Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN RENCANA UNDERPASS SEBAGAI JALUR ALTERNATIF PENGENDARA SEPEDA MOTOR DAN PRASARANA PENYEBERANGAN PEJALAN KAKI Zainudin, -; Widodo, Slamet; Mayuni, Siti
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v5i1.24244

Abstract

Kebutuhantransportasibagimasyarakat Kota Pontianak yang semakinmeningkatmenyebabkansemakinbanyak pula kebutuhanprasaranagunamemberikanaksespelayanan yang baik. Sebagai prasarana pendukung, transportasi harus mendapatkan pelayanan yang baik sehingga diperoleh sistem pergerakan yang efektif dan efisien bagi pengguna transportasi. Underpass merupakansalahsatuprasarana yang mendukunguntukmewujudkanhalinidimanaprasaranainitermasuksalahsatudaribagianjalanbebashambatan juga secaratidaklangsungmemberikanpelayanandankeamanan yang baikbagipejalan kaki maupunpenggunakendaraansepeda motor yang melintasiBundaranTuguDigulisJalan Ahmad Yani.  Padapenelitianini, jumlahkendaraanpadajalan minor jalur 1, jalur B, jalur 3 danjalur D yang menghubungkankawasankampusUniversitasTanjungpuramencapai 18.473 s/d 29.559 kendaraaan/haridimanajikaarus minor menyentuhangkalebihdari 12.000 kendaraan/harimenuruthirarkinyaharuslahdigunakanjalantaksebidang. Sedangkanuntukfasilitaspenyeberangan, jumlahpejalan kaki dankendaraanarus mayor dapatdilihatpadahubungan P.V2dengannilaitertinggi 2,00 x 109dimananilai yang lebihdari 2,00x 108tersebutmemenuhisyaratdalampenentuanjenisfasilitaspenyeberangan.Berdasarkanhasilperhitunganjumlahkendaraansepeda motor yang melintasijalan minor maupunpejalan kaki yang melintaspadaBundaranTuguDigulismenurutkriteriadesainnya, Underpass untukpengendarasepeda motor danpejalan kaki inididapatkanhasillebardimensimasing-masingadalah 4,5 m dan 1,5 m. 
IDENTIFIKASI TITIK KEMACETAN DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA, PONTIANAK BARAT DAN PONTIANAK KOTA Darmawan, Edo; Mayuni, Siti; Sulandari, Eti
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 3, No 2 (2014): VOL 3 NO 2 DESEMBER 2014
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Growth and development issues impact on the city traffic system. The impact is related to the effect of road capacity and traffic volume, which can cause traffic congestion problem. Of the three sub-districts that were examined, namely North Pontianak, West Pontianak and Pontianak City and there are eight points of congestion, and 3 of them are experiencing congestion are Khatulistiwa Road, the intersection of  Suwignyo Road-  Husein Hamzah Road - Martadinata Road - H. Rais. A. Rahman Road and the intersection of Putri Candramidi Road - Sultan Syarif Abdurrahman Road - Sultan Syahrir Road. The purpose of this paper is to identify and analyze the traffic problems in the form of the factors that cause congestion in the District of North Pontianak, West and City so as to propose treatment plans and actions that can be done to address the problem of traffic congestion. In this study, data were obtained by conducting a survey of traffic volume at peak hours only in 06:00 - 09:00 am for the morning, at 11:00 to 02:00 pm to noon and 04:00 to 06:00 pm for the afternoon. From the results of the survey will be calculated and analyzed so that it will acquire the capacity and degree of saturation. The degree of saturation can be used as an indicator of the performance of a road segment. Where the degree of saturation can directly determine the performance of a road. Under Indonesian Highway Capacity Manual for urban roads in 1997, requires the degree of saturation is not exceeded 0.85. Based on the results obtained penilitian the degree of saturation at the Khatulistiwa Road segment that is the intersection of 0.929 and Suwignyo  Road is 0.441 ,  Husein Hamzah Road is 0546, Martadinata Road is 0.564, H. Rais. A. Rahman Road is 0.726, and the intersection of Putri Candramidi Road is 0.512, Sultan Syarif Abdurrahman Road is 0.749, Sultan Syahrir is 0.625. For Sultan Syarif Abdurrahman Road with the degree of saturation 0.749 at rush hour in a stalemate but at certain hours of traffic flow on these roads smoothly. So to overcome gived one alternative solution, adding the width of road segments and intersections that are experiencing congestion and curb all obstacles aside so reduce conflicts that can lead to congestion.    Keywords : Capacity, degree of saturation, level of performance, congestion, traffic
STUDI TENTANG ALAT PENGENDALI KECEPATAN PADA KAWASAN ZOSS DI KOTA PONTIANAK Ermansyah, Derry; Widodo, Slamet; Mayuni, Siti
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2017
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v4i4.21832

