Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Hak Mantan Istri atas Sebagian Gaji Aparatur Sipil Negara dalam Perspektif Keadilan Transendental (Analisis Putusan Nomor 323/Pdt.G/2021/PA.Mna dan Nomor 99/Pdt.G/2019/PA.Sel) Mustiadi Mustiadi; Yulias Erwin; Nurjannah Septyanun
Journal Evidence Of Law Vol. 5 No. 2 (2026): Journal Evidence Of Law (Agustus)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jel.v5i2.2384

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan (gap) antara Norma hukum positif dengan realitas implementasi hak mantan istri Aparatur Sipil Negara (ASN) atas pembagian gaji pasca-perceraian. Meskipun PP No. 10 Tahun 1983 jo. PP No. 45 Tahun 1990 telah memberikan jaminan perlindungan ekonomi, namun dalam praktiknya banyak putusan pengadilan yang bersifat non-executable. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan, implementasi, dan eksekutorial hak mantan istri mendapatkan sebagian gaji suami Aparatur Sipil Negara berdasarkan hukum positif dan Putusan Nomor 323/Pdt.G/2021/PA.Mna serta Putusan Nomor 99/Pdt.G/2019/PA, guna dikaji lebih lanjut konstruksi hukumnya dalam perspektif Keadilan Transendental. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi dokumen terhadap putusan eksekutorial dan non-eksekutorial serta pengumpulan data melalui informan terkait di lingkungan Peradilan Agama. Bahan hukum yang terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif-deskriptif untuk membedah akar permasalahan dari sisi administratif maupun yuridis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama implementasi hak tersebut terletak pada lemahnya koordinasi antara lembaga peradilan dengan instansi tempat ASN bekerja, serta ketiadaan sanksi yang tegas bagi bendahara gaji yang tidak melaksanakan putusan. Kontribusi ilmiah penelitian ini memperkaya khazanah pemikiran hukum melalui dekonstruksi positivisme hukum menggunakan paradigma keadilan transendental yang mengubah analisis normatif abstrak menjadi instrumen ukur humanis dan teologis. Secara praktis dan kebijakan, kajian ini memberikan kontribusi berupa konsep pembaruan hukum yang komprehensif berupa automatic payroll deduction yang terintegrasi lintas sektoral antara Mahkamah Agung, Badan Kepegawaian Negara, dan Kementerian Keuangan guna menutup celah manipulasi administratif.
Efektivitas Diversi Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Studi Pengadilan Negeri Selong Perspektif Keadilan Progresif Bahaudin Bahaudin; Rina Rohayu Harun; Nurjannah Septyanun
Journal Evidence Of Law Vol. 5 No. 2 (2026): Journal Evidence Of Law (Agustus)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jel.v5i2.2482

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1) Untuk menganalisis penerapan diversi menurut UU No. 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak di PN Selong. 2) Untuk mengkaji kelemahan penerapan diversi dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.3) Untuk menganalisis penerapan diversi dalam penegakan hukum perspektif keadilan progresif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif-empiris dengan menggunakan beberapa pendekatan ialah pendekatan Perundang-Undangan, Konseptual, dan Kasus. Data diperoleh melalui studi dokumen terhadap penetapan diversi di Pengadilan Negeri Selong. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan teori Keadilan Progresif dari Satjipto Rahardjo sebagai pisau analisis utama. Hasil penelitian secara faktual menunjukkan bahwa keberhasilan diversi didorong oleh diskresi hakim sebagai fasilitator pada perkara ringan seperti pencurian atau penganiayaan ringan, sedangkan penyebab utama kegagalannya bersumber dari batas kaku ancaman pidana di atas 7 tahun, ketergantungan mutlak pada persetujuan korban, tingginya tuntutan ganti rugi, serta stigma penjarahan dari masyarakat. Dari perspektif keadilan progresif, efektivitas diversi menuntut keberanian aparat penegak hukum untuk melakukan terobosan hukum melampaui positivisme tekstual demi mewujudkan keadilan substantif dan pemulihan martabat anak. Dalam perspektif keadilan progresif, efektivitas diversi menuntut keberanian aparat untuk melakukan terobosan hukum melampaui teks undang-undang demi mencapai keadilan substantif dan pemulihan martabat anak.
Authority of the Mataram City Regional Supervisory Council to Examine Notaries Based on Permenkumham Number 15 of 2020 Baiq Silvia Yustiari; Siti Hasanah; Firzhal Arzhi Jiwantara; Nurjannah Septyanun
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i4.8062

