Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Ukuran Telur dan Larva Abalon Haliotis asinina dari Induk yang Diberi Pakan Rumput LautGracillaria arcuata dan Ulva fasciata Hak, Ainul; Kurnia, Agus; Yusnaini, .
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.347 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i4.4351

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengeahui ukuran telur dan larva abalon dari induk yang diberi pakan jenis Gracillaria arcuata dan Ulva fasciata. Penelitian ini dilakukan selama 111 hari sejak tanggal 2 November 2016 sampai tanggal 20 Februari 2017 dari pemilihan induk sampai pemijahan.Penelitian ini menggunakan pemijahan secara alami dan induk abalon jantan dan betina dipisahkan wadah pemijahannya.Induk abalon telah mencapai tingkat kematangan gonad (TKG) ke 2, Abalon dipelihara didalan keranjang 30x30 cm sebanyak 3 individu dalam satu wadah, kemudian wadah keranjang dimasukkan ke dalam bak fiber yang berkapasitas 1000liter air laut. Induk abalon dipelihara sampai mencapai TKG 3 dan 4 dan siap untuk dipijahkan, Induk abalon yang telah matang gonad dipindahkan ke dalam wadah berkapasitas 70 liter air laut. Telur dan larva yang berhasil menetas diukur dibawah mikroskop binokuler 100x perbesaran menggunakan eyepiece.Variabel yang diamati adalah diameter telur, panjang larva. Data yang di dapatkan dianalisis dengan analisis statistik menggunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter telur abalon dari induk yang diberi pakan jenis G. arcuata dan U. fasciatatidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan ukuran telur antara 150-200 µm dan panjang larva antara 210-230 µm.kesimpulan penelitian ini adalah kualitas pakan alami jenis G. arcuata dan U. fasciata memiliki pengaruh yang sama terhadap diameter telur dan panjang larva abalon.Kata Kunci : Abalon, Telur, Larva
Studi Pemanfaatan Tepung Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dalam Pakan Terhadap Pewarnaan Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio L.) Kalidupa, Nursina; Kurnia, Agus; Nur, Indriyani
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 1: Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.325 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i1.4383

Abstract

Penelitian tentang pewarnaan ikan mas koi (Cyprinus carpio L.) yang diberi pakan yang mengandung tepung kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan dosis yang berbeda-berbeda telah dilaksanakan selama 42 hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian tepung kulit buah naga merah dalam pakan buatan dengan dosis yang berbeda terhadap peningkatan kecerahan warna pada ikan mas koi. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 20x20x25cm. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Tiga jenis pakan dengandosis tepung kulit buah naga merah yang berbeda dan kontrolyang diterapkan adalah: A (5%), B (10%), C (15%), dan D (pakan komersil tanpa penambahan tepung kulit buah naga merah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dosis tepung kulit buah naga merah dalam pakan dapat memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kecerahan warna hitam dan orange pada ikan mas koi (P ≤ 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pemberian tepung kulit buah naga merah utamanya pada dosis 15% dalam pakan dapat meningkatkan kecerahan warna hitam dan warna orange pada ikan mas koi.Kata Kunci : Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus), Pewarnaan, Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio L.)
Identifikasi Jenis Bentik Diatom pada Kolektor Berbeda dan Pengaruhnya terhadap Kelangsungan Hidup Larva Abalon (H. asinina) Meda, Rabi S.; Rahman, Abdul; Effendy, Irwan J.; Kurnia, Agus
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 3: Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.494 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i3.4342

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan persentase setiap jenisbentik diatomserta tingkat kelangsungan hidup larva abalon H. asinina yang dipelihara pada kolektor waring hijau, lempengan plastik dan kolektor batu karang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan kolektor berbeda yaitu A (waring hijau), B (lempengan plastik) dan C (batu karang) dan menggunakan 3 kali pengulangan. Variabel yang diamati adalah jenis bentik diatom, persentase setiap jenis bentik diatom, pertumbuhan mutlak, dan sintasan. Jenis bentik diatom terbanyak terdapat pada perlakuan B dengan jumlah 32 jenis. Persentase jenis bentik diatom tertinggi diperoleh pada perlakuan B yaitu Achuanthidium minutissimum dengan nilai 36,20%. Pertumbuhan mutlak panjang cangkang tertinggi diperoleh pada perlakuan C dengan nilai 3,30 mm. Sintasan larva tertinggi diperoleh pada perlakuan B dengan nilai 4%. Kesimpulan penelitian ini adalah kolektor lempengan plastik bagus digunakan sebagai penumbuhan bentik diatom dan pelekatan larva abalone (H. asinina). Kata kunci : Kolektor, bentik diatom, larva abalon, kelangsungan hidup
Pengaruh Interval Waktu Penyuntikan Hormon Pertumbuhan Rekombinan Ikan Kerapu Kertang (rElGH) yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Respon Fisiologis Ikan Sidat (Anguilla bicolor) Majid, Abdul; Idris, Muhammad; Kurnia, Agus
JSIPi (Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan) (Journal of Fishery Science and Innovation) Vol 6, No 1 (2022): JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsipi.v6i1.12665

