Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Isolation and Antibacterial Activity Test of Seagrass Epiphytic Symbiont Bacteria Thalassia hemprichii from Bahowo Waters, North Sulawesi Maarisit, Ismariani; Angkouw, Esther D.; Mangindaan, Remy E. P.; Rumampuk, Natalie D. C.; Manoppo, Henky; Ginting, Elvy Like
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34320

Abstract

Seagrass is a higher plant and has the ability to produce bioactive compounds such as antibacterial. Seagrass is also a host to a variety of bacteria. Bacteria that live in the host will produce the same compounds as the host's body. The utilization of symbiotic bacteria with seagrasses as producers of bioactive compounds such as antibacterial can be used as a solution to reduce excessive seagrass uptake in nature. On the other hand, bacteria have the advantage of being fast and easy to grow and can be mass-produced and more economical. This study aims to isolate and test the antibacterial activity of the epiphytic bacteria of seagrass symbionts. Epiphytic bacteria of seagrass symbionts were grown on Nutrient Agar media directly in the field and bacterial isolation was carried out based on the morphological characteristics of the bacterial isolates. The antibacterial activity test was carried out using the disc method with the test bacteria Stapylococcus aureus, Streptococcus mutans, Escherichia coli, Salmonella thypi, and antibiotics as positive controls. The ability of bacteria to produce antibacterial was indicated by the formation of an inhibition zone around the paper disc containing the epiphytic bacteria of the seagrass symbiont T. hemprichii. A total of 3 isolates of epiphytic bacteria were isolated from T. hemprichii seagrass from Bahowo Waters, Tongkaina Village, Bunaken District, these isolates are namely Epifit 1, Epiphyte 2, and Epiphyte 3. Epiphyte 2 isolate had antibacterial activity against S. mutans, S. aureus, and S. thypi test bacteria, Epiphyte 3 isolate had antibacterial activity against S. mutans, and S. thypi test bacteria.Key words: Bacteria; Antibacterial; T. hemprichii; symbionts; BahowoAbstrakLamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi dan memiliki kemampuan menghasilkan senyawa  bioaktif seperti antibakteri. Lamun juga merupakan tempat hidup atau inang dari berbagai bakteri. Bakteri yang hidup pada inang akan menghasilkan senyawa yang sama dengan tubuh inangnya. Pemanfaatan bakteri yang bersimbiosis dengan lamun sebagai produsen senyawa bioaktif seperti antibakteri dapat dijadikan sebagai solusi dalam mengurangi pengambilan lamun yang berlebihan di alam. Dilain pihak, bakteri memiliki keunggulan karena pertumbuhan bakteri yang cepat dan mudah tumbuh, dapat diproduksi secara massal dan lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri dari bakteri epifit simbion lamun T. hemprichii dari Perairan Bahowo.  Bakteri epifit simbion lamun ditumbuhkan pada media NA secara langsung di lapangan dan isolasi bakteri dilaksanakan berdasarkan karateristik morfologi isolat bakteri. Uji aktivitas bakteri dilakukan menggunakan metode cakram dengan bakteri uji S. aureus, S. mutans, E. coli, dan S. thypi dan antibiotik sebagai kontrol positif. Kemampuan bakteri menghasilkan antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar kertas cakram yang mengandung bakkteri epifit simbion lamun T. hemprichii.  Sebanyak 3 isolat bakteri epifit berhasil diisolasi pada lamun T. hemprichii dari Perairan Bahowo, Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken yaitu Epifit 1, Epifit 2, dan Epifit 3. Isolat epifit 3 memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji S. thypi, isolat Epifit 2 terhadap bakteri uji S. mutans, S. aureus, dan S. thypi, isolat Epifit 3 terhadap bakteri uji S. mutans, dan S. thypi.Kata kunci: Bakteri; Antibakteri; T. hemprichii; Simbion; Bahowo
Analysis of Carotenoid Pigment Types in the Carapace of the Male Crab Grapsus albolinetaus Latreille in Milbert 1812 Mokoginta, Fatika Sari; Paransa, Darus Saadah Johanis; Kemer, Kurnati; Paulus, James J. H.; Kawung, Nickson J.; Manoppo, Henky
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34421

