Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Antara Trust dengan Konflik Interpersonal Pada Dewasa Awal yang Menjalani Hubungan Pacaran Jarak Jauh Ratna Devy Winayanti; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p02

Abstract

Long-distance relationship has now become a social trend among the community because of the increase in educational attainment of men and women. Trust is a prerequisite of success in a long-distance relationship, and it is important to minimize conflict. This study aims to determine the correlation between trust and interpersonal conflict among early adulthood initial long-distance relationship.Subjects in this study were 100 student of Udayana University. Measuring instruments used are the trust scale (34 items; rxx` = 0.913) and interpersonal conflict scale (33 items; rxx` = 0.878). Data were processed using Pearson Product Moment analysis and simple linear regression. Statistical analysis show, there is significant correlation between trust and interpersonal conflict, with a negative direction (r = -0.325 ; p = 0.001). The coefficient of determination obtained for 0.106 which means that 10.6% of trust variable can explaine variance that occurs in conflict interpersonal variable. Keywords: trust, interpersonal conflict, long-distance relationship, early adulthood
Hubungan Antara Self-Efficacy dengan Kecemasan Komunikasi dalam Mempresentasikan Tugas di Depan Kelas Ni Made Ferra Sarah Deviyanthi; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p16

Abstract

Psychology student is required to have a good communication skills in situations of personal and public. One of the competencies that must be owned by bachelor of psychology are skilled in interpersonal communication and have an ability to communicate with each other. Handling the anxiety experienced by individuals may differ between one individual with another individual depends on an individual assessment of the capabilities that called self-efficacy (Sarafino, 1994).Self-efficacy is a believefrom individual against all aspects of the advantages who aims to reach an achievement.A total of 175 students in Udayana University and Dhyana Pura University are still actively follow lectures and do an individual presentations in front of the class became a subject in this correlational quantitative study. The sampling technique used was simple random samplingData were processed using Pearson Product Moment analysis, simple linear regression, independent sample t-test, and one-way ANOVA analysis. Statistical analysis show, there is significant correlation between self-efficacy and communication apprehensionin order to do presentation in front of class (r = -0,725; p = 0,000). The coefficient of determination obtained for 0,540 which means that 54 % of the variance that occurs in the communication apprehension in order to do a presentationin front of the class variable can be explained by the variance in self-efficacy variable. T test and F test analysis found that the mean scores for communication apprehension in order to do a presentationin front of the class did not differ significantly when assessed from the gender (T = 1,389; p = 0,167) and there are differences in communication apprehension in presenting the task in front of the class when examined from many individual presentation experience (F = 15,848 ; p = 0,000). Keywords: Self-efficacy, communication apprehensionwhen presenting the task in front of the class, students of Psychology.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA AWAL DI PANTI ASUHAN KOTA DENPASAR Ida Ayu Ratih Tricahyani; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Cultural Health Psychology (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Early adolescence is a transition from childhood to adulthood. In this period, early adolescence experienced many changes both physically and psychologically. Same with the case of early adolescents who lived in the orphanage, besides the fulfillment of physiological, early adolescents in the orphanage also need a healthy psychological development, one of them is the process of personal adjustment. Personal sdjustment aiming to get harmony between the demands of the self and the environment in which the individual resides. Personal adjustment is a form of behavior that is intended to respond to the needs that exist within the individual. In order to get a good adjustment in early adolescents orphanage, it needs social support. Social support refers to the provision of comfort, care and respect. This study aimed to determine the relationship between social support and personal adjustment to early adolescents orphanage in Denpasar.This research is a quantitative method with simple regression analysis. Subjects in this study are early adolescents orphanages in Denpasar, age range is 12 to 17 years. Sample of this study is 100 persons. The sampling method using simple random sampling. Data is collected through social support scale and the scale of the adjustment of early adolescence in the orphanage. Social support scale reliability is 0.735 and the reliability of scale adjustment in early adolescence in the orphanage is 0.744. The research data shows a normal distribution and linear. The results of this research shows the correlation coefficient is 0.558 with a significance at 0.000 (p <0.05). It means that there is a positive relationship between social support and personal adjustment in early adolescents orphanage. Contribution of social support to the personal adjustment in early adolescents orphanage is 31,2%. Key words : social support, personal adjustment, early adolescents, orphanage
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSI ANTARA PENDENGAR MUSIK HARDCORE DENGAN PENDENGAR MUSIK KLASIK Virgina Dharmasasmitha; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p01