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian rGH secara injeksi terhadap pertumbuhan dan respon fisiologis ikan sidat (A.bicolor).  Penelitian ini dilaksanakan di Desa Masagena Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara mulai dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2019.  Sejumlah 60 ekor ikan sidat dipelihara di dalam 12  karamba kayu ukuran 1x1x1 m3 dengan padat penebaran tiap unit 5 ekor /m3 selama 48 hari pemeliharaan. Empat jenis perlakuan diterapkan  dengan interval waktu yang berbeda yakni perlakuan (A) tanpa rGH, (B) 5 hari sekali, (C) 7 hari sekali dan (D) 9 hari sekali.  rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (rElGH). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi Pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan (RKP), retensi protein, kelangsungan hidup, analisis hepatosomatik indeks, analisis visceralsomatik indeks, analisis ekskresi total amoniak nitrogen, analisis kadar glukosa dan analisis kadar glikogen hati dan otot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar  21±1,11,  23±3,97,  33±6.97, dan  34±1,22.  Rasio konversi pakan (RKP) ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar  2,74±0,23,  2,53±0,63,  1,75±0,47, dan  1,48±0.09.  Retensi protein ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar 14,13±1,11,  16,56±1,89,  17,60±0,33 dan  17,87±0,97. Kelulushidupan (SR) ikan sidat pada seluruh perlakuan sebesar 100%.   Hepatosomatik indeks ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar 1,49±0,01, 1,54±0,01, 1,51±0,01, dan 1,57±0,02. Visceral somatik indeks ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar 2,68±0,32, 2,69±0,35, 2,28±0,07, dan 2,44±0,02. TAN  ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar 0,04±0,01, 0,03±0,01, 0,02±0,01, dan  0,02±0,01. Kadar glukosa ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar  15,42±2,59, 19,23±5,28,  29,93±3,76, dan  32,45±3,26. Kadar glikogen hati ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar  26,56±2,65, 30,31±2,49,  35,03±1,69, dan  37,75±2,65. Kadar glikogen otot ikan sidat pada perlakuan A, B, C dan D masing-masing sebesar 17,06±2,58, 19,22±4,42,  26,24±1,03, dan  28,74±2,32.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa interval waktu penyuntikan hormon pertumbuhan rekombinan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sidat adalah 9 hari sekali.
Studi Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Yang Diberi Pakan Keong Bakau Dan Keong Mas Segar Yang Dipeliharan Pada Sistem Sirkulasi Jumarlin, Jumarlin; Kurnia, Agus; Astuti, Oce; Yusnaini, Yusnaini; Idris, Muhammad
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v6i2.15245

Abstract

Studi Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Yang Diberi Pakan Keong Bakau (Telescopiumtelescopium) Dan Keong Mas (Pomaceacanaliculata) Segar Yang Dipeliharan Pada Sistem Sirkulasi.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui studi pertumbuhan kepiting bakau (scylla serrata) yang diberi pakan keong bakau dan keong mas segar yang dipelihara pada sistem sirkulasi. Penelitian ini menggunakan 3 jenis pakan segar yakni keong bakau (Pakan A), perlakuan B keong mas (Pakan B) dan campuran antara keduannya (keong bakau dan keong mas) sebagai pakan C. Sebanyak 18 ekor kepiting bakau (bobot awal 60-90 gram) ditempatkan ke dalam 18 bua wadah plastik dan dipelihara menggunakan sistem resirkulasi. Kepiting bakau diberi pakan sebanyak 2 kali sehari ( jam 8.00 dan 17.00) sebanyak 10% dari bobot tubuh selama 60 hari pemeliharaan. Penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik (LPS), panjang dan lebar karapaks, serta tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis pakan segar yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang dan lebar karapaks serta tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan mutlak kepiting uji berkisar antara 14,83-29,33 gram, laju pertumbuhan spesifik berkisar antara 0,26-0,49%, panjang karapaks berkisar 0,37-0,52 cm, lebar karapaks 0,27-0,55 cm dan tingkat kelangsungan hidup berkisar 83,33-100%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pakan keong bakau segar, keong mas segar dan campuran keduanya dapat meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau (S. Serrata) yang dipelihara pada sistem sirkulasi.Kata Kunci : Kepiting Bakau, Pertumbuhan, Sintasan, Keong Bakau Dan Keong Mas.
Comparison Amino Acid Profile of Pearl Lobster (Panulirus ornatus) Fed with Combination of Fish Meal and Mollusc Meal Muskita, Wellem Henrik; Kurnia, Agus; Subandiyono, Subandiyono; Yusnaini, Yusnaini; La Usaha, La Usaha; Suaida, Suaida; Effendy, Irwan Junaidi; Hamzah, Muhaimin; Munadi, La Ode Muh; Anwar, Asni
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 8, No 2 (2024): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v8i2.24579