Abstract

Sehubungan dengan keselamatan lalu lintas di jalan raya pada Kawasan Sekolah/Pendidikan sangat diharapkan bahwa anak-anak dapat datang dan pergi ke/dari sekolah dalam keadaan selamat melalui Zona Selamat Sekolah (ZoSS). Dimana salah satu alat pengendali kecepatan yang mendukung ZoSS adalah pita penggaduh (Rumble Strips) yang bertujuan menurunkan kecepatan kendaraan dengan memberikan efek getaran pada daerah yang dikendalikan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan pengemudi dan mengurangi angka kecelakaan yang ada.Pengumpulan data dilakukan pada kawasan ZoSS di Kota Pontianak sebanyak 4 (empat) lokasi. Data yang diambil berupa bentuk dan ukuran pita penggaduh, kecepatan kendaraan, data geometri jalan, kelengkapan fasilitas pendukung jalan. Data kecepatan kendaraan yang disurvey adalah sepeda motor yang melintasi kawasan ZoSS pada pagi hingga sore hari (10.00 – 15.00 WIB) untuk 1 (satu) hari 1 (satu) lokasi, pada setiap lokasi dibagi menjadi 3 (tiga) area. selanjutnya data dianalisis kecepatan kendaraannya pada setiap area untuk masing – masing lokasi, sehingga didapat kefektifitasan pita penggaduh sebagai alat pengendali kecepatan pada kawasan ZoSS. Dari analisis diketahui dimensi pita penggaduh mengacu pada “Surat Dirjen Perhubungan Darat No. AJ.003/5/9/DRJD/2011” yang mana berdasarkan “Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan”. Dan juga diketahui tingkat keefektifitasan pita penggaduh pada kawasan ZoSS, Dari hasil grafik persentil yang telah dibuat dapat diambil presentase keefektifitasan Pita Penggaduh, dimana untuk area 2a pada Jalan K.H. Ahmad Dahlan sebesar 85% dari jumlah sepeda motor yang diharuskan melintas dengan kecepatan 20 km/jam dan pada Jalan Putri Candramidi sebesar 94%, dan pada area 2b keduanya mencapai 100%. Sedangkan pada Jalan Pangeran Natakusuma dan Jalan Danau Sentarum yang hanya memiliki 1 (satu) presentase keefektifitasan yaitu sebesar 100%. Kata Kunci : Pita Penggaduh, Alat Pengendali Kecepatan
RENCANA PENGATURAN ARUS LALU LINTAS PADA PERSIMPANGAN JALAN JENDERAL AHMAD YANI – JALAN SUNGAI RAYA DALAM PONTIANAK DENGAN PENGATURAN GEOMETRIK JALAN Sanjaya, Victor; Ariyadi, Teddy; Mayuni, Siti
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v5i2.26620

