Mochammad Riyanto
Department Of Fisheries Resources Utilization, Faculty Of Fisheries And Marine Science, IPB University Dramaga Campus. Bogor 16680, West Java, Indonesia

Published : 48 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGOPERASIAN PERANGKAP KRENDET BERTINGKAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN KRUSTASEA DI TELUK PALABUHANRATU ., Zulkarnain; Riyanto, Mochammad; Prayudha, Daffa; Purwangka, Fis
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.171-183

Abstract

Umumnya perangkap krendet tradisional digunakan nelayan untuk menangkap krustasea dan dibuat dengan konstruksi sederhana tanpa dinding perangkap sehingga tidak ada fungsi melindungi hasil tangkapan dari predator. Solusi yang dapat dilakukan adalah merancang perangkap krendet dengan konstruksi bertingkat dengan dinding pelindung. Hipotesis dalam penelitian ini adalah penggunaan perangkap krendet bertingkat akan meningkatkan hasil tangkapan krustasea. Penelitian ini bertujuan untuk membuat rancang bangun perangkap krendet bertingkat sebagai perlakuan, membandingkan komposisi hasil tangkapan krustasea, menentukan pengaruh penggunaan krendet bertingkat terhadap hasil tangkapan krustasea, dan menentukan produktivitas perangkap krendet bertingkat. Penelitian dilaksanakan di Teluk Palabuhanratu secara experimental fishing selama 18 trip dengan menggunakan perangkap krendet bertingkat dan tradisional masing-masing 5 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krendet bertingkat mendapatkan krustasea sebesar 14,70 kg, sedangkan krendet tradisional sebesar 10,98 kg. Konstruksi bagian atas krendet bertingkat memiliki pengaruh dalam meningkatkan hasil tangkapan sebesar 31,79%. Krendet bertingkat memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah ekor dan berat hasil tangkapan. Produktivitas krendet bertingkat lebih besar dibandingkan tradisional, yaitu masing-masing sebesar 0,82 kg/trip, 0,16 kg/unit dan 0,61 kg/trip, 0,12 kg/unit dengan kenaikan persentase rata-rata produksi krendet bertingkat sebesar 33,86%. Kata kunci: krustasea, perangkap krendet bertingkat, produktivitas
ANALYSIS OF POTENTIAL OCCUPATIONAL ACCIDENTS USING THE HAZOP METHOD IN POST-HARVEST SHARK FIN PROCESSING IN TANJUNG LUAR FISH LANDING BASE Agustian, Yoppie; Riyanto, Mochammad; Purwangka, Fis; Prasetyo, Andhika Prima
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 3 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.3.439-458

Abstract

Occupational Health and Safety (OHS) in the fishing industry is often overlooked, despite the extremely high potential for work-related accidents. This study aims to analyze the risks during the post-harvest process of shark fins at Tanjung Luar Fishing Port and UD Mamenasae using the Hazard and Operability Study (HAZOP) method. The results indicate that nearly all activities, especially cargo hold unloading, transfer, transport, identification, shark cutting, and fin drying, have a high-risk potential for accidents such as falls/slips, musculoskeletal complaints, cuts, and sunburn. Some processes, including transportation to collectors, storage, sorting, and packaging, carry a moderate risk of concussion or respiratory disorders. Furthermore, all stages present a low risk of bacterial infectious diseases. The primary hazards identified include slippery floors, non-ergonomic work postures, sharp objects, the absence of Personal Protective Equipment (PPE), sun exposure, and a lack of railings. As a mitigative measure, temporary actions such as improved hygiene, provision of PPE, ergonomic improvements, and education are highly recommended to reduce potential hazards and enhance workplace safety. Key words: HAZOP, occupational safety, post-harvest, risk analysis, shark fin
HUBUNGAN PANJANG-BERAT, POLA PERTUMBUHAN, FAKTOR KONDISI IKAN LAYANG (Decapterus russelli) DI KEPULAUAN KEI, MALUKU, INDONESIA Tapotubun, Elizabeth Juleny; Riyanto, Mochammad; Wahju, Ronny Irawan; Trilaksani, Wini; Uju, Uju; Picaulima, Simon Marsholl
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.15 - 21