Abstract

AbstractPanulirus ornatus is a vital fishery commodity that has high economic value. The research aims to examine the growth, amino acid profile, and intestinal histology of Panulirus ornatus fed a combination of fish meal and mollusk meal using a randomized block design (RBD) method with four treatments and three replications fed with four formulations for 50 days of maintenance. Four formulated feeds contained 20% sardine fish meal + 20% jackmackerel fish meal (treatment A), 10% mangrove snail meal + 15% golden snail meal + 15% mussel clam meal (Treatment B), 15% mangrove snail meal + 10% golden snail flour + 15% mussel clam flour (Treatment C), and 15% mangrove snail flour + 15% golden snail flour + 10% musselclam flour (Treatment D) were given to pearl lobsters once a day at a dosage of 3% of their weight body. Kepah cockle flour has more essential and nonessential amino acids than mangrove and golden snail flour. Mangrove snail flour has higher histidine levels than golden and kepah cockle flour. The results of the amino acid analysis of the test feed showed that the total essential amino acids and total nonessential amino acids in all test feeds showed the same amount, namely 13,0 -14,0%.The findings concluded that feed containing The combination of mollusks flour is more suitable than the combination of fish flour for the growth and amino acid needs of pearl lobsters. Keywords: Amino Acids, Pearl Lobster, Mollusc Flour
Perbandingan Pemeliharaan Menggunakan Shelter Transparan Dan Shelter Gelap Dalam Sistem Kompartemen Individu (Ski) Terhadap Performa Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Lobster Batik (Panulirus longipes) khalik, Abdul; Yusnaini, Yusnaini; Kurnia, Agus
Jurnal Media Akuatika Vol 9, No 3 (2024):
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v9i3.48284

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh metode pemeliharaan sistem kompartemen individu (SKI) menggunakan wadah selter transparan dan selter gelap serta kontrol (tidak menggunakan selter)terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster batik (Panulirus longipes). Tiga jenis perlakuan dalam penelitian ini yakni lobster yang dipelihara menggunakan kompartemen terang (Perlakuan A), lobster yang dipelihara menggunakan kompartemen gelap (Perlakuan B) dan lobster yang dipelihara tidak menggunakan kompartemen (Perlakuan C). Sebanyak 36 ekor lobster batik (bobot awal rata-rata 60,9 ± 9,96 g) dimasukkan ke dalam sembilan unit waring (tiga perlakuan dan tiga ulangan) berukuran 1 × 1× 1 m3 dengan masing-masing unit percobaan berisi 4 ekor lobster yang dipeliharan selama 60 hari. Selama pemeliharaan lobster uji diberi pakan dua kali sehari (jam 17.00 dan 22.00 WITA) dengan dosis 20% bobot total lobster. Rancangan penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK). dengan 3 perlakuan dan 3 kelompok (ulangan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak rata-rata tertinggi didapat pada lobster yang dipelihara menggunakan kompartemen selter transparan sebesar 35,41 g, sedangkan pertumbuhan lobster yang menggunakan kompartemen/selter gelap dan tanpa selter masing masing sebesar 7.85 g dan 14,17 g. Panjang total lobster yang dipelihara pada kompartemen selter transparan, selter gelap dan tanpa selter masing-masing sebesar 4.65 cm, 2.52 cm g dan 3.77 cm. Panjang karapas lobster batik yang dipelihara dalam selter transparan, selter gelap dan tanpa selter masing-masing sebesar 0.76 cm, 0,53 cm dan 0.61 cm. Laju pertumbuhan harian lobster batik yang dipeliharan dalam selter transparan, selter gelap dan tanpa selter masing-masing sebesar 0.29 % , 0.12% dan 0.14 %. Kelangsungan hidup lobster yang dipelihara tanpa selter sebesar 100% sedangkan kelangsungan hdup lobster yang dipelihara dalam selter hanya 58.33%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan selter transparan dan selter gelap dalam pemeliharaan lobster tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan lobster, demikian juga jika dibandingkan dengan tanpa menggunakan selter (kontrol). Kata Kunci: Lobster batik, selter, pertumbuhan mutlak dan kelangsungan hidup
Evaluasi penggunaan tepung cangkang rajungan sebagai bahan baku pakan juwana udang windu Penaeus monodon Kurnia, Agus; Muskita, Wellem H; Astuti, Oce; Asnani, ,; Harahap, Wulandari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.999 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.117-123