Abstract

Persimpangan jalan Jenderal Ahmad Yani – jalan Sungai Raya Dalam, diatur menggunakan lampu lalu lintas. Penggunaan sinyal dengan lampu diterapkan untuk memisahkan lintasan dari gerakan-gerakan lalu-lintas yang saling bertentangan dalam dimensi waktu. Dalam perkembangannya pengaturan arus lalu lintas yang menggunakan lampu lalu lintas ini masih terjadi konflik-konflik tegak lurus dan menyebabkan gangguan arus lalu lintas berupa antrian yang semakin panjang dan kehilangan waktu yang lama yang diakibatkan tingginya arus pergerakan pengendara baik pada jalan Jenderal Ahmad Yani maupun jalan Sungai Raya Dalam Pontianak.Tujuan penulisan skripsi ini adalah merencanakan suatu bentuk geometrik persimpangan baru yang pergerakan arus lalu lintas tidak terjadi konflik hanya terjadi jalinan dan menjadikan arus lalu lintas di persimpangan dapat bergerak bebas dengan menghilangkan konflik yang menyebabkan terjadinya hambatan-hambatan lalu lintas. Adapun volume arus lalu lintas pada persimpangan ini didapatkan dari hasil survey arus lalu lintas yang dilaksanakan pada hari Jum’at, Sabtu, Minggu, dan Senin. Metode pengambilan data dilakukan secara manual dengan menempatkan petugas survey pada masing-masing pos pada kaki-kaki persimpanga dengan alat bantu format isian dan penghitungan volume lalu lintas dengan counter hand. Dasar-dasar  perhitungannya  yaitu menggunankan metode Bagian Jalinan pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 (MKJI 1997) merencanakan  bundaran  dengan  jalinan  yang memperhitungkan  panjang  jalinan  pada  persimpangan  sehingga didapatkan derajat kejenuhan kurang dari 0,8. Perencanaan ini untuk 5 tahun ke depan yaitu tahun 2021. Didapat suatu rancangan geometrik persimpangan yang baik dapat mengurangi arus lalu lintas yang bergerak di persimpangan, dan mengurangi kemacetan pada jalan Jenderal Ahmad Yani dan jalan Sungai Raya Dalam kota Pontianak berupa bendaran dengan memperhatikan panjang jalinan dipilih dengan pertimbangan luas lahan yang terbatas di lapangan dan kondisi tataguna lahan yang ada. Persimpangan tersebut mempunyai panjang jalinan dengan panjang 180 meter untuk jalinan 1 dan 4, serta 160 meter untuk jalinan 2 dan 3 Kata kunci: geometrik, jalinan, persimpangan, derajat kejenuhan
EVALUASI KEBERADAAN RAMBU DAN MARKA JALAN DI KOTA PONTIANAK Firgian, Hengki; Sulandari, Eti; Mayuni, Siti
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil UNTAN
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v2i2.7075

Abstract

Penelitian ini menyajikan penempatan dan pemasangan rambu dan marka jalan yang sesuai standar dengan peraturan yang berlaku yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.13 Tahun 2014 tentang Rambu Lalu Lintas yang di keluarkan oleh pemerintah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi kebutuhan rambu dan marka jalan lalu lintas dan mengetahui pengaruh penempatan perambuan dan pemarkaan jalan didaerah yang termasuk fungsi jalan kolektor yaitu Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Alianyang, Jalan Dr.Wahidin Sudiruhosodo dan Jalan Putri Candramidi di kota Pontianak sebagai alat pengendali lalu lintas serta memberikan alternatif penempatan rambu sehingga dapat membantu pengaturan pergerakan lalu lintas. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi misalnya penempatan rambu peringatan tikungan beruntun pada suatu ruas jalan yang terdapat tikungan beruntun dengan jarak pandang kemudi terbatas serta pemasangan dan penempatan marka jalan baik marka membujur garis solid maupun garis putus-putus pada jalan yang belum terdapat marka jalan terutama pada daerah yang memiliki keterbatasan jarak pandang seperti tikungan sehingga diperlukan pemarkaan marka membujur garis solid dan pengemudi tidak di ijinkan untuk mendahului kendaraan lain pada bagian jalan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kata kunci: Evaluasi, rambu, marka, alternatif penempatan.
KINERJA BUNDARAN BERSINYAL DIGULIS KOTA PONTIANAK Said .; Siti Mayuni; Eti Sulandari
Jurnal Transportasi Vol. 16 No. 1 (2016)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.313 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v16i1.2151.%p