Abstract

Musik dapat menjadikan seseorang berintraksi dengan orang lain, dan juga bisa mempengaruhi suasana hati seseorang (Schwartz & Fouts, 2003). Kecerdasan emosi dapat distimulasi oleh musik. Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks (kadang-kadang disebut neokorteks) sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurangi emosi yaitu sistem limbik, padahal keduanya mempunyai hubungan. Interaksi yang disebabkan rangsangan bunyi musik dapat menentukan kecerdasan emosi. Musik hardcore yang termasuk dalam musik keras dan musik klasik yang termasuk dalam musik lembut merupakan jenis musik yang berbeda. Irama musik yang berbeda akan menyebabkan kondisi emosi yang berbeda pula. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparasi. Subjek penelitian ini adalah remaja akhir yang mendengarkan musik hardcore dan musik klasik di Bali sebanyak 100 orang dengan kriteria sering mendengarkan musik, berusia antara 18-21. Metode pengambilan sampelnya dengan metode Simple Random Sampling. Metode pengambilan datanya dengan Skala Kecerdasan Emosi dengan reliabilitas 0,939. Normalitas variabel kecerdasan emosi sebesar 0,925 dan homogenitas variabel kecerdasan emosi adalah 0,204. Metode analisis datanya dengan teknik independent sample t test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik dengan nilai t -0,020 dan nilai signifikansi 0.984. Artinya tidak ada perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik. Kata kunci : Kecerdasan Emosi , Pendengar Musik, Hardcore, Klasik
CITRA TUBUH PADA REMAJA PENYANDANG TUNADAKSA YANG MENEMPUH PENDIDIKAN DI SEKOLAH UMUM I Gusti Ayu Jayanthi Prima Dewi; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p09

Abstract

Pada saat remaja mengalami masa pubertas, remaja cenderung fokus pada bentuk tubuhnya dan memiliki keyakinan deskriptif dan evaluatif terkait dengan penampilan yang disebut dengan citra tubuh. Setiap remaja pasti menginginkan tubuh yang sempurna, namun terdapat remaja yang tidak mendapatkan tubuh sempurna karena memiliki keterbatasan fisik, seperti yang dialami oleh penyandang tunadaksa. Remaja penyandang tunadaksa akan menemukan permasalahan ketika bersekolah di sekolah umum yang akan berpengaruh terhadap citra tubuh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor yang memengaruhi citra tubuh pada remaja penyandang tunadaksa yang menempuh pendidikan di sekolah umum. Wawancara dan observasi dilakukan pada tiga orang remaja penyandang tunadaksa yang menempuh pendidikan di sekolah umum, serta kepada significant others dari masing-masing responden. Hasil yang diperoleh setelah menganalisis data dengan teknik theoretical coding dan Model Miles dan Huberman, antara lain terdapat remaja penyandang tunadaksa yang memiliki citra tubuh negatif dan ada yang memiliki citra tubuh yang lebih positif. Remaja penyandang tunadaksa dengan citra tubuh negatif mempersepsikan tubuhnya kurang ideal, berpikiran negatif, malu, menghindar dari situasi tertentu, tidak terlalu puas dengan bentuk tubuhnya, serta ingin bisa berjalan. Remaja penyandang tunadaksa dengan citra tubuh yang lebih positif memiliki pikiran yang lebih positif, percaya diri, senang berkegiatan di luar rumah, mau memulai pertemanan, dan bersyukur atas apa yang telah dimiliki, walaupun masih menginginkan tubuh yang berotot. Hal tersebut dipengaruhi oleh bagaimana perlakukan orang disekitar, keberadaan orang dengan kondisi yang sama, beryukur atau tidaknya atas kondisi yang dimiliki saat ini, kondisi tunadaksa yang dialami sejak atau setelah masa kanak-kanak, serta dukungan dari orangtua. Kata kunci: tunadaksa, sekolah umum, citra tubuh, remaja
GAMBARAN KESEJAHTERAAN SUBJEKIF PADA WANITA YANG MENGALAMI INVOLUNTARY CHILDLESSNESS Ni Luh Krishna Ratna Sari; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p11