Abstract

ABSTRACT Feeding trial was conducted to determine the optimum dietary level of the crab shell meal (CSM) for replacement of fish meal (FM) for growth and survival rate of black tiger shrimp larvae. The shrimp (initial weight: 0,0134±0,02 g) were fed with six experimental diet for six weeks which were formulated to replace FM protein by with CSM at various substitution levels: diet A (0% CSM substitution level), diet B (25% CSM substitution level), diet C (50% CSM substitution level), diet D (75% CSM substitution level), diet E (100% CSM substitution level), diet F (commercial diet). Results from the feeding trial indicates that the shrimp fed with all treatment diet were not significantly different in weight gain and FCR. However, survival rate on the shrimp fed with diet F was significantly different to the other groups. The present study conclude that CSM could be used as protein ingredient in the diet of monodon shrimp juvenile. Keywords: replacement, crabs shell meal, fish meal, black tiger shrimp, survival rate  ABSTRAK Penelitian pakan dilakukan untuk menentukan dosis optimum tepung cangkang rajungan (TCR) untuk mengganti tepung ikan (TI) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva udang windu. Udang windu (berat awal: 0,00134±0,02 g ) diberi pakan uji selama enam minggu yang diformulasi untuk mengganti TI dengan tingkat persentasi penggantian TCR dengan desain formulasi pakan A (0% substitusi TCR), pakan B (25% substitusi TCR), pakan C (50% substitusi TCR), pakan D (75% substitusi TCR), pakan E (100% substitusi TCR), dan pakan F (pakan komersial) sebagai pakan kontrol. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan untuk semua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan harian. Akan tetapi kelompok udang yang diberi pakan F berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dibanding dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tepung cangkang rajungan dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein dalam pakan juvenile udang windu. Kata kunci: penggantian bahan, tepung cangkang rajungan, tepung ikan, udang windu
Does "Halalness" Affect Young Muslims' Intentions to Use the COVID-19 Vaccine? Sudarsono, Heri; Ikawati, Retty; Azizah, Siti Nur; Kurnia, Agus; Nuanmark, Ponchanok
Indonesian Journal of Halal Research Vol. 5 No. 1 (2023): February
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijhar.v5i1.19248

Abstract

Young Muslims comprise a large population in Indonesia. This study analyzes the effect of halal awareness, halal certification, attitudes, subjective norms, perceived behavior controls and vaccine quality on young Muslims' intentions to use the COVID-19 vaccine. This study involved 699 random respondents from 32 provinces in Indonesia. This research model develops Theory Planned Behavior (TPB) using structural equation modeling (SEM) with partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) data processing tools. The results showed that halal awareness and certificates had a P-value of <0.05 or positively affected Muslims' attitude towards vaccines. Likewise, halal awareness, attitudes, subjective norms and vaccine quality have a P-value of <0.05 and perceived behavior control has a P-value of <0.10 or positively affects Muslims' intentions to use vaccines. However, halal certification has a P-value of >0.10 or does not affect their intention to use vaccines. Islamic values remain a consideration for young Muslims in using the COVID-19 vaccine. Therefore, the government needs to include halal aspects in determining policies related to the implementation of vaccinations.
SOSIALISASI DAN PELATIHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU( Epinephelus sp.) UNTUK MASYARAKAT NELAYAN DESA HAKATUTOBU, KECAMATAN POMALAA, KABUPATEN KOLAKA Purbaningsih, Yuli; Kurnia, Agus; Pariakan, Arman; Salma, Wa Ode; Nurmaladewi, Nurmaladewi; Asni, Asni; Muis, Muis; Salsabila, Syefira; Rezal, Farit; Hamid, Abdul; Ruslaini, Ruslaini; Nuridah, Nuridah; Haya, Yasir
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 5 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i5.2221