Abstract

Abstract Fully signalized roundabout must meet design criteria which are very different compared to the recommended design for unsignalized roundabout. When traffic flow increases, there is greater probability that traffic queue to occure, that will decrease the operation level of the roundabout and reduce the intersection capacity. In the case of the Digulis Signalized Roundabout, in Pontianak City, the high traffic volume causes problems, at the roundabout and particularly at the signalized intersection. At the roundabout, in C-D weaving direction, the degree of saturation reaches 0,933, while at signalized intersection, at leg A, major traffic direction, Ahmad Yani street, the degree saturation reaches 0,841, which causes long queues, with the length of 148 meters for leg A and 128 meters for leg B. The delay occured is 13.73 pcu.sec 10,64 pcu.sec, at directions A and B, respectively. Keywords: signalized roundabout, degree of saturation, delay, queue  Abstrak Bundaran dengan pengaturan sinyal penuh harus memenuhi desain yang akan sangat berbeda dibandingkan dengan desain yang direkomendasikan untuk bundaran tanpa sinyal. Ketika arus lalulintas meningkat, semakin besar kemungkinan terjadinya antrean kendaraan yang akan menurunkan tingkat operasi bundaran dan akan menurunkan kapasitas persimpangan. Pada kasus Bundaran Bersinyal Digulis, tingginya volume lalulintas menyebabkan terjadinya permasalahan, baik pada bundaran dan pada simpang bersinyalnya. Pada bundaran, pada arah weaving C-D, derajat kejenuhan mencapai 0,933, sedangkan pada simpang bersinyal, pada lengan A, lengan mayor, Jalan Ahmad Yani, derajat kejenuhan mencapai 0,841, yang mengakibatkan antrean sepanjang 148 meter untuk lengan A dan 128 meter untuk lengan B. Tundaan yang terjadi sebesar 13,73 smp.detik pada arah A dan 10,64 smp.detik pada arah B. Kata-kata kunci: bundaran bersinyal, derajat kejenuhan, tundaan, antrean
PROBABILITAS JATUHNYA PESAWAT UDARA PADA AREA TAPAK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR SKALA KOMERSIAL DI KALIMANTAN BARAT Slamet Widodo; Siti Mayuni; Arbi Widyantoro
Jurnal Transportasi Vol. 21 No. 3 (2021)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jtrans.v21i3.5452.229–238

Abstract

Abstract One part of the feasibility study of the planned development of a commercial-scale Nuclear Power Plant in West Kalimantan is to conduct a study of the airport development plan in Singkawang City against the planned nuclear power plant site. The planned location of the airport in Singkawang City is within a 25 km radius from the planned location of the Nuclear Power Plant site. It is necessary to conduct research on the potential and probability of an aircraft falling around the Nuclear Power Plant site area, so that it can be identified and considered the distance of the airport to the Nuclear Power Plant. The data collected and used for this research is the existence of surrounding airports and aircraft flight paths that are directly or indirectly related to Singkawang Airport. From the calculations carried out, the probability of an airplane crash at the planned location of the Nuclear Power Plant in West Kalimantan Province is 4x10-12 events per year. This probability value is much smaller than the probability of a similar event in the world. This study shows that the location of the Nuclear Power Plant in West Kalimantan Province is safe from the potential for an aircraft crash to occur in the Nuclear Power Plant site area. Keywords: nuclear power plant; airport location; aircraft; flight path Abstrak Salah satu bagian studi kelayakan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir skala komersial di Kalimantan Barat adalah melakukan kajian tentang rencana pembangunan bandara di Kota Singkawang terhadap rencana tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Lokasi rencana bandara di Kota Singkawang tersebut masuk dalam radius 25 km dari rencana lokasi tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Karena itu perlu dilakukan penelitian tentang potensi dan probabilitas jatuhnya pesawat udara di sekitar area tapak Pem-bangkit Listrik Tenaga Nuklir, sehingga dapat diidentifikasi dan dipertimbangkan jarak keberadaan bandara tersebut ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Data yang dikumpulkan dan digunakan untuk penelitian ini adalah keberadaan bandara-bandara sekitar dan jalur penerbangan pesawat udara yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan Bandara Singkawang. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh probabilitas terjadinya kecelakaan jatuhnya pesawat udara di lokasi rencana tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang terdapat di Provinsi Kalimantan Barat adalah 4x10-12 kejadian per tahun. Nilai probabilitas ini jauh lebih kecil daripada probabilitas kejadian yang serupa di dunia. Studi ini menunjukkan bahwa lokasi Pem-bangkit Listrik Tenaga Nuklir di Provinsi Kalimantan Barat aman dari potensi terjadinya kecelakaan jatuhnya pesawat udara di area tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Kata-kata kunci: pembangkit listrik tenaga nuklir; lokasi bandara; pesawat udara; jalur penerbangan
ANALISIS LOKASI RAWAN KECELAKAAN LALU LINTAS DI JALAN TRANS KALIMANTAN (KUALA AMBAWANG – SIMPANG AMPAR) Oktavianus Andri; Slamet Widodo; Siti Mayuni
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1579.459 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.17661