Abstract

Carotenoid pigments have various colors such as yellow, orange, or red-orange. One of the carotenoid pigment sources is Crab G. albolineatus Latreille in Milbert 1812. Column chromatography separation technique was used to determine the metabolism of carotenoid pigments in the crab G. albolineatus latreille in Milbert 1812. This CC separation used hexane and acetone as the developer solution (70:30). The developer solution as known as the mobile phase is semipolar, while the stationary phase is silica powder G60. Therefore, it formed two metabolic pathways. The male G. albolineatus crab used in this study was on the D3 molting stage which had a concentration of 36.37 g/g dry residue and 4.72 g content. The types of pigments identified are: β – karoten, Zeaxanthin, lutein, β – kriptoxanthin dan Astaxanthin.Keywords: Carotenoid Pigments; G. albolineatus; Column Chromatography; MoltingAbstrakPigmen karotenoid memiliki berbagai warna seperti kuning, oranye, atau merah oranye. Salah satu sumber pigmen karotenoid adalah pada karapas kepiting G. albolineatus Latreille in Milbert 1812. Untuk mengetahui metabolisme jenis pigmen karotenoid pada kepiting Grapsus albolineatus latreille in Milbert 1812 yaitu menggunakan pemisahan kromatografi Kolom. Pemisahan KK ini menggunakan larutan pengembang heksan dan aseton (70:30). Larutan pengembang merupakan fase gerak yang bersifat semipolar dan fase diamnya menggunakan bubuk silika G60. Terbentuk dua  jalur metabolisme. Kepiting G. albolineatus jantan yang digunakan pada penelitian berada di stadium molting D3 dengan konsentrasi sebesar 36,37 µg/g berat residu kering dan kandungan 4,72 µg. Jenis pigmen yang teridentifikasi yaitu : β – karoten, Zeaxanthin, lutein, β – kriptoxanthin dan Astaxanthin.Kata kunci: Pigmen; Karotenoid; G. albolineatus; Kromatofrafi Kolom; Molting
Enhancement of non-specific immune response, resistance and growth of (Litopenaeus vannamei) by oral administration of nucleotide Manoppo, Henky; Sukenda, .; Djokosetiyanto, Daniel; Sukadi, Mochamad Fatuchri; Harris, Enang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.428 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.1-7

Abstract

This research evaluated the nonspecific immune responsse, resistance, and growth of Litopenaeus vannamei fed nucleotide diet. Shrimp juveniles (mean weight 5.39±0.56 g) were reared in two groups of glass aquaria, each with three replications. Shrimps in group one and group two were fed nucleotide diet and basal diet each for four weeks. Total haemocyte count (THC) and PO activity were evaluated at the end of feeding while growth was measured at two weeks interval. At the end of feeding trial, the shrimps were intramuscularly injected with Vibrio harveyi 0.1x106 cfu.shrimp-1. THC of shrimp fed nucleotide diet significantly increased (P
PENERAPAN PAKAN IKAN BERIMUNOSTIMULAN BAWANG PUTIH BAGI KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN DI DESA MOLOMPAR DUA UTARA Manoppo, Henky; Tambani, Grace O.; Karisoh, Yuriani S.
Insan Cita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2021): Februari 2021- Insan Cita: JurnaL Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.53 KB) | DOI: 10.32662/insancita.v3i1.1246

Abstract

Pelompok pembudidaya ikan Mina Soputan merupakan pokdakan yang aktif serta produktif secara ekonomi. Pokdakan ini menjalankan usaha pemeliharaan ikan di kolam maupun di sawah dengan sistim sederhana sampai sistim semi intensif.  Masalah utama  yang  sering  dihadapi  pokdakan  mitra adalah produksi ikan rendah disebabkan oleh sering terjadinya serangan penyakit dan pertumbuhan ikan yang lambat sebagai akibat dari praktek pemberian pakan yang kurang baik. Untuk membantu memecahkan permaslahan tersebut maka dilakukan kegiatan PKM dengan tujuan  untuk menerapkan penggunaan pakan ikan berimunostimulan ekstrak bawang putih dalam pemeliharaan ikan.  Metode yang diterapkan adalah penyuluhan dan pelatihan diikuti dengan praktek pemeliharaan ikan. Satu minggu setelah benih ditebar, ikan diberi pakan yang sudah ditambahkan ekstrak bawang putih dengan dosis 15 g/kg pelet.  Dosis pemberian pakan adalah 5%/berat badan/hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Hasil praktek mendapatkan berat akhir ikan yang diberi pelet dengan penambahan ekstrak bawang putih mencapai 51,93% lebih besar dari ikan yang tidak diberi bawang putih. Laju pertumbuhan harian ikan yang diberi bawang putih sebesar 4,45% sedangkan ikan yang tidak diberi bawang putih 2,95%. Selama masa pemeliharaan tidak terjadi kematian ikan akibat serangan penyakit. Jadi aplikasi ekstrak bawang putih dalam pakan ikan dapat meningkatkan meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan sehingga produksi meningkat. Selain itu, kegiatan PKM dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat pembudidaya ikan sehingga masyarakat menjadi mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha budidaya ikan yang pada akhirnya dapat merangsang pembembentukan kelompok-kelompok pembudidaya ikan yang mandiri secara ekonomi.