Abstract

Introduction. Grouper is an economically important marine fish commodity and it is one of the mainstays of Indonesian marine fish exports. Hakatutobu Village is one of the coastal villages in Pomalaa District, Kolaka Regency where the community has carried out grouper cultivation in floating net cages. The results of our preliminary review and interviews with fish farmers in the village found the problem of a lack of knowledge about best grouper cultivation which has a direct impact on fish culture production. Objective. This community service activity aims to increase the knowledge of the fishermen community about grouper cultivation technology which includes seed stocking techniques, feeding management, observing water quality, preventing and handling of fish diseases, monitoring of water quality and proper fish harvesting techniques. Implementation method. Methods for implementing the community service included of location surveys, coordination between the service team (Lecturers at Nineteen November University Kolaka and Halu Oleo University), Cultivating Fishermen and the Head of Hakatutobu Village, outreach activities and socialization and evaluation of activities. Activity Results. The results of this activity were the implementation of training activities and outreach on grouper cultivation, the number of training participants exceeding the number of participants invited, the level of understanding and satisfaction of the community regarding the implementation of the service was high. Conclusion. It is hoped that knowledge and understanding of good grouper cultivation techniques can increase grouper production and become a mainstay commodity for villages, thereby increasing the income and welfare of fish farmers in particular and the Hakatutobu Village community in general.
Co-Authors . Yusnaini, . A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Hamid Abdul Khalik Abdul Majid Abdul Rahman Amanda, Rahel Anggraini, Safira Fitri Anshar, Anshar Anwar Anwar Anwar, Asni Aqila, Baiq Zahra Rija Asban, Asban Aslin, La Ode Asnani, , Asni Asni Baalu, Nurfati Baalu, Nurfati Balubi, Abdul M. Balubi, Abdul M. Balubi, Abdul Muis Cilia, . Cilia, . Dahlan, Jon Daniel Happy Putra Deslianti, Beybi Deslianti, Beybi Didyawati, Putri edi edi Effendy, Irwan J. Effendy, Irwan J. Eka Apriani Lestari Fachry Abda El Rahman Fadhlina Shahira Fatmawati, Famawati Febrianti, Erica Hafiz, M. Zainuddin Abdul Hak, Ainul Hak, Ainul Harahap, Wulandari Haya, Yasir Heri Sudarsono Humamurrizqi, Humamurrizqi Husna, Hanipatul Iba, Wa Iba, Wa Ijal, Kasrun Ikawati, Retty Ilyas, Sulastri Irwan Junaidi Effendy Jali, Wa Jamaludin . Julizar, Syukur Jumarlin, Jumarlin Kalidupa, Nursina Kalidupa, Nursina Kamri, Syamsul Kasim, Ma'ruf Khairunnisa Khairunnisa La Ode Baytul Abidin La Ode Muhamad Munadi La Usaha, La Usaha Lawao, Anci Lestari, Nanda Meda, Rabi S. Meda, Rabi S. Muhaimin Hamzah Muhammad Arif Muhammad Haikal Muhammad Idris Muhammad Idris Muis Muis, Muis Muliati, Muliati Mulki, Rasak Muskita, Wellem Muskita, Wellem H Muskita, Wellem H. Muskita, Wellem Henrik Ningsi, Sri W. Ningsi, Sri W. Nuanmark, Ponchanok Nur Asia, Nur Nur, Indriyani Nur, Indriyani Nuridah, Nuridah Nurmaladewi, Nurmaladewi Nurul Qamariah, Nurul Oce Astuti Octora, Baiq Malika Berliana Pariakan, Arman Patadjai, Rahmad Sofyan Patadjai, Rahmat S. Patadjai, Rahmat S. Permadi, Sufria Dimi Piliana, Wa Ode Purbaningsih, Yuli Ratih, Wahyu Erinna Razak, La Ode Abdul Resti Julia Agustiandini Rezal, Farit Rukmana, Sitti Rukmana, Sitti Ruslaini, Ruslaini Saban, Andi N. Saban, Andi N. Sabarno, Arif Sabarno, Arif Sabilu, Kadir SAFRUDDIN, MUHAMMAD Saltin, Ahmad Santi Santi Sarniati, . Sarniati, . Siti Nur Azizah, Siti Nur Suaida, Suaida Subiyanto, Resa Putri Fibriyanti Sukriawan, Sukriawan Suriadi Suriadi, La Syam, Ratna Nur Syamsiar, Syamsiar Ummi, Nazila Rialul Wa Ode Salma Wardani, Putri Amalia Wellem H. Muskita Winda Miranti Yusnaini ., Yusnaini Yusnaini Yusnaini Yusniarti, . Yuukanna, Azuka B. Zerlinda Ariesta Pratiwi Zurah, Syauqi