Abstract

Street Trans Borneo in the period from 2013 to 2015, there were about 72 people who died due to traffic accidents, 85 people were seriously injured, and 131 people suffered minor injuries and 167 occurrences of accidents based on data Police Pontianak. Under these conditions, the parties concerned should immediately address this to handling. Before any treatment needs to know the locations that are prone areas, it is necessary to identify the location of vulnerable stage as the first step in determining the handling of vulnerable locations or get priority handling. In connection with this, the research examined the stage of identifying the location of the accident-prone by using various parameter levels or the number of accidents that connects the variables the number of accidents in whole or accident fatal victims, the length of road, the potential of the surrounding environment (vehicles registered and the total population), volume flow vehicles, as well as the number of casualties following the severity weighting. Parameters that are used, among other things: Criteria reaction, RPBAR (population districts and counties), RDRBOR, Severity Index, TK, EPDO, EAN, RABROVT, RCS, RMVM, and Rair, then controlled by the limit values, namely: approximate value (EV), the value of the upper limit (UCL), and the critical value (CR) in order to get the order of priority of traffic accident-prone locations. Results of the analysis showed that the Trans Kalimantan has the highest severity level value at end of period (2015) is 20-25 with a value of KM 20, KM 15-20 followed by a value of 13, KM KM 5-10 and 25-30 with 12 points, KM 30-35 and 45-50 with the value of KM 5, KM 55-60 with a value of 1, and 0-5 KM, KM 10-15, 35-40 KM, KM 40-45, 50-55 KM, KM 60- 65, KM 65-70, 70-75 KM with a value of 0 is not a vulnerable location at the end of the study had no indicators of vulnerability. It gets first priority on KM 20-25, who has the highest value of severity, necessitating the handling of the prone locations. Stages on efforts to address areas vulnerable to traffic accidents do not stop at the stage of identification only, locations prone on the results of this study need to be investigated further at the data analysis stage, the election management techniques, construction, to monitoring and evaluation, according to the stages in the guidelines construction and building (Pd T-09-2004-B). Because in this research only discusses the determination of the location of the accident-prone traffic on the Trans Kalimantan while handling just in general or to provide recommendations which preceded to get treatment.   Keywords: Numbers of accidents, traffic accident-prone location
EVALUASI KEBERADAAN U-TURN DI KOTA PONTIANAK (STUDI KASUS JALAN AHMAD YANI) Syarifah Aini; Siti Mayuni; Teddy Ariyadi
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 1 (2021): JeLast Edisi Februari 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i1.57610

