darul Istiqamah, santri diserahkan oleh orangtuanya kepada guru  untuk dididik. Di saat menjadi bagian dari dayah, maka santri dibina  sehingga memiliki akhlak mulia, patuh, tunduk kepada guru dan tidak boleh membantah, apalagi kepada teungku atau pimpinan dayah. Dalam berinteraksi, santri dibiasakan berbicara atau menyampaikan maksudnya dengan sopan dan suara lemah lembut. Saat teungku menerangkan pelajaran atau berbicara, maka santri mendengarkan, dan pantang membantah atau menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan gurunya. Di sinilah etika berbicara santri kepada gurunya terjalin dengan penuh kesantunan dan rasa hormat, dan takdhim kepada gurunya. Di dayah, sikap takdhim dan kepatuhan murid kepada gurunya adalah mutlak dan tidak boleh putus, artinya berlangsung seumur hidup. Sikap ketakdhiman ini ditunjukkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik dalam kehidupaan keagamaan, kemasyarakatan, maupun urusan personal lainnya.
REAFIRMASI NILAI-NILAI RELIGIUSITAS DALAM KEHIDUPAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER Sri Suyanta
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 2, No 1, April (2015)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v2i1.403

Abstract

Dalam rangka mengukuhkan nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan, pendidikan karakter merupakan keniscayaan. Proses dan mekanismenya  melintasi area, masa dan usia. Pendidikan karakter mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan di lingkungan sosial masyarakat lainnya. Ia mestinya menjadi panglima, diprioritaskan sejak dahulu kala, kini dan masa datang. Bahkan sekarang ini peserta didik dalam pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa bahkan usia manula sekalipun. Oleh karenanya pendidikan karakter harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan simultan untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan dirinya, sesama manusia, lingkungan dan Tuhannya. Pendidikan karakter dapat ditempuh melalui tiga tahap, yaitu sosialisasi pengenalan (introduksi), penghayatan (internalisasi), dan pengukuhan (aplikasi) dalam kehidupan
INTERNALISASI ETIKA BERBICARA SANTRI KEPADA GURU (Penelitian pada Dayah Terpilih di Bireuen Aceh Utara) Suyanta, Sri
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 7, No 1, April (2020)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v7i1.404

Abstract

Fokus kajian ini adalah etika berkomukasi komunitas dayah, yaitu santri kepada gurunya. Secara umum, pola komunikasi di dayah terikat dengan aturan etika dan nilai-nilai yang hidup pada masing-masing dayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan populasi seluruh dayah di Bireun Aceh Utara dan sampel yang terpilih adalah dayah terpadu Ummul Aiman dan dayah tradisional Darul Istiqamah. Data dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara yang selanjutnya dianalisis dengan cara editing, reduksi, dan penyajian data. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa dalam praktiknya, saat hendak mengikuti pendidikan baik di Dayah Ummul Aiman maupun Dayah Darul Istiqamah, santri diserahkan oleh orangtuanya kepada guru  untuk dididik. Di saat menjadi bagian dari dayah, maka santri dibina  sehingga memiliki akhlak mulia, patuh, tunduk kepada guru dan tidak boleh membantah, apalagi kepada teungku atau pimpinan dayah. Dalam berinteraksi, santri dibiasakan berbicara atau menyampaikan maksudnya dengan sopan dan suara lemah lembut. Saat teungku menerangkan pelajaran atau berbicara, maka santri mendengarkan, dan pantang membantah atau menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan gurunya. Di sinilah etika berbicara santri kepada gurunya terjalin dengan penuh kesantunan dan rasa hormat, dan takdhim kepada gurunya. Di dayah, sikap takdhim dan kepatuhan murid kepada gurunya adalah mutlak dan tidak boleh putus, artinya berlangsung seumur hidup. Sikap ketakdhiman ini ditunjukkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik dalam kehidupaan keagamaan, kemasyarakatan, maupun urusan personal lainnya.