Abstract

This study aims to analyze the regulation and implementation of the authority of the Mataram city notary supervisory council on notary examinations based on the Minister of Law and Human Rights Regulation number 15 of 2020. Normative-empirical research with legislative, conceptual and sociological approaches in qualitative descriptive analysis, the data used are primary, secondary and literature research materials and field research. Concluded; First, the authority of the notary supervisory council in Mataram City is guidance for preventive measures and supervision of repressive actions. Second, the obstacles in carrying out notary supervision in Mataram City are; The legal factor needs to be added to the content material that regulates administrative sanctions, both in the form of verbal reprimands, written reprimands and dismissals for members and the content of the authority to determine sanctions by the Notary MPD. Meanwhile, law enforcement factors need to reschedule the schedule during the Notary examination so that all the objectives can be present so that the examination is maximized, and the role of the NTB Notary MPW to provide education and training, FGD and socialization of regulations so as to provide the same understanding in the Notary examination in Mataram City.
Rights Fulfillment of Children From Mixed Marriages to Obtain Indonesian Citizenship Based on Law Number 12 of 2006 Kukoh Iqbal; Siti Hasanah; Firzhal Arzhi Jiwantara; Nurjannah Septyanun
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i4.8160

Abstract

This research aims to analyze the regulation and implementation of fulfilling the rights of children from mixed marriages to obtain Indonesian citizenship based on Law Number 12 of 2006. Normative-empirical research with legislative, conceptual and sociological approaches in qualitative descriptive analysis. Data used are primary, secondary and literature research materials and field research. The conclusions are; First, Law Number 12 of 2006 grants limited dual citizenship status to children born from mixed marriages after its enactment on August 1, 2006. However, to ensure legal certainty, children born from mixed marriages before the law was enacted are required to register themselves. Second, the terminology 'child with dual citizenship' in the Law implies that if another country, based on its regulations, recognizes a child from a mixed marriage as its citizen, then they fall under this category. Meanwhile, there isn't any country that explicitly, based on its provisions, does not recognize children from mixed marriages as its citizens. Third, the process of fulfilling the citizenship rights of children born from mixed marriages is burdened upon the individual concerned. Consequently, any negligence in administrative processes, requirements, and procedures can lead to the loss of Indonesian citizenship. Fourth, the implications of losing Indonesian citizenship for children from mixed marriages can have legal and sociological impacts.
Analysis of the Implementation of Public Services in an Electronic-Based Government System (Mataram City Study) Lalu Rakhmat Suryaningrat; Siti Hasanah; Firzhal Arzhi Jiwantara; Nurjannah Septyanun
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i3.8161

Abstract

This research aims to analyze the laws and regulations on the electronic-based government system in Mataram City as an effort to improve fast, efficient and affordable public services and to describe the implementation of applications in public services in Mataram City and formulate relevant solutions. Normative-empirical research with legislative, conceptual and sociological approaches in qualitative descriptive analysis, the data used are primary, secondary and literature research materials and field research. Dto conclude; First, SPBE in the government system is needed in order to provide better service to the community, which in principle has been regulated in Presidential Regulation Number 95 of 2018 concerning Electronic-Based Government Systems. And second, the Mataram City Regional Government is committed to implementing electronic-based public services, namely with the issuance of Regional Regulation Number 3 of 2020 concerning the Implementation of Electronic-Based Government Systems and Mataram Mayor Regulation Number 20 of 2024 concerning Guidelines for the Implementation of SPBE. And through Diskominfo, it has managed 14 information technology services with each service application effectively
Penerapan Sanksi Pidana terhadap Pelaku KDRT dalam Perspektif Keadilan Gender: Studi Putusan PN Selong Nomor 114/Pid.Sus/2021/PN Sel Akhmad Aminullah; Rina Rohayu Harun; Nurjannah Septyanun
Journal Evidence Of Law Vol. 5 No. 2 (2026): Journal Evidence Of Law (Agustus)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jel.v5i2.2383

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia, khususnya di wilayah Lombok Timur, di mana data menunjukkan adanya kesenjangan antara jumlah laporan kekerasan dengan kasus yang berhasil diproses secara hukum. Meskipun UU No. 23 Tahun 2004 (UU PKDRT) telah mengalihkan paradigma KDRT dari urusan domestik menjadi delik hukum, dalam praktiknya sering ditemukan disparitas putusan yang cenderung minimalis dan belum sepenuhnya mengakomodasi hak-hak korban dari sisi substansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan sanksi pidana terhadap pelaku KDRT di Pengadilan Negeri Selong serta menganalisis sejauh mana proses persidangan dan penjatuhan sanksi telah mengintegrasikan perspektif keadilan dan kesetaraan gender. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum normatif-empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sanksi pidana di PN Selong, seperti pada Putusan Nomor 114/Pid.Sus/2021/PN Sel, masih menunjukkan kesenjangan antara aspek normatif dan realitas keadilan, di mana hakim menjatuhkan vonis minimalis (1 bulan penjara) dengan pertimbangan terdakwa sebagai tulang punggung keluarga dan adanya perdamaian. Dari perspektif gender, putusan tersebut dinilai belum sepenuhnya responsif karena lebih mengedepankan kepastian hukum formal dan keutuhan rumah tangga dibandingkan perlindungan terhadap trauma psikis korban, sehingga belum memberikan efek jera (deterrent effect) yang maksimal dalam memutus siklus kekerasan.