Abstract

Jalan merupakan prasarana yang sangat dibutuhkan dalam system transportasi untuk menghubungkan suatu tempat ke tempat lain. Prasarana lain yang dirasa dapat mendukung fungsi dasar jalan adalah U-Turn atau putaran balik.Titik u-turn (memutar balik) adalah salah satu cara pemecahan dalam manajemen lalu lintas kota.Penelitian yang diadakan adalah untuk mengkaji jarak aman atau distance headway(Hd) dan Jarak antara atau time headway(Ht) kendaraan saat melakukan putar balik arah di Jalan Akhmad Yani agar tidak terjadi kemacetan pada ruas jalan tersebut.Lokasi yang akan ditinjau sebagai penelitian yaitu U-turn tunggal di depan kawasan GOR Pangsuma dan U-Turn ganda yang ada di depan Bank BCA pada Jalan Ahmad Yani. Penelitian ini dilakukan selama 2 hari, yaitu pada hari Sabtu dan Senin. Survey dimulai pukul 06.00-22.00 WIB dengan interval waktu per 30 menit. Penelitian yang dilakukan berupa penelitian jumlah kendaraan yang lewat pada titik U-Turn tersebut.Dari hasil pengamatan di lapangan dan dari hasil perhitungan, kendaraan mulai tidak dapat berputar ketika jarak antara (Hd) berada 7m/kend, Karena di dapat nilai kepadatan (D) yang cukup tinggi yaitu 1389 kend/km, dan nilai kecepatan (v) sebesar 2,10 km/jam dengan nilai volume jam puncak 2916,9 smp/jam. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Semakin besar nilai Jarak antara (Hd) pada jalur kendaraan lawan maka kendaraan pada jalur kendaraan yang akan berbalik arah dapat berputar dengan bebas. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil nilai jarak antara (Hd) pada jalur kendaraan lawan maka kendaraan pada jalur yang akan berbalik arah tidak dapat berputar atau akan terhenti. Kata kunci: U-turn ,Waktu Antara (ht),Jarak Antara (hd),Kecepatan (q), Kerapatan (D), Volume Jam Puncak
IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN KECELAKAAN (BLACK SPOT) DIKOTA PONTIANAK (STUDI KASUS JALAN KHATULISTIWA) Very Nusa Putera; - Said; Siti Mayuni
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 6, No 1 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v6i1.49176

Abstract

Menurut data kecelakaan Poltabes Pontianak, ruas jalan khatulistiwa kurun waktu 3 tahun(2010, 2011, 2012 ) terdapat sebanyak 37 titik lokasi kecelakaan dengan 2 lokasi titik rawan kecelakaan(black spot) tertinggi berada pada STA 1+000 dan STA 6+700 sebanyak 5 kasus kecelakaan, dengan tingkat kefatalan pada STA 1+000 8 LR(Luka Ringan), 2 LB(Luka Berat), dan 2 MD(Meninggal Dunia), dan tingkat kefatalan pada STA 6+700 3 LR(Luka Ringan), 2 LB(Luka Berat), 5 MD(Meninggal Dunia). Dari hasil survey diketahui kondisi perkerasan jalan baik termasuk di dalamnya kondisi land use meliputi marka jalan, lampu penerang jalan, rambu jalan, dan bahu jalan. Dari hasil penelitian hubungan kecelakaan terhadap geometrik alinyemen vertikal dan alinyemen horisontal juga tidak signifikan. Pada 2 lokasi titik rawan kecelakaan(black spot) tertinggi pada STA 1+000 sebesar 0.050% dan STA 6+700 sebesar -0.140%. Pada geometrik jalan alinyemen horisontal dititik lokasi kecelakaan hanya terjadi pada segment jalan lurus, lengkung horizontal tidak berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan, dimana radius terkecil 125.2445m berada pada STA PI=3+146.16 segment jalan 6 sebesar 2%, dan radius terbesar 1046.9588m berada pada STA PI=6+456.05 segment jalan 18 sebesar 2%, dan pada 2 lokasi rawan kecelakaan(black spot) tertinggi STA 1+000 berada di antara STA 0+162.29 – STA 2+953.52 sebesar 43% sepanjang 2790.73m, dan STA 6+700 berada di antara STA 6+529.26 – STA 6+825.35 sebesar 4% sepanjang 296.09m. Di simpulkan bahwa faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan pada 37 lokasi titik kecelakaan dengan 2 lokasi titik rawan kecelakaan(black spot) tertinggi adalah manusia(Human Error). Kata kunci : Rambu lalu-lintas, Kelandaian jalan, Volume lalu-lintas, Kasus kecelakaan