Abstract

Potensi ikan layang di perairan Kepulauan Kei menunjukan peluang signifikan sebagai sumberdaya perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan metode penangkapan menggunakan alat tangkap pukat cincin, bagan dan pancing tonda. Purseine memungkinkan penangkapan dalam jumlah besar secara efisien, sedangkan bagan dan pancing tonda memberikan alternatif bagi nelayan dengan tingkat selektifitas yang berbeda. Meskipun potensi tangkapan cukup besar, eksploitasi berlebihan dapat mengancam kelestarian stok ikan layang dan ekosistem laut setempat. Oleh karena itu, keberlanjutan sumber daya ikan layang perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pertumbuhan, faktor kondisi, dan tingkat penangkapan perikanan ikan layang yang didaratkan di Ohoi Sathean,  Selayar, Namar, Dian Pulau, Dunwahan, Ohoiren, Mastur dan Banda ely di Kepulauan Kei dari Desember 2023 hingga Mei 2024. Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan dengan pengamatan langsung  terhadap 502 ekor sampel secara acak, data sekunder mengenai hasil tangkapan dan usaha penangkapan selama lima tahun terakhir dikumpulkan dari nelayan melalui wawancara dengan Teknik purposive sampling. Analisis meliputi distribusi panjang ikan, hubungan panjang-berat (nilai b = 2,36 menunjukan pertumbuhan alometrik negatif), faktor kondisi (K = 1,00–1,08 menandakan kondisi fisiologis kurang optimal), tingkat penangkapan serta daerah penangkapan. Tingkat penangkapan tertinggi ditemukan pada pukat cincin dengan fluktuasi selama 6 tahun terakhir, bagan dan pancing tonda relatif stabil. Hubungan upaya penangkapan terhadap tingkat penanngkapan menghasilkan nilai determinasi (R²) = 0,5275 dengan persamaan regresi Tingkat Penangkapan (CPUE) = 2332,8 - 0,5098E, yang menunjukkan hubungan negatif antara peningkatan upaya tangkap dengan hasil per unit usaha. Temuan ini menjadi dasar ilmiah untuk kebijakan pengelolaan perikanan layang berkelanjutan di Kepulauan Kei.
RESPONS FISIOLOGI MATA IKAN SELAR (Selaroides leptolepis) DAN KEMBUNG (Rastreliger brachysoma) TERHADAP WARNA CAHAYA LAMPU Fuad; Baskoro, Mulyono S; Riyanto, Mochammad; Mawardi, Wazir
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.254 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.26631

Abstract

Respons fisiologi mata ikan selar (Selaroides leptolepis) dan ikan kembung (Rastroliger brachysoma) berbeda untuk setiap warna cahaya. Respons fisiologi mata ikan bisa dijadikan indikator dalam menentukan tingkat ketertarikan ikan terhadap warna cahaya tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketertarikan ikan selar dan ikan kembung terhadap cahaya warna putih, kuning, hijau dan biru. Metode penelitian menggunakan metode percobaan yang dilakukan di bagan tancap. Sepuluh ekor ikan selar dan ikan kembung yang dibatasi dengan jaring diberi cahaya selama 30 menit. Sampel ikan yang telah diberi perlakuan cahaya diambil matanya dan dilakukan analisis histologi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi ukuran ikan, indeks sel kon dan kecepatan pergerakan sel kon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan selar sangat tertarik terhadap cahaya LED warna hijau dan biru, sedangkan ikan kembung tertarik terhadap cahaya warna biru. Rata-rata indeks sel kon ikan selar pada cahaya warna biru dan hijau adalah 77,3±7,4% dan 70,7±6,8%, sedangkan rata-rata indeks sel kon ikan kembung yang diberi cahaya warna biru adalah 79,9±2,0%. Kecepatan rata-rata pergerakan sel kon ikan selar yang diberi cahaya biru mencapai 0,0180±0,0028 μm/det, sedangkan ikan kembung dengan cahaya hijau adalah 0,0157±0,0018 μm/det. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ikan selar sangat tertarik terhadap cahaya warna hijau dan biru, sedangkan ikan kembung sangat tertarik terhadap cahaya warna biru.
KLASTERISASI ARMADA PERIKANAN SKALA KECIL DI PULAU KEI KECIL BAGIAN TIMUR, KEPULAUAN KEI Wiyono, Eko Sri; Baskoro, Mulyono S.; Riyanto, Mochammad; Picaulima, Simon
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i3.31974