Abstract

Salah satu tujuan penting dari menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. Hasil penelitian Blackmore, Lawton, dan Vartanian (2005) menunjukkan wanita memiliki keinginan yang besar untuk segera memenuhi tuntutan tradisionalnya untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Tidak semua wanita dapat memenuhi keinginan untuk dapat memiliki anak setelah menikah. Ada yang ingin memiliki anak namun mengalami kerusakan fisik yang menyebabkan peluang untuk hamil menjadi berkurang seperti infertilitas, hal ini disebut dengan involuntary childlessness. Mengalami involuntary childlessness membuat wanita merasakan berbagai penderitaan psikologis sehingga akan memengaruhi kesejahteraan subjektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dan melibatkan tiga orang responden yang mengalami involuntary childlessness. Metode pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan theoretical coding (open coding, axial coding, dan selective coding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif pada wanita yang mengalami involuntary childlessness pada awalnya mengalami banyak afek negatif, namun melalui proses penyempitan atensi dengan afek negatif yang proporsinal dan dengan melakukan emotion-focused coping responden mampu membangun afek positif seperti merasa bersyukur dan rasa senang. Mengalami involuntary childlessness tidak lantas membuat wanita menjadi tidak puas dengan hidupnya, kepuasan diperoleh dari pekerjaan yang dimiliki dan kualitas hubungan pernikahan yang baik. Faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan subjektif pada wanita yang mengalami involuntary childlessness adalah kepribadian, kualitas hubungan pernikahan, dukungan sosial, dan lingkungan sosial-budaya. Kata kunci: involuntary childlessness, kesejahteraan subjektif
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEBERAGAMAAN DAN INTERAKSI SOSIAL ASOSIATIF PADA REMAJA YANG MENGIKUTI GERAKAN KESADARAN KRISHNA (HARE KRISHNA) DI BALI Putu Srie Wedha Yanthi; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p10

