Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi isu penting di Indonesia, termasuk di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang mencatat 214 kasus kebakaran pada tahun 2023. Dampaknya meliputi kerusakan vegetasi, degradasi lahan, emisi karbon, dan gangguan kesehatan akibat polusi udara. Oleh karena itu, pemetaan tingkat keparahan Karhutla penting untuk upaya mitigasi. Penelitian ini menganalisis tingkat keparahan Karhutla di Kabupaten Klaten menggunakan algoritma Differenced Normalized Burn Ratio (dNBR) berbasis citra Sentinel-2A. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai Normalized Burn Ratio (NBR) sebelum dan sesudah kebakaran. Nilai rata-rata PreNBR (0,0972) lebih tinggi dari PostNBR (0,0501), menunjukkan penurunan kondisi vegetasi. Nilai dNBR berkisar antara -0,416 hingga 0,591 dengan rata-rata 4,710, dan diklasifikasikan dalam empat kategori: Enhanced Regrowth, tidak terbakar, tingkat keparahan rendah, dan tingkat keparahan sedang. Kategori Enhanced Regrowth mencakup 130,1 Ha, didominasi oleh Kecamatan Kemalang (118,41 Ha). Keparahan rendah meliputi 5.561,26 Ha, terbesar di Kecamatan Cawas (1.945,82 Ha), sedangkan tingkat keparahannya meliputi 187,28 Ha, juga didominasi oleh Cawas (29,03 Ha). Cawas memiliki persentase area terbakar tertinggi (54,92%), menunjukkan tingkat keparahan tertinggi. Secara umum, tingkat keparahan kebakaran di Klaten tergolong sedang, dengan ekosistem yang masih memiliki potensi regenerasi. Penelitian ini merekomendasikan prioritas mitigasi di wilayah terdampak, restorasi deteksi dini, dan integrasi SIG dalam kebijakan penataan ruang yang adaptif.