Abstract

Kebijakan dan regulasi dengan sifat armada perikanan skala kecil yang multispesies dan multigear dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil tangkapan di setiap daerah penangkapan ikan. Klasterisasi armada perikanan dapat memberikan informasi yang lebih efektif dan efisien untuk tindakan pengelolaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi klasterisasi armada perikanan skala kecil berdasarkan kemiripan hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional. Metode penelitian menggunakan metode survei, penentuan responden dengan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan Square Euclidean Distance. Hasil penelitian mendapatkan hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional tertinggi pada musim barat dan pancaroba 1 adalah armada purse seine, musim timur dan pancaroba 2 adalah armada bagan, sedangkan terendah pada musim barat sampai pancaroba 2 adalah armada gillnet hanyut. Secara umum pada musim barat terdapat 3 kelompok klaster besar, musim pancaroba 1 terdapat 2 kelompok klaster besar, musim timur terdapat 3 kelompok klaster besar, musim pancaroba 2 terdapat 4 kelompok klaster besar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa klasterisasi yang terjadi dalam setiap musim dipengaruhi oleh hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional. Jumlah dan struktur klasterisasi armada perikanan skala kecil selalu berubah dalam setiap musim.
RELATIONSHIP ANALYSIS BETWEEN CRAB CARAPACE WIDTH AND WEIGHT CAUGHT USING FOLDING TRAPS IN GEBANG MEKAR WATERS Jhohan; Riyanto, Mochammad; Tapilatu, Maryrose Easter; Bahtiar, Sadida Anindya; Rajagukguk, Bulfrit B.; Sasarari, Rosmina; Soradatu, Syeiqido
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 4 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.4.619-631

Abstract

The blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a high economic importance marine species and serves as a primary target for local fisheries employing collapsible traps in Gebang Mekar, Cirebon Regency waters. This study aimed to examine the sex ratio and growth pattern based on variations in carapace width and body weight of crabs captured in the area. Fieldwork was conducted from April to May 2023 in Gebang Mekar Village. Data collection involved measuring the carapace width and body weight of crabs obtained from 30 fishing trips. A total of 2,191 individuals were recorded, comprising 638 males (29.2%) and 1,553 females (70.8%), resulting in a male-to-female ratio of 1:2.4. Carapace width ranged from 6 to 16 cm, while body weight varied between 21 to 338 grams. The analysis of the width-weight relationship yielded a regression coefficient (b) of 2.923, indicating a negative allometric growth pattern, where carapace width increases faster than body weight. The results also demonstrated a positive correlation between carapace width and body weight, suggesting that larger individuals tend to be heavier. Key words: blue swimming crab, carapace width and weight, sex ratio
CHARACTERISTIC DESIGN OF SQUID LAMP AS ATTRACTOR USING LIGHT EMITTING DIODE (LED) Rudin, Muhammad Johar; Riyanto, Mochammad; Purbayanto, Ari
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 4 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.4.605-617

Abstract

Squid jigging fisheries in Indonesia have developed rapidly, leading to a substantial increase in energy consumption due to the growing number of squid jigging units. Traditionally, metal halide (MH) lamps with electrical power ranging from 24 to 30 kW are used as light attractors. This study aimed to design a LED (light-emitting diode) lamp for squid fishing with a light distribution pattern comparable to that of MH lamps and to evaluate its fuel consumption. The research involved the design and construction of an LED-based squid lamp, measurement of light intensity in air, and comparison of fuel consumption between LED and MH lamps under laboratory conditions. Underwater light intensity was measured in the waters of Banten Bay. The electronic system employed components with total LED power of 450 watts. Results showed that the average light intensity of the LED lamp decreased by only 10.57% compared to the MH lamp. The Specific Fuel Consumption (SFC) of MH lamps ranged from 0.00162–0.00176 kg/hp·h, while that of LED lamps ranged from 0.00109–0.00119 kg/hp·h. The LED system achieved a fuel efficiency of 40.54%, indicating a 19.03% improvement compared MH lamps. Further field-scale experiments are required to validate effectiveness in actual squid fishing operations. Key words: intensity, light, measurement, squid
SEBARAN UKURAN, POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI IKAN BETOK Anabas testudineus (Bloch 1972) DI PERAIRAN RAWA KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN Supeni, Eka Anto; Wiyono, Eko Sri; Riyanto, Mochammad; Mulyono, Mulyono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.3.2025.169 - 178

Abstract

The climbing perch is a type of freshwater fish that can live in tropical and subtropical regions. This fish belongs to the blackfish group, which is a fish that is resistant to environmental changes. It is very tolerant of extreme environmental conditions and can survive in acidic and alkaline water conditions. This study aims to estimate the size distribution, length-weight relationship (growth pattern), and condition factors of climbing perch in swamp waters of Banjar Regency. Sample data of 204 individual were obtained from several villages that are inland fishing centers in Sungai Rangas Ulu, Sungai Batang, Tungkaran, Melayu Tengah, Melayu Ulu, and Mekar villages for April–July 2024. The analysis results obtained a distribution fish lengths ranging from 56–150 mm, while the range weights was between 2.8–65.88 grams with average 89.58 and 15.29 grams, respectively. The length-weight relationship equation W = 5.4e-06.L3.209 shows that fish growth pattern is allometric positive (b > 3). Based on the size of Lm, 116 individuals (56.87%) of climbing perch were caught in swamp waters of Banjar Regency, including fish were suitable catching.