Abstract

Interaksi sosial asosiatif merupakan interaksi yang mengarah pada proses keharmonisan dalam sebuah hubungan, dengan bentuk kerjasama, upaya penyelesaian konflik, dan upaya mengurangi perbedaan. Interaksi sosial asosiatif akan membawa kelompok menuju ke arah hubungan yang positif dengan masyarakat terutama out group. Interaksi sosial asosiatif penting dikembangkan pada saat usia remaja. Interaksi sosial asosiatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah aspek keberagamaan. Keberagamaan cenderung memberikan batasan antara in group dan out group sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam hubungan antar masyarakat. Remaja merupakan individu yang belum bisa dikatakan matang, termasuk pada proses keberagamaannya. Gerakan Kesadaran Krishna atau Hare krishna merupakan salah satu komunitas keagamaan berbasis agama Hindu yang diikuti remaja. Remaja yang mengikuti Hare krishna diharapkan dapat mampu membentuk interaksi sosial yang asosiatif dengan out group, mengingat salah satu tugas perkembangan remaja adalah membangun hubungan sosial yang positif dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidak hubungan antara tingkat keberagamaan dengan interaksi sosial asosiatif pada remaja yang mengikuti Hare krishna di Bali. Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Responden dalam penelitian ini adalah remaja Hare krishna yang berdomisisli di Bali berjumlah 96 responden. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala tingkat religiusitas dan interaksi sosial asosiatif. Koefisien reliabilitas skala religiusitas adalah 0,970 dan skala interaksi sosial adalah 0,940. Penelitian ini menggunakan analisis data korelasi pearson product moment. Hasil dari penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,811 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 (0,000<0,05), sehingga dapat dinyatakan terdapat hubungan yang negatif antara religiusitas dengan interaksi sosial, artinya semakin tinggi tingkat religiusitas, maka semakin tidak baik interaksi sosial asosiatif pada remaja Hare krishna terhadap out-group. Kata kunci: religiusitas, remaja, interaksi sosial, Hare krishna.
GAMBARAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI ANAK BUAH KAPAL (ABK) I Gusti Made Surya Erlangga; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Pernikahan merupakan tahap selanjutnya dari suatu hubungan. Idealnya setiap pasangan menginginkan tercapainya kebahagiaan dan tercapainya kepuasan di dalam suatu hubungan pernikahan. Kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami istri terhadap hubungan pernikahan yang cenderung berubah sepanjang perjalanan pernikahan itu sendiri. Tuntutan ekonomi merupakan tantangan terbesar di dalam suatu pernikahan karena tuntutan serta kebutuhan yang tentunya semakin beragam pada zaman ini. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut banyak dari pasangan suami istri mencari sumber penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya, salah satunya adalah dengan bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal pesiar dan menjalani commuter marriage. Commuter marriage adalah pasangan suami istri yang tinggal terpisah dan berada pada dua wilayah geografis yang berbeda karena pekerjaan masing-masing. Commuter marriage memiliki dampak positif dan juga negatif di dalam suatu hubungan, namun dampak negatif yang ada tentunya sangat dirasakan oleh istri yang harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Hubungan pernikahan tersebut tidak dapat dikatakan baik maupun buruk karena hal tersebut terrgantung dari bagaimana pasangan suami istri mengevaluasi hubungan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahan pada istri Anak Buah Kapal (ABK). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sampel penelitian ini berjumlah 4 orang perempuan yang diperoleh dari purposive sampling dengan karakteristik menikah dengan suami yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal dengan usia usia 26-35 tahun serta berdomisili di Denpasar dan Badung, Bali. Penggalian data dilakuan dengan wawancara dan observasi mendalam dan dianalisis dengan teknik analisis dari Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian adalah yakni faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahan pada istri ABK. Faktor tersebut terdiri atas hal-hal yang mendasari tercapainya kepuasan pernikahan, hal-hal yang meningkatkan, dan menurunkan kepuasan pernikahan.Kata kunci : kepuasan pernikahan, commuter marriage, anak buah kapal, kapal pesiar
PENGARUH MEDITASI CAHAYA TERHADAP SELF COMPASSION REMAJA DI SAI STUDY GROUP DENPASAR Ni Made Asti Suprabhawanti; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri sering kali menimbulkan masalah pada diri remaja. Ajaran spiritual di kota Denpasar yang memfasilitasi kegiatan spiritual untuk mengantisipasi masalah-masalah pada remaja yaitu Sai study group Denpasar. Salah satu ajaran spiritual yang diajarkan adalah meditasi cahaya.Meditasi cahaya dapat memberikan ketenangan pikiran, mampu membantu dalam pengambilan keputusan serta dapat menghasilkan pikiran yang jernih.Terdapat masalah yang dihadapi oleh rermaja Sai study group Denpasar.Remaja Sai study group Denpasar masih memperlakukan dirinya dengan buruk seperti memukul benda yang ada disekitar dan membenturkan kepala kedinding walaupun sudah melakukan latihan meditasi, sehingga perilaku dari beberapa remaja Sai study group Denpasar tidak menunjukkan Self compassion.Self compassion merupakan belas kasih terhadap diri ketika menghadapi kesulitan, dan memahami bahwa kesulitan, kegagalan, dan ketidakcukupan yang dirasa adalah manusiawi, dan setiap individu berhak mendapat belas kasih.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi cahaya terhadap self compassion remaja di Sai study group Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang bersifat pre-experimental designs dengan One-Group Pretest-Posttest Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling yang diperoleh subjek berjumlah dua orang remaja.Tahapan penelitian terdiri dari pretest, perlakuan dan post test.Alat ukur yang digunakan adalah skala self compassion yang terdiri dari 38 soal.Perlakuan diberikan selama satu bulan sebanyak 20 kali pertemuan. Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan hasil dengan signifikansi (p = 0.000 ? 0.180) yang artinya Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa meditasi cahaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap self compassion remaja di Sai study group Denpasar. Kata kunci:meditasi cahaya, self compassion, remaja di Sai study group Denpasar.
PERAN SELF COMPASSION TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PENGAJAR MUDA DI INDONESIA MENGAJAR Atikah Fairuz Renggani; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Psychological well-being merupakan aspek penting yang perlu dimiliki pengajar muda selama bertugas di daerahpedalaman Indonesia. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi psychological well-being adalah self compassion.Self compassion merupakan kemampuan individu untuk memberikan perhatian dan kepedulian terhadap diri sendiriketika mengalami tantangan, masalah, dan kesulitan dalam hidup serta mampu melihat hal tersebut sebagai bagiandari pengalaman hidup manusia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk mengetahui peran selfcompassion terhadap psychological well-being pengajar muda di Indonesia Mengajar. Subjek dalam penelitian iniberjumlah 60 orang pengajar muda yang sedang bertugas di daerah pedalaman dengan menggunakan teknik simplerandom sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala self compassion dengan reliabilitas sebesar0,943 dan skala psychological well-being dengan reliabilitas sebesar 0,915. Hasil uji regresi linier sederhanamenunjukan R= 0,792 dan adjusted R square sebesar 0,628. Hal tersebut menjelaskan bahwa self compassionmemiliki peran sebesar 62,80% terhadap psychological well-being. Koefisien beta terstandarisasi self compassionsebesar 0,792 dan signifikansi 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa self compassion berperan terhadappsychological well-being pengajar muda di Indonesia Mengajar. Kata Kunci: Self compassion, Psychological well-being, Pengajar Muda, Indonesia Mengajar
Co-Authors A.A.Istri Pritha Anindita Indra Agustini, Ni Made Yanti Ary Ambarini, Tri Kurniati Anak Agung Ayu Rianika Wijaya Anak Agung Istri Manik Warmadewi Ananda Aditya Hutapea Andari, Luh Gde Prisma Annisa Rachma Sawitri Ariyanti, Ni Made Putri Astuti, Sang Ayu Made Chyntia Putri Atikah Fairuz Renggani Cahyaningrat, Ni Kadek Dinda Pramesti Claudia Putu Desiana Chyntia Dewi Cokorda Istri Indraswari Pemayun Cokorda Istri Indraswari Pemayun, Cokorda Istri Indraswari Coresy Aquindo Tedjo Prajogo Deviyanthi, Ni Made Ferra Sarah Dewi Puri Astiti Dewi, Claudia Putu Desiana Chyntia Dharmasasmitha, Virgina Divariani, Putu Donna Priskila Dwijayani, Ni Komang Karmini Dwilestari, Ni Made Ayu Krisna Erlangga, I Gusti Made Surya Evitasari, Ida Ayu Gede Sri Firnandha Salsabila Gagahriyanto, Muhammad Anjar Gde Bagus Andhika Wicaksana Hamidah Hamidah Haryati, Tuningsih Heydi Paramitha Hutapea, Ananda Aditya I Gusti Ayu Diah Fridari I Gusti Ayu Jayanthi Prima Dewi I Gusti Ayu Wulandari I Gusti Made Surya Erlangga I Komang Ari Mogi I Made Rustika I Nyoman Darma Kotama Ida Ayu Gede Sri Evitasari Ida Ayu Ratih Tricahyani Ida Bagus Gede Parama Putra Putra Indra, A.A.Istri Pritha Anindita Ivana Gunawan Karla Amanda Permata Kirana, Nabila Ardhyaswari Komang Diah Laxmy Prabadewi Komang Diah Laxmy Prabadewi L.M.K.S. Suarya Linardo, Lionel Timmy Linggasani, Made Anggita Wahyudi Lionel Timmy Linardo Luh Gde Prisma Andari Luh Kadek Pande Ary Susilawati Luh Made Karisma Sukmayanti M.D. Lestari Made Anggita Wahyudi Linggasani Made Kristiana Dewi Made Mas Surya Wiguna Made Suryanatha Prabawa Mahendra Putri, Ni Komang Avelia N.K. Ekawati Nabila Ardhyaswari Kirana Nareswari Diah Wijang Wardhani Ni Komang Avelia Mahendra Putri Ni Komang Indra Mahayani Ni Luh Indah Desira Suwandi Ni Luh Krishna Ratna Sari Ni Made Abi Pawitri Ni Made Ari Wilani Ni Made Asti Suprabhawanti Ni Made Ayu Krisna Dwilestari Ni Made Diah Saraswati Ni Made Ferra Sarah Deviyanthi Ni Made Sintya Noviana Utami Ni Made Widya Pratiwi Ni Made Yanthi Ary Agustini Ni Made Yanthi Ary Agustini Ni Made Yanti Ary Agustini Nur Alfian, Ilham Nyoman Adi Krisna Wibawa Nyoman Adi Krisna Wibawa Paramitha, Heydi Pawitri, Ni Made Abi Permata, Karla Amanda Phaedra, Putra Prajogo, Coresy Aquindo Tedjo Prima Dewi, I Gusti Ayu Jayanthi Priskila, Donna Putu Eka Widyawati Putu Maha Putri Sarasdewi Putu Srie Wedha Yanthi Putu Yudi Suwetha Putu Yudi Suwetha Pratama Ratna Devy Winayanti Renggani, Atikah Fairuz Salsabila, Firnandha Sang Ayu Made Chyntia Putri Astuti Sarasdewi, Putu Maha Putri Saraswati, Ni Made Diah Sari, Ni Luh Krishna Ratna Sawitri, Annisa Rachma Steffano Aditya Handoko Suprabhawanti, Ni Made Asti Supriyadi Supriyadi Supriyadi, , Suwetha, Putu Yudi Tobing, David Hizkia Tricahyani, Ida Ayu Ratih Tuningsih Haryati Tuningsih Haryati Virgina Dharmasasmitha Wicaksana, Gde Bagus Andhika Widyawati, Putu Eka Wijaya, Anak Agung Ayu Rianika Wulandari, Putu Diana Yanthi, Putu Srie Wedha Yohanes Kartika Herdiyanto